Yoga oh Yoga

February 16, 2010 at 12:28 am 2 comments

Tahun 2006 lalu saya iseng menulis pengalaman pertama [umm, dan terakhir — sampe sekarang] ikut Yoga untuk rubrik Gado Gado. Artikel itu di-publish loh… uhh, senengnya setengah mati🙂.

Versi asli yang saya kirim saya copas di bawah ini.

………………………………..

YOGA OH YOGA

             Untuk ukuran orang-awam-non-atlet saya mungkin termasuk gila olahraga. Beraneka jenis olahraga, mulai dari fitness, squash, renang (kadang-kadang), senam aerobic, sampai hiking dan mendaki gunung saya jabanin. Ya, alasan saya sih simple aja, ogah bodi melar kalau belum menikah! Ntar susah dong kalau mau pakai kebaya.

             Apalagi untuk perempuan usia 26 tahun, menurut artikel-artikel kesehatan yang pernah saya baca, tingkat metabolisme sudah mulai menurun, tidak sebaik waktu masih usia remaja. Perempuan seusia saya juga katanya sudah mulai menimbun lemak. Ihh…mana mau! Padahal lagi, pola makan saya cenderung gila – paling tidak teman-teman suka menyebut saya ‘omnivora’ alias pemakan segala. Makan utama tiga kali sehari itu sudah wajib hukumnya, dan karena saya bekerja di area tambang, di daerah pegunungan Jayawijaya yang cukup dingin, konsekuensinya saya jadi banyak ngemil juga kalau di kantor. Apalagi kalau sedang banyak lemburan.

             Nah, untuk mengimbangi ke-omnivora-an saya itulah saya putuskan untuk giat berolahraga. Tidak tanggung-tanggung, seminggu bisa sampai lima kali mondar-mandir di gym! Alasan lainnya gara-gara di awal tahun 2004 lalu berat saya sempat melonjak 5 kg di atas timbangan normal. Alhasil, waktu itu saya kelihatan begitu chubby.

             Untungnya, meskipun saya gila olahraga, saya tidak perlu mengeluarkan uang untuk biaya member ini-itu. Kompleks perusahaan tempat saya tinggal menyediakan fasilitas olahraga yang cukup lengkap, dari gym, sporthall sampai kolam renang…dan gratis!

             Oke, lantas apa hubungannya dengan yoga? Begini, berhubung di perusahaan tempat saya bekerja banyak tenaker asing, banyak pula istri para expatriates itu yang ikut suaminya tinggal di kompleks. Sebagian dari mereka membentuk Club Yoga. Pelatihnya ada 3 orang, dari antara mereka sendiri, yang konon sudah memperoleh sertifikat pelatih.

             Saya sudah lama ingin tahu seperti apa latihan yoga itu. Beberapa artikel tentang yoga sudah saya lahap, bahkan di tas kerja saya selalu tersimpan buku saku yoga, bonus dari salah satu majalah wanita. Hanya saya tidak berani berlatih sendiri, takut salah gerakan karena katanya sih untuk seorang pemula, latihan yoga sendiri tidak disarankan berhubung gerakan-gerakan yoga yang unik dan rumit dipadu dengan olah pernapasan. Nah lo! Mana beranilah awak ni… Mau bergabung dengan para ibu bule itu waktunya tidak matching dengan jam kerja saya karena mereka berlatih yoga pagi hari di saat saya lagi asyik-asyiknya mlototin komputer di kantor.

             Suatu hari, di bulan November tahun 2004, pucuk dicinta ulam pun tiba. Kebetulan ada hari libur lebaran yang jatuh pada hari Kamis, bertepatan dengan schedule latihan para ibu Club Yoga. Pagi-pagi saya sudah nongkrong di gym untuk fitness. Lagi asyik-asyiknya angkat dumbel, ada beberapa ibu bule lewat ruang fitness ke arah ruang aerobic, lengkap dengan yoga mat masing-masing. Dengan pe-de saya menghampiri salah seorang ibu bule dan bertanya:

              “Are you going to do yoga?”

             “Oh, yes we are.” Si ibu menjawab. Belakangan saya tahu namanya Mrs. Leslie Drake, pelatih yoga hari itu.

             “May I join? You know, I’m really interested to do yoga.” kataku lagi. Nekad. “By the way, my name’s Unique.”

             ”Of course, you are welcome to join us, Unique.” sahut Mrs. Drake sambil tersenyum.

             Dalam hati saya bersorak, yess!!  Dengan langkah mantap saya masuk ke ruang aerobic untuk ikut ber-yoga-ria bersama para ibu bule itu. Dan ternyata saya satu-satunya perempuan Indonesia yang ikut kelas yoga hari itu. Ah, kepalang tanggung, pikirku. Saya edarkan pandangan ke sekeliling – para ibu itu mulai menggelar yoga mat mereka. Saya juga menggelar mat pinjaman saya.

             Dengan penuh semangat saya mengikuti instruksi dari Mrs. Drake yang semuanya dalam bahasa Inggris. Kalau agak bingung dengan istilah-istilah yang asing di telinga, saya lirik saja kiri-kanan saya dan berusaha mengikuti pose-pose yang mereka peragakan. Berbagai pose yoga dilatih, dan semuanya menuntut kelenturan tubuh serta olah napas yang harus terkoordinasi dengan baik. Pose favorit saya adalah “baby pose”, pose menelungkup seperti bayi untuk relaksasi setelah melakukan gerakan yoga tertentu. Rasanya luar biasa nyaman, hehehehe…

             Tak terasa sudah satu jam saya berjuang keras mengikuti gerakan-gerakan yang dilatih hari itu. Tubuh sudah mulai terasa lelah dan pegal-pegal, plus bonus keringatan, karena sebelum ikut yoga saya sudah fitness selama kurang-lebih 45 menit.

             Saya menarik napas lega ketika sang pelatih mengatakan kalau sesi terakhir adalah relaksasi. Semua peserta diminta berbaring di atas mat masing-masing, memejamkan mata, tangan ditaruh di samping tubuh, bernapas dengan teratur dan membiarkan tubuh benar-benar dalam keadaan rileks. Uh, nyaman betul posisi ini apalagi dengan background musik yang lembut sebagai pengiring relaksasi.

             Entah berapa lama saya berada dalam posisi tersebut, saya tidak sadar. Sampai tiba-tiba saya tersentak kaget ketika ada yang menggoyang pelan tangan saya sambil berkata lembut, “Unique, our yoga exercises have been finished. You may open your eyes and get up now.”

             Saya buka mata pelan-pelan…dan Mrs. Leslie Drake sedang berjongkok di samping mat saya sambil tersenyum penuh pengertian. Alamak…rupanya saking rileksnya saya, tanpa disadari saya tertidur pulas pada sesi relaksasi. Ibu-ibu bule yang ada di ruangan itu semuanya tersenyum memandang ke arah saya. Rasanya malu minta ampun,  walaupun menurut si pelatih saya bukan orang pertama yang ketiduran dalam sesi yoga, dan beliau memotivasi saya untuk tidak kapok ikut latihan yoga.

             Saya hanya bisa mengucapkan terima kasih atas latihan yoga hari itu, kemudian berlalu dari ruangan aerobic. Sampai sekarang saya belum pernah ikut latihan yoga bersama mereka lagi, sebagai gantinya saya ikut latihan pilates – yang untungnya belum pernah sampai ketiduran di sesi latihan. Satu hal yang saya masih penasaran tapi tidak berani bertanya, jangan-jangan saya ngorok waktu ketiduran di sesi terakhir latihan yoga itu?? Oh lala…

Gregoria Wijayanti (Unique) – Papua

………………………………….

Femina, tentu saja mengedit artikel tsb sebelum diterbitkan. Sebagai kenang-kenangkan, artikel tsb saya scan seperti di bawah ini (sayang gak begitu jelas ya?):

Entry filed under: Cerpen. Tags: .

Almonds – my favorite camilan Ngopi

2 Comments Add your own

  • 1. video yoga untuk pemula  |  April 29, 2010 at 7:00 am

    wah.. ampuh banget gerakan yoganya sampe bisa tertidur pulas.

    latihan yoga memang menyehatkan dan banyak manfaatnya.

    Reply
    • 2. yeniunique  |  May 6, 2010 at 12:27 am

      Hahaha..iya. ampuh banget gerakannya :p
      Sampai sekarang belum pernah nyoba lagi… Mungkin one day saya akan coba lagi kalau sudah lebih pe-de:)

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: