Gila Sehari (Serba-Serbi VL – Part 2)

December 7, 2009 at 12:16 am 3 comments

Salah satu pengalaman paling unik untuk saya sewaktu di Van Lith mungkin sehari menjadi orang gila.

Kok bisa?

Iya. Bisa aja. Namanya juga sekolah di Van Lith.

Sehari menjadi orang gila saya lakoni ketika menjadi anggota pengurus OSIS waktu saya kelas 2. Nah, orientasi pengurus OSIS-nya cukup unik. Salah satunya adalah para pengurus OSIS diminta untuk berpakaian dan bertingkah seperti orang gila selama sehari. Pada hari yang bersejarah itu (ceilee…bahasanya)…dengan memakai baju compang-camping, muka dan badan saya olesi lumpur, rambut saya yang lumayan panjang saya konde seadanya, dan memakai sandal jepit butut, saya berjalan di seputar Muntilan.

Menjadi orang gila memang tidak gampang, walaupun itu hanya sekedar akting. Sepanjang perjalanan, ada yang memandang sinis, ada yang terlihat kasihan, ada juga yang mau memanfaatkan keadaan.

Misalnya, ketika saya berjalan di pematang sawah sambil ngomong, garuk-garuk kepala & nyanyi sendiri, saya bertemu beberapa ibu yang sedang menanam padi. Ketika melihat saya, seorang ibu berkata pada yang lain “Duh, mesak ne. Isih nom kok wis edan…” yang artinya, “Duh, kasihan sekali. Masih muda kok sudah gila…” Mereka kemudian menawari saya bakwan goreng, yang saya ambil sembari tertawa-tawa dan manggut-manggut. Saat itu mendadak saya merasa senang, dalam keadaan ‘gila’ pun ternyata masih ada orang yang baik pada saya.

Saya makan bakwan itu di depan ibu-ibu itu. Mata mereka menatap saya dengan sorot kasihan. Mungkin dalam hati mereka bilang, “Duhh, untung anak saya tidak ada yang gila…”

Kemudian saya berjalan lagi menyusuri pematang sawah. Ada juga laki-laki usia 30 atau 40-an yang melihat ada gadis “edan” (tapi masih muda dan imut *halah*) berteriak pada saya “Nduk…rene nduk… melu aku wae…” yang artinya “Nak, sini nak… ikut saya saja…” Nada suaranya tidak mencerminkan orang yang berniat menolong, tapi seperti laki-laki yang berniat iseng. Hmfff…saat itu saya langsung berpikir terjelek…lelaki itu mau ngapa-ngapain saya!

Alhasil, saya seketika lupa bahwa saya sedang berakting menjadi orang gila… saya langsung berlari terbirit-terbirit ke arah jalan besar menjauhi lelaki itu dengan jantung dag-dig-dug. Begitu merasa sudah “selamat” dan tiba di jalan besar lagi, saya menghembuskan nafas lega.  

Saya kemudian memutuskan untuk bermain pasir di halaman sebuah Sekolah Dasar yang terletak di pinggir jalan raya. Dari kejauhan saya melihat 2 orang kakak kelas berjalan ke arah depan SD tempat saya bermain pasir. Saya langsung pura-pura tidak melihat dan duduk bermain pasir sambil memunggungi jalan raya, berharap mereka tidak melihat saya. Dan benar, mereka lewat begitu saja. Sepertinya mereka tidak mengenali saya. Ternyata setelah beberapa meter, mereka berbalik dan menegur saya, “Nik, kamu ngapain…?” Rupanya mereka tidak tahu kalau saya sedang ikut penggojlokan pengurus OSIS.

Seperti yang saya singgung di awal postingan ini, menjadi orang gila amat tidak gampang. Kalau mau mencoba sendiri silakan… Bagi saya, sisi menarik dari sehari menjadi orang gila adalah, kita bisa melihat berbagai karakter manusia; ada yang berempati, ada yang biasa-biasa saja melihat orang gila, ada yang kasihan…tapi kalau boleh jujur, 80% orang yang saya temui hari itu dalam ‘kegilaan’ saya adalah orang-orang yang judging. Banyak yang memandang saya seolah seperti bukan manusia lagi. Ada yang lebih memilih menjauh ketika berpapasan dengan saya di jalan, ogah dekat-dekat sama orang gila…Saya, Anda yang membaca postingan ini, kita semua juga mungkin sering bersikap seperti orang-orang yang saya temui hari itu…judging.

Sesudah mengalami hal seperti itu, saya menjadi lebih berempati dengan orang-orang yang entah karena sebab apa menjadi gila. Tidak ada gunanya bersikap menghakimi. Toh, barangkali tanpa kita sadari, kita yang meng-klaim diri sebagai orang normal malah mungkin lebih gila daripada orang gila?

Entry filed under: Memories. Tags: .

Serba Serbi Van Lith (part 1) UNGU – tema saya hari ini

3 Comments Add your own

  • 1. dinda yustina  |  December 8, 2009 at 11:48 am

    whahahahha, aku belum pernah tau kalo kakakku pernah sehari menjadi gila. lucunya gilanya milih yang aman, maenan pasir… untuk waktu itu belum ngetren internet ya kak, kalo sekarang aku disuruh akting gila, aku milih ah, pengen gila ngenet aja hahahahaha

    Reply
  • 2. dinda yustina  |  December 8, 2009 at 11:57 am

    sama satu lagi, jarang loh liat orang gila pake sendal jepit biar butut hihihi, kalo aku sih tetep ya, bakal pake sepatu dan tas yang keren. judulnya gila belanja…

    Reply
    • 3. yeniunique  |  December 8, 2009 at 10:25 pm

      Huahahahaha….dasar kamu Dek….
      Iya, untung belum internet belom ngetren waktu itu. Lucu aja kalo pura-pura gila tapi internetan, hihihihihi….
      Kalo elu sih teteup… gila belanjanya udah penyakit akut kayanya sih… :-p

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: