Beli buku buat cucunya, Kak…

June 16, 2010 at 3:41 pm 4 comments

Malam ini ketika saya sedang menikmati sepiring nasi goreng gila dan segelas teh panas manis di kaki lima area Taman Menteng, seorang anak berumur 11 – 12 tahun mendatangi meja saya. Rambutnya basah, mungkin terkena hujan tadi. Dia membawa sebuah kardus berisi barang jualannya yang berupa celengan-celengan berbentuk tabung yang dilapis kertas kado dan beberapa buah buku anak-anak.

Dia mulai menawarkan dagangannya dengan mengatakan, “Kak, tolong saya dong… Saya perlu uang untuk beli buku. Saya jualan ini kak.” Saya menghentikan kegiatan makan saya sejenak. Ucapannya tentang perlu uang untuk membeli buku membuat saya tertarik untuk melihat jualannya.

Saya bertanya, “Ini berapa harganya?” sambil menunjuk celengan-celengan dalam kardus. Diapun dengan sigap menjelaskan celengan besar seharga 14 ribu sementara yang lebih kecil 10 ribu rupiah. Saya memperhatikan kertas-kertas kado yang digunakan membungkus celengan-celengan tsb, sungguh celengan khas anak-anak. Sembari ngobrol dengan anak tsb saya menimbang-nimbang dalam hati apakah saya perlu membeli celengan itu atau memberi uang saja untuk si anak. Dia bercerita bahwa dia sudah lulus SD dan mau masuk SMP.

Akhirnya saya memutuskan untuk membeli satu celengan kecil dan memintanya untuk memilihkan untuk saya. Dikeluarkannya 3 buah dari kardus dan saya pungut yang bewarna kuning, bergambar Hello Kitty dan bertuliskan “Forever Love”.

Si anak tsb bertanya pada saya, “Bukunya gak sekalian, Kak…?” Buku yang dimaksud adalah buku Ipin-Upin untuk belajar angka dan abjad.

Saya tersenyum dan mengatakan, “Buat apa buku seperti itu untuk saya, Dek…?”

“Ya, kan bisa buat cucunya Kak…” Hahaha, apa saya sudah terlihat begitu tua sehingga dia yakin saya sudah punya cucu? Lah, anak saja saya belum punya je… Memang ada sih di Kalimantan sana yang memanggil saya nenek, tapi bukan cucu dari keturunan langsung saya melainkan saudara jauh.

Saya bilang saya tidak perlu buku untuk cucu saya. Kemudian saya membayar celengan dan diapun pergi sesudah mengucapkan terima kasih.

Terus terang saya merasa tersentuh dengan usaha anak kecil tsb berjualan untuk mencari uang untuk membeli buku. Saya bisa saja hanya memberi uang tanpa mengambil barang dagangannya, tapi itu pastinya tidak mendidik. Dengan mengambil dagangannya setidaknya dia belajar bahwa uang tidak datang dengan sendirinya, melainkan perlu usaha untuk mendapatkannya.

Mudah-mudahan si anak tsb memang menggunakan uang yang dia dapat dari hasil jualan untuk membeli buku untuk sekolah.

Entry filed under: Miscellaneous. Tags: .

reuni kecil Soon to be Jobless

4 Comments Add your own

  • 1. dedek  |  June 28, 2010 at 7:04 pm

    hahahahaha, masih mending saya bilang tante..

    Reply
    • 2. yeniunique  |  July 9, 2010 at 11:39 pm

      Awas! Panggil tante juga dilarang keras! :p

      Reply
  • 3. Den Bagus  |  July 29, 2010 at 4:22 pm

    xixixixixi….ini cerita tentang Eyang Putri lagi makan nasi goreng apa tentang sipenjual buku ya…wakakakakakak🙂

    Reply
    • 4. yeniunique  |  August 8, 2010 at 11:00 pm

      hahahaha…lucu! sialan, gw dibilang eyang putri deh…:p

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: