My Little BIG Miracle. Josh Michael.

Josh Michael. My little BIG miracle. A cute little angel whose wings I am sure hiding somewhere.

Born on 6.6.12 at 2.10 pm, he had made everyone couldn’t wait to see him by staying ten days longer in his comfortable Hotel Uterus. [Well, I don’t blame him as this world is getting crazier every single day and snuggle up inside is probably more comfy than coming out and join the rest of the world :p]

He was also born in the Year of Dragon which is based on Chinese calendar brings good luck. And the day he was born coincided with Venus cross the Sun. Yes. He is a special little man…

My life has changed since he came into my life. But not a second I will ever waste to regret having him. In fact, he is the best of the best things that ever happen in my life. Because being a mother is my dream for a long time.

Josh Michael. My baby. Mommy loves you so much.

July 7, 2012 at 11:51 am Leave a comment

M.e. T.i.m.e.

Dua hari lalu, untuk mengatasi kebosanan mendekam di apartemen (gara-gara flu yang kurang ajar itu), saya memutuskan untuk pergi ke salon dengan seorang teman. Teman saya mau retouch warna rambut, sedangkan saya mau meni-pedi sekalian facial. Niat ya saya nyalon-nya? Iyalah, secara saya sudah hampir berabad-abad *jiahh* tidak pernah memanjakan diri ke salon, dan saya amat sadar tidak lama lagi yang namanya kesempatan pergi ke salon akan menjadi barang langka nan mewah untuk saya.  

Salon tujuan kita namanya Charming Beauty Salon. Salon ini popular di kalangan ibu-ibu expat di UB dan juga Mongolian Ladies. Mungkin karena tempatnya nyaman, peralatannya bersih, pegawainya juga professional. Dann…di Charming rata-rata pegawainya bisa berbahasa Inggris, seenggaknya untuk komunikasi dasar lah. Jadi yang gak bisa Bahasa Mongolia gak perlu pakai bahasa Tarzan di sana, hehehe. Ditambah lagi ni salon satu bangunan sama Pub & resto yang cukup terkenal di UB, Big Irish Pub, jadi kalau selesai nyalon mau lunch atau sekedar ngupi-ngupi aja dulu juga bisaaaa…. Btw, saya gak lagi promosiin salon ini ya…saya belum diangkat jadi PR-nya Charming soalnya :p.

Eniwei, perawatan saya dimulai dengan pedicure. Sang pegawai yang masih muda dan berparas manis (saya lirik name tag-nya, namanya B. Soyoloo…hehe, nama yang tidak biasa untuk lidah Indonesia) dengan telaten mengurus kaki saya yang sudah lama tidak pernah di rawat. Mulai dari membersihkan dan merapikan kuku kaki, merapikan kutikel, mengikis lapisan kulit mati, memberi pijatan dan scrub di area kaki dan betis, sampai tentunya mengaplikasikan nail polish, dengan warna pilihan saya merah cabe. Pokoknya enak banget dah…berasa dimanja. Pas si embak Soyoloo mengikis lapisan kulit mati di tumit, saya jadi membayangkan serial CSI Miami. Hah, kenapa? Sumpah, saya gak membayangkan si ganteng Adam Rodriguez di serial itu…cuman kalau di serial CSI lapisan kulit begitu bisa dijadikan materi untuk pemeriksaan DNA. Halah!

Selesai pedicure, saya lanjut dengan manicure. Untuk kuku jemari tangan saya pilih nail polish warna pink kecoklatan. Biarin deh gak matching dengan warna kuku kaki. Bukan apa-apa, saya kan juga merangkap jadi inem di rumah…jadi sehari-hari kudu berurusan dengan cuci-mencuci dan bersih-bersih yang bisa dengan gampang merusak hasil manicure. Jadi kalau pakai warna soft, setidaknya kalau cat kuku mengelupas dikit gak begitu kentara, hehehe.

Selesai manicure, saya lanjut dengan facial. Doh, beauty is painful itu berlaku banget di sesi facial kali ini. Berkali-kali saya ber-ah uh mengaduh pada saat facial. Bukan salah mbak-nya yang mem-facial sih…tapi salah jerawat sebiji-biji jagung yang bertengger nakal di jidat imut saya itu *zedinggg…*. Mbaknya hanya menjalankan kewajiban mengeluarkan isi jerawat di jidat saya –dengan penuh semangat– saja. Setelah beberapa menit disiksa pas mengeluarkan jerawat, akhirnya saya bisa lebih rileks ketika wajah saya dipijat dan diberi masker. Asli, sesudah itu saya ketiduran beneran saking rileksnya.

Saya merasa nyaman selesai nyalon, berasa cantik dan segar ya bok. Ya, bekas-bekas pencetan jerawat yang masih memerah di jidat biar sajalah, paling esok hari juga sudah hilang. Dan walaupun harus merogoh dompet cukup banyak (kalau di Jogja uang yang saya keluarkan untuk sesi salon kemarin cukup untuk full day spa), it’s worth it. Lagipula saya juga gak banci salon amat, jadi sesekali keluar uang agak banyak untuk nyalon gak apa-apalah ya…*pembelaan diri*.  

Postingan kali ini gak terlalu penting sih sebenarnya. Bottom line-nya saya mau bilang kalau ME TIME itu penting. Apalagi untuk full time housewife & full time Mom (kalo saya Mom-to-be) yang kerjaannya ngurus rumah tangga dan anak-anak 24/7, sesekali memanjakan diri berasa banget manfaatnya. Entah dengan nyalon atau meditasi atau baca buku…apalah kegiatan yang bisa membuat rileks, sesudah sesi ME TIME dijamin udah seger lagi untuk menjalankan kewajiban sebagai ‘peri rumah’, bener gak? *Yang gak setuju gak usah angkat tangan, hehehe…*

February 4, 2012 at 3:10 am Leave a comment

Bule Lidah Indon

Beberapa waktu lalu saya chatting dengan salah seorang teman di Indonesia. Biasalah….saling tanya kabar dan sebagainya. Sampai pada topik saya ngidam apa selama hamil.

Ngidam? Hmm, saya sih penginnya ngidam diamond gitu *hahaha, lempar sandal!* Tapi si jabang bayi cukup pengertian, jadi saya gak ngidam macam-macam yang bikin susah orang se-RT. Kalau semisal saya ngidam pengen jalan-jalan ke Antartika gitu atau makan menu khusus yang cuman ada di Perancis, kan repot ya? :p

Waktu hamil trimester pertama, saya pernah kepingin banget makan Pindang Patin. Mungkin gara-gara sebelum hamil teman saya di Jakarta pernah ngajakin saya makan Pindang Patin di daerah Kelapa Gading dan rasanya cocok dengan lidah saya. Nah lo, waktu itu saya masih di Tembagapura, jadi gak bisa segampang itu dong ke Kelapa Gading demi menikmati si Pindang Patin. Untung sebelum pindah ke Mongol kami sempat mampir Jakarta dulu, dan dibela-belain lah pergi ke RM Sanjaya di Kelapa Gading untuk menikmati seporsi Pindang Patin. Jadi, aminnn….anak saya tar gak ileran :p

Masih di trimester pertama, saya doyan banget makan jeruk (orange) yang dikupas, diiris-iris, dikasi garam dan cabe bubuk. Makanan yang membuat kakak ipar saya mengerutkan kening dan bilang, “Euww…that’s yuck…” Hehehe, namanya juga orang hamil, Kak…jangan komplen dong saya maunya makan apa. Ini bawaan jabang bayi, tau *ngeles*. Waktu itu saya pas di rumah mertua, di Australia, selama dua minggu. Dan untungnya lagi jeruk orange gampang diperoleh. Tinggal memetik di kebun mertua, hahaha. Dalam sehari saya bisa menghabiskan sekitar 5 – 6 buah jeruk ukuran sedang, kadang lebih. Tidak heran mertua perempuan saya sempat melemparkan candaan, “If I had to buy those oranges, you would make me broke…” qiqiqiqiq…. Jangan gitulah, Mak… berterima kasihlah pada saya yang membantu makan jeruk yang berlimpah dari kebon, daripada mubazir, ya kan?

Sebulan pertama di Ulaanbaatar, kami harus tinggal di hotel sembari menunggu apartemen kami siap untuk dihuni. Yang namanya tinggal di hotel ya terbatas lah. Yang pasti saya gak bisa masak sendiri *iyalah, bisa diusir dari hotel kalau tiba-tiba saya masak di kamar :p*. Tiap kali mau makan juga harus cari di luar. Menu sarapan di hotel yang itu-itu saja juga luar biasa membosankan, membuat saya kadang suka enggan sarapan. Begitu juga menu room service-nya, tiap kali mau order room service pilihannya lagi lagi burger…burger lagi lagi. Huaaa…bosannnn!!!! Di minggu ke-3 tinggal di hotel, saya berangan-angan makan nasi panas dengan sayur lodeh dan lauk tempe goreng, sambal goreng hati (ayam) plus sambal cabe tentunya. Ditemani segelas jeruk anget kayaknya kok enak banget . Ya owoh…pengennya ya makan makanan Indonesia banget gitu lho! Mana ada café atau resto yang jual menu seperti itu di UB. Jadi saat itu saya ya cuma bisa berkhayal… *jangan ngiler nanti  ya Nak – elus perut*

Sesudah bisa pindah di apartemen, keinginan makan masakan Indonesia bisa terpenuhi karena setidaknya saya bisa masak sendiri. Walaupun tidak semua bahan dan bumbu untuk mengolah masakan Indonesia bisa didapat di UB, paling gak saya masih bisa bereksperimen dengan bahan + bumbu yang ada, plus saya masih bisa titip bumbu-bumbu dan beberapa bahan dari teman-teman Indonesia yang rotasi kerjanya 4 – 2 (4 minggu kerja, 2 minggu cuti). Jadi untuk urusan perut amanlah.

Sesudah lewat trimester pertama, fase morning sickness juga udah lewat, saya sama sekali tidak sulit untuk makan. Menu yang saya suka juga gampang banget…. Tiap hari menu wajib saya adalah nasi panas dengan lauk telur dadar (dengan irisan sayur) dan tidak ketinggalan sambal cabe!! Ya, supaya asupan gizi cukup, saya imbangi juga dengan minum susu dan mengkonsumsi buah-buahan serta vitamin.

Mendengar saya doyan makan telur dadar plus sambal, teman saya berkomentar, “Wah, anak lu entar bule tapi lidahnya Indon banget dong Niq…” Hahaha, iya juga ya? Teman-teman saya bilang, biasanya anak itu nantinya akan doyan makan apa yang doyan dimakan mak-nya pas hamil. Semisal, seorang teman doyan banget makan pancake waktu hamil, anaknya ya sekarang doyan makan pancake. Kalau benar, untung di saya dong…gak repot nanti masak macam-macam. Cukup bikin menu Indonesia, anak dan suami bisa makan juga.

Lah kok suami ikut dibahas? Iya, secara suami saya itu walaupun bule totok, lidahnya sudah beradaptasi dengan amat baik dengan makanan Indonesia. Saya masak apa saja dia makan dengan senang hati. Dia doyan makan ayam rica-rica, rendang padang, sampai sambal teri. Sambal cabe juga dia doyan. Nah lo, lidah Indon banget kan? Dibanding masak buat Bapak saya yang orang Jawa asli, lebih gampang masak buat suami. Paling dia protes kalau saya bikin sambal terasi karena dia tidak suka bau terasinya. Dia juga tidak mau makan jeroan. Yang lain hajar bleh!

Jadi ya…beruntunglah saya punya keluarga Bule dengan lidah Indon, hehehe.

February 3, 2012 at 12:05 am 3 comments

Obat Batuk…Top Markotop

Sudah hampir seminggu ini saya didera *halah, lebay :p* batuk dan pilek yang menyiksa. Tepatnya sih sebenarnya annoying.  Pasti semua sudah pernah lah kena batuk + pilek ya? Hidung meler, tenggorokan kering & gatal (pengen garuk kok susah?), susah tidur karena sebentar-sebentar harus uhuk-uhuk batuk… Yang paling susah kalau pas batuk+pilek gak boleh minum obat pula.

Itu yang terjadi pada saya.

Berhubung saya sedang berbadan dua *deuh, bahasa saya jadul amat* Pak Dokter tidak menyarankan saya minum obat batuk. Beliau hanya memberi sekeping permen strepsil dan sebotol tetes hidung untuk membantu melegakan pernapasan ditambah wejangan untuk banyak istirahat. Inggih, Pak Dokter.

Tapi yang namanya batuk bandel, mana mempan hanya dengan permen strepsil. Tiga malam lalu saya nyaris tidak bisa tidur semalaman gara-gara batuk-batuk melulu. Suami juga ikut jadi korban tidak bisa tidur pulas, padahal esoknya dia harus bangun pagi untuk bekerja. Ugh, menyebalkan deh pokoknya.

Kemudian saya teringat seorang teman yang memang malas minum obat pernah bilang pada saya, kalau dia batuk paling mantap itu minum perasan jeruk nipis dikasi kecap. Saya cek lemari es…gak ada jeruk nipis (memang di UB gak ada yang jual jeruk nipis juga, hehehe…) tapi masih ada sebuah jeruk lemon. Aha!! Kalau pepatah bilang “Tiada rotan, akar pun jadi” saya bilang “Tiada jeruk nipis, jeruk lemon pun jadi…” Jadilah saya membuat ramuan obat batuk a la kepepet: perasan jeruk lemon plus kecap manis. Dan berhubung lemon itu kecut sangat, saya beri sedikit garam di ramuan obat batuk saya. Sebuah jeruk lemon mana cukup lah ya…jadi hari Selasa lalu saya pesan pada suami untuk membelikan saya beberapa jeruk lemon lagi. Kemarin ibu tetangga saya yang baik hati menyumbangkan seplastik lemon juga…cukup untuk stok beberapa hari.

Begitulah…sudah 3 hari ini saya mengkonsumsi ramuan obat batuk itu tiap kali tenggorokan terasa gatal. Untuk variasi saya juga membuat ramuan perasan lemon + madu + air hangat. Dan syukurlah, batuk yang saya derita sekarang sudah jauhhh…berkurang, dan saya pun bisa tidur lebih enak.

Tadinya saya pikir khasiat lemon untuk menyembuhkan batuk itu hanya sugesti. Tapi ternyata setelah saya konsultasi dengan Om Google, memang lemon berkhasiat menyembuhkan flu. Selain kandungan vitamin C –nya mampu meningkatkan daya tahan tubuh, lemon juga mengandung antivirus yang mencegah virus berkembang biak. Khasiat lain dari lemon bisa dibaca di sini.

Oalah…ternyata begitu tho ceritanya.  Anyway, thanks ya Lemon….sudah membantu diriku berperang melawan batuk. Untuk yang sedang mencari-cari alternatif obat batuk, semoga postingan ini berguna ya🙂

Lemon, madu, garam, kecap...untuk obat batuk.

 

February 2, 2012 at 9:40 am Leave a comment

Tinggal di Negeri Chinggis Khaan

Beberapa teman bertanya kepada saya via jejaring sosial atau bbm , “Kamu sekarang lagi dimana?” Tiap kali saya jawab saya sekarang di Mongolia, tepatnya di Ulaanbaatar (atau biasa juga disebut Ulan Bator), teman yang bertanya kemudian berkomentar lagi, “Enaknya yang jalan-jalan melulu…”

Oho…saya memang doyan jalan-jalan. Tapi kali ini saya di negeri seberang bukan dalam rangka jalan-jalan doang. Terhitung sejak bulan November 2011 kemarin saya dan suami resmi menambah jumlah populasi di Ulaanbaatar, setidaknya sampai dua atau tiga tahun kedepan. Suami dapat job di sini ceritanya, dan sebagai istri yang baik *ehm * saya tentu ikut dong…

Bagi yang masih asing dengan Mongolia, saya mau cerita sedikit tentang negeri ini…hasil mengutip informasi dari beberapa sumber, termasuk Om Wiki[pedia], dan pengalaman saya tinggal di sini, setidaknya pengalaman dua bulan terakhir. 

Negara Mongolia terletak di Asia Tengah, berbatasan dengan Siberia di sebelah Utara dan China di sebelah Selatan. Dengan luas area 1.565.000 km², Mongolia sedikit lebih luas dari Alaska. Total populasi hanya sekitar 3 juta jiwa dan hampir separuhnya tinggal di Ulaan Baatar, ibukota sekaligus kota terbesar (dan termodern kali ya?) di Mongolia. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Mongol (yang selain susah bahasanya, abjadnya – yang disebut Cyrillic— beda pula dari abjad latin *huaaa…*). Mayoritas Mongolian pemeluk agama Budha dengan sedikit persentase penduduk memeluk agama lain (Islam, Shaman dan Kristen). Bangsa Mongol dulu terkenal sebagai bangsa yang nomadic alias berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan sampai sekarang masih ada yang menjalankan tradisi sebagai nomaden walaupun sebagian besar sudah menetap.

Mungkin ada yang langsung terpikir tentang  Gobi Desert  kalau mendengar tentang Mongolia. Padahal Mongolia is not only about the Gobi Desert… Mongolia terkenal juga sebagai penghasil cashmere (harganya jangan ditanya ya…muahal pokoknya). Untuk penyuka traveling di country side, Mongolia juga asyik untuk dijelajahi. Mau lihat unta berpunuk dobel? Datang aja ke negeri Chinggis Khaan ini. Sayang saya dan suami datang pada saat sudah winter, jadi belum ada kesempatan berjalan-jalan ke country side. Mongolia juga kaya akan mineral. Menurut artikel yang saya baca baru-baru ini, pemerintah Mongolia sudah mengeluarkan sekitar 3,000 mining license dan saat ini ada banyak perusahaan tambang skala besar sudah beroperasi di Mongolia, terutama di daerah Gobi. Diprediksi, dengan kekayaan mineral yang ada dan populasi yang tidak terlalu besar, dalam 10 tahun ke depan Mongolia bisa menjadi the next Brunai atau the next Dubai, dalam artian menjadi Negara kecil nan makmur.

Bagaimana dengan Ibu Kotanya sendiri? Hmm, Ulaanbaatar atau UB is not too bad lah untuk tinggal. Sebagaimana halnya ibu kota Negara lain, di UB bertaburan mall, restoran, tempat hangout, dll. Dibanding dengan Tembagapura, the mining town, tempat saya tinggal dan bekerja selama hampir 8 tahun sebelum pindah ke Mongolia, UB jelas menawarkan lebih banyak fasilitas.

Beberapa tantangan untuk saya selama tinggal di sini dua bulan terakhir ini di antaranya adalah musim dinginnya. Ketika kami pertama kali datang di UB bulan November lalu, temperatur di luar “hanya” -12˚C (minus ya bow!!). Berjalan keluar dari gedung airport menuju parkiran yang dilihat di sekeliling hanya lapisan es… Dinginnya jangan ditanya walaupun saya dan suami sudah persiapan dengan “perlengkapan perang” seperti kupluk, jaket, baju berlapis, sarung tangan, dan scarf. Tapi untuk orang yang biasanya tinggal di Negara tropis, -12˚C tetep aja duingin banget ya bokk…! Coba deh cek setting-an freezer di rumah masing-masing, nyampe gak -12˚C? Jangan salah ya….untuk orang Mongol mah -12˚C masih dibilang “warm” soalnya temperatur bisa sampai -40˚C. Brrrr…dah pokoknya! Pada saat saya menulis postingan ini, saya cek di sini temperatur siang hari -19˚C dan tar malam -36˚C. Musim dinginnya juga lama aja ya bok…dari bulan Oktober sampai sekitar bulan Maret, alias 6 bulan!

Pertama datang di UB. Tetap senyum walopun duinginnnn :p

Polusi di UB juga cukup tinggi, terutama (lagi-lagi) pas musim dingin karena orang lokal yang tinggal di ‘ger’ (rumah tradisional Mongolia yang bentuknya seperti tenda) yang tidak pakai fasilitas central heating biasanya membakar apa saja (batu bara, kayu, bahkan mungkin ban bekas) untuk menghangatkan rumah mereka. Alhasil, kalau kita keluar rumah sore hari, mulai dari jam 6 sore sudah tercium bau asap. Jadi kalau jalan kaki di luar sore/malam hari siap-siap dapat bonus bau asap yang melekat erat di rambut dan pakaian yang dikenakan. Traffic-nya juga cukup parah. Jalanan yang gak begitu lebar dipenuhi mobil yang saling berebut tempat. Toet-toet klakson menambah rame jalanan yang sudah full kendaraan. Yang bawa mobil juga seringkali gak mau mengalah, masing-masing pengen jalan duluan. Hasilnya? M.A.C.E.T.!! Di minggu pertama saya di UB, kami dibawa oleh seorang officer dari kantor suami untuk melihat-lihat beberapa fasilitas di seputar kota UB. Dengan naik mobil tentunya. Di beberapa ruas jalan mobil kami hanya bisa merayap perlahan, sementara waktu untuk sight seeing juga terbatas. Akhirnya  supir kendaraan yang kami tumpangi ambil jalan pintas…mengemudikan mobil di pembatas jalan untuk bisa menyalip mobil di depannya. Saya agak terbengong sesaat, kemudian saya bertanya pada officer yang menemani kami, “Is it common for you to drive this way?” Dia menjawab, “You know what? Mongolians used to ride horses to go everywhere. So now, we drive our cars as if we ride our horses” (alias gak pake peraturan lalu lintas). Hahaha, it was such an honest answer.  

What a traffic!!! I won't like driving here.

Oh ya, kenapa postingan ini saya beri judul “Tinggal di Negeri Chinggis Khaan”? Karena Chinggis Khaan (atau Jenghis Khan) adalah figur pahlawan yang amat popular di Mongolia. Beliau adalah pendiri kekaisaran pertama di Mongolia. Kalau berkunjung ke alun-alun kota yang disebut Sukhbatar Square, kita bisa melihat patung raksasa Chinggis Khaan. Pun di area Zaisan, Anda bisa melihat patung om Chinggis berwarna perak yang besar dan tinggi menjulang naik kudanya yang juga berwarna perak.  

Patung Chinggis Khaan di Sukhbatar Square.

Patung Chinggis Khaan di Zaisan hill.

 

Itu sedikit cerita tentang kota tempat saya tinggal sekarang. Bagi saya, ini pengalaman berharga…tinggal di negeri asing dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya nikmati saja.

UB view dari Central Tower, Sukhbatar Square.

Sapi ikut nyebrang jalan donggg🙂

February 2, 2012 at 8:27 am 16 comments

Hibernasi Panjang

Wow, hampir setahun saya tidak pernah menyentuh blog saya ini. Terakhir saya menulis awal Maret tahun lalu. Alasan vakum nge-blog? Banyaklah…ya traveling, sibuk pindahan, dll…Padahal sih intinya cuman saya kena penyakit malas, terutama malas menulis! Bener-bener deh, jangan mau kena penyakit ini sodara-sodara. Gak elit banget soalnya.

Dalam rentang bulan Maret 2011 sampai akhir Januari 2012 ada banyak sekali pengalaman, momen, peristiwa , apapun namanya lah, yang sebenarnya bisa dituangkan dalam tulisan. Sayang juga saya membiarkan penyakit malas menulis menguasai saya. Lucunya, kalau saya lihat blog stats saya, adaaa…saja pemirsa *halah* yang nyasar di blog saya setiap hari. Untuk yang kebetulan nyasar dan masih meneruskan membaca blog saya, thanks a lot ya…🙂

Well, mumpung masih awal tahun 2012 dan masih ada sisa semangat New Year’s Resolution, saya memutuskan untuk kembali nge-blog, as much as I can. Salah satu yang membuat saya terinspirasi untuk menulis lagi adalah my little sista, yang walaupun sibuknya ngalahin pejabat dengan ngurus anak, ngantor, shopping sana-sini (hihihi) masihh aja sempat nge-blog [yang pengin baca blog adik saya bisa lihat di sini].

I’m back!!!   

January 31, 2012 at 9:02 am Leave a comment

What Makes a Trip

What do you think really makes a trip for you when you are going to a totally new place? The breathtaking view? Fantastic tourist’s attractions you could see there? Great and tasty food in the restaurants you visit?

If I were asked the very same question, I would definitely answer: the people I met and dealt with during my trip.

My husband, Adrian, and I have been travelling for over a month this time. It’s also the first time for us to visit Chile, Colorado, South Carolina, and while I am writing this we are in Arizona. We have been so far very blessed with the hospitality, kindness and friendship of all people we met and spent time with during our trip.

In Chile, we met and spent some quality time with our friends Danny & Inez Scott and also Grace Chapman who kept us company and showed us around. Mark & Lucy Ramirez,  Reib & Joy Barry, Bob & Leslie Kilborn are among the people we had fun with in Denver, Colorado.

We are also blessed we had lots of fun with some of Polydeck family members: Sam, Laas (hope I spelt his name correctly), Luis, Marco, and Ron who organized an overnight stay at Winterpark and welcomed us in their holiday house in Grand Lake, Colorado. With them we had so much fun doing snow mobile (I hit a pine tree and some of us got our machines got stuck in a deep snow, but we all still had lots of fun, hahaha…). The hospitality of Polydeck family hadn’t stopped just in Colorado, it continued all the way to South Carolina. Although we missed our flights, which had been arranged by Julius Bryant, to Atlanta and  Greenville, they still helped us to get the new flights and gave us a trully warm welcome when we finally got to South Carolina. Julius picked us up at the airport, gave us a ride to our hotel, and we then had some drinks and nibbles at the hotel bar…we had a great time. The next day and the day after, Peter Freissle, whom I’d call the father of Polydeck family, took us to this awesome Biltmore House, church with his beautiful children, BMW plant tour (which was such an experience), and a tour to Polydeck plant which was also impressive. We were and still are thankful of his and his Polydeck family’s generousity to us during our stay.

Here in Arizona, I had some fun with Eni Mosel yesterday when we were catching up. We plan to have some more fun in Phoenix downtown on Thursday this week. 

Oh, before flying to Santiago, Chile, we spent about 10 days in Murray Bridge, South Australia, Adrian’s home town. We had such a great time with Adrian’s family there for sure. I was also so happy that Sam & Irma Hewitt came to visit us in the farm with their gorgeous sons, Max and Lex.

I trully thank all people we met and spent time with during our trip….all who I have mentioned above and others I can’t even write one by one. You all have made our trip worthwhile🙂

March 9, 2011 at 4:21 pm Leave a comment

Older Posts


Categories