Wine Making

March 27, 2010 at 5:53 am 12 comments

Beberapa minggu lalu, saya dan suami mengunjungi, Sandy & Jossie, ortu suami (a.k.a. mertua saya, hehehe) di South Australia.

Yang ‘beda’ dari trip kemaren adalah kesempatan untuk belajar proses membuat wine. Sounds cool? Yes, definitely!

Ceritanya mertua punya sebidang kebun anggur. Anggur yang ditanam jenis Shiraz & Merlot. Gak terlalu luas sih…tapi sejak 2007 menghasilkan sekitar kurang lebih 300 – 400 liter wine  setiap tahunnya.

Hari Senin, 1 Maret 2010, buah anggur sudah harus dipetik; dikerjakan oleh Sandy & Jossie, Karlene (my sister-in-law) dan dua orang lain yang mau belajar cara membuat anggur. My husband and I missed this part because we were still in Surabaya. Total berat buah anggur yang dipetik sekitar 400an kg. Kemudian buah anggur tadi diperas menggunakan mesin ‘crusher’ untuk anggur. Juice dari perasan anggur beserta dengan kulit buah anggur dimasukkan ke dalam tanki berkapasitas 1.000 liter yang terbuat dari stainless steel. Kulit buah anggur berperan dalam proses fermentasi. Dalam proses awal fermentasi, kulit buah anggur tsb akan mengapung di permukaan juice di dalam tanki.

Sesudah itu, setiap pagi bapak mertua mengaduk juice di dalam tanki tsb. dengan menggunakan ‘mixing stick’. Kulit buah anggur yang mengapung didorong ke dasar tanki. Tujuannya adalah supaya fermentasi lebih merata.

Hari Jumat,  5 Maret 2010, pagi hari ketika dicek, jarak permukaan juice yang tertutup kulit buah anggur kira-kira 23 inci dari mulut tanki. Sorenya, permukaan sudah drop 10 inci. Itu berarti juice anggur sudah siap untuk dipindahkan ke barrel kayu (wooden keg) yang terbuat dari kayu oak, untuk proses fermentasi lanjutan.

Sekitar pkl. 17.00, Sandy – bapak mertua, Adrian, dan saya bergotong royong memindahkan juice anggur ke barel kayu. Tanki stainless steel didesain dengan kran di bagian bawah sehingga proses pemindahan juice dari tanki ke barrel menjadi lebih mudah. Cukup membuka kran, juice ditadah dengan ember, kemudian dituang ke barrel. Oia, juice tsb disaring supaya kulit dan biji anggur tidak ikut masuk ke barrel.

Pertama, kami mengisi barrel berkapasitas 320 liter. Sesudah barrel tsb. penuh, kurang lebih 100 liter sisa juice ditaruh di barrel yang lebih kecil, sehingga total juice yang dipindahkan ke barrel adalah 420 liter.

Ketika terjadi fermentasi lanjutan di barrel, akan terjadi overflow, sehingga untuk beberapa hari sumbat barrel dilepas. Kalau fase overflow sudah selesai, baru sumbat dipasang dan juice anggur didiamkan di barrel tsb. sampai menjadi wine yang siap dikonsumsi.

Sebenarnya tidak sulit untuk membuat wine. Prinsipnya: buah anggur diperas, juice & kulit anggur ditempatkan di wadah stainless steel untuk fermentasi awal, kemudian dipindahkan ke barrel kayu untuk fermentasi lanjutan. Udah itu doang. Hal lain yang harus diperhatikan adalah kebersihan alat-alat yang dipakai, dan harus rajin mengecek apakah juice anggur sudah siap untuk dipindahkan ke barrel kayu. Next time bisa bikin sendiri nih kayaknya…*jumawa*

Wine buatan mertua asli organik. Tidak ada tambahan bahan kimia apa-apa. Tidak pula pakai bahan pengawet. Produksi beratus liter itu untuk konsumsi sendiri lho… Jadi, tidak heran di La Buona Vita (kediaman mertua saya) wine itu menjadi minuman pelengkap (kalau bukan minuman utama) pada saat makan siang dan makan malam.

Doyan minum wine? Hayu…ke La Buona Vita aja…:)

Entry filed under: Miscellaneous. Tags: .

Tanggal Penting Titip Kado Ultah Lewat Sinterklas

12 Comments Add your own

  • 1. hari  |  April 17, 2010 at 1:15 pm

    wah trims banget atas tulisannya, berguna banget buat saya…. sekali lagi trims…

    Reply
    • 2. yeniunique  |  April 28, 2010 at 8:27 am

      Hai Hari,
      Thanks udah mampir ke blog saya. Lagi bikin wine ya?🙂

      Reply
  • 3. aan  |  August 2, 2010 at 12:40 pm

    salam ……..wah.makasi banget infonya…….ngomong2 aku di bali bagian barat(di singaraja) sebagai wilayah penghasil buah anggur,anggur di daerahku bisa juga ngak di bikin wine ?.kalo ada nih minta photo anggur apa aja di negeri sono australia.kadang2 aku pingin kerja di sana pingin tau pengalaman mengelola kebun anggur. thanks…………………..

    Reply
    • 4. yeniunique  |  August 8, 2010 at 11:00 pm

      Duh, saya kurang tau apakah anggur dari Singaraja bisa dijadikan wine juga atau gak. Yg saya tau, jenis anggur yg ditanam di kebun mertua itu jenis shiraz sama merlot, trus di sana kan daerah 4 musim, jadi cocok untuk wine. Foto2 nanti ya… dicari dulu, hahaha…

      Reply
  • 5. harry  |  January 29, 2011 at 1:56 am

    boleh nanya nggak? waktu jus anggur dimasukkan ke dalam stainless steel dikasih bahan fermentasi nggak? maksudnya seperti ragi gitu? atau waktu dipindah ke wood barrel dikasih bahan apa ngga? kira-kira berapa lama didiamkan di wood barrel sampai bisa dikonsumsi? thanks

    Reply
    • 6. yeniunique  |  February 19, 2011 at 11:20 pm

      Hi Harry,
      Sorry baru buka blog lagi.
      Bokap mertua ga ngasih apa2 di jus anggur-nya. Jadi totally natural fermentation gitu deh. Karena sebenarnya tanpa dikasi ragipun jus anggur itu bisa fermentasi sendiri. Anggur buatan mertua ga pake zat aditif apapun, semua natural dan organik. Cuman ya ga bisa disimpan bertahun-tahun juga… paling tahan 2 – 3 tahunan, gak kayak anggur yg ditambahin bahan pengawet.

      Semoga menjawab ya…

      Reply
      • 7. afifudin  |  September 6, 2011 at 6:41 am

        nice info….saya punya tanaman anggur didepan rumah, jd pengen praktek nich. selain wadah yg stainles steel dan kayu bisa nggak pake alternatif wadah yg lain…..thanks….!!!

      • 8. yeniunique  |  November 21, 2011 at 3:59 pm

        Kalo setau saya sih paling afdol pakai barel kayu untuk fermentasi wine. Kalo wadah laen gak tau deh…

  • 9. Sandi  |  August 15, 2011 at 8:34 am

    kka, mo tanya. ..
    apa harus dalam barel kayu di fermentasi lanjutannay…
    ceritanya saya mau coba.coba buat tapi dalam skala kecil kka. ..
    jadi apa bisa proses fermentasi lanjutan di simpan dalam botol kaca. ..??

    Reply
    • 10. yeniunique  |  November 21, 2011 at 4:00 pm

      Wine bisa disimpan dalam botol kaca kalo udah selesai fermentasinya alias kalo udah siap dikonsumsi, Adek🙂.

      Reply
  • 11. ;isya  |  December 13, 2011 at 8:52 am

    punya alamat fb ga ya….aq juga sering buat wine tp dr anggur lokal n rasanya mantap jg….

    Reply
  • 12. ian  |  August 1, 2012 at 6:24 pm

    wah2,,,saya baru tau kalo wine enggak perlu pake ragi2 gitu,pusing saya baca blog2 yg ngejelimet tentang wine+cara buatnya yg pake bahan ini itu.baca blog ini jd semangat bikin,tadinya udh putus asa hehe..tq ya sis info nya.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: