Serba Serbi Van Lith (part 1)

December 4, 2009 at 7:19 am 4 comments

Seperti yang saya singgung sedikit dalam tulisan sebelumnya tentang Van Lith, ada banyak kegiatan/peristiwa/pengalaman selama di VL yang masih membekas dalam kenangan. Pokoknya Van Lith bangetlah… tidak akan didapat kalau saya sekolah di SMU lain.

Di postingan ini saya tulis beberapa saja ya… supaya tidak terlalu panjang ceritanya. Sisanya saya tulis di postingan berikut.

Sebutlah OPSPEK-nya. OPSPEK angkatan saya (angkatan 5) lumayan berat lho! Menginap di sekolah (tidurnya di kelas-kelas), mandi pakai acara antri dan hanya diberi waktu 5 menit untuk mandi. Dua hari pertama kami hanya makan nasi dengan sambal (dan harus habis), atau makan ketela rebus. Tidak heran di hari ketiga, ketika diberi makan yang lebih ‘manusiawi’ berupa nasi dengan sayur lodeh, rasanya nikmat banget! Kami juga sempat disuruh minum air brotowali, latihan baris-berbaris, dll.

Sempat juga waktu kelas 1 kami diminta untuk menggalang dana untuk disumbangkan. Caranya unik: kami tidak boleh menyumbang dari uang sendiri tapi harus berupa hasil dari bekerja. Kami harus mencari pekerjaan di seputar Muntilan. Saya waktu itu bekerja 3 hari di warung Soto Lezat, yang letaknya di pojokan dekat Jln.Kartini. Kalau tidak salah waktu itu saya bekerja dengan Gita (eh…udah agak lupa ding…). Pertama masuk kerja, kami semangat sekali diberi minum es jeruk. Kemudian, kami diberi tugas untuk membungkus air untuk dibuat es batu. Dan ternyata oh ternyata…air yang dibungkus menjadi es diambil langsung dari kran (a.k.a. air mentah) dan kami tidak tahu apakah air itu betul-betul bersih atau tidak. Hari berikutnya waktu ditawari lagi minum es teh atau es jeruk, langsung menolak dengan halus dan minta teh hangat saja, hahahaha…

Lumayan juga ternyata beratnya bekerja menjadi ‘pelayan’ di warung soto. Sesudah tiga hari kulit telapak tangan mengelupas karena terlalu banyak kontak dengan sabun colek yang digunakan untuk mencuci piring. Selain itu, banyak baret-baret juga, terkena parutan kelapa. Satu lagi, saya jadi tidak begitu doyan makan soto untuk beberapa waktu saking sudah ‘eneg’ dengan aroma soto yang saya hirup selama 3 hari.

Selain sempat menjadi pelayan di warung soto, VL juga berperan dalam program ‘pembesaran betis’ saya. Yang namanya jalan kaki sudah menjadi menu normal kami.

Mulai dari jalan kaki a la Br. Petrus Paijan. Jalan kaki ini dilakukan berpasangan; satu orang menghitung berapa langkah, sementara satu lagi harus mengamati apa saja yang dilalui sepanjang perjalanan. Saya lupa tujuannya apa… kalau tidak salah untuk melatih konsentrasi. Ada lagi berjalan kaki ke Sendang Sono yang merupakan kegiatan rutin setiap bulan Maria (Mei & Oktober). Jalan kaki dari Van Lith ke Sendang Sono lumayan juga…makan waktu 6 – 8 jam kalau tidak salah.

Cukup itu saja? Oh, jangan salah.. masih ada Napak Tilas Romo Van Lith yang makan waktu lebih lama dengan rute yang lebih panjang dan menantang. Acara pendadaran THS-THM juga mengharuskan peserta (termasuk saya) berjalan kaki ke Jurang Jero… tanpa alas kaki!!

Program Katakese juga termasuk program pembesaran betis. Kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil untuk memberi pelajaran sekolah minggu ke anak-anak di dusun-dusun terpencil di lereng Merapi. Jaraknya lumayan jauhhh…(pakai banget) dari asrama. Saya dapat area katakese di Gantang, satu dusun di lereng merapi. Untuk mencapai Gantang harus naik angkot sekitar 1 jam, ditambah jalan kaki 30 menitan. Jalannya yang naik turun lumayan membuat betis semakin berotot.

Kegiatan lain yang masih meninggalkan kesan adalah homestay, pada waktu liburan kenaikan kelas… dari kelas 1 naik ke kelas 2. Kami tinggal sekitar 3 hari di pemukiman penduduk di daerah lereng Merapi juga. Makan seadanya (umumnya penduduk di situ makan nasi jagung dengan tumis sayuran dan lauk tempe/tahu; nasi putih dianggap barang mewah yang tidak dihidangkan tiap hari). Kami juga membantu warga setempat membangun fasilitas umum (waktu itu kalau gak salah membuat MCK).

Banyak juga kejadian lucu pada waktu homestay. Misalnya, seorang teman yang tidak mengerti bahasa Jawa, pada waktu makan dengan menu nasi jagung, ditanya oleh ibu pemilik rumah yang ditinggali, “Mboten eco nggih mas daharipun?” yang arti harafiahnya “Tidak enak ya mas makanannya?” Si teman ini menjawab dengan mantap, “Nggih..” alias mengiyakan. Dia pikir itu artinya makanannya enak. Si ibu pemilik rumah rupanya agak berkecil hati nasi jagungnya dibilang tidak enak. Langsung deh di hari berikutnya hidangan berganti menjadi nasi putih!

Di hari-hari terakhir homestay, saya kena diare parah yang membuat saya tidak bisa ikut acara perpisahan. Pokoknya tepar deh saya waktu itu. Mungkin gara-gara makan dengan tangan kotor.

Segini dulu ya cerita VL-nya… nanti saya sambung lagi dengan cerita yang lebih seru🙂

Entry filed under: Memories. Tags: .

fun farewell party Gila Sehari (Serba-Serbi VL – Part 2)

4 Comments Add your own

  • 1. mamayuri  |  December 5, 2009 at 12:27 am

    iya bener Niq..kita kerja di warung yang jual gudeg dan soto itu..huahuahhaa….gw inget gw nggak bisa keluarin kelapa dari batoknya karena serem liat goloknya…tapi ternyata loe bisa..hebat emang Unique nich…hehehe

    Reply
    • 2. yeniunique  |  December 6, 2009 at 10:06 pm

      Huahahaha…Git, iya gw inget elu berusaha mengeluarkan kelapa dari batoknya. Tapi trus elu memilih kerjaan lain aja🙂. Tapi elu mau kok diminta memarut kelapa waktu itu, walaupun konsekuensinya jemari penuh baret parutan kelapa…

      Trus, pertama kali masuk kerja, kita dikasih es jeruk dan kita minum dengan penuh semangat… Abis itu disuruh bungkusin air untuk membuat es batu. Kita di kasih ember aja. Kita tanya sama mbak-nya… trus airnya dimana? Ditunjuklah kran air di tempat cuci piring yang kebersihan airnya entahlah… Abis kerja di warung soto itu, beneran lho Git…untuk beberapa waktu gw gak mau tuh yg namanya pesen es teh ato es jeruk di warung… udah tau cara bikinnya soalnya, hehehehe…

      Semakin dikenang, kehidupan VL dulu rasanya semakin penuh warna ya…?

      Reply
      • 3. mamayuri  |  December 7, 2009 at 9:19 am

        Huahahaa….iya iya…terus kalo nggak salah pas kita kerja itu lewat rombongan yang lagi arak-arakan kampanye PDI-P pake motor banyak gitu ya nggak?

        ckckc…emang yach Niq..kita udah tau tuch ‘rahasia’ trik ngambil untungnya tu warung…es-nya nggak dimasak…hehehehe….

        iya nich, euforia dan nostalgilanya masih berasa terus…

  • 4. yeniunique  |  December 7, 2009 at 11:06 pm

    Bener banget Git… pas kita kerja itu ada arak-arakan kampanye PDI-P pake motor yg buanyak…sampe gw agak ngeri gitu liatnya.

    Euforia nostalgila VL? Yup. Sekarang gw lagi menggali lagi memori2 waktu VL… Harusnya dari dulu gw tulis, biar detailnya gak banyak yg lupa, hehehehe…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: