Appraisal

September 29, 2009 at 8:15 am Leave a comment

Sudah dua minggu terakhir ini saya dan para penyelia lain bolak-balik-bolak mendapat email reminder dari Performance Management Helpdesk. Tentang performance appraisal (PA) karyawan tahun 2009. Tahun ini ada 12 orang dalam team saya yang harus saya nilai dan berikan rating.

Duh. Duh. Duh. Ini adalah pekerjaan yang tidak terlalu saya sambut dengan antusias. Bukan apa-apa, hasil akhir PA karyawan berkaitan erat dengan UUD alias Ujung-Ujungnya Duit. Dalam arti, jika PA seorang karyawan dinilai baik, maka berpotensi mendapat bonus & merit increase yang baik pula. Sebaliknya, jika PA dinilai rendah, maka bonus & merit increase juga walahualam.

Penyelia biasanya berada dalam dilemma. Maunya semua dinilai baik, dan penilaian dilakukan seadil-adilnya sesuai dengan kinerja dan kontribusi masing-masing dalam team. Akan tetapi, penentuan nilai dan rating tidak sesederhana CUMA menaruh sejumlah angka kemudian was-wes-wus semua beres. Semua senang. Semua menang. Walaupun dalam kelompok kecil penyelia memberikan penilaian yang baik untuk semua anggota team (dan memang kenyataannya semua baik), ketika dibawa ke kelompok yang lebih luas, ternyata tidak semua bisa mendapat nilai yang setara. Penyelia dituntut untuk bisa meng-adjust rating yang diberikan yang harus disesuaikan dengan jumlah anakbuah dan kurva yang (biasanya) sudah dimodel sebelumnya. Lagi-lagi karena UUD tadi. Konsekuensinya, ada yang biasanya terpaksa harus diturunkan dari rating awal yang sudah diberikan. Atau syukur-syukur bisa naik rating (yang ini jarang terjadi).

Pusing kepala?? Sudah pasti. Lebih pusing lagi ketika nanti di akhir seluruh proses PA, penyelia harus mensosialisasikan rating akhir yang sudah melalui saringan beberapa level kepada bawahan langsungnya. Kalau rating bawahan masih sama seperti yang diberikan oleh penyelia langsung sih tidak masalah… Lah, kalau rating akhirnya ternyata turun?? Pusing kan memberikan penjelasannya? Well, biasanya harus mengeluarkan kalimat sakti “Ini sudah menjadi keputusan dari manajemen.”

Hmmm… kalau sudah begini, ingin rasanya saya bekerja untuk diri saya sendiri. Tidak perlu pusing memikirkan menilai kinerja orang lain (yang berbuntut berapa rupiah yang akan diterima orang tsb.), pun tidak perlu pusing menanti berapa rating yang nanti akan saya terima dari penyelia saya. Pengen banget saya bekerja yang betul-betul ‘dari saya, oleh saya dan untuk saya’. Suatu hari nanti. Mungkin.

Entry filed under: Work World. Tags: .

Sampah Kertas VS Paper-Addict Metamorfosis Nama

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: