Sejuta Pesona FLORES – Part 1: dari Maumere ke Moni

September 1, 2009 at 5:33 am 25 comments

Picture 304Picture 710Picture 734

Dulu tak terpikirkan bisa menjejakkan kaki di tanah Flores karena bayanganku tentang pulau itu adalah daerah yang kering dan tidak menarik. Paling-paling yang kukenal dari Flores adalah danau-tiga-warna alias Danau Kelimutu yang tersohor itu. Dan kenalnya dengan Kelimutu juga karena jaman dulu foto danau tsb dipasang di uang seribu perak (hayoo… masih ingat gak?).

Ternyata bayanganku dulu itu sama sekali tidak benar sodara-sodara.

Keinginan untuk jalan-jalan ke Flores bermula dari melihat foto-foto pantai dan pemandangan alam Maumere yang dikirim oleh Oyan, seorang teman yang berasal dari Flores. Dari situ mataku mulai terbuka bahwa Flores menyimpan banyak pesona, tidak hanya Danau Kelimutu saja.

Bersama Enda, sohibku, rencana travelling bareng ke Flores pun mulai digagas. Sibuk deh mengumpulkan informasi, tanya sana-sini, termasuk pinjem buku Lonely Planet Indonesia dari perpus Tembagapura.

Setelah  mematangkan rencana, dan beberapa kali nyaris batal, akhirnya yang ikut adalah aku sendiri, Adrian (suamiku), Enda, dan Nonie (kakaknya Enda). Sayangnya Mas Anum (suami Enda) tidak bisa ikut karena gak bisa ambil cuti. Kami sepakat untuk pergi dari tanggal 15 – 20 Mei 2009 untuk aku dan suami, sedangkan Enda & Nonie tambah extra 2 hari karena mau sekalian ke Pulau Komodo & Rinca.

Aku mau berbagi cerita tentang perjalanan kami ke Flores. Tapi, berhubung kapasitas wordpress agak terbatas, aku tulis kisahnya per bagian aja ya…

Hari Pertama: Maumere

Tanggal 15 Mei kami terbang dari Denpasar ke Maumere dengan pesawat Merpati (yang of course, pake acara di-delay 2 jam di Ngurah Rai). Sebelum berangkat, Nonie sudah berinisiatif booking hotel di Maumere sekaligus memesan penjemputan dari bandara.

Sampai di airport Maumere ada seorang pria (halah!) yang memegang kertas bertuliskan ‘Miss Nonie’. Yup, dialah orang yang menjemput kami. Namanya Dino Lopez. Dia bilang kalau namanya tercantum di buku Lonely Planet Indonesia sebagai experienced English speaking guide untuk area Flores. Dan ternyata di Lonely Planet bener ada nama dia lho…

Pertama, kami diajak ke ‘kantor’ yang sepertinya merangkap tempat tinggal Dino. Di situ kami diberi penjelasan tentang gambaran wisata Flores, sekaligus ditawari ‘paket’ wisata a la Dino Lopez. Untuk aku dan Adrian yang dari Maumere rutenya ke Moni – Bajawa – Labuhan Bajo (5 hari 4 malam) paket yang ditawarkan adalah Rp 1.750.000,- per orang, sementara Nonie & Enda yang lanjut ke Pulau Komodo & Rinca diberi harga Rp 2.750.000,- per orang (7 hari 6 malam). Harga itu sudah termasuk mobil, bensin, supir merangkap guide, dan akomodasi standar di masing-masing lokasi tujuan. Setelah sedikit nego, Dino memberi discount 250rb perorang. Sungguh harga yang cukup bersahabat.

Acara berikutnya di Maumere adalah berburu sunset. Setelah puas foto-foto sunset baru kemudian check in di hotel kecil pinggir pantai yang dinamai Gading Beach Resort. Harganya? Sembilan-puluh-ribu-rupiah permalam! Beneran. Fasilitasnya standarlah…shower air dingin, queen size bed, serta sebuah TV yang hanya mampu menangkap siaran dari 2 channel. Oia, sarapan udah termasuk di harga kamar lho…

Malam hari sesudah makan malam, kami pergi ke acara pesta pernikahan. Loh, kok bisa?

Iya, berkat kepiawaian Enda & Nonie beramah-tamah di pesawat, seorang bapak mengundang kita untuk hadir di acara pesta pernikahan ponakannya. Karena gak enak udah diundang dan penasaran gimana pesta pernikahan di Flores, kami datang juga ke pesta tsb. Yang pasti pestanya rame dan full menyanyi & dansa. Bahkan kami juga didaulat untuk menyanyi dan menari bersama.

Konon tradisi menyanyi dan berdansa itu diwariskan oleh bangsa Portugal dan Belanda pada jaman penjajahan dulu. Di pesta itu tua-muda-lelaki-perempuan lincah bergoyang.

Kalau tidak memikirkan esok harus berangkat pagi-pagi ke Moni, ingin rasanya kami tinggal lebih lama, ikut berpesta sampai pagi.

Hari ke-2: Maumere – Sikka – Pantai Paga – Moni

Hari kedua di Flores diawali dengan menikmati sunrise persis di pantai Gading Beach Resort. Semburat warna-warni yang mempesona mengiringi datangnya pagi bagaikan lukisan mahakarya seorang seniman. Entah mengapa, sunrise dan sunset dimanapun kita berada selalu punya daya tarik yang luar biasa.

Habis itu, kami mandi dan sarapan. Saat sarapan kami kenalan dengan seorang cewek. Namanya Jenna Thompson. Ni cewek cool gitu deh… asal dari Amrik, kerja jadi language trainer di Thailand, trus  jalan2 ke Flores sendirian. Pagi itu kita tahu kalau jeung Jenna bakal tour barengan kita. Kesan pertama tentang Jenna? Pendiam. Beda banget sama rombongan kita yang rame. (Belakangan setelah travelling bareng baru ketauan kalau Jenna juga ternyata bisa rame dan ngocol. We miss you J…)

Dengan dua buah mobil kami memulai petualangan kami. Jenna & Dino di mobil depan, sementara kami berempat di mobil terpisah dengan supir namanya Pak Fransesco. Kami meninggalkan Gading Beach Resort sekitar pkl. 07.30 pagi.

Singgah di perkampungan nelayan yang rumah-rumahnya dibangun di atas air laut, kami disambut oleh anak-anak kecil yang luar biasa banci kamera… Lucunya kami semua dipanggil ‘miss’ oleh mereka. Selama kami di perkampungan itu ramai terdengar celoteh mereka “Miss, foto miss…” sambil langsung bergaya dengan mengacungkan dua jari membentuk symbol victory.

Dari perkampungan nelayan, perjalanan berlanjut ke Desa Sikka, salah satu desa yang masih memelihara tradisi membuat tenun ikat. Sesudah melihat-lihat satu gereja tua peninggalan Portugal, kami beruntung bisa menyaksikan tahap-tahap proses pembuatan tenun ikat oleh sekelompok ibu di desa itu. Dari mulai mengolah kapas menjadi benang, membuat pola tenun dg ikat, proses pewarnaan, sampai menenun benang menjadi sehelai kain. Yang menarik, untuk warna-warna kalem seperti indigo atau merah tua, warna tsb biasanya terbuat dari bahan alami. Sedangkan kalau warnanya cerah seperti biru terang atau pink, sudah pasti menggunakan pewarna buatan.

Kunjungan ke Sikka berbuntut memborong selendang atau syal tenunan yang berwarna-warni yang harganya terbilang murah bila dibandingkan dengan proses pengerjaan yang rumit dan memakan waktu. Satu syal rata-rata dilego dengan harga Rp 50.000,-

Puas memborong syal, kami melanjutkan perjalanan ke Moni. Untuk istirahat makan siang, Dino membawa kami ke Pantai Paga, sebuah pantai yang masih alami dengan sebuah (dan satu-satunya) warung makan yang dikelola oleh sepasang suami-istri separuh baya. Kabarnya dulu pernah akan  dibangun hotel resort di pantai tsb, tapi sejak bom Bali  yg mengakibatkan jumlah wisatawan ke Flores menurun, yang bertahan tinggal sepasang suami istri pengelola warung itu saja. Di dekat pantai ada beberapa bangunan sederhana yang bisa disewa untuk penginapan.

Sambil menunggu pesanan, Jenna, Enda, Nonie dan Adrian memutuskan untuk mandi di pantai. Aku tidak ikut mandi…cukup duduk-duduk di pantai dan sesekali memotret saja. 

Sekitar 45 menit kemudian, makanan pesanan kami dihidangkan…ada ikan tongkol bakar, tumis sayuran segar, nasi putih… dan setiap orang diberi sepiring kecil sambal cabe yang pedasnya benar-benar nendang! Mungkin karena bapak pemilik warung merasa tertantang ketika kami memesan makanan kami bilang, “Sambelnya yang pedes ya Pak…”

Walaupun menu makan siang kami tidak begitu luar biasa tapi rasanya cukup mak nyuss dan sambelnya yang pasti sukses membuat mulut & lidah berdesis kepedasan.

Dari Pantai Paga kami meluncur ke Moni. Perjalanan yang cukup panjang serta duduk di mobil memang cukup melelahkan. Tapi kelelahan kami terbayar dengan melihat keindahan alam di sepanjang jalan yang kami lalui. Panorama laut berpadu dengan gunung yang menghijau serta sawah yang membentang benar-benar memanjakan mata. 

Hari sudah sore ketika kami tiba di Moni yang termasuk daerah dataran tinggi. Dino membawa kami ke Losmen Hiddayah, sebuah penginapan dengan sawah dan kebun sayuran di sekelilingnya. Salah satu karyawan losmen dengan rambut a la Bob Marley menghidangkan minuman panas (teh manis & kopi). Cocok diminum untuk udara Moni yang dingin.

Sekitar pkl. 18.30 kami menikmati makan malam di teras losmen. Sambil makan Dino berkisah. Sebagian tentang legenda-legenda dan mistik di Flores yang kami simak dengan penuh perhatian.

Selesai makan Dino menawarkan apakah kami berlima (Enda, Nonie, Jenna, Adrian dan aku sendiri) berminat untuk berendam di sumber air panas alami  alias hotspring yang letaknya hanya beberapa kilometer dari penginapan kami. Semua setuju. Siapa yang menolak kenikmatan mandi air panas di daerah dingin seperti Moni? Apalagi air yang tersedia di penginapan hanyalah air dingin yang berasal dari sungai.

Berangkatlah kami ke sumber air panas diantar oleh Dino, berdempet-dempetan di satu mobil. Sambil lalu Dino bilang kalau sumber airpanas-nya di tengah sawah.

Sekitar 20 menit kemudian, Dino memarkir mobil di pinggir areal persawahan yang gelap. Boro-boro lampu penerang jalan, senter saja ternyata cuman ada satu di mobil. Terbengong-bengong kami digiring berjalan melewati pematang sawah yang sempit dan licin. Akhirnya, walaupun dengan terpeleset berkali-kali, sampai juga kami di hotspring yang fenomenal itu. Dari cahaya senter, samar-samar bisa dilihat hotspring tsb menyerupai kolam kecil dengan air jernih setinggi lutut yang bisa menampung sampai 10 orang berendam bersama. Uap hangat terlihat membungkus permukaan kolam, menggoda kami untuk segera menceburkan diri.

Membenamkan tubuh yang penat di hangatnya air kolam, di bawah naungan kerlap-kerlip bintang di langit, membuat kami lupa akan susah-payahnya perjalanan menuju kolam itu. Air kolam yang tidak terlalu panas memberikan sensasi kesegaran yang menyenangkan.

Satu rekomendasi bagi siapa saja yang berminat untuk mencoba spa alam a la Moni itu, berangkatlah kala matahari belum tenggelam… Atau, kalaupun mau pergi malam-malam, jangan lupa berbekal penerangan yang cukup. Membawa satu senter saja untuk 6 orang sungguh tidak disarankan🙂

Hari ke-3 : Danau Kelimutu

Pagi-pagi sekitar jam 4, Dino mengetuk kamar-kamar kami dengan penuh semangat. Ya..ya… agenda  pertama kami di hari ke-3 adalah melihat Danau Kelimutu yang terkenal itu. 

Kata si Dino dan juga rekomendasi beberapa teman, kalau mau pergi ke Kelimutu mendingan pagi-pagi. Selain bisa melihat matahari terbit dari pegunungan dimana ketiga danau multiwarna itu berada,  juga untuk menghindari kabut yang suka datang mulai jam 9an pagi.

Dari penginapan kami naik mobil terlebih dahulu dan berhenti di satu area yang cukup luas yang digunakan untuk tempat parkir mobil. Perjalanan menuju danau dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ada beberapa rombongan pergi ke Kelimutu pagi itu. Seorang bapak yg merupakan penduduk setempat turut berjalan bersama rombongan. Berjaket biru dan mengenakan sarung tenun warna indigo, sang bapak membawa tas yang didalamnya ada termos berisi kopi panas yang nanti akan dijual ke pengunjung Kelimutu. Dia juga membawa beberapa selendang tenunan khas Flores yang juga dijual sebagai souvenir.

Bau belerang menyergap indra penciuman ketika kami sudah mendekati ketiga danau Kelimutu. Setelah mendaki ratusan anak tangga, kami sampai di tempat yang berbentuk seperti panggung (cenderung mirip monumen sih…), yang khusus dibuat untuk duduk menikmati matahari terbit. Di kedua sisi panggung yang menghadap ke dua danau dibuat masing-masing sekitar 11 undakan tangga untuk duduk-duduk. Untuk pengaman, dipasang pagar pembatas supaya pengunjung tidak berjalan terlalu dekat ke pinggiran danau.

Masing-masing dari kami kemudian siap dengan kamera di tangan, menanti saat-saat matahari muncul di ufuk timur. Samar-samar terlihat warna biru turquoise salah satu danau di depan kami.

Si bapak berjaket biru juga lincah menawarkan kopi. Kubeli segelas kecil. Harganya kalau tidak salah 10 ribu rupiah.

Menyeruput kopi-hitam-kental-manis sambil menikmati pesona mentari yang perlahan bergerak naik dari balik gunung, di antara 3 danau warna-warni, sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Sambil sesekali menjepretkan kamera, mataku berusaha menangkap sebanyak mungkin pesona alam yang tersaji.

Sesudah matahari naik, kami memuaskan ke-narsis-an kami, berfoto dengan latar belakang salah satu danau kelimutu yang berwarna biru turquoise.  Danau berikutnya yang letaknya berdampingan dengan si danau turquoise berwarna hijau gelap, sepintas mirip warna coca-cola. Sayangnya danau ketiga yang kabarnya saat itu berwarna putih tertutup kabut tebal.

Nama ketiga danau tsb adalah Tiwu Ata Polo (danau hijau gelap), Tiwu Nua Muri Koo Fai (danau biru turquoise), dan Tiwu Ata Mbupu (danau yang tertutup kabut).

Berdasarkan kepercayaan setempat, ketiga danau Kelimutu itu adalah tempat tujuan roh orang ketika meninggal. Danau mana yang dituju tergantung dari umur dan tingkah laku orang tersebut ketika hidup di dunia.

Keunikan lain dari Danau Kelimutu adalah warnanya yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa tanda-tanda alam sebelumnya. Beberapa tahun lalu warna ketiga danau tsb. adalah biru, coklat kemerahan dan hijau tua kehitaman. Menurut info belum ada ilmuwan yang bisa menjelaskan secara pasti apa yang menyebabkan perubahan warna danau. Yang pasti kandungan asam ketiga danau tsb sangat tinggi sehingga jangan coba-coba iseng mencoba berenang di salah satu danau itu.

Sesudah dari Danau Kelimutu kami sarapan banana pancakes di penginapan, kemudian mandi di sungai yang ada air terjunnya. Rasanya dingin menyegarkan walaupun warna airnya tidak bisa dibilang jernih. Well…kami hanya punya dua pilihan, mandi dengan air sungai tsb. atau tidak mandi seharian sampai tiba di Bajawa.

Kami mengambil opsi pertama.

…To be continued….

Entry filed under: Travelling & Places. Tags: .

A Call from an Old Friend Amole Canteen

25 Comments Add your own

  • 1. mia  |  January 7, 2010 at 6:34 am

    hai!

    saya rencana mau ke Maumere Bulan maret, mbak ada no Dino yang bisa di kontak?😀

    Reply
    • 2. yeniunique  |  January 12, 2010 at 1:15 am

      Salam kenal Mia… Maaf baru balas. Udah beberapa hari gak jenguk blog saya ini…

      Ini no contact Dino: 0813-38709569. Bisa juga cek website-nya mereka di: http://www.flores-overland-online.com/

      Kalau jadi jalan2 ke Maumere dan ketemu Dino, salam dari Unique & the Gank gitu ya🙂

      Reply
    • 4. yeniunique  |  February 10, 2010 at 1:28 am

      Hi Bisot…
      Setuju! Maumere itu cantik… gak, salah, Flores itu cuantik! Gak nyesel saya ke sana… malah pengen lagi.

      Dirimu masih di Maumere?

      Reply
  • 6. Lucky Reyner  |  February 12, 2010 at 6:19 am

    tanks uda berkunjung ke flores n tulisanx bikin maumere makin manise…..

    Reply
    • 7. yeniunique  |  February 12, 2010 at 10:27 pm

      Hai Lucky…
      Saya bener2 senang berkunjung dan berpetualang (cie…berpetualang) di Flores. Bener, gak nolak kalo suatu saat ada kesempatan berkunjung ke sana lagi. Saya malah kepengen bisa sampai ke pulau Sumbawa juga.

      Lucky asli dari Flores atau menetap di Flores?

      Reply
      • 8. Lucky Reyner  |  February 14, 2010 at 4:10 pm

        Hai jg Yeni lam kenal ya….saya asli orang maumere temannya Dino saya baca tulisan Yeni di http://www.inimaumere.com n coba msk ke webnya Yeni. saya sangat tertarik dgn cerita petualanganmu krn saya jg seorang petualang tp bkn penulis hehehe saya hanya bs bercerita dlm bentuk kemasan feature radio. jd penasaran nih nunggu cerita petualangan2 Yeni selanjutx…..

      • 9. yeniunique  |  February 15, 2010 at 12:28 am

        Saya barusan berkunjung ke website-nya bung http://www.inimaumere.com . It’s a nice website:). Sayang deh, waktu merencanakan perjalanan ke Flores dulu belum menemukan website itu…:(

        Saya sih menulis… OK, petualangan selanjutnya pasti saya tulis di blog, hehehe…

  • 10. Oss  |  February 14, 2010 at 4:07 pm

    salam kenal mbak yeni,tulisan anda berjudul “Sejuta Pesona FLORES – Part 1: dari Maumere ke Moni”,telah saya kopi n pastekan tanggal 8 february lalu di http://www.inimaumere.com,blog saya tentang maumere…🙂
    terima kasih telah mampir di Flores,kapan2 berkunjung lagi ya 🙂

    Reply
    • 11. yeniunique  |  February 15, 2010 at 12:22 am

      Gak masalah… saya malah senang kalo tulisan saya bisa memberikan sedikit kontribusi untuk memperkenalkan Maumere🙂

      Reply
  • 12. Lucky Reyner  |  February 14, 2010 at 4:21 pm

    oya Yeni msh byk obyek wisata di maumere, bisa diliat di http://www.inimaumere.com.
    bs jg koq ngintip kisah petualangan saya bareng teman dr jkt di link ini klik aza

    http://www.inimaumere.com/2009/12/merayapi-egon-menggapai-langit.html

    epan gawan…..

    Reply
    • 13. yeniunique  |  February 15, 2010 at 12:36 am

      Saya baru baca kisah petualangannya bung Lucky, Tyty dan Egi di gunung Egon. Cool!!! kata siapa bung Lucky gak berbakat menulis? tulisannya bagus gitu

      Hayo…nulis lagi! Hehehe…

      Reply
  • 14. Oyan  |  February 27, 2010 at 12:53 am

    Mba Uniq, dulu sblm mba n d gank mo ke maumere-flores kan saya sudah kasi link http://www.inimaumere.com ke mba dan mba Enda to. ga dibuka ya? hehehe.

    Saya maret akhir sampe pertengahan april 2010 ini mo cuti ke maumere dan paskah ke larantuka. nanti kita share foto lg.

    Epang gawan

    Reply
    • 15. yeniunique  |  February 28, 2010 at 2:05 am

      Hahaha, iya ya? Aku lupa.
      Emang kayanya Oyan udah kasi link-nya, cuman gak perhatiin.

      Aku Paska di jobsite. Pengen jg sih ikutan ke larantuka… Teman2 yg berencana ke Larantuka kynya jg ga jadi ya?

      Reply
  • 16. dg  |  July 2, 2010 at 1:44 pm

    we love it……..

    Reply
    • 17. yeniunique  |  July 9, 2010 at 11:39 pm

      We love it to🙂
      I don’t mind going there again one day. There are still so many places in Flores worth visiting.

      Reply
  • 18. SISCA FLORANZA  |  August 16, 2010 at 7:26 am

    I LOVE MAUMERE

    Reply
  • 19. me  |  October 24, 2010 at 12:47 pm

    mbak, saya boleh bertanya-tanya tentang trip maumere ini? karena saya akan kesana dalam waktu dekat.
    Boleh minta email-nya Mbak ?

    thanks
    me

    Reply
    • 20. yeniunique  |  December 1, 2010 at 1:19 pm

      Duh, maaf…baru online lagi. Boleh aja kalau mau tanya2 ttg Trip Maumere (mudah-mudahan belom keburu berangkat ya? Hahaha…). Boleh email ke gregoria.wijayanti@gmail.com

      Reply
  • 21. daisy funk  |  February 27, 2011 at 12:32 pm

    MoF is beautiful leaving

    Reply
  • 22. David and K  |  November 11, 2011 at 2:03 pm

    hi yeni
    is dino the guide for real and legitimate?
    thinking about travelling with him?
    thanks david and kay

    Reply
    • 23. yeniunique  |  November 21, 2011 at 3:49 pm

      Hi David & Kay…
      Sorry for not replying sooner. I haven’t got time to blog recently.
      Yes, Dino is real and legitimate. I actually picked his name from Lonely Planet Book, then searched the internet and found his website. He’s a fun guide and seems to know his area very well.
      Have fun in Flores and say hello to Dino from Unique if you are travelling with him.

      Reply
  • 24. ichal flores  |  December 16, 2011 at 3:15 pm

    subhanallah sekali yaa floresny

    Reply
    • 25. yeniunique  |  December 20, 2011 at 5:26 am

      Iya, Flores memang luar biasa. Beruntung kita punya negri dg banyak tempat yg indah seperti Flores.

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: