Van Lith dalam Kenangan (1995 – 1998)

November 26, 2009 at 11:33 pm 6 comments

Sudah lama sebenarnya saya mau berkisah tentang SMU Van Lith. Suatu tempat & masa yang patut saya catat dalam perjalanan hidup saya.

Lulus SMP, saya meninggalkan Tumbang Titi untuk melanjutkan ke SMU di Jawa. Bapak mendorong saya untuk masuk ke SMU Van Lith yang berlokasi di Muntilan, Jawa Tengah. Mungkin karena bapak saya dulu pernah sekolah di Van Lith sewaktu masih berstatus SPG. Selain itu, Bapak memang punya prinsip, anak-anaknya harus keluar dari Tumbang Titi sesudah lulus SMP supaya mendapatkan pendidikan yang lebih baik.

Saya tidak punya bayangan seperti apa tempat yang bernama Muntilan itu. Tapi tetap merasa excited  karena akan sekolah di Jawa. Walaupun pengetahuan saya tentang Jawa hanya berkisar di Ambarawa, Jawa Tengah, tempat asal bapak saya. Kami pernah berkunjung ke rumah simbah, waktu saya dan kakak-adik masih kecil-kecil (kalau tidak salah saya masih di kelas 3 SD). Dalam kacamata saya yang baru berumur 9 tahun kala itu, Kecamatan Ambarawa sudah seperti kota besar bila dibandingkan kampung halaman saya. Saya ingat, sepulangnya dari Ambarawa saya bercerita dengan antusias pada teman-teman sepermainan di Tumbang Titi, bahwa jalan-jalan di Jawa itu lebarr…sekali, mobilnya banyak, kami naik dokar di Ambarawa, dan diajak berenang di kolam renang. Maklumlah, di Tumbang Titi jalan-jalannya kecil, mobil bisa dihitung dengan jari, tidak ada kuda, dan kami biasa berenang di sungai, bukan di kolam renang.

Ternyata Muntilan mirip-mirip dengan Ambarawa. Jadi saya tidak begitu kagok ketika pertama kali diajak ke sana. Didaftarkan hanya di Van Lith, saya sangat bersyukur bisa diterima di sekolah tsb. Masih ingat yang mewawancara saya adalah Br. Petrus Paijan (yang belakangan ketika saya sudah menjadi bagian VL, beliau banyak menuai kontroversi).   

Sekolah di Van Lith dengan sistem asrama, konsekuensinya ya harus masuk asrama, yang sudah pasti dipisah antara asrama putra & putri.Masing-masing dikelola oleh Bruder dan Suster. Bangunan asrama putri terdiri dari unit-unit independen yang dinamai dengan nama-nama Santa (nama orang kudus dalam agama Katolik). Setiap unit berisi maksimal 20 orang.

Kelas satu, saya di Unit Maria Goretti (MG), kelas dua di Theresia (TH) dan kelas tiga kalau tidak salah di Lucia (LC). Kehidupan asrama diatur oleh deringan bell; dari bell bangun, bell belajar, bell makan, bell berangkat sekolah, bell tidur siang…Coba kuingat-kuingat lagi…mungkin dalam sehari kami mendengar setidaknya 10 kali deringan bell. Dalam 3 tahun?? Males ngitungnya, hehehehe…

Lingkungan kami praktis berkisar antara asrama dan sekolah yang jaraknya hanya sekitar 5 – 10 menit berjalan kaki. Pagi sekolah, selesai sekolah kembali ke asrama untuk makan dan tidur siang, sore ke sekolah lagi untuk kegiatan ekskul. Semua menjadi rutinitas selama 3 tahun. Sebulan sekali bisa sih pulang ke rumah masing-masing untuk weekend, kalau gak salah di minggu ke-2. Karena ortu di Kalimantan, saya lebih sering tinggal di asrama saja.

Selama di VL saya termasuk siswa yang biasa-biasa saja, paling tidak dalam catatan memori saya. Yach…dibilang bandel juga nggak dan penampilan juga biasa-biasa saja (bahkan mungkin cenderung serius). Prestasi sekolah dari kelas 1 – 3 yaa…tidak jelek-jelek amatlah untuk ukuran siswa yang berasal dari pedalaman Kalimantan. Di kelas 1 & 2, saya masih masuk 10 besar (rata-rata langganan urutan 6 – 9 lah. Paling bagus sempat di ranking 5, kelas 2 catur wulan 2… kalo gak salah ingat sih… Kudu liat lagi rapor SMU nih…).

Pacaran di SMU?? Gak pernah juga. Paling banter sampai dalam tahap naksir. This, might be the most thing I have missed :-p. Seingat saya, ada peraturan tidak tertulis bahwa siswa-siswi SMU Van Lith dilarang pacaran. Bolehnya sobatan saja. Alasannya?? Entahlah. Sampai sekarang saya juga bingung mengapa sampai ada aturan konyol seperti itu. Walaupun ada aturan-tak-tertulis tentang pacaran, banyak juga sih yang jadian. Tapi gaya pacarannya sama sekali gak heboh. Paling ya… surat-suratan (atau tukaran diary), jalan bareng dari sekolah ke asrama, makan bareng pas jam bebas… gitu deh! Beberapa pasangan ‘High School Sweethearts” Van Lith angkatan saya hubungannya awet banget, sampai menikah. Seperti Nanaro (Nana & Narro), Diko & Christa, Arab & Della….

Kalau sekedar tukaran diary sih saya pernah…sama cowok adik kelas saya yang orangnya ganteng, tinggi dan putih, hehehehe… Nah, waktu dekat sama ‘adik’ cowo saya ini, saya juga kenal sama bokapnya, yang rajin men-traktir bakso Pak No kalau dia mengunjungi anaknya ke asrama. Tukaran diary itu berhenti waktu si ‘adik’ pacaran sama teman seangkatannya.

Oia, soal naksir tadi… saya pernah naksir 1 cowok waktu saya kelas 3. Orangnya, menurut saya masa itu, ganteng dan cool. Mukanya agak baby face gitu deh… Di kelas 1 & 2 kami tidak sekelas, karena saya di kelas B dan dia kelas D. Kelas 3 kami barengan, IPA-B. Yang membuat saya naksir adalah karena parasnya (huuu….!!), dan juga karena doi cuek dan pendiam. Asli, dia itu ngomong cuman seperlunya aja. Gak sampai jadian juga sih…(karena konon, cowok ini naksir berat sama salah satu cewek populer di angkatanku). Walau gak sampai jadian, cowok ini sempat membuat saya berbunga-bunga ketika dia memboncengkan saya naik sepeda motor di kelas 3 akhir, waktu saya menginap di rumah Mbak Christa di Magelang. Namanya… hmmm…doi biasa dipanggil ‘Tikus’. Sesudah lulus SMU, saya tidak pernah lagi mendengar kabar mengenai si ‘Tikus’  ini. Kalau tidak salah, dia kuliah di Semarang, sementara saya kuliah di Jogja.

Saya juga sempat kenal beberapa cowok dari sekolah di luar Van Lith gara-gara ikut Pelatihan Kepemimpinan se-Kevikepan Kedu. Ada satu anak Seminari Mertoyudan yang kemudian suka berkirim surat dan ‘nembak’ (tapi saya tolak karena gak mau mengganggu calon pastur). Ada lagi anak STM Muntilan namanya Budi, pernah pdkt, tapi akhirnya juga gak jadian karena saya merasa ilfil (dia terlalu sentimentil dan penurut, jadi kurang tantangannya :-p). Di kelas 3, saya juga sempat surat-suratan dengan cowok sama-sama dari Ketapang (Kalbar) yang sekolah di De Britto, Jogja. Bertemu di pesawat waktu saya pulang kampung. Cowok itu yang kemudian menjadi pacar pertama saya…ketika saya udah kuliah! Duh, kasian juga saya ya? Gak pernah mengalami pacaran jaman SMU…:-p

Selain yang sudah saya ceritakan di atas, banyak juga kenangan dari VL yang kalau ditulis bisa gak abis-abis. Beberapa mungin nanti akan saya ceritakan lagi secara terpisah. Yang sekarang mau saya catat, Van Lith mengajari saya untuk mandiri dan hidup teratur. Rasa kekeluargaan antar ex-Van Lith juga erat banget, sampai sekarang. Ada milis, website, sampai kartu anggota ex-VL. Yang tinggalnya satu kota, kadang suka reunian juga.

Oia, khusus untuk asrama putri VL, ada juga sistem kakak adik. Jadi, waktu masuk kelas 1, saya langsung dapat 2 ‘kakak’, trus di kelas 3 otomatis kita bakal punya 2 ‘adik’ (kecuali karena satu dan lain hal ada yg pindah ke sekolah lain). Yang masih saya ingat adalah Mbak Anna (duh, kakak saya satunya lagi namanya siapa ya??? Mbak Yustri kalo gak salah…), trus adik2 saya Tuti dan Annas. Sistem kakak-adik ini lumayan membantu untuk awal hidup berasrama. Buat saya sih, terutama karena bisa dapat lungsuran buku-buku pelajaran dan soal-soal latihan dari kakak2 saya, hehehehe… Dengan kedua adik asrama saya, Tuti & Annas, sekarang masih kontak melalui situs jejaring Facebook. Nah, kalau sama Mbak Anna & Mbak Yustri sama sekali sudah kehilangan kontak.

Gitu deh sedikit cerita Van Lith saya…

Entry filed under: Memories. Tags: .

nasihat buat anak perempuan wedding invitations

6 Comments Add your own

  • 1. Gita  |  November 27, 2009 at 3:14 am

    bener yach Niq…muntilan dan VL…memorinya melekat terus…, btw anak seminari-nya itu sukses jadi pastor nggak?

    Reply
    • 2. yeniunique  |  November 27, 2009 at 6:39 am

      iya git… van lith muntilan emang banyak kenangan🙂

      anak seminari itu gak tau akhirnya jadi pastur atau gak. kalo gak salah akhirnya dia kuliah di ugm… tapi kalopun dia gak jadi pastur bukan gara2 gw lho ya…:-p

      Reply
  • 3. dedek  |  November 28, 2009 at 12:58 pm

    biar dd hitung bellnya kak..
    1. bel bangun pagi (jam setengah 5)
    2. Bel ke gereja (jam setengah 6)
    3. bel makan pagi (jam 6)
    4. bel ke sekolah (jam 6.50)
    5. bel makan siang ( jam setengah 2)
    6. bel kegiatan sore (jam setengah 4 sore)
    7. bel belajar malam (jam 5.45 sore)
    8. bel makan malam (jam 7.15)
    9. bel belajar lagi ( jam 8)
    10. bel doa malam ( jam 9)

    belom lagi kalo lagi pengen maen2 bel…hehe

    Reply
  • 4. dinda yustina  |  November 29, 2009 at 11:21 am

    hahaha ngomongin soal maenan bel, aku meras otak juga ah inget inget berapa banyak bel waktu di aspi dulu: kayanya semua sama kecuali bel makan siang karena tempatku dulu makan siangnya ga bareng. cuma pake kateringan gitu.
    trus pernah kita iseng maenan bel jam 1.30 pagi pas ibu aspi lagi nyenyak2nya tidur, kan ceritanya bales dendam hahaha

    Reply
    • 5. yeniunique  |  November 29, 2009 at 11:30 pm

      @ Dek Pri: makasih udah bantuin nge-list dering bell nya. Awal2 keluar dari asrama rada kagok juga, kok gak ada bell…hehehehe…

      @Dinda: hahaha…ketauan ga sama ibu Aspi-nya siapa yg mainin tu bell?

      Reply
  • 6. Yustine  |  March 8, 2010 at 11:17 am

    Ketauanlah kak,saya biangnya..dapet jitak sih,lumayan xixi

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: