Menjadi Pemulung (Serba-Serbi Van Lith Part-3)

December 8, 2009 at 12:23 am Leave a comment

Postingan kali ini masih bertema pengalaman unik semasa sekolah di Van Lith.

Jaman saya dulu, pada waktu kelas 2 akhir ada kegiatan wajib yang dinamakan live in. Kegiatan yang mengharuskan kami (siswa) untuk menghayati kehidupan masyarakat kecil dengan menjalani kehidupan tsb. selama 3 hari. Ada yang menjadi buruh, pembantu rumah tangga, tukang jamu, kuli bangunan, pengamen, dll.

Saya mendapat “jatah” untuk menjadi pemulung di Semarang.

Dari sekolah sudah di-wanti-wanti bahwa kami harus menyembunyikan ‘identitas’ asli kami dan betul-betul menyaru sesuai dengan profesi yang diberikan kepada kami.

Hanya dengan berbekal pakaian seadanya yang dimasukkan ke dalam sebuah tas amat sederhana, saya berangkat ke Semarang bersama rombongan yang mendapat area live in di Semarang.

Di Semarang, kami di-drop di satu Bruderan. Salah seorang bruder kemudian mengantar saya ke lokasi live in. Saya ingat, saya harus berjalan kaki lumayan lama, menyusuri rel kereta api, untuk sampai di lokasi tsb. Saya diantar oleh Bruder…(entahlah, saya lupa namanya) ke suatu lokasi di Semarang (yang nama areanya saya sudah lupa juga). Lokasi tsb. adalah area perumahan sederhana namun padat penduduk. Bruder kemudian mengantar saya ke rumah ketua RT setempat. Singkat cerita, saya diberitahu bahwa saya akan tinggal di rumah ketua RT tsb. selama menjalani live in, tetapi dengan pekerjaan sebagai pemulung.

Semula saya agak heran, kok saya tidak tinggal langsung dengan keluarga pemulung saja? Jawaban yang saya terima saat itu adalah karena area sekitar tsb agak rawan. Jadi akan lebih aman kalau saya tinggal di rumah Ketua RT.

Besok paginya, sekitar jam 5.30, saya diantar oleh pak RT ke ‘rumah’ keluarga pemulung untuk ‘bekerja’.

Rumah keluarga pemulung itu sederhana, ukurannya kecil dengan tiang tinggi. Bagian bawah dibiarkan tanpa dinding, digunakan sebagai dapur sederhana dan untuk menaruh hasil ‘pulungan’. Bagian atas merupakan 1 ruang untuk tidur keluarga tsb.

Keluarga pemulung itu punya 1 anak perempuan yang waktu itu sekitar kelas 6 SD. Sayang, karena keterbatasan memori dan acara live in itu sudah 12 tahun berlalu, saya tidak ingat lagi siapa nama Bapak, Ibu, dan Anak Perempuan dari keluarga pemulung itu. Ah, dasar pelupa!

Untuk Bapak Pemulung, saya sebut saja dia Bapak.

Si Bapak sepertinya sudah mengerti kalau saya adalah pemulung gadungan, walaupun saya tidak mengakuinya. Pak RT mengenalkan saya sebagai orang yang ingin ikut bekerja membantu si Bapak untuk mencari pengalaman.

Sesudah dikenalkan, dia menawari saya untuk sarapan nasi bungkus bersama sebelum ‘berangkat kerja’. Tawaran yang saya sambut dengan terharu, walaupun saya sudah sempat sarapan di rumah Pak RT. Sungguh, mereka mau berbagi dari kekurangannya.

Yang paling menarik dari acara sarapan bersama, sebelum mulai makan Bapak memimpin renungan pagi dan membaca Kitab Suci. Saat itu saya merasakan bahwa berdoa bersama keluarga pemulung itu jauh lebih khusyuk dibanding dengan saat berdoa malam di asrama atau di gereja saat giliran ikut misa pagi. Bedanya adalah, keluarga itu berdoa dilatari kesadaran akan kebutuhan berkomunikasi dengan Pencipta-Nya. Sementara saya di asrama ikut doa malam atau misa pagi karena sudah diprogramkan.

Sesudah ritual sarapan selesai, kami ”berangkat kerja”. Bapak menarik gerobak kayu untuk menaruh hasil ‘pulungan’. Di dalam gerobak ada dua karung plastik (bekas karung beras) dan 2 alat terbuat dari besi yang ujungnya agak melengkung menyerupai pengait.

Bapak memakai ‘seragam’ kerjanya yang berupa celana katun yang warnanya sudah tidak jelas, baju lengan panjang dengan warna serupa, dan topi agak lebar. Melihat Bapak memakai kostum seperti itu, seketika saya merasa saltum…saya merasa kaos belel dan celana panjang batik yang saya kenakan terlalu bersih. Bapak meminjami saya topi yang juga sudah belel, karena kata dia nanti saya bisa kepanasan. Kemudian kami berjalan sambil saya berusaha belajar dari Bapak, sampah jenis apa saja yang masih laku dijual. Bapak menyebutkan beberapa, seperti gelas aqua plastik (waktu itu sekilo gelas aqua plastik harganya lumayan mahal), kardus & kertas yang bisa didaur ulang, beberapa jenis botol kaca bekas botol minuman, besi bekas, dll.  

Bapak kemudian membawa saya ke satu lokasi perumahan. Di ujung satu gang, dia bilang pada saya, “Sekarang, kamu ikut saya dulu. Saya tunjukkan sampah mana yang bisa kamu ambil, mana yang tidak.”

Saya ikut Bapak dari belakang, memperhatikan dia membuka tempat sampah satu-persatu, mengorek-ngorek sampah dengan besi pengait, kemudian dengan hati-hati memilah sampah yang bisa dia ambil supaya sampahnya tidak berceceran. Sambil bekerja, dia menjelaskan lagi pada saya jenis sampah yang masih bisa diambil.

Kemudian dia memberi saya satu karung plastik dan satu besi pengait. Sayapun mulai babak baru dalam kehidupan saya: menjadi pemulung!

Pertama kali, saya merasa agak jijik untuk mengorek-ngorek tempat sampah seperti itu. Segala macam sampah dan kotoran bisa Anda temukan ketika membuka tempat sampah, apalagi mengorek-ngoreknya. Sebut saja sisa makanan yang sudah basi, pampers kotor bayi, dan sampah-sampah lain yang kalau saya sebutkan bisa menghilangkan nafsu makan. Dengan menguatkan hati dan berusaha menghayati ‘pekerjaan’ saya, pelan-pelan saya bisa juga mengatasi rasa mual & jijik saya.

Memulung di hari pertama kami akhiri dengan mengorek-ngorek tempat bakaran sampah dan berhasil memungut beberapa besi bekas, paku dll. Saya juga melap tangan saya yang kotor oleh abu bakaran ke kaos dan celana yang saya kenakan, sehingga penampilan saya lebih meyakinkan alias lebih kotor…!!

Selesai memulung sekitar jam 1 siang kami makan nasi bungkus dengan sedikit sayur dan lauk tahu-tempe bacem. Terasa nikmat karena memang lapar. Sesudah makan siang, kami memilah-milah sampah, dipisah lagi dari jenisnya. Dari situ saya belajar lebih banyak lagi mengenai sampah. Kembali ke rumah Pak RT lagi sudah hampir jam 5 sore.

Di hari kedua, saya sudah lebih lincah dalam memilah sampah. Bapak juga sudah lebih akrab dengan saya. Dia menceritakan latar belakang keluarganya sebelum dia menjadi pemulung. Ternyata Bapak ini bukan orang yang tidak berpendidikan; kalau tidak salah dia lulus setingkat SMA gitu… Dia bercerita bahwa dia berasal dari Flores, beristrikan orang Jawa. Ketika gencar-gencarnya program transmigrasi (era Soeharto), dia tertarik untuk ikut karena akan mendapat rumah dan lahan sendiri untuk diolah. Berangkatlah dia dan keluarganya ke Kalimantan untuk transmigrasi. Ternyata, kehidupan di daerah transmigrasi tidak semanis yang dibayangkannya… terutama karena istrinya terkena malaria tropika yang akut sehingga tidak bisa untuk men-support dia untuk menggarap lahannya. Akhirnya, mereka kembali ke Jawa, dan memulai hidup baru di Semarang. Karena mencari pekerjaan susah, bisnis sendiri perlu modal, dia bekerja sebagai pemulung.

Saya tanyakan, apakah dia bahagia dengan hidupnya sekarang? Dia bilang, selama masih bisa bersyukur, orang bisa merasa bahagia. Dia juga bilang, tidak apa-apa bekerja kasar, yang penting masih bisa memberi makan anak-istri dan setiap hari bisa berkumpul dengan keluarga. Saat-saat yang paling dia nikmati, menurutnya, adalah saat bisa berdoa bersama, mengucap syukur atas berkat yang mereka terima, dan makan bersama. Hampir tetes air mata saya mendengar ucapan Bapak yang sederhana itu. Yang seolah menampar saya untuk selalu bersyukur karena kadang saya suka lupa…

Saya juga akhirnya mengaku pada Bapak bahwa saya adalah seorang anak SMA yang sedang menjalani program live in. Bapak bilang, dia sudah tahu.

Di hari kedua juga ada seorang laki-laki yang bertemu kami di jalan dan menyapa Bapak. Bapak mengenalkan saya sebagai anaknya yang sedang liburan sekolah dan mau ikut membantu Bapak memulung. Orang tsb. menyarankan agar saya bekerja di pabrik saja. Sayang katanya anak gadis seperti saya bekerja memulung. Toh bekerja di pabrik, upah hariannya lumayan juga, sekitar Rp 4.000,- (waktu itu di tahun 1997). Dengan ringan Bapak menjawab, “Biar saja anak saya bekerja dengan saya seperti ini… supaya dia tahu bagaimana susahnya orangtua mencari uang…” Lagi-lagi saya merasa tersentil dengan jawaban Bapak… mengingatkan saya sendiri akan orangtua saya yang bekerja keras nun jauh di sana…

Hari itu kami juga menyaksikan tabrak lari. Pada saat sedang berjalan mendorong gerobak, di depan kami ada ibu naik sepeda memboncengkan anak perempuannya. Tiba-tiba, ada mobil yang menyerempet sepeda ibu itu, membuat ibu dan anak terpelanting ke aspal. Supir di mobil yang menyerempet langsung tancap gas dan melarikan diri.

Bapak menyuruh saya bergegas menghampiri korban, sementara dia menyusul dari belakang dengan menarik gerobak berisi hasil pulungan hari itu. Dengan takut-takut saya menghampiri kedua orang yang tergeletak di aspal. Saya merasa lega, melihat kedua orang tsb. masih bernafas. Kepala si ibu sepertinya terbentur cukup keras di aspal sehingga terluka dan darah merah kental mengalir di aspal. Saya bergidik.

Bapak kemudian memanggil sebuah mobil yang lewat, menolong ibu & anak untuk dinaikkan ke mobil dan dibawa ke rumah sakit. Saat itu banyak orang sudah berkerumun di sekitar tempat kecelakaan. Beberapa menyumpahi orang yang melarikan diri sesudah menabrak. Kemudian mereka bubar. Bapak dan saya kembali ke rumah.

Saya berjalan dalam diam. Satu lagi peristiwa yang patut direnungkan… ternyata hidup itu amat rentan. Kecelakaan bisa terjadi dimana saja dan kapan saja.

Sekitar jam 4 sore, Bapak menawari saya untuk ikut beliau menjual hasil pulungan. Dari sekian puluh kilo hasil pulungan yang dijual, Bapak mengantongi uang sebesar Rp 25.000,- yang diterimanya dengan syukur.

Hari ketiga adalah hari terakhir saya untuk ikut Bapak memulung. Tidak ada kejadian luar biasa. Sore itu, Bapak & Istrinya meminta saya untuk menginap di rumah mereka. Dan saya iya-kan dengan senang hati. Saat itu, saya juga sudah mulai akrab dengan anak perempuan mereka.

Malam itu, Bapak & Ibu membeli sate ayam yang kami nikmati bersama… Mereka bilang, itu untuk perpisahan dengan saya. Duh, lagi-lagi saya merasa sangat terharu dengan ketulusan dan keramahan yang saya dapat dari keluarga sederhana itu.

Hari keempat, saya harus pulang ke Muntilan. Kembali ke sekolah dan ke asrama. Saya membawa oleh-oleh pengalaman dan kenangan luar biasa dari 3 hari menjadi pemulung.

Sampai beberapa waktu, saya masih berkirim surat dengan anak perempuan Bapak pemulung. Sampai akhirnya surat saya tidak pernah berbalas lagi… Entah karena tidak sampai, entah karena Bapak dan keluarganya ‘terpaksa’ harus pindah lagi dari area itu.

Untuk Bapak dan keluarga, terima kasih sudah menerima saya sewaktu saya live in dulu. Mudah-mudahan dimanapun Bapak sekeluarga sekarang berada, selalu dilindungi oleh-Nya. Amin.

Entry filed under: Memories. Tags: .

UNGU – tema saya hari ini mie rebus spesial – menu lunch hari ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: