Stereotype

September 21, 2009 at 2:21 am 1 comment

Dalam sebuah acara kumpul-kumpul Sabtu malam, seorang kawan melemparkan pertanyaan, “Kalau seorang cowok Batak menikah dengan cewek Minang, kira-kira anaknya nanti ikut garis bapak atau garis ibu ya…?”

Tidak ada yang bisa menjawab dengan pasti. Bingung juga, karena menurut adat Batak, anak itu ikut garis bapak; sementara di Minang, garis ibu yang lebih dominan. Kalau buat saya sih, solusinya dirembuk bareng antara suami-istri sajalah…nanti anaknya mau diikutkan garis siapa.

Seorang ibu yang duduk di sebelah saya kemudian mulai curhat. Diawali dengan pertanyaan *tepatnya pernyataan* begini, “Kalau cowok Jawa menikah dengan cewek Batak, cowoknya harus pakai marga ya, mbak?” Hmm, saya juga kurang tahu ya? Yang jelas, salah seorang teman dengan case serupa, suaminya mendapat gelar marga sesuai dengan pariban istrinya. 

Usut punya usut, ternyata sang ibu sedang merasa kuatir. Anak lelakinya yang masih di bangku kuliah berpacaran dengan gadis Batak. Si ibu ini orang Jogja asli, suaminya juga, dan sang putra yang sedang dimabuk cinta itu adalah anak lelaki mereka satu-satunya. Sebagai orang tua, si ibu dan suaminya mengharapkan anaknya kelak bisa berjodoh dengan perempuan dari kalangan sendiri. Suami si ibu kabarnya sudah mengeluarkan pernyataan amat tidak setuju anaknya berhubungan dengan gadis Batak.

Saya tanggapi bahwa sebaiknya ibu & suaminya tidak perlu terlalu kuatir. Toh jodoh itu tidak bisa diatur-atur atau dipaksa-paksa. Kalau sudah jodohnya tidak akan lari kemana juga kok. Sang ibu ngotot dan mengatakan bahwa menikah dengan lain suku itu lebih banyak repotnya. Dengan nada sedih si ibu mengeluhkan, mengapa anak lelaki kesayangannya itu tidak pacaran dengan gadis Jawa saja, walaupun di satu sisi dia mengakui bahwa pacar anaknya yang sekarang itu cantik, baik, pintar menyanyi pula.

Aha! Si ibu rupanya tidak sadar kalau dia curhat pada orang yang salah. Dia tidak tahu bahwa saya tidak setuju perjodohan yang terlalu diatur oleh orang tua. Karena menurut saya, untuk kelangsungan hubungan pasangan, hal paling mendasar adalah soal cinta dan kecocokan. Tidak jadi soal masing-masing dari suku atau bangsa apa. Kembali ke pacar di cowok, jika memang gadis itu cantik, baik, dan punya kelebihan, mengapa harus di-diskredit-kan dari peluang menjadi calon menantu hanya karena perbedaan suku? Sungguh konsep yang susah saya mengerti. Dalam hati saya kasihan lho sama anaknya si ibu itu…

Amat disayangkan, dalam ranah perjodohan, banyak orangtua masih terpengaruh stereotype. Sering ada keengganan untuk menerima anggota keluarga baru *baca: menantu* yang berasal dari suku yang berbeda. Padahal pembauran melalui pernikahan itu membuat kita semakin diperkaya lho… setidaknya dalam hal adat istiadat & budaya. Juga mengajarkan kita untuk lebih bertoleransi terhadap perbedaan.

Bukankah dari kecil kita juga diajarkan untuk bisa menghargai dan menerima perbedaan?

Entry filed under: Uncategorized. Tags: .

Roti Jala & Tape Ketan Ijo Cara Jitu Tangkis Flu

1 Comment Add your own

  • 1. Citraresmi  |  July 14, 2012 at 1:02 am

    Ribet banget ya?!
    Masalah rumah tangga aja bisa terganjal gara2 BUDAYA!
    Huss . . . Kuno deh.
    Rumah tangga itu yang terpenting bagaimana suami srek sama istri and vice versa. Sepakat dalam visi hidup. Bisa selaras membangung hidup.
    Saya orang Sunda. Sunda itu fleksibel, gak egois, yang penting sesuai syariat Islam.
    Emang sih agak matre, tapi demi kebaikan masa depan rumah tangga. Andai kalo lapar bisa kenyang dengan menjilat cinta, gak penting deh duit. Lagipula Mahar itu harus relevan buat wanita.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: