Places I call ‘HOME’ – # 1: Tumbang Titi

September 3, 2009 at 5:09 am 17 comments

 “Di desa yang indah tumbang titi… Kami TK Kuntum Karya… Bersenang bersama sukariaaa… Kami TK Kuntum Karyaaaa…”

Syair di atas adalah lagu ‘kebangsaan’ kami sewaktu TK, yang masih selalu terngiang-terngiang. Lagu tentang TK Kuntum Karya, satu-satunya TK di Kecamatan Tumbang Titi, yang dikelola oleh susteran kongergasi OSA. Lagu yang kami nyanyikan hampir tiap hari sebelum mulai belajar atau sebelum pulang sekolah.

Masih ingat 2 orang guru TK-ku dulu, yang seorang namanya Ibu Dora (yang orangnya luar biasa sabar); guru satunya lagi namanya Sr. Margaretha yang agak galak.  Selain aku, ketiga orang adikku juga berkenalan dengan yang namanya sekolah dari TK tsb. Habis, memang gak ada TK yang lain sih…

Tumbang Titi. Hmmm…

Desa Tumbang Titi adalah sebuah Desa Kecamatan yang tidak terlalu besar, terletak sekitar 90 km dari Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Bukan daerah pesisir, bukan juga daerah pegunungan. Lumayan panas karena termasuk daerah katulistiwa. Ada satu sungai besar yang namanya Sungai Pesaguan membelah Kecamatan Tumbang Titi yang dulu digunakan sebagai sarana transportasi utama untuk ke kota Ketapang. Penduduknya mungkin gak sampai ribuan orang… Banyak juga dari generasi muda Tumbang Titi meninggalkan kampung sesudah lulus SMP untuk melanjutkan sekolah dan kemudian menetap di luar daerah …termasuk aku, hehehehe..

Istimewanya Tumbang Titi? Susah bilangnya ya…saking mungkin gak ada istimewanya. Bagi orang luar, Tumbang Titi mungkin sama saja dengan banyak daerah lain di Indonesia yang masih cenderung tertinggal. Padahal potensi daerahnya cukup besar lho, kalau saja dikelola dengan baik. Misalnya, tanah yang masih luas, sungai yang mengalir sepanjang tahun yang bisa bikin iri petani-petani luar negeri yang kekurangan air… belum lagi kandungan mineral di beberapa tempat sekitar Tumbang Titi kabarnya lumayan banyak.

Sayang belum ada yang mau atau bisa memaksimalkan potensi itu.

Sepengamatanku, dari 15 thn lalu sampai sekarang tidak banyak perubahan yang terjadi, paling-paling ada tambahan beberapa ruko dan jalan yang melintas Tumbang Titi sudah diaspal. Itu saja.

Buat aku sih Tumbang Titi tetap spesial karena di situlah tempatku lahir dan bertumbuh sampai umur 15 tahun (lulus SMP). It’s also a home bagi orangtuaku.

Fasilitas di Tumbang Titi? Ada sekolah dari TK sampai SMU, 1 rumah sakit dengan 1 dokter umum, PLN (letaknya tepat di depan rumah ortu), puskemas, kantor pos, bank BRI, dan lapangan sepakbola. Tidak ada lapangan terbang! Pernah waktu aku masih TK ada helicopter mendarat di lapangan sepakbola, dan langsung menjadi tontonan orang sekampung (hehehe…udik ya?).

Untuk mencapai Tumbang Titi otomatis hanya ada 2 cara, jalan darat dan lewat sungai. Dari kota Kabupaten Ketapang ada 2 jalan darat: jalan pendek (kira-kira 90 km) dan jalan panjang (kira-kira 180km).

Tolong jangan bayangkan jalan-jalan itu seperti di tanah Jawa yang mulus dan lebar. Tidak…atau mungkin lebih tepat dibilang belum.

Jalan-jalan itu, terutama jalan pendek, hampir selalu rusak parah… Alasannya karena jalan itu dibangun di atas tanah gambut & tanah merah, jadi kalau hujan pasti becek dan berlobang. Cukup masuk akal? Menurutku sih tidak. Karena hampir setiap tahun selalu dimintakan anggaran perbaikan jalan dari APBD; jadi sebenarnya kalau mau, jalan tsb. bisa dibuat bagus. Kalau tidak bisa sekaligus, bisa diperbaiki secara bertahap. (Mungkin ada ketakutan kalau jalan diperbaiki permanen lantas ada yang akan kehilangan lahan proyek? Entahlah…)

Tidak begitu jauh dari Tumbang Titi (kurang lebih 14 km) ada Perkebunan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit yang lahannya ribuan hektar. Truk-truk perusahaan juga melewati sebagian jalan Tumbang Titi-Ketapang tsb. Juga ada truk-truk kayu…termasuk truk (kabarnya) yang mengangkut ribuan ton illegal logging, yang juga memberikan kontribusi bagi rusaknya jalan.

Jalan yang selalu rusak itu membuatku ngomel-ngomel kalau pas pulang kampung. Seperti pada saat pulang kampung Juli kemarin. Walaupun mobil bisa lewat, tapi jalan berlubang-lubang dan berbatu-batu membuat perjalanan lebih lambat dan pinggang sakit karena duduk terhentak-hentak. Salut untuk bapak dan orang-orang yang tinggal di Tumbang Titi…jalan begitu parahnya saja masih bisa mereka pakai untuk pergi-pulang Tumbang Titi – Ketapang dengan frekuensi yang cukup sering. Perhaps because they’ve got no choice??

Hanya bisa berharap, suatu saat nanti someone will do something with the road

Atau…mending aku pulang kampung aja menjadi bupati di sana untuk membangun daerah ya? Hahahahaha…emang siapa yang bakal milih aku jadi bupati?

Bagaimanapun juga, gak peduli jalan-jalan yang selalu rusak atau pembangunan yang masih jalan di tempat, Tumbang Titi tetap merupakan ‘rumah’-ku…Home sweet home… Yang jelas Tumbang Titi berperan dalam pembentukan karakterku. Karena lahir di Tumbang Titi juga mungkin aku cenderung mudah beradaptasi dengan Bahasa baru…soalnya terbiasa ngomong pakai lebih dari 1 bahasa…Bahasa Dayak dengan ibuku dan kaum kerabat dari pihak ibu, Bahasa Melayu dengan tetangga kiri-kanan, dan Bahasa Indonesia di sekolah dengan guru-guru (terutama guru-guru dari Jawa). 

Yang paling aku suka dari Tumbang Titi adalah sifat kekeluargaan dan keramahan orang-orangnya. Di Tumbang Titi orang nyaris hapal satu dengan yang lain, selalu saling menyapa kalau berpapasan di jalan atau bertemu dimana saja. Semangat gotong-royongnya juga amat tinggi. Daerahnya tergolong aman sehingga orang tuaku biasanya membiarkan pintu rumah terbuka lebar (saat mereka di rumah sih…) sehingga siapa saja bisa bertandang. Suatu kondisi yang pastinya gak bisa ditemukan di kota-kota besar ya? Dan tentunya aku suka, masih suka dan selalu akan suka dengan Tumbang titi karena bapak-mamak tercinta ada di sana…

Aku selalu merindu kehangatan dan keramahan Tumbang Titi. Selalu ada keinginan untuk pulang… ke rumah…

Ke Tumbang Titi…

Entry filed under: Travelling & Places. Tags: .

Sejuta Pesona FLORES – Part 2: Bajawa hingga Labuhan Bajo Lombok Visit & Komodo Cruise

17 Comments Add your own

  • 1. mamayuri  |  September 4, 2009 at 3:12 am

    Mau donk ke Tumbang Titi…kapan yach? nebeng loe pulang kampung..hehehe…

    Reply
    • 2. yeniunique  |  September 4, 2009 at 8:42 am

      Yaken neh mau ikutan ke Tumbang Titi? Jalannya ‘luar biasa’ loh Git… Siap2 nyari tukang pijet begitu sampe ke sono, hahahaha…

      Kalo mau ke Tumbang Titi, ngepasin musim buah aja… Kalo doyan duren, waahh…murah meriah! Bahkan banyak dapet gratisan🙂

      Reply
  • 3. ali rohman  |  November 17, 2009 at 10:04 am

    Duh jadi kangen balik ke tb. titi. saya juga pernah besar di sana, dari SD kelas 1 sampai SMP kelas 1. Setelah pindah ke Ketapang baru 2 x lewat ke Tb. titi, itu juga kebetulan ada tugas ke daerah yang melawati tb titi. salam ya buat orang-orang sana.

    Reply
    • 4. yeniunique  |  November 21, 2009 at 12:14 am

      Wahahaha… salam kenal bang Ali. Gak nyangka blog ini dibaca sama orang yg pernah di Tumbang Titi jg :-p
      Saya juga selalu kangen Tumbang Titi… bukan kangen jalannya, tapi kangen ortu🙂. Saya di Tumbang Titi dari TK sampe lulus SMP. Merantau dari SMA sampai sekarang. Pulang ke Tb. Titi sesekali buat jenguk ortu dan keluarga. Nanti kalau saya ke Tb. Titi saya sampaikan salamnya deh…

      Btw, dulu di Tb. Titi sekolah di SD-SMP mana?

      Reply
  • 5. mamen  |  March 17, 2010 at 5:53 am

    Tumbang Titi banjir lgi ni……..

    Reply
    • 6. yeniunique  |  March 23, 2010 at 10:13 am

      Halo Mamen… salam kenal. Iya, aku dengar gak kalo’ Tb Titi banjir gik… Rumah sidak bapak hampir kena gak…

      Reply
  • 7. uer  |  May 8, 2010 at 7:49 am

    halo yenny…aku jadi ingat kampoeng halaman neh…rasanya udah pengen balek ke tb titi…..salam kenal ,charles marks sutopo..

    Reply
    • 8. yeniunique  |  May 11, 2010 at 8:37 am

      Hehehehe….Tumbang Titi nun jauh dimato, tapi dekat di hati ye…🙂

      Reply
  • 9. Maha  |  May 17, 2010 at 10:35 am

    Hai, Juni ini aku akan ke Tumbang Titi, setelah baca2 kayanya tempat yang nyaman untuk tinggal🙂 butuh info2 terbaru kondisi saat ini Mba… salam kenal!

    Reply
    • 10. yeniunique  |  May 22, 2010 at 12:53 am

      Hai Maha…
      Sorry baru buka blog-ku ini lagi.
      Juni tgl berapa ke TbTiti? Kalau bulan Juni sih biasanya lebih enak untuk pergi ke sana, secara jalan darat yg pendek kering, jadi naik motor palingan 2 jam juga nyampe (dari Ketapang). Kondisi terbaru Tumbang Titi? Hmmm…gak tau juga ya… kayaknya sih gak banyak perubahan tuh…

      Enjoy ya🙂

      Reply
  • 11. leha  |  January 18, 2011 at 4:26 am

    haiii……
    aku paling lma tinggl di tb titi dri kelas 2 smp smpai lu2s smu.
    aku kangen sma tb ti2,me kluarga n tman2.

    Reply
    • 12. yeniunique  |  February 19, 2011 at 11:17 pm

      Hi Leha…
      Aku praktis cuman tinggal di Tb Titi 15 taon. Abis itu merantau sampai sekarang. Tapi biar sejauh apapun kaki melangkah, Tb Titi tetap punya tempat istimewa di hati🙂

      Reply
  • 13. Ibu Theodora Bantang  |  June 16, 2011 at 5:58 am

    Salam Hangat dari Mantan Ibu Guru TK. Kuntum Karya Tumbang Titi ( Ibu Theodora)……………………

    Reply
    • 14. yeniunique  |  July 9, 2011 at 5:31 am

      Maaf baru balas…. Makasih udh berkunjung di blog-ku. Salam balik untuk Ibu Dora🙂.

      Reply
  • 15. bondan  |  December 7, 2011 at 9:52 am

    wah jadi kangenkota kecil yang indah itu, kebetulan aku jga besar di tumbang titi baru ke sana pada tahun 2007, tapi suer kotanya emang indah dan damai suasananya sejuk meski pada siang hari kerasa lumayan panas..salam kenal buat dari yang tumbang titi semua

    Reply
    • 16. yeniunique  |  December 20, 2011 at 5:26 am

      Wah, beneran besar di Tumbang Titi? Berapa lama di sana? Saya udah setahun lebih gak pulang kampung🙂. Salam untuk Tumbang Titi kalo pas ke sana ya…

      Reply
  • 17. bondan  |  January 15, 2012 at 7:25 am

    ye saye emang dari sana tinggalnye di simpang 4 dekat karim,,15 thn an lah di sana lumayan lama jga,,na same lah udah 4 thn an ndak ade plang ni,,,hahahaha salam nye ke siape ye,,,salam kenal,, add via fb bondancentro@gmail.com

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: