Saving Babies

August 15, 2009 at 1:32 am 2 comments

Dua hari lalu, ada program di saluran Australian Network TV yang judulnya Saving Babies. Program yang menampilkan kisah bayi-bayi yang terlahir abnormal serta perjuangan orangtua dan dokter untuk menyelamatkan mereka.  

Ada 3 kasus yang ditampilkan, tapi yang aku ingat dengan jelas ada 2. Yang pertama adalah bayi yang terlahir dari pasangan yang masih terbilang usia remaja. Bayi mereka ini terlahir dengan hampir seluruh organ bagian dalam (usus dll) berada di luar perut. Bayi yang satunya terlahir dengan kelainan jantung parah. Sampai sekarang aku masih merasa merinding kalau teringat bagaimana kondisi bayi-bayi tsb karena terlihat dengan jelas di layar tv.

Untuk bayi yang terlahir dg organ dalam berada di luar perut, begitu diangkat dari perut ibunya (yg melahirkan dg cara caesar) organ yg tidak berada di tempatnya itu langsung dibungkus dengan plastik steril, kemudian dalam hitungan menit dia dibawa ke ruang operasi. Si ibu bayi tsb hanya bisa memberikan ciuman singkat untuk anaknya sebelum her little baby dibawa darinya.

Bayangkan…bayi kecil dan masih lemah yang baru beberapa menit keluar dari kenyamanan perut ibunya sudah harus dibaringkan di meja operasi dan berurusan dengan pisau pisau dan segala macam peralatan operasi. Membayangkannya saja sekarang aku merasa bergidik.

Untuk bayi yang terlahir dengan kelainan jantung parah, treatment-nya sedikit berbeda. Para dokter ahli bedah di situ menunggu si bayi sampai berusia sekitar 8 bulan supaya lebih kuat untuk dioperasi jantungnya. Dan selama 8 bulan itu tentunya si bayi harus dirawat dan diawasi dengan intensif supaya jantungnya masih bisa berdetak.

Kisah selanjutnya adalah tentang bagaimana dokter-dokter ahli tsb. berjuang menyelamatkan si bayi-bayi malang. Tentu saja bukan pekerjaan yang mudah untuk ‘memasukkan’ organ dalam yang tidak pada tempatnya itu ke dalam perut mungil di bayi. Begitu juga dengan proses operasi jantung bayi lain. Peluang bayi-bayi mungil itu untuk selamat hanya 50:50, bahkan mungkin kurang dari itu. Padahal sudah didukung oleh tenaga-tenaga ahli dan peralatan kedokteran yang canggih.

Di luar kamar operasi, orang tua para bayi harap-harap cemas menanti hasil operasi. Berharap semoga anak-anak mereka berhasil diselamatkan dan kemudian bisa menjalani hidup dengan normal, senormal yang mereka bisa. Aku membayangkan bagaimana perasaan para orang tua tsb saat itu, dan rasanya menjadi sangat berempati kepada mereka. That must have been really hard time for them.

Ketika akhirnya ditampilkan bahwa bayi-bayi tsb berhasil melalui proses operasi dengan selamat dan kemudian bisa dibawa pulang, aku yang menonton ikut merasa lega. 

Aku jadi berpikir… bayi-bayi yang ditampilkan di program tsb. setidaknya masih lebih beruntung daripada bayi-bayi yang terlahir dengan kondisi serupa di Indonesia. Mengapa masih lebih beruntung? Karena mereka ditunjang oleh fasilitas yang lebih canggih daripada di Indonesia, dari segi fasilitas kesehatan dan biaya perawatan kesehatan tentu saja. Selain para calon orangtua banyak yang sudah punya kesadaran (dan punya kemampuan) untuk ikut program asuransi kesehatan, pemerintah Aus juga memberikan anggaran yang cukup besar di bidang kesehatan warganya. Sehingga dengan demikian bayi-bayi yang terlahir dengan kondisi tertentu bisa langsung mendapat intensive care & treatment tanpa harus menunggu dapat dana terlebih dahulu. Dengan demikian, peluang mereka untuk bisa diselamatkan juga lebih besar.

Bagaimana dengan di Indonesia? Ah, jadi berandai-andai… kalau saja Negara kita bisa lebih dikelola dengan baik, pasti Negara kita bisa sangat makmur. Kalau Negara kita makmur, harapannya fasilitas dan anggaran kesehatan untuk kita sebagai warganya juga akan lebih baik. Kita sudah sering mendengar kasus bayi lahir dengan tidak sempurna di negeri tercinta ini. Banyak dari bayi-bayi tsb. yang akhirnya tidak terselamatkan karena keterbatasan dana untuk biaya operasi, atau karena minimnya fasilitas kesehatan di Negara kita. Rasanya miris ya?

Efek dari menonton program tsb. buat aku pribadi hubungannya dengan punya anak? Uhh…jadinya tambah berpikir deh kalau the decision for having kids itu resikonya tinggi. What if…?? Semua orang tua tentu ingin punya anak yang sehat dan normal, tapi toh tetap saja ada kemungkinan anaknya lahir tidak seperti yang diharapkan. Loh, kok jadi kayak punya ketakutan begitu ya? Tidak juga sih… Maksudnya kalau kelak sudah mantap untuk punya anak, sebelum hamil udah kudu yakin bener layak tidaknya buat hamil, apakah ada potensi melahirkan anak yang abnormal atau gak, dan kalau sudah lolos ‘uji kelayakan’ (halah!) baru deh mulai programnya, hehehe…

Moral of the story dari program itu? Bahwa life is so precious. Bahwa seperti apapun kondisi anak yang dilahirkan, dia adalah seorang manusia yang punya hak untuk diselamatkan, untuk disayangi, untuk merasakan hidup di dunia. Dan bahwa bagi orang tua mereka, tidak peduli seperti apapun kondisi bayi yang mereka lahirkan, kasih sayang mereka terhadap anaknya tetap utuh. Sekaligus reality check untuk kita semua yang dilahirkan normal tentang betapa beruntungnya kita…sehingga semoga kita tidak akan menyia-nyiakan hidup yang sudah dianugerahkan pada kita ini.

Entry filed under: Sharing. Tags: .

Utang Met Ultah ke-64, Negeriku Tercinta

2 Comments Add your own

  • 1. zabidiali  |  August 15, 2009 at 4:03 am

    ya aku pun turut simpati….mari kita berdoa untuk mereka semua

    Reply
    • 2. yeniunique  |  August 15, 2009 at 4:50 am

      Hi Zabidiali (mau panggil ‘bung’ tapi takut keliru, hehehe…)
      Makasih udah mampir dan ngasih komen. Beneran, kasian banget kalau ngeliat bayi2 mungil itu dg kondisi mereka kayak gitu. Emang cuman bisa berdoa yach buat mereka…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: