Bapak

September 17, 2009 at 5:55 am 6 comments

Dalam sebuah postingan beberapa waktu lalu, saya berbusa-busa cerita tentang mamak. Sekarang saya mau cerita tentang sosok bapak.

Bapak saya bernama Fransiskus Assisi Kastubi, biasa dipanggil Pak Kas. Orang Jawa asli, tapi ngomong melayunya totok.  Merantau ke Kalimantan sejak umur 19 tahun, bertemu dengan ibu saya yang asli Dayak. Kemudian menikah dan punya 5 orang anak (saya anak kedua). Dan bagi bapak saya, Kalimantan (terutama Tumbang Titi) adalah rumahnya. Tak mau dia pulang untuk menetap di Jawa, sekalipun sesudah pensiun kelak.

Bapak seorang pegawai negeri, tepatnya guru, tapi bekerja di Yayasan Pangudi Luhur. Sebagai guru, Pak Kas terkenal galak dan amat disiplin. Saya masih ingat suaranya yang menggelegar menegur saya gara-gara asyik kenalan dengan teman baru, cowok (ehm!), di kelas 1 SMP, pada saat bapak sedang bicara di depan kelas. Ya, ya. Bapak pernah menjadi guru saya (dan guru kakak serta adik-adik saya juga) selama 3 tahun di SMP. Prinsip bapak jelas, kalau di rumah kami anak-anaknya, di sekolah tetap muridnya yang harus mendapat perlakuan sama seperti murid lain. Kalau perlu lebih keras, karena bapak gak mau anak-anaknya malu-maluin.

Karena terkenal galak, seingat saya waktu kecil saya jarang ngobrol dengan bapak. Apalagi bermanja-manja dan menggelendot sama beliau. Uhh…mana berani. Bapak hampir selalu kelihatan serius. Sering saya lihat bapak duduk di kursi ruang tamu, dengan kening berkerut-kerut seperti sedang berpikir keras. Ketika sudah hengkang dari rumah, saya menyadari bahwa keseriusan bapak masa itu karena bapak harus menghidupi keluarga besar. Bapak harus memutar otak, bagaimana caranya dengan gaji seorang pegawai negeri, keluarganya bisa makan dan anak-anaknya bisa sekolah dengan baik.

Menyadari gaji guru-pegawai-negeri tidaklah seberapa, bapak bekerja ekstra sana-sini. Pagi mengajar di SMP Pangudi Luhur. Pulang makan siang dan istirahat sebentar. Jam 1.30 pergi mengajar di SMP PGRI yang masuk siang. Selesai jam 5 sore. Malamnya, jam 6 – 8 malam nungguin anak-anak asrama bruderan belajar (padahal honornya gak seberapa lho!). Pulang, makan malam. Mulai jam 10 malam biasanya bapak masuk ke ‘kamar gelap’-nya untuk mencetak foto, yang merupakan usaha sampingannya. Seringkali baru selesai tengah malam. Bapak juga disibukkan dengan tugas sebagai bendahara Credit Union (CU) St. Yohanes, yang harus melayani anggota CU yang datang ke rumah untuk urusan simpan-pinjam. Pernah bapak juga menjadi ‘agen KTP’, selain sebagai tukang foto. Orang yang membuat KTP kan perlu pasfoto…dan bapak menangkap peluang itu. Di samping hanya membuatkan foto, kenapa tidak sekalian membuatkan KTP? Walaupun dengan begitu bapak juga yang repot mondar-mandir ke kelurahan dan kantor camat.

Menurut saya, waktu saya kecil bapak itu orangnya cenderung kaku. Dan humor-humornya kadang terdengar garing. Satu lagi, sebagai guru yang mengajar Bhs. Indonesia, bapak sangat patuh terhadap Ejaan Yang Disempurnakan alias EYD. Pokoknya doi fans-nya J.S. Badudu deh…! Sewaktu saya di SMA, saya suka menulis surat ke rumah sebagai pengobat rindu. Kadang-kadang menggunakan bahasa gaul dalam surat-surat saya. Dan sodara-sodara… pernah bapak menggunakan penggalan surat saya dalam pelajaran Bhs. Indonesia di kelasnya, sebagai… contoh penggunaan Bahasa Indonesia yang tidak tepat!!! Whuahahahaaaa…

Kekakuan bapak terasa mulai mencair ketika anak-anaknya satu-persatu keluar dari Tumbang Titi untuk melanjutkan sekolah. Maksudnya, bapak sudah mulai bercanda-canda gitu deh kalau ada kesempatan bicara dengan dengan kita-kita yang jauh. Tahun 1999, saya pulang kampung untuk libur natal bersama dua adik saya, Yustin dan Nug. Naik kapal laut supaya irit. Ketika kami sudah hampir merapat di pelabuhan Ketapang, terlihat bapak berdiri menunggu kami, dengan senyum terlebar yang pernah saya lihat tersungging di bibirnya. Setengah berlari kami menghampiri bapak. Dan…happ…brukk…!!! Bapak gelagapan kami rangkul dari 3 arah. Selintas saya lihat setitik air di sudut matanya. Bahagia karena 3 anaknya bisa pulang merayakan natal bersama keluarga.

Ahh. Bercerita tentang bapak tidak akan ada habisnya.

Poinnya adalah, bagi saya bapak sosok yang amat bertanggung jawab terhadap keluarganya dan mencintai mereka sepenuh hati. Saya bangga pada bapak saya, sekaku dan segalak apapun bapak dalam kenangan masa kecil saya.

We love you full, bapak…:)

Entry filed under: Family. Tags: .

Tentang Kolesterol Antara Mertua dan Memasak

6 Comments Add your own

  • 1. Gita  |  September 17, 2009 at 6:39 am

    hampir meneteskan air mata gw baca penggalan terakhir-nya Niek…hmmm…terharu…

    Btw, apa yach yang memotivasi ayahmu untuk pindah ke Kalimantan di usia 19? (kalau boleh tau loh..kalo ndak juga nggak papa..)..soalnya gw suka berandai-andai gw punya keberanian pindah dari tanah jawa ini..(terutama jakarta..hehehe..)

    Reply
    • 2. yeniunique  |  September 17, 2009 at 6:53 am

      Hehehee…gw juga menulis postingan itu dengan penuh emosi :-p

      Kalo gak salah, bapak ke Kalimantan segera sesudah lulus SPG. And you know what? Bapak dulu sekolah di SPG Van Lith (gak heran kalo anaknya dikirim sekolah ke Van Lith juga, hehehe…). Lulus SPG, menurut cerita, bapak ditawari untuk mengajar di Kalimantan. Karena bapak anak tertua dari 8 bersaudara, bapak ambil aja tawaran itu, supaya bisa segera lepas dari tanggungan ortu. Padahal Kalimantan di tahun 70an adalah medan yg sungguh berat. Perjalanan Ketapang-Tumbang Titi konon hanya bisa ditempuh melalui sungai, dengan perahu kelotok. Heran juga bapak betah di sana… mungkin karena udah merasa panggilan hidupnya di sana kali ya? Padahal gw aja berpikir sekian kali untuk pulang dan menetap di Tumbang Titi…

      Reply
  • 3. uyeh  |  September 20, 2009 at 9:46 am

    Hiks hiks jadi kangen bapak. yang paling aku inget dari bapak tuh beliau selalu membuat kita merasa istimewa waktu kita ultah. inget ngga kita selalu diajak makan bakso sekeluarga dan kalo ditanya yang jual ada acara apa bapak bilang “ini ulang tahun” sambil ngelus *tepatnya noyor* kepala.
    sekarang bapak udah beda banget dari yang dulu, bapak udah lebih sabar, lebih bisa nahan emosi dan aku segede ini, udah beranak dua, masih aja suka bermanja manja kalo ketemu bapak.
    love u full datuk…kata kevin dan bile kalo datuk nelfon mereka🙂

    Reply
    • 4. yeniunique  |  September 20, 2009 at 10:43 pm

      iya, bener. walopun galaknya ngalahin harder (hihihi…), deep down bapak bener2 sayang ma keluarganya. dan keras kepalanya itu lho dek…. suka mengaku sehat walafiat, tapi tiba2 pingsan gak ketauan. hmmm….keras kepalanya pastinya gak menurun ke gw dunk…*dududududu..*

      setuju banget, bapak sekarang udh jauhhh…lebih sabar dan demen guyon. kalo dulu sama anak2nya suka *sok* galak, kalo sama cucu2nya gak ya dek? hehehehe…

      Reply
  • 5. uyeh  |  September 21, 2009 at 4:24 am

    iya, kemarin mama sms katanya bapak kelebihan lemak di jantung, jadi harus diet. fyuh… memang ya bapak tuh dari dulu ga pernah mau MCU, sekarang baru deh ketahuan. semoga blio bisa tertib dietnya🙂

    Reply
    • 6. yeniunique  |  September 21, 2009 at 10:48 pm

      Itulah..susah blio kalo disuruh diet. lah, baru dapet hasil kl lemak jantung tinggi, dalam perjalanan pulang dari ketapang bokap udah makan gulai sama sate. *keluh*

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: