Posts filed under ‘Work World’
Bekas – Dibuang Sayang
Pernah gak menderita (aihh…) sindrom “masih berguna”, “sapa tau tar perlu”, “just in case…”?
Maksud saya di sini untuk barang-barang yang sebenarnya gak pernah dipake lagi, tapi masih nongkrong dg manis …kek di meja, di lemari, dll. karena mikir ‘sayang ah kalau dibuang…’
Saya kadang masih seperti itu.
Sampai kemarin, meja di kubikel saya penuh kertas kertas, buku, dan folder…yang sebenarnya gak semua masih saya pakai.
Saya sedikit tersentil ketika salah seorang teman datang ke kubikel saya dan bilang “kubikel-mu kok kayak gudang ya…?”
Saya melihat sekeliling dan ‘terpaksa’ bilang…“Mmm…iya juga ya?” Walaupun cepat saya sambung lagi, “Gimana ya… tu dokumen-dokumen perasaan masih berguna semua…”
Ketika teman saya sudah hengkang dari kubikel, saya perhatikan lagi dengan cermat kubikel tempat saya ngendon sehari-hari. Betul bok. Di pojok kanan ada jajaran folder bercampur dg buku-buku referensi, kamus, dan agenda-bekas-tahun-lalu-dan-tahun-sebelumnya. Di depannya ada setumpuk kertas, sebagian besar sisa fotokopi handouts semasa saya masih aktif mengajar dulu. Di samping kiri jajaran folder ada sebotol air mineral, Tupperware water jug kosong, cangkir kopi, dan Carl Angel-5 pencil sharpener…berdesakan dengan mesin scanner. Bersenggolan dengan scanner adalah komputer kerja [yg PC-nya dihiasi 3 boneka kayu berbentuk anjing, 1 souvenir Menara pisa, dan 1 souvenir lilin berbentuk-semacam-gajah-bermotif-bunga…semua oleh-oleh dari teman yang pulang cuti]. Di samping kiri komputer ada telepon, selotip dengan tempatnya yg segede gaban, disambung dengan setumpuk (lagi) kertas-kertas dokumen lama, dan diakhiri dengan jajaran 10 folder di sudut kiri kubikel saya. Bhwaa…so very crowded and er…untidy!
Saya langsung berniat untuk beberes, merapikan meja kubikel-nan-sempit saya… Dokumen-dokumen lama yang sudah gak bakal dipake lagi saya singkirkan, yang kira-kira masih berguna saya rapikan, sebagian kertas bekas saya alihfungsikan untuk media corat-coret dan saya taruh di tempat khusus, folder-folder saya rapikan lagi… Yach, hampir 2 jam lah waktu yang saya habiskan untuk beberes…yang ‘menghasilkan’ sekardus sampah kertas.
Selesai beberes?? Tadaaa…kubikel saya jauuhhh…lebih rapi dan presentable. Bolehlah untuk ikut lomba housekeeping khusus kubikel yang rapi dan teratur, hehehe…
Jadi pengen melakukan big clean up untuk apartemen kami juga. Kayaknya buanyak barang lama yang bisa dilungsurkan atau diparkir di tong sampah. Maklum, gara-gara tinggal di gunung yang susyah nyari barang…kalau pas cuti suka lapar mata…kalap bok…apa-apa dibeli. Apalagi pas dulu cutinya setiap 6 bulan sekali. Waaahhh…itu mah, pergi cuti bawa 1 koper kecil, pulang dari cuti kopernya udah beranak-pinak dan berkembang-biak menjadi 3 – 4 koper guedhe…! Isinya ya baju-baju dan printilan yang gak jelas.
Suka sedih juga kalau melihat isi lemari saya sekarang… paling 30% nya aja yang suka saya pakai. Sisanya? Well…jadi penghuni tetap lemari aja. Mending saya sortir dan saya hibahkan pada yang lebih memerlukan… iya gak?
Bekas – dibuang sayang? Sekarang jadi…bekas-dibuang aja…atau bekas-disumbangin aja…
it happened again!
yes. it happened again. yesterday at 6.30 a.m. this time it was getting closer, around mile 60 [we live in mile 68, some others in mile 66, see?]. some people had to get hospital treatment.
one of my guys couldn’t go up hill yesterday coz the road was closed due to the incident. he and lots other workers are still stuck in lowland.
i couldn’t even get any garlic at the shopping yesterday because lots of ladies had crazily bought the veggies and fresh spices after the news was spread out, like there wouldn’t be tomorrow. it was understandable though, they’re afraid nothing left to buy the next day. who knows how long the road will be closed anyway?
gosh! i mean…after 6 months, can’t anyone do anything about it? there are thousands of people here and all need to feel safe to be able to do everything properly.
now, i totally envy my friends who have left this place and live their lives out there. well, i understand the incident could happen at anytime in anywhere… but at least not the same incident continuously happens for 6 months!
see what happen. if it’s still going on and on and not getting any better, leaving for good will be the best option.
(a friend’s) resignation
tadi pagi saya membaca email ucapan selamat tinggal dari seorang kawan yang resmi resign dari perusahaan tempat kami bekerja per hari ini, 18 january 2010.
bukan email yang luar biasa sih… sudah sering kali saya mendapat email serupa.
bedanya, kawan ini adalah kawan yang saya kenal pertama kali dalam perjalanan ke jobsite, sewaktu saya masih berstatus new hire, agustus 2003 yang lalu (duh, sudah lama sekali ya?).
dengan kawan ini, saya dijemput dari bandara, melakukan perjalanan ke ‘negeri di awan’ untuk pertama kalinya (tidak bisa melihat apa-apa karena kabut tebal menutupi pemandangan selama perjalanan), dan mengikuti induction untuk new hire. bersama kawan ini pula, saya mencoba mengenal area tempat saya akan tinggal selama saya bekerja. dalam perjalanannya, selama kurun waktu kurang lebih 6 tahun 5 bulan, kami memang jarang berkomunikasi. karena lokasi kerja kami yang berbeda. karena kami menemukan kelompok pertemanan kami masing-masing.
walau jarang berkomunikasi, saya masih mendengar kabar dia menikah dan punya anak. dan pagi ini, email pamungkas bahwa dia resmi resign.
jujur, saya merasa iri. mengapa? karena dia punya keberanian untuk mengatakan ‘cukup, saya pergi.’ sementara saya masih terjebak dalam lingkaran ‘betah karena butuh’. belum berani untuk melambaikan tangan dan menyongsong tantangan baru. well, paling tidak belum hari ini.
untuk kawan saya… selamat jalan. selamat menikmati kehidupan baru di luar sana. selamat berkumpul lagi dengan keluarga. saya yakin pilihanmu untuk pergi adalah yang terbaik.
nikmatnya jadi guru
tidak terasa udah lumayan lama saya menyandang status sebagai cik gu, alias ibu guru. sudah satu dasawarsa terakhir.
pengalaman pertama mengajar waktu masih di bangku kuliah dulu… semester 2… memberi les bahasa inggris untuk 2 orang anak SD. padahal rumah mereka lumayan jauh dari jogja kota…sekitar 1 jam naik sepeda motor…tapi dibela-belain didatangin juga. honornya??? tidak seberapa.
itu sekitar 10 tahun yang lalu.
pertama kali muncul niat untuk mengajar sebenarnya gara-gara saya frustrasi dengan bahasa inggris di semester awal kuliah. kayaknya kok susah banget gitu loh… secara jaman sma kalau pelajaran bhs inggris saya lebih sering baca novel di bangku belakang (terutama kalau yang ngajar sr. ursulla :p). begitu mencebur di dunia bhs inggris di masa kuliah, mau tidak mau saya harus mem-bisa-kan diri. caranya?? dengan mengajar bhs. inggris untuk orang lain. idenya sederhana… kalau kita mau mengajar orang lain, kita kan harus bisa dulu, iya gak?
mulai semester 4 semakin berani (a.k.a. nekat) untuk mengajar dengan melamar menjadi pengajar di dua kursusan bhs inggris di jogja. nama kursusannya ‘medita english course’ dan ‘prima learning center’. selain dilatari niat pengen lebih bisa bhs inggris, juga karena tuntutan ekonomi sih…saya perlu kerja paruh waktu untuk menambah uang saku. yang paling gampang untuk saya ya mengajar. apalagi kursusan bhs inggris di jogja amat menjamur yang memerlukan tenaga pengajar.
di semester 7 & 8 saya nyaris melupakan skripsi gara-gara keasyikan mengajar (baik di kursusan maupun les privat) dan keenakan dapat honor dari mengajar.
eniwei… lulus kuliah sampai sekarang kerjaan saya juga lebih banyak berhubungan dengan bidang pengajaran. sejak tahun 2003, saya bekerja di bagian language & literacy di satu perusahaan tambang di papua, dengan tugas mengajar bhs. inggris untuk karyawan nasional, bhs. indonesia untuk karyawan asing, dan beberapa programyang berhubungan dg language & literacy lainnya.
walaupun dua tahun terakhir sudah jarang mengajar di kelas, tapi sesekali masih senang juga sesekali pegang kelas.
kadang ada juga yg nanya… apa sih enaknya mengajar?
jawabannya: nikmat banget!
mengajar itu berarti bertemu dengan banyak orang. selalu ada dinamika yang berbeda di kelas. membuat otak tetap terasah dan ditantang untuk selalu kreatif dalam menyajikan kelas yang fun. dan rasanya seneng tidak ketulungan kalau siswa yang diajar menjadi lebih pintar. mengajar juga jadi hiburan buat saya. trus…kesempatan untuk cuci mata juga ada (kalo di kelas ada siswa yang cakep, hehehe…). eh iya, yang saya maksudkan adalah mengajar untuk peserta dewasa seperti yang saya lakoni sekarang ya…
mungkin sampai kapanpun saya akan tetap cinta mengajar. i love being a teacher. kalaupun sudah tidak bekerja lagi seperti sekarang, paling tidak kelak saya masih bisa menjadi guru untuk anak-anak saya
Akhirnya…
…dengan terengah-engah (*halah* maksudnya???), selesai juga daftar tugas-sebelum-cuti yg harus dikerjakan. Rasanya lega. Selega kalau sudah bisa ke belakang sehabis ngampet pipis seharian :-p
Jadi, bisa berangkat dengan aman dan tenteram besok pagi.
Mudah-mudahan besok pagi cuacanya cerah… Amin.
H-2
Yup. Tinggal 2 hari lagi sebelum leaving this mountain for a big vacation. Hurrah!!
Tapi jadinya… Sibuk, sibuk, sibuk. Bernapas aja susah (*lebay mode on*).
Appraisal untuk 12 subordinates harus selesai sebelum berangkat. Sampai kemarin sore sudah berhasil melakukan one-on-one discussion dengan 7 orang untuk pengumpulan bukti kinerja ; still got 5 to go.
Kudu menyiapkan materi handover buat yang in-charge saya selama 4 minggu. Lumayan banyak juga detil yang harus saya siapkan dan jelaskan. Biasanya saya kan hanya cuti 2 minggu; ekstra cuti 2 minggu ternyata makes a great deal of difference! Tambahan lagi, saya bakalan menghabiskan cuti sayadi farm keluarga suami, dengan akses email sangat terbatas bahkan mungkin gak ada. Saya berharap supervisor in-charge nanti bisa mengatasi semuanya dengan baik.
Dann…the best bit is… kemarin sore, menjelang pulang, dapat email pemberitahuan bahwa hari Kamis, 8 Oct. besok ada workshop yang wajib diikuti. Gosh. Anything else?? Karena ada worskshop itu, berarti semua agenda kerja yang harusnya bisa saya kerjakan hari Kamis harus dipadatkan ke hari ini. Hmm. Hmm.
Oia, satu lagi… saya belum sempat packing sodara-sodara. Padahal Jumat pagi kudu udah siap di Helipad jam 5.30. Lengkaplah sudah…
(Ayo Unique… ciayooo… kamu pasti bisaaaa…!!!!)
Appraisal
Sudah dua minggu terakhir ini saya dan para penyelia lain bolak-balik-bolak mendapat email reminder dari Performance Management Helpdesk. Tentang performance appraisal (PA) karyawan tahun 2009. Tahun ini ada 12 orang dalam team saya yang harus saya nilai dan berikan rating.
Duh. Duh. Duh. Ini adalah pekerjaan yang tidak terlalu saya sambut dengan antusias. Bukan apa-apa, hasil akhir PA karyawan berkaitan erat dengan UUD alias Ujung-Ujungnya Duit. Dalam arti, jika PA seorang karyawan dinilai baik, maka berpotensi mendapat bonus & merit increase yang baik pula. Sebaliknya, jika PA dinilai rendah, maka bonus & merit increase juga walahualam.
Penyelia biasanya berada dalam dilemma. Maunya semua dinilai baik, dan penilaian dilakukan seadil-adilnya sesuai dengan kinerja dan kontribusi masing-masing dalam team. Akan tetapi, penentuan nilai dan rating tidak sesederhana CUMA menaruh sejumlah angka kemudian was-wes-wus semua beres. Semua senang. Semua menang. Walaupun dalam kelompok kecil penyelia memberikan penilaian yang baik untuk semua anggota team (dan memang kenyataannya semua baik), ketika dibawa ke kelompok yang lebih luas, ternyata tidak semua bisa mendapat nilai yang setara. Penyelia dituntut untuk bisa meng-adjust rating yang diberikan yang harus disesuaikan dengan jumlah anakbuah dan kurva yang (biasanya) sudah dimodel sebelumnya. Lagi-lagi karena UUD tadi. Konsekuensinya, ada yang biasanya terpaksa harus diturunkan dari rating awal yang sudah diberikan. Atau syukur-syukur bisa naik rating (yang ini jarang terjadi).
Pusing kepala?? Sudah pasti. Lebih pusing lagi ketika nanti di akhir seluruh proses PA, penyelia harus mensosialisasikan rating akhir yang sudah melalui saringan beberapa level kepada bawahan langsungnya. Kalau rating bawahan masih sama seperti yang diberikan oleh penyelia langsung sih tidak masalah… Lah, kalau rating akhirnya ternyata turun?? Pusing kan memberikan penjelasannya? Well, biasanya harus mengeluarkan kalimat sakti “Ini sudah menjadi keputusan dari manajemen.”
Hmmm… kalau sudah begini, ingin rasanya saya bekerja untuk diri saya sendiri. Tidak perlu pusing memikirkan menilai kinerja orang lain (yang berbuntut berapa rupiah yang akan diterima orang tsb.), pun tidak perlu pusing menanti berapa rating yang nanti akan saya terima dari penyelia saya. Pengen banget saya bekerja yang betul-betul ‘dari saya, oleh saya dan untuk saya’. Suatu hari nanti. Mungkin.