Determination

August 22, 2009 at 7:47 am 8 comments

Salah satu kata favorit suami adalah determination. Dia bilang (dan aku setuju) kalau orang-orang sukses, entah itu para pebisnis, atlet, penulis, orang-orang yang bekerja di bidang seni, biasanya adalah orang yang mempunyai determination tinggi sehingga mereka bisa mencapai apa yang mereka inginkan.

Hasil intip-intip di kamusnya om Oxford, salah satu arti kata determination adalah the quality of being firmly committed to doing something. Dalam Bahasa Indonesia kosakatanya menjadi determinasi kali ya? Kalau mau dijabarkan dalam Bahasa Indonesia, determinasi artinya keinginan kuat yang dibarengi dengan komitmen dan kerja keras untuk mencapai suatu tujuan.

Keinginan. Komitmen. Kerja keras.

Tiga kata & frasa yang gampang diucapkan tapi susah untuk dilaksanakan.

Kalau mau kilas balik, kapan ya terakhir kali aku punya determinasi untuk mencapai sesuatu?

Mungkin yang pertama yang layak kucatat adalah waktu jaman kuliah dulu. Aku punya keinginan untuk bisa lulus tepat waktu dengan IPK yang bagus (bagus di sini ukuranku adalah minimal 3.5). Keinginanku itu termotivasi juga oleh tuntutan PBS Keuskupan Ketapang, semacam yayasan dimana aku dapat beasiswa untuk kuliah, yang memberiku target IPK minimal 3. Sebenarnya sih bukan tuntutan juga… lebih berupa tantangan dari pengurus PBS yang namanya Pak Apheng Arpeles. Dalam suatu kesempatan kunjungan ke Jojga, Pak Apeng pernah menantangku untuk lulus tepat waktu (4 tahun) dengan IPK minimal 3. Tantangan itu kusambut dengan sepenuh hati dan tantangan itu pula yang membuatku berkomitmen serta bekerja keras semampuku untuk kuliah sebaik-baiknya dan dapat IP setinggi-tingginya. Dan walaupun dengan jatuh bangun, pada bulan July 2002 aku berhasil menyelesaikan skripsi dan maju pendadaran. Aku lulus kurang sedikit dari 4 tahun dengan IPK seperti target. Di atas target malah. Alhamdullilah.

Lulus kuliah aku diterima bekerja di sebuah hotel resor di daerah Borobudur yang tamu-tamunya rata-rata orang asing. Aku bekerja sebagai trainer Bahasa Inggris untuk karyawannya. Baru bekerja kira-kira 7 bulan, aku dihadapkan dengan realita kalau adik nomor 4 harus masuk kuliah. Dan aku ingin sekali bisa membantu bapak untuk membiayai kuliah adik. Gaji yang aku terima sewaktu bekerja di resor itu sih cukup untuk hidupku dari bulan ke bulan, tapi tidak cukup untuk biaya kuliah yang cukup mahal. Pusing juga memutar otak, dimana bisa dapat pekerjaan dengan gaji yang memadai.

Kesempatan memang kadang datangnya tanpa diduga apalagi direncanakan.

Pada acara kumpul-kumpul anak Ketapang di asrama Bedayong, Jogja, aku bertemu dengan Pak Markus Mardius yang bekerja di salah satu perusahaan tambang di Papua. Kabarnya gaji di perusahaan tempat Pak Markus bekerja itu cukup tinggi. Tentunya menggiurkan buat aku yang desperate pengen kerja dg gaji yg lebih tinggi buat bantu biayain kuliah adik. Aku tanya Pak Markus, kira-kira ada lowongan gak di Papua. Pak Markus bilang, kayaknya group Language Training lagi butuh instruktur tuh! Dia juga memberiku alamat email dan nomor telepon orang yang bisa dihubungi di Language Training.

Kemudian aku mengirim lamaran & CV untuk menjadi instruktur Language. Sesudah di-interview melalui telepon, aku dinyatakan lolos ke babak selanjutnya yaitu psikotes dan tes Bahasa Inggris. Tempatnya? Di Jakarta, dan harus di Jakarta. Weits… gimana caranya aku ke Jakarta? Gak mungkin minta ijin dari tempat kerjaku saat itu untuk melakukan tes masuk ke perusahaan lain kan?

Berpikir. Mencari akal. Mengatur strategi bagaimana supaya tetap bisa ke Jakarta untuk tes, tapi juga tidak merugikan tempat kerjaku. Untungnya di resor tempatku bekerja itu ada peraturan, kalau karyawannya masuk kerja pada hari libur nasional, karyawan tsb. berhak mengajukan libur 2 hari. Kebetulan minggu-minggu aku diminta untuk tes di Jakarta itu ada libur nasional hari Kamis kalo gak salah. Aku masuk kerja. Kemudian mengajukan untuk mengambil libur 2 hari di minggu berikutnya, hari Senin & Selasa. Syukurnya pengajuan hari liburku disetujui oleh boss. Hari Minggu aku berangkat ke Jakarta dengan naik kereta. Di Jakarta menginap di kosnya Mbak Susy, kakaknya mantan pacar. Minggu malam Mbak Susy mengantarku naik bis lewat tempat tes, kata dia supaya besoknya aku udah bisa berangkat sendiri karena dia kerja jadi gak bisa ngantar. Thanks a lot, Mbak Susy🙂. Hari Senin ikut psikotes yang dikenal dengan tes SHL, disusul hari Selasa ikut English Test. Perasaan sih lancar-lancar saja. Selasa malam aku balik ke Jojga naik bis (tiket pesawat mahal bok!!). Sampai di Jogja hari Rabu jam 5 pagi, gak pakai istirahat lagi langsung mandi dan siap-siap untuk masuk kerja lagi.

Sekitar 3 minggu sesudah tes, aku dikontak lagi dan dinyatakan lolos tes! Waah…seneng banget rasanya waktu itu. Laporan sama orang tua bahwa aku akan bekerja di Papua. Ibuku sempat cemas karena situasi Timika yang saat itu sedang ada konflik pemekaran wilayah. Tapi aku tetap bertekat untuk berangkat ke Papua, walaupun tidak ada bayangan tempat kerjaku itu nantinya seperti apa. Dan jadilah, Agustus 2003 aku berangkat untuk mengadu peruntungan di Papua.

Aku pikir perjuangan untuk bisa tes di Jakarta sampai akhirnya diterima dan bekerja di Papua juga merupakan bentuk determinasiku sesudah masa kuliah.

Kalau sekarang?

Nah, itu dia. Keinginan, semangat menggebu-gebu dan kerja keras untuk mencapai sesuatu seperti yang kupunya dulu kayaknya sudah luntur. Barangkali karena sudah merasa berada di comfort zone? Zona kenyamanan yang membuat orang enggan untuk bergerak? Dengan gaji yang kuterima tiap bulan (cukuplah untuk kebutuhan sendiri sama biaya kuliah adik bungsu), ditambah dimanja dg fasilitas akomodasi, makan dan transport yang gratis, membuatku enggan untuk mencari tantangan baru. Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaanku sekarang ini lebih berfokus pada doing day to day routine aja. Tantangannya sih ada… tapi lebih ke tantangan yang memang udah biasa, seperti misalnya bagaimana untuk mencapai target jam training. Dari segi gaji juga, sebenarnya masih banyak perusahaan lain yang bisa memberikan gaji lebih tinggi. Yang diperlukan hanyalah niat dan usaha untuk keluar. Itu aja.

Kadang ada keinginan untuk keluar dari comfort zone yang sekarang dan mencoba sesuatu yang baru di luar sana. Membuat bisnis sendiri misalnya. Tapi keinginan itu gak cukup kuat sehingga akhirnya ya sampai saat aku menulis ini, aku masih di tempat kerja yang sama seperti 6 tahun lalu.

Kalau kata suami sih, determinasi-ku kurang. You haven’t got the fire…gitu kata dia.

Atau, kita punya determinasi karena faktor luar? Kayak misalnya, aku punya komitmen untuk lulus kuliah tepat waktu dengan IPK di atas 3 karena ditantang oleh Pak Apheng Arpeles? Atau aku punya keinginan super kuat untuk bisa bekerja di Papua karena merasa berkewajiban membantu orang tua membiayai kuliah adik?

Barangkali sekarang aku juga membutuhkan faktor luar, entah dalam bentuk apa, supaya aku punya determinasi lagi untuk bisa keluar dari zona kenyamananku sekarang… supaya bisa lebih maju lagi. Pengennya suatu saat nanti bisa jadi boss untuk diri sendiri. Supaya bisa mengatur jam kerja sendiri dan bisa lebih enjoying life.

Lagi-lagi untuk bisa jadi boss untuk diri sendiri modal awalnya adalah keinginan, komitmen dan kerja keras. I am still looking for that.

Entry filed under: Sharing. Tags: .

Ngelunasin Utang Dingin Sekali Pagi Ini…

8 Comments Add your own

  • 1. Heribertus A. Yudyastawa  |  January 20, 2010 at 8:27 am

    Mbak Yeni

    Apakah Pak Apheng Arpeles yg dimaksud dulu kuliah di Sanatha Dharma, dan pernah tinggal di Asrama Mahasiswa REalino Jl. Gejayan??

    Dia dulu satu asrama dengan saya. Kalo ada kontaknya kasih dong….

    Salam

    Yudy

    Reply
    • 2. yeniunique  |  January 21, 2010 at 5:43 am

      Iya Pak Heri… Pak Apheng Arpeles yg pernah di Realino dan berasal dari Ketapang, Kalbar. Ini no contact beliau:
      08125776832.

      Thanks udah mampir ke blog saya anyway…:)

      Reply
      • 3. Heribertus A. Yudyastawa  |  January 21, 2010 at 7:50 am

        Thanks mbak Yeni.

        Aku udah coba kontak tapi mailbox. Ada updated number atau emang sebetulnya nomernya itu ya??
        Ditunggu juga update tulisan2nya di blog.

        Thanks anyway

      • 4. yeniunique  |  January 21, 2010 at 11:16 pm

        Duh, itu nomor Pak Apheng yg saya punya. Coba nanyi saya tanya teman lain yang mungkin punya nomor terbaru beliau… kalo dapet saya kabarin deh:)

        Btw, jadi lebih semangat update blog… knowing some people actually read my blog, hehehe…

  • 5. Heribertus A. Yudyastawa  |  January 26, 2010 at 9:02 am

    Wow… harus semangat dong… legacy yang nggak ternilai tuh pengalaman2 itu.
    Akhirnya aku bisa kontak P Apheng. Dia pas lagi di kebun kelapa sawit, katanya buat persiapan pensiun.
    Bahkan aku udah cross check ke dia apakah benar pernah kunjungi Yeni waktu kuliah di Yogya & dia membenarkan.

    Salam dari dia juga buat kamu.
    Saat ini aku bekerja di micro bank, namanya Bank Sahabat
    Jadi penutupan email selalu dengan kata

    Salam SAHABAT

    Yudy

    Reply
    • 6. yeniunique  |  January 26, 2010 at 11:23 pm

      Hehehe…syukurlah akhirnya Mas Yudy bisa kontak juga dg Pak Apheng. Thanks salamnya… *jadi malu, udah lama jg gak kontak dg beliau*

      Btw, mas Yudy dulu seangkatan dg Pak Apheng? Kalau iya, brarti saya mustinya panggil Pak Yudy dong ya…🙂

      Reply
  • 7. nanik  |  August 10, 2010 at 8:53 am

    Hi Mbak.. bagus banget tulisannya.. bahasanya jg enak.. tdk membosankan.
    Kebetulan aku lg browsing tentang determination dan tulisan Mbak ini membuatku makin jelas memahami makna determination itu sendiri. Thanks ya…
    Mengenai impian untuk menjadi boss untuk diri sendiri, pasti setiap orang memimpikan hal itu. Banyak cara yg kita bisa lakukan.. asal itu tadi.. ada determination dan komitmen.. pasti suatu saat mimpi Mbak akan tercapai.
    Saat ini aku msh kerja kantoran jg, tp saat dirumah, aku mencoba mulai aktif di bisnis online, krn byk temen2ku yg satu per satu mulai bisa resign dari kantornya dan menggeluti bisnis ini, HANYA DARI RUMAH SAJA! Disini, menulis menjadi modal utama.. dan Mbak Yeni punya potensi itu..🙂
    info lengkapnya dpt dilihat di http://www.dbc-network.biz/?id=WanitaBijak

    Salam kenal,
    Nanik
    http://masakansehat.com

    Reply
    • 8. yeniunique  |  August 12, 2010 at 7:58 am

      Hi Mbak Nanik…
      Thanks banget udah mampir di laman blog saya🙂
      Dan thanks untuk pujiannya atas tulisan saya. Saya mulai nge-blog waktu masih kerja full time…untuk ngilangin stress, hehehe…
      Thanks a lot untuk support-nya untuk one day jadi boss untuk diri sendiri. Btw, saat ini saya udah full time home lho… Dan, yup, harus mulai melirik bisnis-bisnis yg bisa dikerjakan dari rumah. Saya juga suka tuh ide bisnis online… sayangnya, internet di Papua itu oh-luar-biasa-leletnya… jadi agak susah untuk bisnis online, hehehe…
      Nikmatin aja dulu kerja kantorannya. Dan saya juga percaya, asal kita mau berusaha, suatu saat nanti Mbak Nanik juga bisa mencapai impian menjadi boss untuk diri sendiri🙂.

      Cheers,
      Unique

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: