Sejuta Pesona FLORES – Part 2: Bajawa hingga Labuhan Bajo

September 3, 2009 at 12:33 am 4 comments

PIC_0876Picture 1382Picture 824

 

 

 

Lanjutan hari ke-3: Pantai Berbatu Biru – Bajawa

Dari Moni perjalanan berlanjut ke Bajawa yang memakan waktu sekitar 6 – 8 jam. Dalam perjalanan kami melewati Situs bekas rumah pengasingan Bung Karno di Ende.

Kami juga singgah di pantai yang penuh dengan hamparan batu berbagai ukuran. Kebanyakan seukuran kepalan tangan orang dewasa. Keunikan pantai ini adalah batu-batu berwarna biru yang tampak menonjol dari batu-batu lain di pantai tsb. Batu-batu biru tsb banyak dikumpulkan penduduk setempat untuk dijual sebagai batu hias. Di pinggir pantai tampak tumpukan batu dan juga berkarung-karung batu biru yang sudah dikemas siap diangkut. Kami memungut satu-dua batu biru sebagai kenang-kenangan…

Waktu sudah menunjukkan pkl. 6 sore ketika kami tiba di Bajawa. Sebagai informasi, Bajawa terletak di tengah-tengah Pulau Flores. Walaupun tidak terlalu jauh dari laut, Bajawa termasuk daerah dataran tinggi yang terletak di tengah gugusan pegunungan. Dua gunung besar yang populer disebut Big Mama dan Big Papa tampak melatari Bajawa.

Check in di Penginapan Edelweiss, aku & suami dapat kamar di lantai 2, Jenna di lantai 1, Enda & Nonie di lantai 3. Kamarnya sederhana dengan springbed, TV 16 inch, dan kamar mandi yang airnya dingin banget! Kalau mau mandi pakai air panas, bisa pesan di dapur. Seember kecil air panas akan diantar ke kamar dan bisa dicampur dengan air dingin menggunakan baskom yang tersedia di setiap kamar.

Malam hari kami makan malam di restoran di seberang penginapan. Sayang aku lupa nama restorannya… yang pasti restoran kecil itu cukup populer di Bajawa. Tempat bertemunya turis dan para pemandu wisata. Beberapa turis asing tampak menikmati makan malam mereka. Siap-siap deh untuk menunggu cukup lama sampai pesanan makan malam dihidangkan. Sambil menunggu hidangan makan malam, Dino meng-entertain kami dengan beberapa teka-teki dan jokes yg kreatif.

Seorang lelaki bule berumur sekitar 60 tahun di meja sebelah sempat melontarkan canda ke Adrian bahwa Adrian sangat beruntung punya 4 orang ‘harem’ (merujuk ke aku, Enda, Nonie dan Jenna), yg dibalas oleh Adrian bahwa kami berempat adalah his four angels. Haha, berasa jadi Charlie dia :p. Ternyata si lelaki bule itu adalah seorang misionaris dari Australia yang bersama beberapa rekannya mendirikan sekolah di satu desa di area Bajawa. 

Selesai makan, Dino menawarkan lagi siapa yang mau berendam di hotspring di Soa Menggeruda. Jenna, aku dan Adrian memutuskan ikut, sementara Enda dan Nonie katanya mau istirahat.

Perjalanan ke Soa Menggeruda sekitar 40  menit dengan mobil. Pengalaman sebelumnya dengan hotspring di Moni membuat kami tidak berharap terlalu banyak. Ternyata Soa Menggeruda melampaui yang kami bayangkan. Tempat tsb sudah dikelola dengan baik; mulai dari parkiran yang cukup luas, trus ada tempat membeli karcis masuk (yang sudah tutup ketika kami tiba… tapi untungnya akses masuk terbuka lebar), juga jalan dari parkiran menuju sumber air panas sudah dilapisi batako.

Walaupun di sekitar hotspring agak gelap, Soa Menggeruda juga lebih besar dan lebih dalam dari hotspring di Moni, merupakan aliran sungai dan untuk tempat yang bisa digunakan untuk berendam melebar menyerupai kolam. Sebelum benar-benar menceburkan diri, lebih baik mulai dari merendam kaki pelan-pelan untuk membiasakan diri dengan suhu air sekitar 40° C itu. Kalau sudah terbiasa, silakan mulai berendam.

Sumber panas sepertinya berasal dari lubang di tengah kolam yang yang terbentuk dari tekanan vulkanik dari perut bumi. Tekanan tsb membuat air di tengah kolam membual-bual layaknya air di kolam Jacuzzi. Karena di atas lubang tsb ada batu besar, kami bisa duduk di dekatnya, menikmati ‘pijatan’ air yang memanjakan. Berasa seperti di SPA deh… Berendam sekitar 15 menit membuat semua rasa lelah hilang seketika.

Hari ke-4: Hiking di Wawomudha & Kunjungan ke Desa Adat Bena (Bajawa)

Yup, kami masih di Bajawa. Sarapan dengan menu roti bakar, telur ceplok dan kopi. Sesudah sarapan, acara pagi hari adalah hiking di Wawomudha. Dari penginapan kami naik mobil kira-kira 20 menit. Kemudian Dino menemani kami hiking. Seorang anak berumur kira-kira 10 tahun, yang muncul begitu mobil kami berhenti, ikutan juga. Menurut Dino, anak itu selalu ikut kalau dia mengantarkan tamu hiking di area tsb.

Kami berjalan melewati hutan dengan bambu-bambu besar, kebun palawija milik penduduk setempat, juga melintasi perkebunan kopi yang sejuk. Beberapa ibu sibuk menyiangi kebun kopi dan ramah menyapa ketika kami lewat. Bajawa memang terkenal sebagai salah satu penghasil kopi di Flores.

Sesudah kebun kopi, kami tiba di padang rumput yang kontur tanahnya berbukit-bukit. Tampak beberapa ekor sapi sedang makan rumput. Seorang bapak separuh baya yang menunggu sapi-sapinya merumput berusaha meminta bayaran ketika Adrian dan Enda memotret dia bersama sapinya. Hmm…tampak mulai komersil…

Berjalan lagi sekitar 10 menit, ada 3 orang bapak-bapak sedang duduk-duduk di rumput sambil bercakap-cakap. Dino & Jenna yg berjalan di depan kami juga sedang istirahat di situ. Melihat ada 3 cewek dan 1 bule datang, mereka  lalu sibuk berspekulasi dari mana asal kami. Seorang dari mereka mengatakan kami orang Cina (what? Gak salah nih…kulit gosong begini… hehehe…), yang lain mengatakan kami semua orang bule, yang satu bilang kami orang Jepang. Weleh…weleh… ngaco semuanya.

Yang lucu, waktu minta foto bersama mereka, si Nonie dilamar oleh salah seorang bapak di situ. Nonie bilang, boleh aja…tapi saya minta 100 ekor kuda untuk mas kawin, begitu katanya. Hahahaha…

Setelah berjalan kira-kira 1 jam, kami tiba di ujung rute hiking kami. Di situ seharusnya look point untuk danau yang airnya berwarna kuning kadang juga berwarna merah. Sebenarnya bukan danau juga sih… lebih tepatnya cekungan yang agak lebar. Ada 3 atau 4 cekungan di situ, kalau musim hujan dan semuanya terisi air kelihatan menyerupai danau. Dan mungkin karena pengaruh mineral yang terkandung di situ airnya jadi warna kuning atau merah. Saat itu, cekungan yang terisi air hanya 1 dan warnanya kuning.

Berjalan pulang dengan rute yang sama, melewati kebun kopi lagi, seorang ibu memberi kami markisa (passion fruit) dengan ukuran rata-rata sebesar bola tennis. Rasanya? Manis dan segar. Hmmm…so yummy! Ibu itu menolak ketika kami mau membayar markisa pemberiannya. 

Sampai di penginapan lagi sudah waktunya makan siang. Sesudah makan siang agenda kami selanjutnya adalah jalan-jalan ke Desa Adat Bena.

Picture 1020

 PIC_0842

Desa ini unik banget. Rumah-rumahnya berbentuk khas, terbuat dari kayu & bambu dengan atap dari rumbia. Rumah-rumah itu berjejer di kiri dan kanan, di masing-masing barisan berjumlah sekitar 15 buah. Rumah-rumah itu konon sudah diwariskan secara turun-temurun dan dibedakan antara rumah yang diwariskan dari leluhur laki-laki dan perempuan. Di beberapa atap rumah terlihat figur boneka laki-laki membawa semacam anak panah; katanya itu berarti rumah yang diturunkan dari leluhur lelaki. Ada juga beberapa hiasan seperti rumah kecil ditaruh di atap; katanya itu berarti rumah yang diturunkan dari leluhur perempuan. Masing-masing rumah bisa dihuni lebih dari satu keluarga.

Di tengah-tengah ada beberapa altar batu yang digunakan untuk upacara adat dan bangunan-bangunan unik yang lebih kecil dari rumah tinggal. Ada yang atapnya seperti payung. Katanya itu untuk tempat menaruh persembahan.

Penduduk Desa Bena sudah tinggal di tempat tsb. turun-temurun. Waktu kami bertanya pada seorang bapak berumur sekitar 80 tahun kapan desa tsb. mulai dibangun, bapak itu tidak bisa memberi angka pasti. Dia hanya bilang kalau desa itu usianya sudah ratusan tahun. Rumah-rumah di Desa Bena tidak bisa dibangun atau direnovasi begitu saja. Bahkan hanya untuk mengganti atap rumah saja harus didahului dengan upacara adat dengan memotong hewan peliharaan seperti babi atau kerbau. Tanduk kerbau, tulang rahang kerbau atau rahang babi banyak dipasang bersusun di depan rumah. Selain sebagai hiasan juga sebagai penanda kemakmuran penghuni rumah.

Menurut cerita Dino, banyak penduduk Desa Bena yang sudah merantau. Mereka kembali ketika ada upacara adat besar atau untuk merayakan natal. Yang menetap di Desa tsb. sebagian tinggal orang tua dan anak-anak kecil.

Beberapa wanita membuat tenunan dengan peralatan tradisional di beranda rumah, anak-anak kecil riang bermain di halaman, seorang wanita sedang mencari kutu di kepala wanita tua adalah sebagian aktivitas penduduk Bena pada sore itu.

Sebelum kami pulang, Adrian tertarik pada koin-koin kuno yang dijual seorang bapak di beranda salah satu rumah. Koin-koin itu adalah mata uang yang digunakan di Indonesia sebelum jaman kemerdekaan sampai tahun 60an. Adrian membeli 3 buah koin dengan tahun pembuatan tahun 1913, 1914 dan 1945. Yach…siapa tahu beberapa tahun lagi koin-koin itu jadi barang antik bernilai tinggi, iya gak? Hehehehe…ngarep!

Puas jalan-jalan, kami pergi ke hotspring di Soa Menggeruda lagi. Kali ini berempat: Nonie, Enda, aku dan Adrian. Jenna memilih buat tidur dulu sebelum makan malam.

Kalau pas jalan-jalan di Flores dan mampir di Bajawa, berendam di Soa Menggeruda itu wajib deh hukumnya… Highly recommended!

Hari ke-5 : Bajawa – Labuhan Bajo (via Ruteng)

Perjalanan ke Labuhan Bajo dimulai pagi-pagi karena jaraknya jauh. Ya…sekitar 10 jam lah…dihitung sama istirahat makan siangnya.

Pemandangan sepanjang jalan juga bagus…puncak-puncak gunung yang menghijau…sawah yang membentang dengan padi yang menguning siap dipanen…sungai yang mengalir di sela bebatuan…

Sesekali kami melihat ‘bus-truck’ lewat, penuh penumpang. ‘Bus-truck’ adalah salah satu alat angkut di Flores berupa bus yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk alat transportasi untuk… manusia!

Kami berhenti di beberapa tempat untuk… biasalah…foto-foto :-p. Sempat juga berhenti di tempat pembuatan tuak & arak tradisional Flores yang bahan bakunya dari cairan yang berasal dari ‘bunga’ pohon aren (apa ya namanya…mayang?). Disebut ‘tuak’ kalau langsung air aren segar diminum begitu saja tanpa diolah, dan dinamakan ‘arak’ kalau sudah melalui proses penyulingan.

Tuak aren rasanya manis, alkoholnya juga rendah. Kalau sudah disuling jadi arak alkoholnya bisa tinggi banget. Pada waktu kami di Bajawa, Dino sempat meracik arak dengan campuran madu, jeruk nipis dan minuman ringan bersoda, sprite. Rasanya lumayan juga…dan cocok untuk menghangatkan badan di tempat yang dingin (bagi yang boleh minum alkohol tentunya, hehehehe…)

Kami singgah di Ruteng untuk makan siang. Pemilik restoran tempat kami makan juga punya bisnis lain, memproduksi kopi yang diberi merk Kopi Unta. Di bagian belakang restoran dia menaruh mesin-mesin pengolah kopinya. Pretty impressive!

Picture 1244Masih di area Ruteng, ada areal persawahan yang berbentuk seperti jaring laba-laba yang besar. Satu ‘jaring’ merupakan milik bersama satu keluarga besar. Sayang saat kami ke situ beberapa bagian terlihat ‘gundul’ karena padinya sudah dipanen. Still not too bad for taking pictures though :p

 Tiba di Labuhan Bajo sekitar pkl. 18.00 kami langsung diajak ke Paradise Café  untuk istirahat sejenak dan minum. Café yang nampaknya cukup populer untuk turis yang datang ke Labuhan Bajo… mungkin karena ada bar-nya juga kali ya?

Sesudah itu kami check in di hotel yang terletak agak di bukit. Nama hotelnya aku udah lupa… tapi yang jelas pemandangannya langsung ke laut, kamarnya cukup luas dengan kelambu terpasang di atas bed berukuran sedang, dan ada shower dengan air panas. Ada AC terpasang dikamar tapi dalam kondisi mati. Katanya kalau mau menghidupkan AC harus membayar extra dari harga kamar. Alternatif lain, bisa menggunakan kipas angin yang terpasang di setiap kamar. Anyway…barangkali ini adalah hotel terbaik yang kami dapatkan sepanjang petualangan kami di Flores.

Kami bebersih sebentar dan kembali lagi ke Paradise Café untuk makan malam. Menu makan malam kami ikan kakap bakar super besar (beratnya sekitar 10 kg – atau mungkin lebih), capcay, nasi putih, salad, dan buah segar. Yumm!!

Sembari makan malam, aku mencoba ‘anggur’ lokal yang terbuat dari perasan buah jambu mente (bukan kacangnya lho…). Rasanya agak-agak mirip rum dan kandungan alkoholnya lumayan juga…

 Yang asyik lagi dari Paradise Café? Live music! Jadi, selesai makan malam kami duduk-duduk menikmati suguhan musik dari band lokal sampai hampir jam 11 malam.

Picture 1317

 

 

 

 

Picture 1353

 Hari ke-6: Leaving Flores…

Pagi-pagi kami sarapan bareng di resto hotel sebelum berpisah…Enda, Nonie, Jenna akan melanjutkan petualangan mereka, berburu komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, sementara aku dan Adrian akan terbang ke Denpasar lagi.

Hikss…sedih deh. Rasanya belum mau pulang…masih pengen terus berpetualang.

Bagi aku, trip kami ke Flores benar-benar berkesan. Selain karena keindahan dan keunikan tempat-tempat yang kami kunjungi, yang pasti karena travelling bareng teman-teman yang asyik. Gak nolak deh suatu saat nanti ke Flores lagi :-p

Oia, buat yang mau ke Labuhan Bajo… Labuhan Bajo punya banyak lokasi untuk diving atau sekedar snorkeling. Labuhan Bajo juga merupakan ‘gerbang’ terdekat kalau mau melihat komodo yang banyak ditemui di Pulau Rinca & Pulau Komodo. (Aku dan suami udah pergi ke kedua pulau itu tahun 2008 lalu).

Until next time beautiful Flores…

Picture 1417

 

 

  

 

Entry filed under: Travelling & Places. Tags: .

Amole Canteen Places I call ‘HOME’ – # 1: Tumbang Titi

4 Comments Add your own

  • 1. Yoakim Kaing  |  October 14, 2010 at 2:27 am

    Kisah perjalanannya menarik. Msh byk obyek wisata yg sangat menarik lain yg belum Anda kunjungi. Cerita ini mengingatkan saya ketika melakukan perjalanan wisata di berbagai obyek wisata di Flores Komodo Sumba, Sumbawa beberapa thn lalu. Muda-mudahan bisa menginformasikan ke teman teman lain ya Mbak. Thanks

    Reply
    • 2. yeniunique  |  October 24, 2010 at 6:32 am

      Hi Bung Yoakim,
      Thanks udah mampir di blog saya. Betul sekali, masih banyak obyek wisata menarik di Flores dan sekitarnya yg belum saya kunjungi. Mau banget ke sana lagi…one day🙂

      Reply
  • 3. gery  |  November 10, 2010 at 2:15 pm

    senang dech mbak dah mampir di mengeruda soa semoga tak kapok kesini lagi,ajak temen yang banyak

    Reply
    • 4. yeniunique  |  December 1, 2010 at 1:37 pm

      🙂
      Kita enjoy banget mampir di Menggeruda Soa. Jadi pengen lagi ke sana :d

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: