Sudah Isi Belom?

August 14, 2009 at 12:46 am 2 comments

Selama 1.5 tahun ini pertanyaan “Sudah isi belom?” menjadi santapanku sehari-hari. Biasanya sih itu menjadi salam pembuka bagi orang-orang yang jarang bertemu atau yang sesekali kebetulan berpapasan entah di jalan atau di shopping. Yang kalau diterjemahkan artinya “Sudah hamil atau belum?”

It’s a personal question, right? Tapi bagi orang kita sih itu sepertinya pertanyaan umum dan dianggap lumrah, sama seperti pertanyaan “Udah makan belum?”

Berbagai macam jawaban sudah aku berikan. Kalau awal-awal baru menikah dulu jawabannya karena masih mau menikmati bulan madu dengan suami dulu dan masih pengen jalan-jalan (yang biasanya dibalas dengan ‘nasihat’: “Jangan lama-lama lho nundanya… tar gak dapet-dapet” Loh…kok malah nakutin?). Dan jawaban aku itu ada benarnya karena dari pengalaman teman-teman yang begitu habis resepsi dan bulan berikutnya langsung “isi”, pasangan tsb. tidak begitu punya waktu untuk menikmati masa-masa berdua dulu. Padahal aku yakin hampir semua pasangan setuju bahwa tahun pertama menikah itu adalah masa-masa penyesuaian antara suami-istri. Untuk yang belum menikah, percaya deh…walaupun udah pacaran bertahun-tahun, yang namanya nikah dan hidup serumah itu sangat beda. Ada hal-hal yang mungkin tidak terlalu kita perhatikan pada masa pacaran, begitu sudah menikah baru kelihatan.  Lebih enak kalau sudah lebih kenal siapa pasangan baru punya anak kan?

Kadang aku juga memberikan jawaban standar seperti “belum dikasih aja…”, atau jawaban nakal “still practicing…”, atau kalau sekarang sih tinggal pasang tampang polos plus bego dan menjawab “udah isi kok…isi nasi tadi”. Huahahaha…!!

Sebenarnya sih, kalau mau jujur nih…keinginan punya baby pasti ada. Suka gemes gitu kalau liat anaknya temen-temen atau liat foto-foto bayi di majalah.  Kadang juga membayangkan kalau aku udah punya anak kayak gimana. Lucu kali ya punya anak hasil perpaduan Barat & Timur. Pasti cakep kayak maknya, hahahaha…! Mudah-mudahan anakku kelak tinggi kayak papanya, mewarisi perpaduan kulit papa-mamanya (biar gak terlalu putih kayak kulit papanya atau terlalu coklat kayak kulit mamanya). Dan the most important thing is…kalau punya anak kelak,  semoga anakku lahir sehat dengan organ tubuh lengkap dan normal. Amin.

Tapi…sayangnya ngomong soal punya anak bukan sekedar produksi bayi-bayi lucu doang. Deep inside masih ada keraguan, udah siap belum ya untuk punya anak? Secara di sini masih pengen kerja, masih pingin jalan-jalan, belum lagi memikirkan aku dan suami eventually akan menetap dimana… Wah, mikirnya aja udah ribet gitu!!!

Trus lagi, aku ngeliat adik perempuanku di Jogja yang punya 2 anak cowok, Kevin dan Gabriel (umur 4 dan 2 tahun). Sekalinya ke mall bawa anak-anak, gembolannya banyak banget! Bawa susu lah, pampers-lah, baju ganti lah…Kalo perlu bawa-bawa termos segala. Plus, jangan lupa…pasti pembantunya juga harus ikutan diajak ke mall. Pergi ke mall kayak orang mau pindahan. Belum lagi pas di mall malah sibuk ngejar-ngejar si Kevin yang lari kesana-sini. Wuaaa…kok kayaknya repot? Padahal rencana kita sebelum punya anak kita mau paling gak udah  mengunjungi sebagian besar daerah di Indonesia dan syukur-syukur udah sempat mengunjungi tanah leluhur suami (Itali). Soalnya kalau udah punya anak rencana kegiatan travelling pastinya terpaksa ditunda dulu sampai anak udah agak besar dan bisa dibawa-bawa. Bisa sih, travelling dengan bayi kalau mau, tapi pastinya lebih repot.

Bottom line is… mungkin memang belum siap mental. Jadinya masih mikir begini-begitu. (Walaupun kata banyak orang kalau mikir siap atau gaknya ya mungkin gak bakal siap-siap. Katanya sih, kalau sudah punya anak ya mau gak mau harus siap.)

Menurut aku dan suami, punya anak berbanding lurus dengan kesiapan lahir batin dan juga komitmen. Harus siap mental, siap finansial, siap dengan pola hidup yang berubah, siap untuk menjadi panutan si anak, dan siap untuk tanggung jawab membesarkan dan mendidik si anak dari bayi orok sampai dewasa. Boleh dibilang punya tanggung jawab seumur hidup. Kalau tidak siap dengan segala tanggung jawab itu ya mending jangan punya anak dulu. Kalau kata host acara ‘Saving Babies’ di Australia Network Channel tadi malam, “having babies is a real life changing”, and that’s absolutely right!

Jadi…kapan baru “isi”? Yach…when we’re ready, lah ya🙂

Entry filed under: Sharing. Tags: .

Dangdut – 2 Utang

2 Comments Add your own

  • 1. dinda  |  August 14, 2009 at 3:15 pm

    hahahahahaha… kebanyakan isi blog nya nyinggung2 gw deh…
    santai aja kak, setuju yang point harus bisa jadi panutan.
    didik anak juga bisa bikin ortunya sendiri berantem karena latar belakang keluarga yang pola didiknya juga beda. tapi, kalo udah dijalanin, ya dianggep anugerah aja, dikasi kepercayaan hehe

    Reply
    • 2. yeniunique  |  August 15, 2009 at 1:03 am

      Hahaha…maap dek, bukan bermaksud menyinggung siapa2. Itu cuman curhat gw doang. Kalopun yg emang bener2 berkaitan dg kamu cuman contoh repotnya bawa2 anak ke mall itu doang, hihihihi..

      Btw, walaupun kayaknya repot gitu, tapi krucil2mu suka ngangenin juga… Sun sayang buat Kevin ma Bile ya…

      Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


Categories


%d bloggers like this: