WHAT A TRIP!!!

January 12, 2010 at 7:51 am 23 comments

Surprise untuk Mamak

Berawal dari dari keluhan Mamak bahwa tidak ada anaknya yang bisa pulang untuk merayakan Natal 2009 di Tumbang Titi, saya & suami akhirnya memutuskan untuk pulang kampung untuk Natalan di rumah. Kebetulan kami bisa mengambil cuti tanggal 20 Desember 2009 – 3 Januari 2010. Kami sepakat untuk tidak memberi tahu Mamak tentang rencana kepulangan kami. Niatnya sih untuk memberi kejutan bagi ibunda tercinta.

Dari pengalaman pulang Natal 2007, pulang kampung menjelang Natal sebenarnya sama sekali bukan perkara gampang. Selain tiket pesawat biasanya menjadi langka, musim penghujan juga membuat jalan penghubung Ketapang – Tumbang Titi, lewat Pelang, sulit dilalui. Tapi demi ortu, tidak apalah. Finger crossed, berharap perjalanan kami lancar-lancar saja.

Itinerary kami adalah Timika – Surabaya – Jakarta – Pontianak – Ketapang, kemudian Ketapang – Tumbang Titi. Pulangnya Tumbang Titi – Ketapang – Pontianak – Jakarta – Timika.

Persiapan Perjalanan

Walaupun akan pulang diam-diam, tapi toh kami perlu bantuan untuk mencarikan tiket pesawat Pontianak – Ketapang PP, orang yang akan menjemput di bandara Ketapang, sewa speedboat dan kendaraan lanjutan ke Tumbang Titi. Bapaklah orangnya. Saya juga perlu bantuan Kak Evi (kakak sulung saya) untuk menjadi penunjuk jalan dari bandara ke pangkalan speedboat sewaan. Jadi, saya ceritakan rencana kepulangan kami pada Bapak dan Kak Evi, sembari wanti-wanti untuk tidak membocorkan rahasia pada bunda tercinta. Mereka setuju. Bapak pun meng-organized tiket pesawat dan transport lain yang kami perlukan dari Ketapang sampai Tumbang Titi. Saya mengurus tiket pesawat pulang-pergi dari Timika sampai Pontianak. Begitu deal-nya.

Sayang, dari awal, persiapan perjalanan tidak semulus yang diharapkan. Adrian, suami saya, nyaris tidak mendapat tiket Airfast Timika – Surabaya untuk tanggal 20 Desember 2009 dan Jakarta – Timika untuk tanggal 3 Januari 2010. Padahal booking  tiket Airfast sudah kami lakukan di minggu ke-2 November 2009. Kabarnya tiket sudah sold out sejak 3 November 2009!

Sambil mencari jalan untuk mendapatkan tiket Timika – Surabaya untuk Adrian, saya tetap mengurus tiket-tiket lanjutan lain dan mem-booking hotel-hotel yang  kami perlukan. Untungnya seminggu menjelang berangkat, ada informasi bahwa Adrian bisa terbang dengan fasilitas SIR. Hanya saja kalau ada emergency seperti medical evacuation (medivac), orang-orang yang dapat SIR harus mengalah terbang sehari sebelum atau sehari sesudah tanggal yang diminta. 

Dan yang terjadi adalah, pada tanggal 18 Desember kami diberitahu bahwa akan ada medivac tanggal 20 Desember. Pilihannya, Adrian terbang tgl. 19 Desember atau 21 Desember. Yang artinya kami tidak bisa berangkat bareng. Dan itu yang akhirnya terjadi. Adrian terbang tgl. 19 Desember sementara saya tgl. 20 Desember.

Pada saat saya mendarat di bandara Juanda, Surabaya dan mengaktifkan handphone, saya mendapat sms dari Bapak bahwa sepertinya kepulangan kami sudah diketahui oleh Mamak. Istri orang yang mobilnya akan kami sewa yang membocorkan rahasia. Uh, kesel juga.

Ketinggalan Pesawat 2 Kali

Rabu, 23 Des 09. Cuaca di Surabaya tidak begitu bagus. Mendung hitam tebal menutupi langit ketika kami berangkat ke Juanda airport pkl. 5.30 pagi. Mendekati airport, hujan disertai petir mengguyur bumi. Bukan awal yang baik.

Padahal hari itu kami ada jadwal penerbangan Surabaya – Jakarta pkl. 07.00 kemudian Jakarta – Pontianak pkl. 10.30. Keduanya dengan Garuda. Dari Pontianak kami ada penerbangan lanjutan ke Ketapang pkl. 15.00 dengan Kalstar.

Dengan alasan cuaca buruk, pesawat Garuda dari Jakarta tidak mendarat di Airport Juanda, Surabaya dan di-divert ke Denpasar. Padahal pesawat yang sama yang akan membawa kami menuju Jakarta pkl. 07.00. Kami diberangkatkan 2 jam kemudian dan mendarat di Jakarta pkl. 10.30, bertepatan dengan keberangkatan Garuda Jakarta – Pontianak.

S**t!! Kami ketinggalan pesawat!!!

Pihak Garuda mengatakan kami akan diberangkatkan ke Pontianak dengan Garuda penerbangan berikutnya….pkl. 16:00!!! Mana bisa? Kami masih ada penerbangan lanjutan dari Pontianak ke Ketapang pkl. 15.00. Akhirnya kami minta refund dan minta dicarikan maskapai lain yang terbang ke Pontianak lebih awal. Dapat di Batavia yang jadwal aslinya adalah pkl. 11.40. Sesudah check in, tertulis di boarding pass bahwa jadwal boarding pkl. 11.20.

Sesaat bisa bernafas lega. Setidaknya, kalau Batavia berangkat pkl. 11.40 atau maksimal pkl. 12.00, kami masih bisa mengejar pesawat Kalstar Pontianak – Ketapang pkl. 15.00.

Sialnya, hari itu pesawat Batavia yang akan kami tumpangi ’harus’ ganti rem dan ban. Amazing, eh? Maintenance dilakukan pada saat peak season dan dalam jadwal penerbangan pula. Lebih amazing (not!) lagi, penumpang tidak diberi tahu secara pasti kapan pesawat bisa diberangkatkan. Awalnya dibilang 20 menit lagi dari jadwal semula. Okelah. Masih bisa mengejar pesawat lanjutan. Sesudah 20 menit, belum dipanggil untuk naik pesawat juga. Ketika petugasnya ditanya, katanya dongkrak yang digunakan pada saat ganti ban belum bisa dicopot. Hah?

Dari 20 menit menunggu, dilanjut ke 20 menit berikutnya, berikutnya lagi… sampai akhirnya kami diberangkatkan pkl. 14.00. Saya sudah merasa hopeless apakah masih bisa mengejar Kalstar Pontianak-Ketapang. Se-hopeless apapun, saya masih menyimpan sedikit harapan, semoga Kalstar termasuk pesawat yang delayed hari itu…

Mendarat di Bandara Supadio Pontianak pkl. 15.20, dari jendela Batavia kami melihat Kalstar sudah bersiap untuk terbang. Crew sudah memasukkan bagasi penumpang ke pesawat. Adrian mengatakan pada pramugari Batavia, ”Kami harus naik pesawat itu…!!” sambil menunjuk Kalstar yang baling-balingnya sudah berputar.

Begitu kami bisa turun dari pesawat Batavia, Adrian langsung berlari menuju Kalstar, maksudnya minta tunggu… Sedihnya, tinggal beberapa meter lagi, pintu Kalstar ditutup dan pesawatpun meluncur untuk tinggal landas. Betul-betul seribu kali S**T!!!!!

Sedih dan kecewa sekali rasanya. Dua kali kami ditinggalkan pesawat. Lebih-lebih karena kami harus membayar 50% dari harga tiket Kalstar akibat no show. Bagaimana mau muncul kalau kami masih di pesawat yang lain? Pihak Batavia cabang Pontianak yang kami hubungi mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa dengan kerugian yang kami derita. Personel yang kami temui beralasan bahwa penggantian rem & ban harus dilakukan demi keselamatan semua penumpang.

Pertanyaannya, mengapa penggantian ban dan rem tidak dilakukan sebelumnya, mengapa harus bertepatan dengan jadwal penerbangan??

Bad news yang lain, kami menerima informasi bahwa tiket Kalstar Pontianak – Ketapang sudah habis terjual sampai tanggal 26 Desember. What?? Kami tidak mau menghabiskan Natal di Pontianak. Kami mau merayakan Natal bersama orang tua saya di Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang.

Dari Kantor Batavia Cabang Pontianak, kami pergi ke Kantor Kalstar. Petugas di Kalstar mengatakan bahwa tiket betul-betul sudah sold out. Saya tetap duduk di situ, setengah memohon sambil berdoa dalam hati semoga kami bisa mendapat tiket pesawat Pontianak – Ketapang untuk tanggal 24 Desember.

Doa kami rupanya terjawab. Kami diberi tahu bahwa ada calon penumpang yang membatalkan membeli tiket di calo bandara sehingga ada tiket yang available. Kalstar juga masih punya satu tiket di kantor yang masih available. Tapi…tiket itu untuk pkl. 15.00, yang berarti kami akan tiba di Tumbang Titi malam hari dan tidak akan bisa ikut misa malam Natal. Tidak apa-apa, daripada tidak pulang sama sekali.

Di Pontianak kami menginap di Hotel Gajahmada. Hotel yang cukup bagus, worth the money. Terletak persis di dekat Depstore Ligo Mitra sehingga kami bisa membeli beberapa oleh-oleh tambahan untuk dibawa pulang kampung.

Tanggal 24 Desember pagi, saya terbangun oleh suara hujan deras di luar. Sekitar pkl. 08.00 hujan berhenti. Tapi mendung tebal masih menggantung di langit. Oh, no. Jangan sampai penerbangan hari ini batal lagi karena cuaca.

Saya menelepon Pak Is dari Karya Tour Pontianak, menanyakan apakah kalau cuaca mendung Kalstar tetap beroperasi. Pak Is mengatakan bahwa Kalstar tidak beroperasi hanya jika cuaca betul-betul buruk seperti hujan badai disertai petir. Kalau hanya mendung dan hujan sedikit, Kalstar tetap beroperasi seperti biasa. Syukurlah…

Pkl. 13.00 berangkat ke bandara. Pesawat berangkat dari Pontianak pkl. 15.30, tiba di Ketapang pkl. 16.00 disambut Kak Evi di ruang kedatangan. Begitu bagasi sudah dapat semua, kami langsung meluncur ke Pangkalan Speedboat.

Another challenging trip had to begin. Speedboat charter-an kami sudah menunggu. Tanpa membuang waktu kami berangkat menuju Tebangcina yang nanti akan dilanjut perjalanan darat ke Tumbang Titi.

Pkl. 16.45 speedboat mulai meluncur lancar di permukaan Sungai Pawan yang lebar, dalam dan berarus cukup deras. Tidak ada baju pelampung. Jadi keselamatan kami benar-benar tergantung keahlian driver speedboat. Yudha, driver speedboat kami, mengemudi dengan lincah. Sesekali dia membelokkan speedboat ke kiri atau ke kanan untuk menghindari potongan balok kayu atau batang pohon yang mengapung terbawa arus di permukaan sungai.

Entah mengapa, begitu speedboat sudah meluncur, saya merasa amat tenang. I felt at home!

Tiba di Tebangcina pkl. 18:30, Bapak sudah berdiri menyambut kami di rakit kayu yang befungsi sebagai dermaga sederhana. Perjalanan dari Tebangcina ke Tumbang Titi kami lanjutkan dengan mobil sewaan yang memakan waktu 2 jam (padahal hanya berjarak 41 km). Tiba di rumah, disambut peluk-cium Mamak plus sedikit omelan karena kami tidak memberitahu beliau sejak awal kalau kami akan pulang.

Lega rasanya sudah tiba di rumah. Walaupun tidak ikut misa Malam Natal karena sampai di rumah sudah hampir pkl. 21.00.

Mamak sudah menyiapkan beberapa masakan yang mengundang selera yang segera kami santap bersama.

Perayaan Natal di kampung halaman seperti biasa. Meriah. Banyak orang yang datang berkunjung walaupun hujan turun terus. Saya bersyukur bisa merayakan Natal bersama keluarga di kampung halaman.

 

Perjalanan Kembali Dari Tumbang Titi Yang (Juga) Tidak Mulus

Hari Rabu, 29 Desember 2009 adalah jadwal kami untuk kembali ke Ketapang melalui Tebangcina lagi. Speedboat dari Tebangcina jadwalnya pkl. 16.00. Dengan pengalaman sebelumnya, Tumbang Titi – Tebangcina yang memakan waktu 2 jam, kami minta diantar ke Tebangcina pkl. 12.00. Logikanya, cukuplah waktu 4 jam untuk menempuh jarak 41 km.

Sekitar pkl. 10.30, pemilik mobil sewaan datang ke rumah dan memberi informasi kalau jalan Tumbang Titi – Tebangcina rusak parah. Hujan terus-menerus ditambah sepeda motor, truk muatan berton-ton, dan kendaraan lain yang melewati jalan berfondasi tanah merah itu setiap hari membuat jalan tidak kuat bertahan. Akhirnya, kami harus mempercepat waktu keberangkatan ke Tebangcina.

Bapak dan Mamak ikut mengantar.

Betul saja. Jalan yang kami lalui luar biasa rusaknya. Rasanya saya tidak percaya dengan pandangan mata saya. Lubang besar-kecil penuh lumpur kami lihat di sepanjang jalan, membuat mobil yang kami tumpangi di beberapa tempat hanya bisa merayap pelan.

Baru beberapa kilometer dari rumah, mobil sudah menghadapi tantangan pertama. Terbenam di lumpur sehingga tidak bisa bergerak. Perlu lima sampai 6 orang lelaki dewasa membantu mendorong mobil sampai keluar dari lumpur. Di lokasi terbenamnya mobil yang pertama itu, Mamak memutuskan untuk kembali saja ke Tumbang Titi, ikut kenalan yang kebetulan lewat naik motor ke arah Tumbang Titi. Keputusan yang tepat, karena kasihan Mamak kalau ikut sampai Tebangcina dan harus kembali lagi ke Tumbang Titi dengan kondisi jalan ‘luar biasa’ seperti itu.

Saya betul-betul heran, dengan kekayaan alam yang luar biasa, daerah saya bukannya bertambah maju malah mengalami kemunduran. Contoh paling kelihatan adalah infrastruktur jalan yang tidak pernah bagus.

Tantangan berikutnya kami hadapi di area perkebunan kelapa sawit, di jalan mendaki yang menjadi sangat licin akibat hujan. Truk muatan yang lewat di jalan itu membuat jalur ban yang dalam di sisi kiri dan kanan, serta gundukan tanah tinggi di tengah-tengah. Mobil yang kami tumpangi tidak bisa lewat walaupun sudah berkali-kali mencoba. Akhirnya kami harus berputar mencari jalan alternatif.

Jalan alternatif yang kami lalui adalah jalur lama melintasi perkebunan kelapa sawit. Tidak banyak mobil lewat di jalan itu. Di pertengahan rute, mobil terbenam lagi. Kali ini di lumpur berpasir yang membuat mobil sama sekali tidak bisa bergerak. Perlu waktu hampir 1 jam untuk mengeluarkan mobil dari lumpur berpasir tsb. dengan menggunakan dongkrak dan di bagian bawah ban dipasang bilah-bilah papan seadanya yang bisa di dapat di sekitar situ. Begitu mobil bisa lolos dari lumpur pasir, waktu sudah menunjukkan pkl. 15.45, padahal kami belum sampai ½ perjalanan ke Tebangcina.

Saya merasa agak panik. Speedboat sudah menunggu di Tebangcina. Bolak-balik saya sms dan menelepon Pak Hedi, contact person untuk speedboat, minta agar kami jangan ditinggalkan. Bagaimana tidak, esok harinya kami ada 2 penerbangan dari Ketapang sampai Jakarta. Kami HARUS tiba di Ketapang malam itu juga.

Melanjutkan perjalanan, mobil terbenam lagi 3 atau 4 kali. Minta ditarik 3 kali oleh truk (yang kebetulan berpapasan) dengan menggunakan sling (tali besi). Akhirnya, pkl. 18:00  kami sampai juga di Tebangcina. Hari sudah gelap. Untung speedboat masih menunggu. Pyuh…!!! Jarak 41 km Tumbang Titi ke Tebangcina memakan waktu 6 jam!! Benar-benar keterlaluan.

Terlunta-lunta 1 jam di Tengah Sungai

Tanpa membuang waktu, supir speedboat kami, Yudha, dengan seorang temannya langsung menjalankan speedboat begitu kami sudah naik. Speedboat tidak bisa dijalankan kencang karena sudah gelap dan harus menghindari banyak kayu yang mengapung di sungai.

Di tengah perjalanan, kira-kira 30 menit lagi untuk sampai di Ketapang, tiba-tiba speedboat berhenti. Ada apa gerangan?

Yudha mengatakan bahwa bahan bakar speedboat habis. WHAT??? Alasannya sih, karena speedboat tidak bisa dilaju kencang, akibatnya cepat menghabiskan bahan bakar.

Gak tau rasanya mau marah atau mentertawakan keadaan. Seharusnya kan ada persediaan bahan bakar di speedboat untuk situasi emergency seperti itu. Tapi kenyataannya persediaan bahan bakar NOL.

Yudha kemudian menambatkan speedboat di ranting pohon yang menjorok ke sungai. Dia juga mengontak bosnya dengan handphone. Untunggg… in the middle of nowhere seperti itu masih ada sinyal. Sementara saya tidak bisa kontak siapa-siapa. Baterai handphone saya sudah habis, gara-gara saya gunakan untuk bolak-balik telepon dalam perjalanan dari Tumbang Titi ke Tebangcina.

Sekitar 1 jam kami terlunta-lunta di tengah sungai menunggu bahan bakar diantarkan. Ditemani nyamuk-nyamuk yang dengan senang hati bernyanyi di telinga dan menggigit kaki, tangan atau bagian mana saja dari tubuh kami yang tidak tertutup pakaian.

Capek. Kesal. Jengkel. Bercampur aduk menjadi satu. Akhirnya yang ada tinggal pasrah.

Sudah deh. Mau diapain saja terserah lah…

Sekitar pkl. 20.30 atau 21.00 kami akhirnya sampai juga di Ketapang. Kak Evi dan Bang Jo, suaminya, sudah menunggu di pangkalan. Kami kemudian diantar oleh Pak Apheng, pemilik speedboat, ke hotel Aston Ketapang tempat kami menginap.

We then had very late dinner with Kak Evi & Bang Jo.

 

Perjalanan Selanjutnya…

Trip kami keesokan harinya, Ketapang – Pontianak dilanjut Pontianak – Jakarta (untungnya) berjalan mulus. Tiba di Jakarta tanggal 30 Desember siang. Thanks God…

Informasi dari Mamak, Bapak baru sampai di rumah pkl. 02.30 pagi!!! Tantangan untuk pulang dari Tebangcina ke Tumbang Titi lebih heboh karena kondisi gelap, supir & penumpang sudah capek, 5 kali terbenam di kubangan lumpur, harus ganti ban, dsb. Poor Dad…

Rencana pulang kampung berikutnya? Entahlah…yang jelas kalaupun pulang kampung lagi, tidak mau pada bulan-bulan musin penghujan. Selain capek di badan, berat di ongkos, merepotkan banyak orang pula.

Satu harapan dari saya… Mudah-mudahan siapapun yang nantinya akan duduk di Pemerintahan Daerah Kabupaten Ketapang, Kalbar, bisa lebih peduli dengan pembangunan daerahnya. Semua orang tahu bahwa setiap tahun ada dana APBD yang dialokasikan untuk pembangunan jalan. Seperti tahun 2009, misalnya, dana yang dialokasikan untuk jalan Ketapang – Tumbang Titi, melalui Pelang, kabarnya sebesar 23 miliar. Realisasinya?? Entah kemana larinya dana sebesar itu. Karena kenyataanya jalan bukannya semakin baik, malah semakin jelek.

Entahlah…

Entry filed under: Travelling & Places. Tags: .

Kepala Tiga Tema Blog

23 Comments Add your own

  • 1. Gita  |  January 12, 2010 at 9:41 am

    Bacanya gw terharu Niq…sampe berkaca-kaca…gw nggak ngebayangin ternyata perjuangan banget yach ..buat melewatkan satu malam Natal di rumah bersama Mamak dan keluarga tercinta….tapi semuanya worth it-lah..apalagi sich hal paling priceless didunia ini….kehangatan bersama keluarga…hehehe

    Reply
    • 2. yeniunique  |  January 13, 2010 at 12:16 am

      Iya Git… perjalanan pulang kampung kemarin betul2 penuh tantangan. Tapi ya bener…. worth it. Natalan di rumah sama ortu berasa beda. Lebih syahdu…ceilee…

      Gw amat prihatin dengan kondisi jalan di sana. Betul2 speechless deh gw… kenapa ya kayak gak ada perhatian atau niat baik yg punya power utk memperbaiki kondisi daerah di sana??

      Membaca tulisan gw tentang trip kemaren, kamu masih berniat jalan2 ke tumbang titi? hehehehe…

      Reply
  • 3. Yustine  |  January 13, 2010 at 8:29 am

    Walaupun udah denger crita ini langsung, baca tulisan kakak aku tetep ternganga, geleng2, ga nyangka! Kebayang ga sih kalo pulang bw kevin bile dgn kondisi begitu? Bisa histeris emaknya kalo harus berada di tengah hutan berjam2… Tapi tetep, harus pulang bw anak2 liat nenek datuknya. Harus!
    Ps = kurang dramatis kak, blm ditulis biaya transportasi buat kesana pasti yg blm tau kondisi daerah kita tmbh terbelalak takjub :-p
    nice story,anyway…

    Reply
    • 4. yeniunique  |  January 14, 2010 at 4:37 am

      Whaaa…kalau bawa kevin-bile pasti kamu udah nangis bombay ngalamin perjalanan kayak kemarin. belum kalau anak2 laper, capek tergoncang-goncang di mobil, capek nungguin mobil dikeluarin dari kubangan lumpur, dll… mending nih ya… kalau kalian mo pulang, minta dijemput motor aja. pake 3 motor cukuplah: 1 motor utk bawa kamu & kevin, 1 utk deny-bile, 1 lagi utk bawa barang. dijamin lebih cepet nyampe ke rumah.

      yakin mau tau rincian budjet pulang kemarin? huhuhuhu…cukup buat beli 5 blackberry yg udah mayan keren… dg asumsi 1 BB = 5jutaan. budjet terbesar sih di pesawat, hotel, dan transport ketapang-tb. titi. maklum bokk…perjalanan dari ujung ke ujung, jadinya budjet jg membengkak.

      kalo kalian dari jogja sih bisa dimaksimalkan ngiritnya. dan jangan pergi pas peak season. yg pasti utk kalian budjet yg harus disiapkan adalah tiket pesawat jogja-ponti-ketapang (atau kalo masih ada, bisa via semarang-ketapang, itu lebih ngirit). trus, ongkos bensin+rokok yg jemput pake motor plus uang jajan anak-anak di tb.titi. kurang dari setengah budjet kami kemarin paling udah cukup lah.

      selamat merencanakan pulang kampung!🙂

      Reply
  • 5. beny  |  January 14, 2010 at 3:37 pm

    benar kak enak jalan darat ja…dari ketapang-tumbang titi cuma sekitar 1 jam setengah. n q benar2 terharu liat cerita kakak huh,……

    Reply
    • 6. yeniunique  |  January 14, 2010 at 9:42 pm

      Hahaha…naik motor pun tergantung musim penghujan atau ndak Ben. Kalau musim penghujan paling cepat 2 – 2.5 jam, itupun udah termasuk orang yg nekad…semuanya diterabas.

      Reply
  • 7. yustine  |  January 15, 2010 at 10:27 am

    lets count:
    tiket pesawat 4 orang = 4 jtx2 = 8 jt
    huaaaaaaaaaaaaaaaa

    Reply
    • 8. yeniunique  |  January 15, 2010 at 10:33 pm

      tenang…tenang…. nabung pelan2… (dan gak pakek diambil mulu :p). pasti bisalah…

      Reply
  • 9. jo4n3z  |  January 31, 2010 at 2:50 pm

    Makanye balik aje ke tb titi yun.. Bangun tb ti2 biar lbh baek.. Gimana jln gk ancur.. Slama ini jln di sktr bt tjm, pngtpan, tmblina,seimlyu dirawat oleh para petani sawit, tp dh sejak mei 2009 smpi skrg petani gk di gaji oleh pt.big.. Jd ya gk mampu ngurus jln.. Makan jak susah..
    Mun hndx pulkam agix lwt psaguan jak.. Speed dr psguan ke tb ti2 bturax mah..

    Reply
    • 10. yeniunique  |  January 31, 2010 at 10:09 pm

      salam kenal abang/adek joanez🙂
      aok, pernah kepikiran maok pulang kampung dg idealisme membangun kampung halaman. tapi jangan salah…bukan berarti orang yg beniat baek maok membangun kampung halaman bise dapat jabatan. pulang kampung kemarin membuka mataku gak kalo di tbtiti sanak money politik masih sangat besar pengaruhnye. orang bise dpt jabatan dg main duit. cam mane kampung kite maok maju, iye dak?

      aku jg dengar ttg petani sawit yg dak dibayar berbulan-bulan. kasian betul sidak tu…

      udah kepikiran maok pulang lewat pesaguan, naik speed sampe tbtiti. tapi katenye, udah lamak speed dak mudik sampai tbtiti…jadi manelah tau rutenye masih mulus (baca: dak banyak batang kayu melintang, dll) ato dak.

      ngomong2 kok bise nyasar ke blog aku? hehehe…

      Reply
  • 11. jo4n3z  |  February 5, 2010 at 1:44 am

    Lam knl jg. Kt ni sbnrnya bkn asli tb ti2, tp warga trans di sp3 mambuk. Tp krn dh 1thn ini perusahaan gk bayar gaji kami.. Ya terpaksa kami pulkam dl di lampung. Dr pd tetap di ktpg cm demo gak karuan.. Demo jg gk ade hsl.. Malah di tunggangi berbagai pihak yg punya kpentingan lain.. Mau ikut krja ilegal nambang emas atau krj kayu jg gk sampai hati karena hanya akan smakin merusak alam kalbar..
    Harapan kami yaa.. Smoga kasus ini cpt dpt solusi.. N kami cpt blk ke tb ti2. Krna dh kangen ama kponakan yg msh di tb ti2 n ktpg.. U knl Yohanes purwanto yg dl koster di tb titi? Wktu romo hari?..

    Reply
    • 12. yeniunique  |  February 6, 2010 at 12:29 am

      hmmm Yohanes Purwanto? asal Jawa dan pernah sekolah di SMP Usaba Tb Titi, alias Farming? Kurus tinggi? Panggilan Purwanto ye kalo dak salah dulu? [maapkan kalo salah, hehehe…]

      Reply
  • 13. Jo4n3z  |  February 6, 2010 at 3:52 pm

    Btl yen.. Salut jg ni.. Walau dh sukses U msh ingat, detail lg..
    Papua d mn? Krj ap?

    Reply
    • 14. yeniunique  |  February 8, 2010 at 2:14 am

      Hahaha…mane bakal lupak sih dg kawan sorang?

      Di Papua kerje di freeport. Kau skrg di Lampung kerje ape Pur?

      Reply
  • 15. jo4n3z  |  February 8, 2010 at 2:45 pm

    Nah.. Pur tu msh d ktpg, krj di sbuah smu swasta.
    ..ini om nya pur..
    No hp pur 085252375151

    Reply
    • 16. yeniunique  |  February 10, 2010 at 12:35 am

      Salam kenal untuk om-nya Pur…
      Btw, masih penasaran…kok bisa aja om mampir di blog saya?🙂

      Reply
  • 17. jo4n3z  |  February 8, 2010 at 3:05 pm

    No hp pur kadang susah dihubungi.. Tapi dia jg prnh krm psn pake no ini 081256683331

    Reply
  • 18. jo4n3z  |  February 12, 2010 at 12:48 pm

    Klu blogmu gk ad kata tb ti2, ktpng,tb cina dll.. mungkin q gk nyasar.. Dh banyak blog yg q intip, tp blm tentu i comment.. Krna kebanyakan mrk bkn asli tb ti2, cm kbetulan aja artikelnya bawa2 tb ti2..
    Yen.. Rum bokap u klu dr tb ti2 mo ke pengancing kiri ape kann jln.

    Reply
    • 19. yeniunique  |  February 12, 2010 at 10:13 pm

      om joanez, rumah ortu di telukmentawa, depan PLN tbtiti, kalo ke arah rumah sakit, persis di dpn PLN, di sebelah kanan jalan.

      aku prihatin sekali dg kondisi tbtiti. udah merantau dr ’95, tiap kali pulang kampung bukannye tambah maju, malah kondisi daerah (terutama jalan) tambah parah. padahal potensi daerahnya besar sekali.

      Reply
  • 20. jo4n3z  |  February 13, 2010 at 3:02 pm

    kann jln? Bokap u photografer? Sorry klu slh.. U sebaya ama pele ank datuk rembet?

    Reply
    • 21. yeniunique  |  February 14, 2010 at 6:39 am

      Iye, bapak biasa motret. Tau Pak Kastubi?
      Aku seumuran anak datuk Rembet yg bungsu (Bik Sabet). Kalo Om Pele sih jauh lebih tua dari aku.

      Reply
  • 22. Jo4n3z  |  February 14, 2010 at 1:21 pm

    Lah.. Q dl srng k rmh u.. Bkp u jg dh prnh singgah tmp q. Salam aja buat bkp.

    Reply
    • 23. yeniunique  |  February 15, 2010 at 1:03 am

      Wah…dunia ini ternyata memang sempit🙂
      Iya, nanti aku sampaikan salamnye ke bapak…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: