kamoro dancing and carvings

January 22, 2010 at 1:29 am 1 comment

yesterday was an absolutely fantastic day!

pertama, [thank God] urusan perpanjangan passport saya lancar-lancar saja. tinggal menunggu passport saya di-issue dan dikirim ke tembagapura. [the passport thing was the very reason why yesterday i was in kuala kencana, by the way.]

kedua, saya bisa lunch bareng teman saya dan anak lelakinya, seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya.

and then… as the highlight of all… malam harinya di rimba papua hotel, timika, [used to be sheraton hotel] tempat saya menginap, saya menyaksikan the kamoro traditional dancing and carvings!

wait! how could that happen?

well, you see, sometimes you just need to be in the right place at the right time.

adalah kal muller, penulis banyak buku tentang indonesia [termasuk buku-buku tentang papua], dan sering disebut sebagai ‘bapak kamoro’, yang meng-organize sekitar 30 – 40 orang kamoro, laki-laki dan perempuan, untuk menampilkan tarian tradisional sekaligus pameran kecil hasil kerajinan/ukiran khas suku kamoro di rimba papua hotel tadi malam. that performance was intended to entertain some guests from us embassy.

di hari yang sama, joanne richardson — our dentist as well as a very good friend of my husband and i — yang juga berteman amat baik  dengan kal muller, menginap di rimba papua. it was joanne who offered me to join them to see the kamoro performance, yang saya sambut dengan antusias.

sekitar jam 6 sore, ketika saya tiba di hotel, foyer rimba hotel sudah disiapkan untuk the dancing performance. meja-kursi yang biasanya diletakkan di sekitar foyer tsb. sudah disingkirkan, termasuk karpet tebal  yang biasanya dipasang di situ. joanne yang kebetulan sedang di lobby mengatakan bahwa dancing performance was going to begin at any minute. dan bahwa dia serta kal muller duduk di beranda belakang, enjoying some cold beers and i was more than welcome to join them. she even offered to order me some food if i liked. well, saya belum terlalu lapar. saya bilang ke joanne, saya perlu ke kamar sebentar untuk sekedar cuci muka dan ganti baju, kemudian bergabung dengan mereka. 

pkl. 6.15an, orang-orang kamoro yang akan menari datang, lengkap dengan atribut khas mereka: rok rumbai-rumbai, hiasan kepala dari bulu burung [ada juga yang mengenakan kulit kuskus sebagai hiasan kepala], dan sekujur tubuh dilukis dengan kapur. mereka juga membawa ukiran-ukiran berbagai ukuran, khas kamoro. ada ukiran yang bisa digantung sebagai hiasan dinding, ada beberapa patung besar-kecil. tema ukiran mereka tidak jauh dari binatang dan manusia.

the most impressive piece of all adalah patung kepala buaya, dengan mulut menganga lebar memperlihatkan gigi-gigi & taring nan runcing,  yang dipahat dari kayu bulat berdiameter tidak kurang dari 60 cm! kepala buaya tsb. dipasang di [semacam] tiang pendek yang diukir seperti kaki buaya, dan kaki buaya tsb. dilekatkan di atas fondasi ukiran kaki raksasa. beratnya saya taksir tidak kurang dari 50 kg, dan perlu 2 orang lelaki kamoro yang berotot untuk mengangkat ukiran tsb. betul-betul a piece of work!

and for your information, kayu yang digunakan oleh para seniman kamoro tsb. sebagian besar adalah kayu besi.

saya betul-betul-amat-sangat-menyesal tidak membawa kamera di kesempatan langka seperti itu. [i really need to have a habbit of packing my pocket camera anywhere i go.] well, joanne membawa dua kamera — satu digital pocket dan satu lagi profesional camera —  dan sempat mengambil satu-dua foto, termasuk foto saya dengan beberapa orang kamoro itu. tapi, only god knows why both cameras also ran out of batteries! anyway…

pkl. 6.30an, saat hari sudah mulai gelap, kal muller mengumumkan bahwa dancing performance akan segera dimulai. para tamu diminta untuk bergeser ke arah lobby.

ketika tifa, alat musik trasional mereka, mulai dimainkan oleh empat orang, para penari yang berjumlah tidak kurang dari 30 orang, mulai bergerak mengikuti irama tabuhan tifa, dengan gerakan dan suara-suara yang khas ketika menari.

mendengar suara tifa, suara penari, dan melihat tarian tradisional di depan mata saya… i felt like WOW! somehow, their kinda primitive dancing movement and their music mesmerized me. i couldn’t believe i actually experienced it.

saya mencoba merekam sebanyak mungkin dengan mata saya dan telinga saya. saya coba juga mengambil beberapa gambar dan video  dengan telepon seluler saya. could not expect to have fantastic pics nor videos though, as my cellphone is only a simple one. not enough light made the pics i took look dark.

seusai menyaksikan tarian tradisional, kami diajak lagi ke teras belakang, tempat ukiran-ukiran diletakkan. kami bebas melihat-lihat, menyentuh ukiran-ukiran, berinteraksi dengan para seniman kamoro [i like to call ’em the kamoro artists anyway…], memotret hasil karya mereka, atau yang berjiwa narsis bisa juga berfoto dengan mereka🙂

kal muller mengingatkan para tamu bahwa akan sangat membantu jika tamu juga membeli hasil karya orang kamoro tsb.

bukan karena anjuran kal muller ketika saya ended up buying three pieces of the carvings. i bought them because they’re so gorgeous.

saya membeli sepasang ukiran kayu, hasil karya yulius iwitiu, yang bisa digantung di dinding — satu dengan ornamen bunga di ujungnya, dan satu lagi dengan ornamen kodok. joanne bilang i made good choices, karena ornamen bunga melambangkan saya sedangkan ornamen kodok melambangkan adrian, my beloved husband. hahahahaha…! [tunggu sampai saya cerita tentang komentar joanne ini sama suami saya. dia pasti protes berat]

saya juga amat tertarik dengan ukiran kayu [yang mereka namai juga patung wemawe, karya yakobus eherepa] dengan figur orang, setinggi kurang-lebih 1 meter, berwarna hitam dan terbuat dari kayu besi. cukup berat. kal muller also managed to give a special price for that carving. and i bought that too!

well, setidaknya saya punya 3-pieces of carvings as birthday presents for my beloved husband. [you know, it’s very hard to find birthday present for him as he said he doesn’t need anything]. buying the carvings means i’d give him presents we could enjoy together, hehehehe… [*gakmaurugi.com*]

hal lain yang menarik adalah tentang budaya orang kamoro bahwa kalau membeli ukiran hasil karya mereka, uangnya harus diserahkan oleh pembeli ke suami (yang membuat ukiran). sesudah itu terserah suami apakah akan memberikan uang tsb. kepada istrinya atau tidak. saya ditegur oleh kal muller ketika mau memberikan uang langsung kepada istri yulius iwitiu dan yakobus eherepa untuk membayar ukiran yang saya beli. kal muller sangat menghargai budaya orang kamoro.

saya masih menunggu kiriman beberapa foto dari joanne dan luluk — kal muller’s adopted daughter — dan saya pengen posting foto-foto itu di blog ini. at the meantime, baca ceritanya aja dulu ya… hehehe…

Entry filed under: Sharing. Tags: .

threesome lunch date dinner menu

1 Comment Add your own

  • 1. met ultah, sayang… « Yeni Unique's Blog  |  February 5, 2010 at 2:05 am

    […] untuk doi? Udah ada sih…3 ukiran kamoro yang saya beli di Timika beberapa waktu lalu. Kado itu masih tergeletak pasrah di ruang belakang, […]

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: