Husband’s Family Name (after mine)

February 1, 2010 at 12:16 am 2 comments

Minggu lalu, saya menerima scanned dokumen atas nama saya, tapi dengan tambahan nama belakang suami di nama saya.

Mau tahu reaksi pertama ketika melihat scanned dokumen tsb.?

My-old-self-dependent mengatakan “What am I doing? Do I really want to sacrifice my maiden name and carry this ‘new’ name for the rest of my life?”

Bukan apa-apa, selama lebih dari ¼ abad, saya TERLALU terbiasa dan bangga menjadi independent. Tidak perlu tergatung siapa-siapa. Biasa memutuskan apa-apa sendiri, most of the time.

Dengan adanya tambahan nama belakang suami [dan mengorbankan nama belakang saya, by the way, karena kalo gak namanya kepanjangan], rasanya jadi I’m not myself anymore, huhuhu….

IT’S A WEIRD FEELING, I know.

Tapi kemudian saya sadar, bahwa tujuan menggunakan nama belakang suami semata-mata untuk kepentingan kemudahan administrasi di luar negeri kita tercinta ini.

Selama hampir 2 tahun menikah dan masih menggunakan my own full name, kadang suka ribet juga urusannya di negeri suami. Misal, untuk urusan berobat. Saya memang punya medicare card (semacam kartu ASKES kalo di Indo), dan karena di medicare card saya masih pake nama gadis, suami harus selalu memberikan keterangan tambahan pada petugas “Yes, she’s my wife.” Atau, pada saat harus cap passport di airport custom counter…secara saya pemegang passport hijau dan pakai nama sendiri di passport, jadinya saya sering ‘merasa harus’ berdiri di antrian “other passport bearers”. Padahal biasanya antrian di bagian itu puanjangggg…banget! Keuntungan pakai nama belakang suami, jadinya saya bisa ‘nebeng’ ngantri bareng suami, dan bisa lebih cepat lewat custom🙂

Well, bagaimanapun di negeri suami, kayaknya penting bagi istri untuk pakai nama belakang suami. Jadi, seperti kata pepatah bilang “When you’re in Rome, do what the Romans do…”

Sacrificing my last name and adding my husband’s is not a big deal. After all, marriage is about sacrificing anyway…

Dan lagi, dengan adanya family name suami di belakang nama saya, mengingatkan saya bahwa I’m no longer single. Kadang suka lupa bok, kalo saya udah merit, hahaha…

[Selain dokumen dengan family name suami tadi, saya juga membiasakan diri menggunakan email address dengan mencantumkan nama dia juga. Paling gak untuk kalangan teman dan kerabat. Untuk urusan bisnis, masih pakai nama sendiri lah yaw…]

 

Entry filed under: Family. Tags: .

Apricot & Almond Slice — yummy! Kencan Pertama dengan ‘Crock Pot’

2 Comments Add your own

  • 1. yustine  |  February 19, 2010 at 10:40 am

    untung aku ga harus pake nama suami ya, kebayang kan jadi yustina tri tumbelaka, huaaaaaa ga nyambung banget hihihihi

    Reply
    • 2. yeniunique  |  February 21, 2010 at 11:29 am

      Hahahaha…iya. Gak nyambung banget kalo nama suami lo dipake di belakang nama kamu.

      Huh, itulah di negara orang. ribet aja…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: