masih tentang bapak

November 28, 2009 at 2:29 am Leave a comment

Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis postingan tentang Bapak saya. Hari ini, masih terbias tulisan “nasihat untuk anak perempuan” yang saya posting kemarin, saya ingin menggali lagi kenangan saya tentang Bapak…

Tentang Bapak yang galak sekaligus Bapak yang selalu kami rindui.

Yup. Bapak (dulu) terkenal galak. Terlebih kalau menyangkut soal belajar & cowok.

Soal cowok, beliau ketat sekali! Tidak boleh pacaran sebelum umur 17 tahun!

Saya masih ingat, sewaktu kelas 6 SD, saya punya teman sepermainan yang bernama Yohanes Auri. Cowok ini teman berantem saya di SD. Lulus SD kami melanjutkan di SMP yang berbeda, saya di SMP Pangudi Luhur dan Yohanes di SMP Negeri. SMP kelas 1, Yohanes suka menitipkan surat untuk saya lewat Nanik, tetangga sebelah, yang satu sekolahan dengan dia. Entah bagaimana caranya Bapak tahu, walaupun saya tidak pernah bercerita tentang surat-surat itu. Kabar bahwa Bapak tahu Yohanes surat-suratan dengan saya sampai juga di telinga Yohanes. Dan dia tahu dong bahwa Bapak saya terkenal galak. Poor boy…dia nyaris terjungkal ke selokan di pinggir jalan sewaktu melihat Bapak saya naik motor dari kejauhan.

Masih tentang cowok dan cinta monyet ABG, waktu saya kelas 3 SMP,  Bapak pernah tidak ngomong sama saya beberapa hari gara-gara saya ketahuan surat-suratan dengan teman seangkatan. Oia, namanya Albertus Irawan yang biasa dipanggil Dagol. Walaupun Bapak tidak terang-terangan bilang sama saya, tapi saya tahu Bapak tidak suka saya mulai mengenal cowok sebelum waktunya (a.k.a. 17 tahun).

Kalau mau ikut kegiatan malam hari boleh saja. Tapi jam 9 malam sudah harus pulang. Tidak bisa tidak. Kalau lewat sedikit dari jam 9 malam, bisa dipastikan kami akan ‘disambut’ Bapak di depan pintu.

Menyangkut study, Bapak juga sangat disiplin. Jam 6 – 8 malam adalah waktunya belajar. Tidak boleh membaca novel atau majalah dan tidak boleh menonton TV. Bapak tidak akan segan-segan mengambil novel/majalah di tangan kami (ditambah teguran keras) kalau kami nekat membaca majalah atau novel di jam belajar. Paling lambat jam 9.30 malam sudah harus tidur. Dulu saya dan kakak saya kadang nekat diam-diam membaca novel dengan penerangan lilin atau senter di kamar kalau sudah waktunya jam tidur. Dan supaya tidak ketahuan, novelnya kemudian ditarok di bawah kasur (padahal seringnya ketahuan juga, hahahahaha….)

Soal bahan bacaan, Bapak juga sangat selektif. Waktu SMP belum boleh tuh membaca novelnya Mira W. Saya ingat dimarahin Bapak waktu membaca novel Mira W. yang berjudul “Dari Jendela SMP” gara-gara ada bagian dari novel tsb. yang bercerita tentang dua anak SMP yang kebablasan dalam berpacaran sehingga ceweknya hamil. Membaca novel silat Wiro Sableng yang saat itu lagi ngetop juga tidak boleh. Apalagi ikut-ikutan baca serial Kho Phing Hoo kegemaran Bapak. Tidak boleh!! Paling bolehnya baca Lupus, atau cerita-cerita daerah, atau buku-buku cerita perwayangan koleksi beliau. Huuu…sebel kan?  

Setelah saya SMA & kuliah, saya menyadari bahwa maksud Bapak waktu itu semata-mata supaya prestasi sekolah kami tidak terganggu dengan urusan remeh-temeh dengan cowok atau menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku yang tidak perlu.

Walaupun terkesan amat galak, Bapak sebenarnya sangat perhatian sama anak-anaknya. Bapak tidak pernah lupa membawa oleh-oleh, entah sekedar wafer atau snack, setiap kali bapak dari kota (Ketapang). Tidak pernah pulang dengan tangan kosong. Bapak juga suka bercanda dengan caranya sendiri. Atau memanggil tiap anaknya dengan panggilan kesayangan masing-masing. Kakak saya dipanggil “angis” (gara-gara waktu kecil cengeng, hehehe…), adik perempuan dipanggil “kocik” karena badannya mungil, adik laki-laki no. 4 dipanggil “ndut’ karena waktu kecil badannya montok, trus adik bungsu dipanggil “gundul”. Kalau panggilan untuk saya? Duh, lupa apa bapak punya panggilan khusus untuk saya atau tidak. Mungkin karena saya anak paling normal di rumah jadi tidak memerlukan panggilan khusus kali ya? Hahahaha…  

Bapak juga sangat concern akan pendidikan anak-anaknya. Bapak selalu mengatakan, warisan terbaik yang bapak bisa berikan pada anak-anaknya adalah pendidikan yang bagus, sehingga anak-anaknya kelak bisa mandiri. Dari saya dan kakak-adik saya masih kecil, bapak sudah membuatkan kami tabungan pendidikan untuk masing-masing anak. Dulu masih ditabung di kantor pos, sebelum BRI masuk ke Tumbang Titi. Tiap bulan bapak akan ke kantor pos untuk menabung buat kami.

Bapak juga tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Sewaktu kami masih sekolah dan biaya yang harus diusahakan tidak sedikit, bapak tidak pusing apakah bajunya masih layak pakai atau tidak. Yang penting anak-anaknya bisa sekolah dan cukup sandang-pangan.

Dengan caranya sendiri dan dengan disiplin keras, bapak membesarkan kami. Saya tahu, diam-diam bapak bangga dan cinta luar biasa pada anak-anaknya.

Saya juga tahu Bapak senang kalau ditelepon dan diajak ngobrol, tapi beliau tidak pernah complain kalau anak-anaknya tidak mengirim sms atau menelpon.

Ah, Bapak…

Tak cukup rasanya ucapan terima kasih di dunia ini untuk Bapak dan segala jerih payah yang sudah Bapak lakukan pada kami.

We love you, Bapak…

(gak sabar pengen ngunjungin bapak + mamak lagi…)

Entry filed under: Family. Tags: .

the shoebox bridal showers

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: