Posts filed under ‘Travelling & Places’
Tinggal di Negeri Chinggis Khaan
Beberapa teman bertanya kepada saya via jejaring sosial atau bbm , “Kamu sekarang lagi dimana?” Tiap kali saya jawab saya sekarang di Mongolia, tepatnya di Ulaanbaatar (atau biasa juga disebut Ulan Bator), teman yang bertanya kemudian berkomentar lagi, “Enaknya yang jalan-jalan melulu…”
Oho…saya memang doyan jalan-jalan. Tapi kali ini saya di negeri seberang bukan dalam rangka jalan-jalan doang. Terhitung sejak bulan November 2011 kemarin saya dan suami resmi menambah jumlah populasi di Ulaanbaatar, setidaknya sampai dua atau tiga tahun kedepan. Suami dapat job di sini ceritanya, dan sebagai istri yang baik *ehm * saya tentu ikut dong…
Bagi yang masih asing dengan Mongolia, saya mau cerita sedikit tentang negeri ini…hasil mengutip informasi dari beberapa sumber, termasuk Om Wiki[pedia], dan pengalaman saya tinggal di sini, setidaknya pengalaman dua bulan terakhir.
Negara Mongolia terletak di Asia Tengah, berbatasan dengan Siberia di sebelah Utara dan China di sebelah Selatan. Dengan luas area 1.565.000 km², Mongolia sedikit lebih luas dari Alaska. Total populasi hanya sekitar 3 juta jiwa dan hampir separuhnya tinggal di Ulaan Baatar, ibukota sekaligus kota terbesar (dan termodern kali ya?) di Mongolia. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Mongol (yang selain susah bahasanya, abjadnya – yang disebut Cyrillic– beda pula dari abjad latin *huaaa…*). Mayoritas Mongolian pemeluk agama Budha dengan sedikit persentase penduduk memeluk agama lain (Islam, Shaman dan Kristen). Bangsa Mongol dulu terkenal sebagai bangsa yang nomadic alias berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan sampai sekarang masih ada yang menjalankan tradisi sebagai nomaden walaupun sebagian besar sudah menetap.
Mungkin ada yang langsung terpikir tentang Gobi Desert kalau mendengar tentang Mongolia. Padahal Mongolia is not only about the Gobi Desert… Mongolia terkenal juga sebagai penghasil cashmere (harganya jangan ditanya ya…muahal pokoknya). Untuk penyuka traveling di country side, Mongolia juga asyik untuk dijelajahi. Mau lihat unta berpunuk dobel? Datang aja ke negeri Chinggis Khaan ini. Sayang saya dan suami datang pada saat sudah winter, jadi belum ada kesempatan berjalan-jalan ke country side. Mongolia juga kaya akan mineral. Menurut artikel yang saya baca baru-baru ini, pemerintah Mongolia sudah mengeluarkan sekitar 3,000 mining license dan saat ini ada banyak perusahaan tambang skala besar sudah beroperasi di Mongolia, terutama di daerah Gobi. Diprediksi, dengan kekayaan mineral yang ada dan populasi yang tidak terlalu besar, dalam 10 tahun ke depan Mongolia bisa menjadi the next Brunai atau the next Dubai, dalam artian menjadi Negara kecil nan makmur.
Bagaimana dengan Ibu Kotanya sendiri? Hmm, Ulaanbaatar atau UB is not too bad lah untuk tinggal. Sebagaimana halnya ibu kota Negara lain, di UB bertaburan mall, restoran, tempat hangout, dll. Dibanding dengan Tembagapura, the mining town, tempat saya tinggal dan bekerja selama hampir 8 tahun sebelum pindah ke Mongolia, UB jelas menawarkan lebih banyak fasilitas.
Beberapa tantangan untuk saya selama tinggal di sini dua bulan terakhir ini di antaranya adalah musim dinginnya. Ketika kami pertama kali datang di UB bulan November lalu, temperatur di luar “hanya” -12˚C (minus ya bow!!). Berjalan keluar dari gedung airport menuju parkiran yang dilihat di sekeliling hanya lapisan es… Dinginnya jangan ditanya walaupun saya dan suami sudah persiapan dengan “perlengkapan perang” seperti kupluk, jaket, baju berlapis, sarung tangan, dan scarf. Tapi untuk orang yang biasanya tinggal di Negara tropis, -12˚C tetep aja duingin banget ya bokk…! Coba deh cek setting-an freezer di rumah masing-masing, nyampe gak -12˚C? Jangan salah ya….untuk orang Mongol mah -12˚C masih dibilang “warm” soalnya temperatur bisa sampai -40˚C. Brrrr…dah pokoknya! Pada saat saya menulis postingan ini, saya cek di sini temperatur siang hari -19˚C dan tar malam -36˚C. Musim dinginnya juga lama aja ya bok…dari bulan Oktober sampai sekitar bulan Maret, alias 6 bulan!
Polusi di UB juga cukup tinggi, terutama (lagi-lagi) pas musim dingin karena orang lokal yang tinggal di ‘ger’ (rumah tradisional Mongolia yang bentuknya seperti tenda) yang tidak pakai fasilitas central heating biasanya membakar apa saja (batu bara, kayu, bahkan mungkin ban bekas) untuk menghangatkan rumah mereka. Alhasil, kalau kita keluar rumah sore hari, mulai dari jam 6 sore sudah tercium bau asap. Jadi kalau jalan kaki di luar sore/malam hari siap-siap dapat bonus bau asap yang melekat erat di rambut dan pakaian yang dikenakan. Traffic-nya juga cukup parah. Jalanan yang gak begitu lebar dipenuhi mobil yang saling berebut tempat. Toet-toet klakson menambah rame jalanan yang sudah full kendaraan. Yang bawa mobil juga seringkali gak mau mengalah, masing-masing pengen jalan duluan. Hasilnya? M.A.C.E.T.!! Di minggu pertama saya di UB, kami dibawa oleh seorang officer dari kantor suami untuk melihat-lihat beberapa fasilitas di seputar kota UB. Dengan naik mobil tentunya. Di beberapa ruas jalan mobil kami hanya bisa merayap perlahan, sementara waktu untuk sight seeing juga terbatas. Akhirnya supir kendaraan yang kami tumpangi ambil jalan pintas…mengemudikan mobil di pembatas jalan untuk bisa menyalip mobil di depannya. Saya agak terbengong sesaat, kemudian saya bertanya pada officer yang menemani kami, “Is it common for you to drive this way?” Dia menjawab, “You know what? Mongolians used to ride horses to go everywhere. So now, we drive our cars as if we ride our horses” (alias gak pake peraturan lalu lintas). Hahaha, it was such an honest answer.
Oh ya, kenapa postingan ini saya beri judul “Tinggal di Negeri Chinggis Khaan”? Karena Chinggis Khaan (atau Jenghis Khan) adalah figur pahlawan yang amat popular di Mongolia. Beliau adalah pendiri kekaisaran pertama di Mongolia. Kalau berkunjung ke alun-alun kota yang disebut Sukhbatar Square, kita bisa melihat patung raksasa Chinggis Khaan. Pun di area Zaisan, Anda bisa melihat patung om Chinggis berwarna perak yang besar dan tinggi menjulang naik kudanya yang juga berwarna perak.
Itu sedikit cerita tentang kota tempat saya tinggal sekarang. Bagi saya, ini pengalaman berharga…tinggal di negeri asing dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya nikmati saja.
What Makes a Trip
What do you think really makes a trip for you when you are going to a totally new place? The breathtaking view? Fantastic tourist’s attractions you could see there? Great and tasty food in the restaurants you visit?
If I were asked the very same question, I would definitely answer: the people I met and dealt with during my trip.
My husband, Adrian, and I have been travelling for over a month this time. It’s also the first time for us to visit Chile, Colorado, South Carolina, and while I am writing this we are in Arizona. We have been so far very blessed with the hospitality, kindness and friendship of all people we met and spent time with during our trip.
In Chile, we met and spent some quality time with our friends Danny & Inez Scott and also Grace Chapman who kept us company and showed us around. Mark & Lucy Ramirez, Reib & Joy Barry, Bob & Leslie Kilborn are among the people we had fun with in Denver, Colorado.
We are also blessed we had lots of fun with some of Polydeck family members: Sam, Laas (hope I spelt his name correctly), Luis, Marco, and Ron who organized an overnight stay at Winterpark and welcomed us in their holiday house in Grand Lake, Colorado. With them we had so much fun doing snow mobile (I hit a pine tree and some of us got our machines got stuck in a deep snow, but we all still had lots of fun, hahaha…). The hospitality of Polydeck family hadn’t stopped just in Colorado, it continued all the way to South Carolina. Although we missed our flights, which had been arranged by Julius Bryant, to Atlanta and Greenville, they still helped us to get the new flights and gave us a trully warm welcome when we finally got to South Carolina. Julius picked us up at the airport, gave us a ride to our hotel, and we then had some drinks and nibbles at the hotel bar…we had a great time. The next day and the day after, Peter Freissle, whom I’d call the father of Polydeck family, took us to this awesome Biltmore House, church with his beautiful children, BMW plant tour (which was such an experience), and a tour to Polydeck plant which was also impressive. We were and still are thankful of his and his Polydeck family’s generousity to us during our stay.
Here in Arizona, I had some fun with Eni Mosel yesterday when we were catching up. We plan to have some more fun in Phoenix downtown on Thursday this week.
Oh, before flying to Santiago, Chile, we spent about 10 days in Murray Bridge, South Australia, Adrian’s home town. We had such a great time with Adrian’s family there for sure. I was also so happy that Sam & Irma Hewitt came to visit us in the farm with their gorgeous sons, Max and Lex.
I trully thank all people we met and spent time with during our trip….all who I have mentioned above and others I can’t even write one by one. You all have made our trip worthwhile
Bike Riding @Santiago
Yesterday, Danny Scott (Inez’ husband) asked me if I was interested to ride a bike around the town. I said, sure, I’d love to. I also wanted to go to Cerro San Cristobal where the giant Blessed Virgin Mary statue is located. So I asked him if we could ride the bike all the way there. He said, of course we could, but Mbak Inez also warned me it would not be an easy ride as it’s going uphill. I said, no hay problema…I’m sure I can do it (too confident, hahaha)
Anyway, we left the apartment at about 10:15 AM this morning and started riding around the town. It was cool and easy at the beginning. The weather was really good with nice breeze and all… I felt so excited and loved it! But then, there came the challenge. Right after we passed the entrance gate to the Cerro San Cristobal, we had to ride the bike up hill. I was OK for the first few minutes, but then I started puffing and panting, my heart was pounding, I thought I was gonna die!! Hahahaha. We first stopped at the Jardin Japones (Japanese Garden). I went to see the garden and I could hardly walk down the stairs there!!
Then we continued riding. Danny had to wait for me in nearly every corner because I would just stop and couldn’t bother pedalling my bike. A few times he stretched his right arm to push me while pedalling the bike up to the hill so at least I could keep going. We had a few more stops (I mean I had to stop), at one stop I was sitting by the side of the road, feeling exhausted and almost gave up, and there was a little girl passing me pedalling her bike with nearly no effort. Ugh, that little girl made me embarrassed of myself. In another stop half way to the top my left foot got cramping. I guess that was because I didn’t exercise much in the last couple months…Danny said I didn’t have enough salt in my body…I don’t know.
Not far away from the top, we bought this traditional drink called MOTE Con HUESILLOS at one little cafe. The sign in front of the cafe had this “Ummm Rico!!! Heladito Mote Con Huesillos. Bebida tradicional!” The drink was so refreshing. It has stuff similar to barley in it plus a whole peach or apricot. ,
After all the hard work, we did make it to the top. We parked our bikes and walked all the way to where the Mary statue is. The statue is quite impressive. It is 22 meter in height and face to the city of Santiago. We took some photos there and enjoyed the great view to the city. There were some souvenir shops there where I bought a few souvenirs to take home. After that, we were riding back all down. It was all good because I didn’t have to pedal at all! All I needed to do was playing with the brake, hahaha!
Danny then took me to Bellavista, another tourist place with some cool shops and restaurants. I bought a few souvenirs there also. There are some jewellery shops too there… Man, there are lots of nice pieces of jewellery girls would die for! Some pieces of jewellery there are really unique, not only they are pretty but they also have got the character. It was nice to walk along there and check the stuff
. We then had a traditional Chile dish called ‘Pastel de Choclo’ for lunch. It’s a Chilean beef casserole with corn. My stomach was full when we were riding our bikes back home. In one steep part where I had to ride up hill, I couldn’t do it anymore. I was practically walking my bike, not riding it, hahaha.
Arrived home at about 4:30 PM, all we did was relaxing. I didn’t feel like going out anymore, I had enough exercise today, just waited for Mbak Inez to get back home from work.
Anyway…I had another good day today. My plan for tomorrow is going downtown to a place called St. Lucia, another famous place to visit, with Grace Chapman. Should be good!
Me gusta mucho Santiago! So much to see and to do, it’s unreal
Bienvenido a Santiago :)
Hangatnya sinar mentari musim panas terasa nyaman di kulit ketika saya dan suami keluar dari international airport di Santiago, Chile, hari Jumat 18 February kemarin. A long flight dari Adelaide-Sydney-Auckland-Santiago dengan total sekitar 16 jam membuat badan terasa agak penat. Tapi saya tetap feeling excited sudah sampai di Santiago. Finally!!
Sopir taxi yang sama sekali gak bisa bicara Bahasa Inggris membawa kami ke hotel. Ugh, mendadak saya merasa asing dan sangat menyesal gak praktek Spanish saya dulu sebelum ke Santiago. All I remembered in the taxi yesterday was only ‘Hola’, ‘Como estas’, ‘Si’, and ‘No’. Very embarassing! Airport Santiago terletak agak di luar kota. Beberapa kilometer dari airport suasananya agak mirip pinggiran Jakarta dengan apartemen yang kelihatan agak kumuh, lengkap dengan atap seng yang banyak yang sudah berkarat… Lalu lintas gak begitu parah (dan di Santiago setir di kiri). Sepanjang perjalanan saya berusaha mengingat sebanyak mungkin kosakata Spanish yang pernah saya pelajari. Nil. Otak saya belum konek tampaknya. Jadi susah untuk sekedar menanggapi percakapan basa-basi dari si supir taxi. Dengan susah payah saya akhirnya bisa mengatakan, “No hablar Ingles?” yang dijawab si supir taxi “No. Poquito.” Haha.
Sopir taxi membawa kami ke Plaza El Bosque hotel yang terletak di area cukup elit Las Condes di Santiago. Selesai urusan check in (and thanks God, front desk-nya bisa bahasa Inggris :p), kami langsung tidur pulas. Bayar hutang di pesawat gak bisa tidur enak. Bangun jam 10 malam, tidur lagi. Bangun lagi tengah malam cuman buat mandi. Mencoba tidur lagi gak bisa. Jetlag ceritanya.
Pagi tadi kami berjalan-jalan. Berbekal map dari front desk, saya dan suami mulai menyusuri jalan sekitar area hotel. Nyaman rasanya berjalan-jalan pagi…matahari tidak begitu menyengat, hembusan angin terasa menyejukkan kulit, dan karena weekend lalu lintas juga gak padat. Di beberapa tempat ada taman dengan pepohonan yang rindang. Dan hampir di semua area yang kami lalui disediakan bangku untuk duduk. Tampaknya orang-orang Santiago senang sit back and relax
. Saya salut dengan kebersihan dan tata kota di area yang kami lalui. Andai kota-kota di Indonesia bisa sebersih ini…
Siangan dikit, saya dan suami ketemuan dengan Mbak Inez. Dia dan suaminya sekarang berdomisili di Santiago. Cihuyy…asyiknya ketemu teman lama
. Kami pergi ke Alto Las Condes Mall untuk grocery shopping. Saya juga membeli local simcard untuk saya gunakan selama di Santiago. Abis, pake nomor simpati mahal bok…sekali sms habis Rp 7.500,-!!
Acara kami hari ini ditutup dengan having late lunches and a few drinks dengan Mbak Inez, Danny (Inez’ husband) dan Sandy di salah satu restoran di area Isadora. It’s always nice to catch up with old friends
. Besok rencananya mau jalan-jalan ke outskirt area, termasuk ke Vina Del Mar yang tersohor itu.
I can’t wait!
WHAT A TRIP!!!
Surprise untuk Mamak
Berawal dari dari keluhan Mamak bahwa tidak ada anaknya yang bisa pulang untuk merayakan Natal 2009 di Tumbang Titi, saya & suami akhirnya memutuskan untuk pulang kampung untuk Natalan di rumah. Kebetulan kami bisa mengambil cuti tanggal 20 Desember 2009 – 3 Januari 2010. Kami sepakat untuk tidak memberi tahu Mamak tentang rencana kepulangan kami. Niatnya sih untuk memberi kejutan bagi ibunda tercinta.
Dari pengalaman pulang Natal 2007, pulang kampung menjelang Natal sebenarnya sama sekali bukan perkara gampang. Selain tiket pesawat biasanya menjadi langka, musim penghujan juga membuat jalan penghubung Ketapang – Tumbang Titi, lewat Pelang, sulit dilalui. Tapi demi ortu, tidak apalah. Finger crossed, berharap perjalanan kami lancar-lancar saja.
Itinerary kami adalah Timika – Surabaya – Jakarta – Pontianak – Ketapang, kemudian Ketapang – Tumbang Titi. Pulangnya Tumbang Titi – Ketapang – Pontianak – Jakarta – Timika.
Persiapan Perjalanan
Walaupun akan pulang diam-diam, tapi toh kami perlu bantuan untuk mencarikan tiket pesawat Pontianak – Ketapang PP, orang yang akan menjemput di bandara Ketapang, sewa speedboat dan kendaraan lanjutan ke Tumbang Titi. Bapaklah orangnya. Saya juga perlu bantuan Kak Evi (kakak sulung saya) untuk menjadi penunjuk jalan dari bandara ke pangkalan speedboat sewaan. Jadi, saya ceritakan rencana kepulangan kami pada Bapak dan Kak Evi, sembari wanti-wanti untuk tidak membocorkan rahasia pada bunda tercinta. Mereka setuju. Bapak pun meng-organized tiket pesawat dan transport lain yang kami perlukan dari Ketapang sampai Tumbang Titi. Saya mengurus tiket pesawat pulang-pergi dari Timika sampai Pontianak. Begitu deal-nya.
Sayang, dari awal, persiapan perjalanan tidak semulus yang diharapkan. Adrian, suami saya, nyaris tidak mendapat tiket Airfast Timika – Surabaya untuk tanggal 20 Desember 2009 dan Jakarta – Timika untuk tanggal 3 Januari 2010. Padahal booking tiket Airfast sudah kami lakukan di minggu ke-2 November 2009. Kabarnya tiket sudah sold out sejak 3 November 2009!
Sambil mencari jalan untuk mendapatkan tiket Timika – Surabaya untuk Adrian, saya tetap mengurus tiket-tiket lanjutan lain dan mem-booking hotel-hotel yang kami perlukan. Untungnya seminggu menjelang berangkat, ada informasi bahwa Adrian bisa terbang dengan fasilitas SIR. Hanya saja kalau ada emergency seperti medical evacuation (medivac), orang-orang yang dapat SIR harus mengalah terbang sehari sebelum atau sehari sesudah tanggal yang diminta.
Dan yang terjadi adalah, pada tanggal 18 Desember kami diberitahu bahwa akan ada medivac tanggal 20 Desember. Pilihannya, Adrian terbang tgl. 19 Desember atau 21 Desember. Yang artinya kami tidak bisa berangkat bareng. Dan itu yang akhirnya terjadi. Adrian terbang tgl. 19 Desember sementara saya tgl. 20 Desember.
Pada saat saya mendarat di bandara Juanda, Surabaya dan mengaktifkan handphone, saya mendapat sms dari Bapak bahwa sepertinya kepulangan kami sudah diketahui oleh Mamak. Istri orang yang mobilnya akan kami sewa yang membocorkan rahasia. Uh, kesel juga.
Ketinggalan Pesawat 2 Kali
Rabu, 23 Des 09. Cuaca di Surabaya tidak begitu bagus. Mendung hitam tebal menutupi langit ketika kami berangkat ke Juanda airport pkl. 5.30 pagi. Mendekati airport, hujan disertai petir mengguyur bumi. Bukan awal yang baik.
Padahal hari itu kami ada jadwal penerbangan Surabaya – Jakarta pkl. 07.00 kemudian Jakarta – Pontianak pkl. 10.30. Keduanya dengan Garuda. Dari Pontianak kami ada penerbangan lanjutan ke Ketapang pkl. 15.00 dengan Kalstar.
Dengan alasan cuaca buruk, pesawat Garuda dari Jakarta tidak mendarat di Airport Juanda, Surabaya dan di-divert ke Denpasar. Padahal pesawat yang sama yang akan membawa kami menuju Jakarta pkl. 07.00. Kami diberangkatkan 2 jam kemudian dan mendarat di Jakarta pkl. 10.30, bertepatan dengan keberangkatan Garuda Jakarta – Pontianak.
S**t!! Kami ketinggalan pesawat!!!
Pihak Garuda mengatakan kami akan diberangkatkan ke Pontianak dengan Garuda penerbangan berikutnya….pkl. 16:00!!! Mana bisa? Kami masih ada penerbangan lanjutan dari Pontianak ke Ketapang pkl. 15.00. Akhirnya kami minta refund dan minta dicarikan maskapai lain yang terbang ke Pontianak lebih awal. Dapat di Batavia yang jadwal aslinya adalah pkl. 11.40. Sesudah check in, tertulis di boarding pass bahwa jadwal boarding pkl. 11.20.
Sesaat bisa bernafas lega. Setidaknya, kalau Batavia berangkat pkl. 11.40 atau maksimal pkl. 12.00, kami masih bisa mengejar pesawat Kalstar Pontianak – Ketapang pkl. 15.00.
Sialnya, hari itu pesawat Batavia yang akan kami tumpangi ’harus’ ganti rem dan ban. Amazing, eh? Maintenance dilakukan pada saat peak season dan dalam jadwal penerbangan pula. Lebih amazing (not!) lagi, penumpang tidak diberi tahu secara pasti kapan pesawat bisa diberangkatkan. Awalnya dibilang 20 menit lagi dari jadwal semula. Okelah. Masih bisa mengejar pesawat lanjutan. Sesudah 20 menit, belum dipanggil untuk naik pesawat juga. Ketika petugasnya ditanya, katanya dongkrak yang digunakan pada saat ganti ban belum bisa dicopot. Hah?
Dari 20 menit menunggu, dilanjut ke 20 menit berikutnya, berikutnya lagi… sampai akhirnya kami diberangkatkan pkl. 14.00. Saya sudah merasa hopeless apakah masih bisa mengejar Kalstar Pontianak-Ketapang. Se-hopeless apapun, saya masih menyimpan sedikit harapan, semoga Kalstar termasuk pesawat yang delayed hari itu…
Mendarat di Bandara Supadio Pontianak pkl. 15.20, dari jendela Batavia kami melihat Kalstar sudah bersiap untuk terbang. Crew sudah memasukkan bagasi penumpang ke pesawat. Adrian mengatakan pada pramugari Batavia, ”Kami harus naik pesawat itu…!!” sambil menunjuk Kalstar yang baling-balingnya sudah berputar.
Begitu kami bisa turun dari pesawat Batavia, Adrian langsung berlari menuju Kalstar, maksudnya minta tunggu… Sedihnya, tinggal beberapa meter lagi, pintu Kalstar ditutup dan pesawatpun meluncur untuk tinggal landas. Betul-betul seribu kali S**T!!!!!
Sedih dan kecewa sekali rasanya. Dua kali kami ditinggalkan pesawat. Lebih-lebih karena kami harus membayar 50% dari harga tiket Kalstar akibat no show. Bagaimana mau muncul kalau kami masih di pesawat yang lain? Pihak Batavia cabang Pontianak yang kami hubungi mengatakan tidak bisa berbuat apa-apa dengan kerugian yang kami derita. Personel yang kami temui beralasan bahwa penggantian rem & ban harus dilakukan demi keselamatan semua penumpang.
Pertanyaannya, mengapa penggantian ban dan rem tidak dilakukan sebelumnya, mengapa harus bertepatan dengan jadwal penerbangan??
Bad news yang lain, kami menerima informasi bahwa tiket Kalstar Pontianak – Ketapang sudah habis terjual sampai tanggal 26 Desember. What?? Kami tidak mau menghabiskan Natal di Pontianak. Kami mau merayakan Natal bersama orang tua saya di Tumbang Titi, Kabupaten Ketapang.
Dari Kantor Batavia Cabang Pontianak, kami pergi ke Kantor Kalstar. Petugas di Kalstar mengatakan bahwa tiket betul-betul sudah sold out. Saya tetap duduk di situ, setengah memohon sambil berdoa dalam hati semoga kami bisa mendapat tiket pesawat Pontianak – Ketapang untuk tanggal 24 Desember.
Doa kami rupanya terjawab. Kami diberi tahu bahwa ada calon penumpang yang membatalkan membeli tiket di calo bandara sehingga ada tiket yang available. Kalstar juga masih punya satu tiket di kantor yang masih available. Tapi…tiket itu untuk pkl. 15.00, yang berarti kami akan tiba di Tumbang Titi malam hari dan tidak akan bisa ikut misa malam Natal. Tidak apa-apa, daripada tidak pulang sama sekali.
Di Pontianak kami menginap di Hotel Gajahmada. Hotel yang cukup bagus, worth the money. Terletak persis di dekat Depstore Ligo Mitra sehingga kami bisa membeli beberapa oleh-oleh tambahan untuk dibawa pulang kampung.
Tanggal 24 Desember pagi, saya terbangun oleh suara hujan deras di luar. Sekitar pkl. 08.00 hujan berhenti. Tapi mendung tebal masih menggantung di langit. Oh, no. Jangan sampai penerbangan hari ini batal lagi karena cuaca.
Saya menelepon Pak Is dari Karya Tour Pontianak, menanyakan apakah kalau cuaca mendung Kalstar tetap beroperasi. Pak Is mengatakan bahwa Kalstar tidak beroperasi hanya jika cuaca betul-betul buruk seperti hujan badai disertai petir. Kalau hanya mendung dan hujan sedikit, Kalstar tetap beroperasi seperti biasa. Syukurlah…
Pkl. 13.00 berangkat ke bandara. Pesawat berangkat dari Pontianak pkl. 15.30, tiba di Ketapang pkl. 16.00 disambut Kak Evi di ruang kedatangan. Begitu bagasi sudah dapat semua, kami langsung meluncur ke Pangkalan Speedboat.
Another challenging trip had to begin. Speedboat charter-an kami sudah menunggu. Tanpa membuang waktu kami berangkat menuju Tebangcina yang nanti akan dilanjut perjalanan darat ke Tumbang Titi.
Pkl. 16.45 speedboat mulai meluncur lancar di permukaan Sungai Pawan yang lebar, dalam dan berarus cukup deras. Tidak ada baju pelampung. Jadi keselamatan kami benar-benar tergantung keahlian driver speedboat. Yudha, driver speedboat kami, mengemudi dengan lincah. Sesekali dia membelokkan speedboat ke kiri atau ke kanan untuk menghindari potongan balok kayu atau batang pohon yang mengapung terbawa arus di permukaan sungai.
Entah mengapa, begitu speedboat sudah meluncur, saya merasa amat tenang. I felt at home!
Tiba di Tebangcina pkl. 18:30, Bapak sudah berdiri menyambut kami di rakit kayu yang befungsi sebagai dermaga sederhana. Perjalanan dari Tebangcina ke Tumbang Titi kami lanjutkan dengan mobil sewaan yang memakan waktu 2 jam (padahal hanya berjarak 41 km). Tiba di rumah, disambut peluk-cium Mamak plus sedikit omelan karena kami tidak memberitahu beliau sejak awal kalau kami akan pulang.
Lega rasanya sudah tiba di rumah. Walaupun tidak ikut misa Malam Natal karena sampai di rumah sudah hampir pkl. 21.00.
Mamak sudah menyiapkan beberapa masakan yang mengundang selera yang segera kami santap bersama.
Perayaan Natal di kampung halaman seperti biasa. Meriah. Banyak orang yang datang berkunjung walaupun hujan turun terus. Saya bersyukur bisa merayakan Natal bersama keluarga di kampung halaman.
Perjalanan Kembali Dari Tumbang Titi Yang (Juga) Tidak Mulus
Hari Rabu, 29 Desember 2009 adalah jadwal kami untuk kembali ke Ketapang melalui Tebangcina lagi. Speedboat dari Tebangcina jadwalnya pkl. 16.00. Dengan pengalaman sebelumnya, Tumbang Titi – Tebangcina yang memakan waktu 2 jam, kami minta diantar ke Tebangcina pkl. 12.00. Logikanya, cukuplah waktu 4 jam untuk menempuh jarak 41 km.
Sekitar pkl. 10.30, pemilik mobil sewaan datang ke rumah dan memberi informasi kalau jalan Tumbang Titi – Tebangcina rusak parah. Hujan terus-menerus ditambah sepeda motor, truk muatan berton-ton, dan kendaraan lain yang melewati jalan berfondasi tanah merah itu setiap hari membuat jalan tidak kuat bertahan. Akhirnya, kami harus mempercepat waktu keberangkatan ke Tebangcina.
Bapak dan Mamak ikut mengantar.
Betul saja. Jalan yang kami lalui luar biasa rusaknya. Rasanya saya tidak percaya dengan pandangan mata saya. Lubang besar-kecil penuh lumpur kami lihat di sepanjang jalan, membuat mobil yang kami tumpangi di beberapa tempat hanya bisa merayap pelan.
Baru beberapa kilometer dari rumah, mobil sudah menghadapi tantangan pertama. Terbenam di lumpur sehingga tidak bisa bergerak. Perlu lima sampai 6 orang lelaki dewasa membantu mendorong mobil sampai keluar dari lumpur. Di lokasi terbenamnya mobil yang pertama itu, Mamak memutuskan untuk kembali saja ke Tumbang Titi, ikut kenalan yang kebetulan lewat naik motor ke arah Tumbang Titi. Keputusan yang tepat, karena kasihan Mamak kalau ikut sampai Tebangcina dan harus kembali lagi ke Tumbang Titi dengan kondisi jalan ‘luar biasa’ seperti itu.
Saya betul-betul heran, dengan kekayaan alam yang luar biasa, daerah saya bukannya bertambah maju malah mengalami kemunduran. Contoh paling kelihatan adalah infrastruktur jalan yang tidak pernah bagus.
Tantangan berikutnya kami hadapi di area perkebunan kelapa sawit, di jalan mendaki yang menjadi sangat licin akibat hujan. Truk muatan yang lewat di jalan itu membuat jalur ban yang dalam di sisi kiri dan kanan, serta gundukan tanah tinggi di tengah-tengah. Mobil yang kami tumpangi tidak bisa lewat walaupun sudah berkali-kali mencoba. Akhirnya kami harus berputar mencari jalan alternatif.
Jalan alternatif yang kami lalui adalah jalur lama melintasi perkebunan kelapa sawit. Tidak banyak mobil lewat di jalan itu. Di pertengahan rute, mobil terbenam lagi. Kali ini di lumpur berpasir yang membuat mobil sama sekali tidak bisa bergerak. Perlu waktu hampir 1 jam untuk mengeluarkan mobil dari lumpur berpasir tsb. dengan menggunakan dongkrak dan di bagian bawah ban dipasang bilah-bilah papan seadanya yang bisa di dapat di sekitar situ. Begitu mobil bisa lolos dari lumpur pasir, waktu sudah menunjukkan pkl. 15.45, padahal kami belum sampai ½ perjalanan ke Tebangcina.
Saya merasa agak panik. Speedboat sudah menunggu di Tebangcina. Bolak-balik saya sms dan menelepon Pak Hedi, contact person untuk speedboat, minta agar kami jangan ditinggalkan. Bagaimana tidak, esok harinya kami ada 2 penerbangan dari Ketapang sampai Jakarta. Kami HARUS tiba di Ketapang malam itu juga.
Melanjutkan perjalanan, mobil terbenam lagi 3 atau 4 kali. Minta ditarik 3 kali oleh truk (yang kebetulan berpapasan) dengan menggunakan sling (tali besi). Akhirnya, pkl. 18:00 kami sampai juga di Tebangcina. Hari sudah gelap. Untung speedboat masih menunggu. Pyuh…!!! Jarak 41 km Tumbang Titi ke Tebangcina memakan waktu 6 jam!! Benar-benar keterlaluan.
Terlunta-lunta 1 jam di Tengah Sungai
Tanpa membuang waktu, supir speedboat kami, Yudha, dengan seorang temannya langsung menjalankan speedboat begitu kami sudah naik. Speedboat tidak bisa dijalankan kencang karena sudah gelap dan harus menghindari banyak kayu yang mengapung di sungai.
Di tengah perjalanan, kira-kira 30 menit lagi untuk sampai di Ketapang, tiba-tiba speedboat berhenti. Ada apa gerangan?
Yudha mengatakan bahwa bahan bakar speedboat habis. WHAT??? Alasannya sih, karena speedboat tidak bisa dilaju kencang, akibatnya cepat menghabiskan bahan bakar.
Gak tau rasanya mau marah atau mentertawakan keadaan. Seharusnya kan ada persediaan bahan bakar di speedboat untuk situasi emergency seperti itu. Tapi kenyataannya persediaan bahan bakar NOL.
Yudha kemudian menambatkan speedboat di ranting pohon yang menjorok ke sungai. Dia juga mengontak bosnya dengan handphone. Untunggg… in the middle of nowhere seperti itu masih ada sinyal. Sementara saya tidak bisa kontak siapa-siapa. Baterai handphone saya sudah habis, gara-gara saya gunakan untuk bolak-balik telepon dalam perjalanan dari Tumbang Titi ke Tebangcina.
Sekitar 1 jam kami terlunta-lunta di tengah sungai menunggu bahan bakar diantarkan. Ditemani nyamuk-nyamuk yang dengan senang hati bernyanyi di telinga dan menggigit kaki, tangan atau bagian mana saja dari tubuh kami yang tidak tertutup pakaian.
Capek. Kesal. Jengkel. Bercampur aduk menjadi satu. Akhirnya yang ada tinggal pasrah.
Sudah deh. Mau diapain saja terserah lah…
Sekitar pkl. 20.30 atau 21.00 kami akhirnya sampai juga di Ketapang. Kak Evi dan Bang Jo, suaminya, sudah menunggu di pangkalan. Kami kemudian diantar oleh Pak Apheng, pemilik speedboat, ke hotel Aston Ketapang tempat kami menginap.
We then had very late dinner with Kak Evi & Bang Jo.
Perjalanan Selanjutnya…
Trip kami keesokan harinya, Ketapang – Pontianak dilanjut Pontianak – Jakarta (untungnya) berjalan mulus. Tiba di Jakarta tanggal 30 Desember siang. Thanks God…
Informasi dari Mamak, Bapak baru sampai di rumah pkl. 02.30 pagi!!! Tantangan untuk pulang dari Tebangcina ke Tumbang Titi lebih heboh karena kondisi gelap, supir & penumpang sudah capek, 5 kali terbenam di kubangan lumpur, harus ganti ban, dsb. Poor Dad…
Rencana pulang kampung berikutnya? Entahlah…yang jelas kalaupun pulang kampung lagi, tidak mau pada bulan-bulan musin penghujan. Selain capek di badan, berat di ongkos, merepotkan banyak orang pula.
Satu harapan dari saya… Mudah-mudahan siapapun yang nantinya akan duduk di Pemerintahan Daerah Kabupaten Ketapang, Kalbar, bisa lebih peduli dengan pembangunan daerahnya. Semua orang tahu bahwa setiap tahun ada dana APBD yang dialokasikan untuk pembangunan jalan. Seperti tahun 2009, misalnya, dana yang dialokasikan untuk jalan Ketapang – Tumbang Titi, melalui Pelang, kabarnya sebesar 23 miliar. Realisasinya?? Entah kemana larinya dana sebesar itu. Karena kenyataanya jalan bukannya semakin baik, malah semakin jelek.
Entahlah…
Hujan Salju di Milford Track


Ada rindu yang menyeruak ketika saya melihat-lihat koleksi foto lama. Rindu berpetualang, seperti tahun 2005 lalu. Di Milford Track, New Zealand. Di penghujung musim dingin bulan October.
Trip ditempuh dalam 10 hari; 4 hari untuk tramping (dengan jarak 33.5 miles) , sisanya untuk perjalanan dari Indonesia – Australia – New Zealand – dan kembali lagi ke Indonesia.
Sulit bagi saya untuk memutuskan, bagian mana yang paling menarik dari perjalanan ke Negeri Kiwi itu. Apakah taman-tamannya yang bertebaran sepanjang Christchurch – Te Anau, atau sungai dan danaunya yang sebening kaca, atau gunung-gunung dengan puncaknya yang berselimut es, ataukah 4-hari-tramping-yang-melelahkan (sekaligus menyenangkan) itu?
Terkenang akan hari ke-4 tramping, saat duduk di shelter di pinggir sebuah sungai. Berteduh dari terpaan hujan yang bersalju. Diam-diam menatap gumpalan-gumpalan seputih kapas yang turun perlahan. Lalu mengecup lembut permukaan sungai, sebelum akhirnya larut bersama aliran air.
Bagi manusia tropis seperti saya, pemandangan itu memberikan kesan yang luar biasa.
Ingin suatu hari nanti saya kembali. Menyusuri lagi sepanjang jalan-jalan di Milford, atau berpetualang di track baru.
Tidak mau sendirian tentunya. Akan lebih baik jika bersama anak-anak saya kelak, juga suami kalau dia mau ikut. Karena punggung saya mungkin sudah tidak sanggup membawa backpack perbekalan 25kg seperti dulu :-p




note:
° tramping : istilah New Zealand untuk hiking
° Milford Track : salah satu track tertua dan terkenal di New Zealand untuk tramping. Sepanjang track bebas dari sampah. Track juga dilengkapi dengan hut untuk para tramper menginap.
Lombok Visit & Komodo Cruise
Ini adalah oleh-oleh cerita travelling aku sama Adrian, my dear hubby, bulan Juni 2008 lalu. Kami jalan-jalan di Lombok selama 4 hari, trus lanjut berlayar ke Pulau Komodo dan Rinca. Kisahnya sih sebenarnya udah aku tulis dari tahun lalu, dalam Bahasa Inggris. Ceritanya biar anak cucu kelak bisa baca juga, huahahaha…
Ini copy-paste cerita perjalanan yang udah aku tulis…
Day 1 (Wednesday, June 11th 2008) ~ Jakarta – Lombok
We flew to Lombok by Garuda at 10:50 AM. Arriving in Lombok at 13:45 we were picked up by Eko Hartono, the manager of Lombok Travel where we booked our Lombok tours. A lot of work had been done in Lombok area (especially with the roads) as the preparation of the new international airport due to completion in 2010/2011.
We had lunch in a local restaurant. We tried “Ayam Taliwang” (grilled baby chicken with Lombok spice), Lombok fried tofu, and some veggies. The lunch was quite nice although the chicken oh-so-small.
We then went to Senggigi Beach Hotel to check in.
The hotel was really nice; located on one of the supreme location on Senggigi beach, surrounded by a large green garden and beautiful coconut trees, plus it had direct access to the beach! Our room was on the 2nd floor with the view to the beach & sea (for backpacker type of traveller like us, remember to always have 2nd floor which is good for drying clothes
).
After taking a bit of rest we took a taxi back to Mataram because we had appointment to catch up with our friend, Rita Leach. Rita took us to visit Citra Lombok Pottery which made plates, bowls, cups, etc. Mrs. Mirah, the owner, took us to their workshop where they made the pottery and showed us the process of making the pottery. We ended up buying some bowls and a set of coffee cups. Adrian wanted triangle plates with little coffee cups. It’s a unique design!
After that, we went to Mataram Mall for a window shopping. We then had dinner at the warung near the mall, forcing Rita to stay for dinner with us.
Day 2 (Thursday, June 12th 2008) ~ Gili islands tour
We were picked up from the hotel by Pak Eko and we walked to the beach where our boat was located. We grabbed some snorkel equipment and sailed on a wooden boat to the Gili’s. The boat trip took about 1 hour ~ about 40 km.
Beautiful beaches and great view were nice treat along the way. Pak Amir was our captain of the day. He took us to Gili Trawangan area for the first snorkeling. The snorkeling was OK, but the corals there were already white because of anchoring and illegal bombing. We then continued to Gili Meno for more snorkeling. We also had lunch on the island. We had grilled mackerel fish, some stir fried veggies (which was HOT!), some lemon drinks and banana smoothies. We rang Karlene, Adrian’s sister, on the island and told her we were having a great time
. Karlene asked us to get some brochures as she might take her husband Tony for a holiday one day.
Some guys offered us pearl souvenirs which were very expensive. After lunch we took a cidomo (horse cart) and checked around the island. We saw some abandoned resorts (as the effect of Bali bomb which decreased the number of tourists to Gili islands) and also some new resorts. Beaches there were beautiful with white sand, but also contained a lot of coral which is hard to walk on.
We took some pictures of the island. Adrian and our boat captain collected some shell & coral from the beach for memories. Then, we snorkeled again. This time we did it in the deeper sea. We saw four turtles! One of them was quite big. Pak Amir said it was our lucky day to be able to see the turtles.
It was already a bit late when we sailed back to Senggigi so the sea waves were also quite high. Pak Amir kept telling us not to worry about the waves as the boat would not turn up-side down. We finally arrived safely on Senggigi Beach again and walked to the hotel along the beach. Some people offered us pearl souvenirs and we bought some. The price was lots cheaper than those in Gili Meno.
Back to our hotel room, we had shower and were so tired that we fell asleep without having dinner.
Day 3 (Friday, June 13th 2008) ~ Pearl Shop, Banyumulek Pottery, Sukarara Woven Cloths, Kuta Beach
After breakfast, we took a walk along the beach and bought two t-shirts for Rp 20,000.00 each. We were picked up again by Lombok Travel at 9:00 AM. Our driver that day was Pak Eko himself.
Pak Eko first took us to Lombok Pearl shop, a shop claimed that their products were all original and issued a certificate for every jewelry purchase. My dear hubby bought me a set of pretty pearls jewelries (a pair of earrings, a necklace and a bracelet). The bracelet was a bit too loose for me and we left it in the shop to get fixed and picked up the next day.
After Lombok Pearl, we went to Banyumulek to see local people make pottery. I got a chance to practice making a small vase.
Next place we visited was Sukarara village where the local people made woven cloths (tenun ikat) traditionally. We were told that girls in Sukarara village would be allowed to get married when they had been able to perform weaving and made the woven cloths themselves.
A local guide took us around to see people weaving. He also explained how they colored the cotton threads before weaving them. Most of the colors they used were natural, for example yellow was from turmeric, red was from betel leaf (sirih) or mangosteen shell, etc.
An old lady with black teeth and lips was chewing betel nut & betel leaf while weaving. The lady let me try weaving. It is certainly not easy and needs lots of skills! Absolutely not a job for me.
We also saw another lady weaving using the threads made of natural fiber from pineapple leafs. There was also a man weaving scarfs with letters on it (we can order a scarf with our name on, by the way). They told us that it normally took about a month to make a piece of woven cloth. A big one could take up to 4 months to complete! What a job!
Adrian bought two packages of candies and gave every kid he met some candies (he’s so sweet, isn’t he?). Finally, we went to the main building where some girls performed weaving in the front and the people sold cloths inside the building. The guys persuaded us to try putting on the Sasak tradional clothes that they normally wore for traditional ceremonies or wedding. We had some pictures of us wearing the traditional outfit.
Checking the beautiful woven cloths, we ended up buying 3 pieces with the price of Rp 2,000,000.00 or Au$ 230.00. That was a quite expensive purchase we made (that we later regretted a bit when we found out the price of the similar woven clothes in the hotel shop was only about 1/3 of the price in Sukarara village!). Anyway, because we didn’t bring much cash, Adrian paid the downpayment of Rp 1,000,000.00 and told them he would give the rest of the money to Pak Eko to drop in the village.
The local guide asked us to give him Rp 50,000.00 as the service fee.
We then went to Lombok Kuta Beach or what they also called Tanjung Aan Beach; the beach well known of its pepper size white sand and beautiful view. Since we were going there a bit late, we didn’t stay long. We only took some pictures of the beach.
When we went back to the car, a lady offered us another woven cloth for Rp 50,000.00 only! We bought one. (Pak Eko told us the fabric was made by machine, not the hand made one. Yeah, whatever…still looked nice though…)
We went back to Senggigi through Mataram. We stopped at a seafood restaurant in Mataram for dinner. The dinner was good; the resto owner came to our table to ask if the food was OK. Good customer service.
Back to our room in Senggigi, we had a shower, then went out again to see the area around the hotel; checked a paintings shop and then had some drinks in Happy Café (it’s a famous café in Senggigi). The café provided live band performance every night. The music was good but loud, a bit of rock’n’roll music. The waiters & waitresses were wearing t-shirt uniform with the slogan written at the back of the t-shirt “I drink…I get drunk…I fall down…No problem!”
.
We ended our long day with a nice sleep after.
Day 4 (Saturday, June 14th 2008) ~ Waterfall tour
We were picked up from the hotel at about 8:30 by Pak Jagger from Lombok Travel. We first dropped by Lombok Pearl shop to pick up my bracelet we bought the day before, then we continued our trip to Senaru Village where the ‘Sindang Gile’ waterfall located. The driver took us through the country roads with amazing view along the way…green rice fields on the sides of the road, thousands of coconut trees, some fruit trees and veggies…really refreshing.
On the way, we stopped at one point where we could see and feed monkeys (if I’m not mistaken the name of the area was Malimbu forest). The monkeys took some nuts or snacks we put on our palms; some of them were a bit aggressive in taking the food. Adrian took some photos; and while he’s taking the photos, one monkey showed its sharp teeth to Adrian which made him jump back almost fall down the valley behind him! I also almost got a free ‘shower’ when one monkey on the tree pissed on us. Adrian managed to grab and save me. We still could see the monkeys all the way for about 2 – 3 kilometers along the road from where we stopped.
Then we passed one rice fields area where some farmers were working on the fields. They ploughed the field with the help of some cows (two cows for every plough). Adrian was really interested on how they were working; and instead of only taking pictures, he also tried operate the plough himself.
We then continued our trip to Senaru village. We arrived in Senaru at lunch time. We stopped & had lunch at the Senaru Cottage & resto. The food was OK, the beautiful view added an extra joy. After lunch we were accompanied by a local guide (his name’s Sata) to the waterfall. There were two waterfalls; the first waterfall was not too far from the village (but not too special), and the second one took a while of walking to get there.
We decided to walk to the second waterfall. The walk was not too difficult but not easy either. The path to waterfall had been built (a concrete path) but we also had to cross the river with slippery stones. The second waterfall was great! On the middle of the way, Adrian was intrigued by the Dutch engineering for the water channel. The walk to the waterfall and back to the restaurant took us about 2 hours.
Pak Jagger took us back to Senggigi through different road by the coast. We stopped for a while to enjoy the sunset in our way back. Then, we also stopped at the hill (name??) and bought some grilled spicy corns. Eating the grilled corns and enjoying the evening panorama from the hill was really good. Some tourist couples got there by motorbikes. It might be good also for us to rent a motorbike and wander around on the motorbike. Next time…
Some people also sold t-shirt for Rp 15,000.00 (cheaper again from the t-shirts they sold at the beach).
We were back to the hotel at about 7 PM. After having shower, we decided to go out again for a dinner. We took a walk along the Senggigi street to find a shop that sold laundry string, but on the way we were offered to buy some paintings. They were beautiful paintings, but the seller was kind of forcing us to buy, and from the 1st price of Rp 500,000.00 he then offered us Rp 100,000.00 per painting. Not really interested though. We also checked the local souvenir shop and bought a silver necklace with a red coral pendant for me. It was already 9:30 PM when we finally went to the restaurant for dinner. Because Happy Café was very full, we went to the café across the road, Papaya Café. There was also live music there but the music was more of chill out type of music, not the rock’n’roll one. The food was really nice and the band was good too! Every band player was very skillful; the main singer was not only singing but also playing guitar, flute, tambourine, and some other music instruments. Very talented.
At about 11:30 we decided that we had to go back to the hotel for packing our luggage because the next day we were going on the cruise to Komodo island.
Day 5 (Sunday, June 15th 2008) ~ 1st day of Komodo Cruise
We couldn’t be late that morning because we would be picked up at 8:00 AM to start the cruise. So, we woke up a bit early, had breakfast, and took a walk near the beach to get some more t-shirts for souvenirs.
Before checking out, we dropped by the hotel shop. And guess what we found? The similar woven cloths with the one we bought in Sukarara village for Rp 1,000,000.00 but in the hotel shop they were sold for Rp 300,000.00 each!!! We realized that we had got ripped in the village! Adrian then bought one more large woven cloth and some small ones.
Bus picked us at 8:00 AM, and we were in the same minibus with some middle age Australians who were also joining the cruise. All of us joined the Komodo Cruise managed by Perama Tour. On the way to the harbour, we stopped at the mall to buy some extra snacks and drinks (Adrian bought some cans of beer to be brought on board). We also stopped by at the Perama office to get Perama t-shirt. There, they also gave us a Sasak traditional cake, made from sticky rice, grated coconut, and sugar, and wrapped with palm leaf. It was quite nice and might be good for muesli alternative should we go for hiking. (The cake could last for a week in room temperature).
Before going to Lombok harbour, Perama group took us to Masbagik village (Sasak traditional village) which also made pottery. They also showed us how to make the pottery with a simple rotated wooden tool. The interesting thing was, the village people once were given some modern pottery machine by New Zealand government, but because they didn’t know how to use the machine, they were back again to the traditional tool.
After visiting Masbagik Village, we visited the Perama Dock, where they made the boats. There we saw one half finished phinisi boat. Banana fritter & hot tea were served for refreshment.
There were 44 people joining the cruise, so we used 2 boats. Adrian & I got boat 212 with 18 other people while 24 other people were in boat 214. The boat crew were all young, even the cook in our boat was only 19 years old!
Our guide, Aan, gave us some briefing about the tour on the boat while we were sailing to Perama island (a private island managed by Perama group). Besides informing the tour, he also told that they had provided a cool-box full of soda drink & beers, some snacks near the pantry, also sleeping bags, mats, and blankets. They put all the prices on the white board so the tour participants could take what they wanted or needeed themselves. All we had to do was writing what we took on the passenger record. The boat crew would give us the bill based on the record at the end of the tour. Honesty was really needed in this situation.
Mr. Perama, the founder of Perama group was joining us on the boat. He was a kind of down-to-earth person with very simple clothes. You wouldn’t have a guess that he was the owner of the business. Adrian & I took our time to talk to him. He was a nice person to talk to.
We stopped at Perama island for some activities. First, we snorkelled. Snorkeling near the island was lots nicer than in Gili’s. They replanted the corals and kept the environment as natural as possible. So, we still could enjoy the colorful corals and fish.
Enough with snorkeling, we joined some guys for beach volley ball. The guys playing were some Indian’s guys (born in UK – Amit, AK, Paras, and some other boys), Switzerland girl (Lea) and Canadian girl (Heather). Adrian & I played in opposite team. My team won the fist set then Adrian’s team came back 2 – 1. It was fun although I hadn’t played volley ball for a long time. I was surprised that my husband could play volleyball quite well. I had never known he played volleyball. Adrian’s team won the game.
After playing beach volley ball we had fresh water shower. The water was transported from Lombok (Mataram) because there was no fresh water on the Perama island. The shower chambers were on the beach with woven bamboo wall about 1.5 meter in height (no roof), and a big water jug was put higher than someone’s head. Some Perama guys filled the big jug. The jug had a tap on the bottom so we could have ‘shower’. The fresh water shower on the island was a luxury considering the water was transported from another island.
When the night came, everybody gathered around bonfire prepared by Perama guys and had dinner together. The Perama crew served grilled tuna fish, some salad, fresh pineapple slices, steamed rice, and also Lombok chili salad.
After dinner, Adrian & I took a walk along the beach arround the island. Since the island was not big, the walk took about 20 – 30 minutes. It was so romantic walking along the white sand beach, holding hands, enjoying the sound from the sea and seeing the sparkling lights form Lombok island in the distance… Flashlight was not needed as we got enough light from the full moon above us. Lalalala…honeymoon is on the air…:)
Back to the group after walking, people were singing & some guys were playing the guitar around the bonfire. Some guys volunteered themselves to sing in front of everybody. We had fun! The party was ended by Sajojo dance performance by the boat crew and some tour participants (including myself
)
We left the island at 9 PM, back to our boats, and continued the journey to the next destination, sailing all night. We had to change the cabin because our first Eagle cabin smelled like fuel burning. We were quite lucky that the cabin across from our cabin was empty that we could use.
Day 6 (Monday, June 16th 2008) ~ 2nd day of Komodo Cruise
The wake up call was at 6 AM. We were taken using smaller boat to Satonda island where we did a bit of hiking to the hill and swimming in the salty water lake in the island. The hike was OK; we stopped by the look up point at the top of the hill and enjoyed the view. After that some people plunged into the warm lake. I wasn’t interested to swim at first, but then I was tempted by the calm, clear water which just look like a big swimming pool. I enjoyed the swimming, really.
After hiking & swimming we went back to the boats for breakfast, and after breakfast we snorkeled again. The underwater view there was so good. We saw more coral & fish. After snorkeling, we continued our trip to the next stop. Had lunch on the boat, after lunch we were just relaxing on the boat, enjoying the sea breeze, some of us reading books or just talking to each other.
At about 3 PM the boat crew took us again on shore to the beach on Donggo island. Not much we could see in Donggo. The beach wasn’t breath taking and there was too much coral on the beach that none of us was interested to swim or snorkel. We were just sitting on the beach, some people had sun-bathing, some others were just chatting with each other and enjoying some beers. We didn’t spend much time there.
Back to the boat, we had shower (yes, thanks God we could have fresh water shower on the boat as well!! The water was only running when the boat machine’s running, otherwise all we could get was the sticky salty water), then we had dinner. After dinner, some people on our boat were watching a movie, some of us (including me) were having conversations at the front of the boat. We got to know more people in our 2nd day of the cruise trip. Adrian got along very well with most of the cruise trip, especially those India-UK born guys.
The hike & swimming in the lake were quite tiring, and we went to sleep at about 9 PM.
Day 7 (Tuesday, June 17th 2008) ~ 3rd day of Komodo Cruise
Our boat arrived near Komodo island at about 6 AM. After a bit of shower, got ready for the hiking, we had breakfast on the boat before heading to the island. After breakfast, the speedboat took us group by group to the island. Adrian & I managed to take some pictures on the jetty and also at the entrance to the island. We all were very excited to see the komodo dragons!
After everybody gathered, one ranger explained the hike and also what we would probably see on the island. Our guide, Aan, from Perama was also with us. The ranger told us that May to July was a mating & breeding season for the Komodo dragons and we would have a small chance to see the dragons because most of the dragons were in the jungle. He said female dragons were less in number than the male ones (3 or 4 males for 1 female) so during the mating & breeding season the males normally fought each other to get a female. Those won the fight would then get a ‘partner’.
The interesting thing is, after the males got females and finished the breeding, the males then left the females to lay the eggs themselves. The females laid the eggs in a hole on the ground, and left the eggs to hatch without the parents. When baby Komodo dragons had been hatched, they had to get the food themselves. Some were attacked and eaten by other adult dragons or big bird, some dead because they couldn’t survive; so from 12 – 13 eggs hatched, there would be only 2 or 3 dragons survive. Decreasing number of the natural food (wild buffalos, deer, pigs, etc) also contributed to the decreasing number of the dragons.
Anyway, after the explanation from the ranger, we started walking. The whole group from Boat 212 walked in a line, led by two rangers in front and one guide at the back. The route for the hike was about 5 km and took us about 2 hours. We saw a deer, some cockatoos, wild orchids and some other interesting flora & fauna on the way. After about 45 minutes walking, we arrived at one stop point where people used to feed the komodo before 1994. Based on the story from the rangers, it was easy to see the komodo around that stop point back then as they all gathered around the feeding place (because it was easy for them to get the food). However, the feeding activity had disturbed the natural seasons of the komodo (the mating & breeding seasons, etc). So, in 1994, the practice was stopped and komodo dragons were then back to their natural habitat.
After taking a bit of rest, we continued walking. We still saw none of the dragons yet! Although the view was wonderful, our main purpose of visiting the island was to see the dragons in their natural habitat.
Feeling exhausted and disappointed of not seeing any of the dragons, we walked back to the starting point of the hike (near the jetty) and our stop point was at the cafeteria. Just a few meters from the cafeteria, some people shouted…”Come over here…there’s a komodo dragon!”. We walked faster toward the cafeteria to see if there was really a dragon as the people told us.
And there it was…a big komodo dragon, lying peacefully in the toilet!!! It felt like a joke. We walked all the way through the jungle for the komodo hunting, and all we could see was a big komodo lying in the toilet!
Some of us managed to get closer to the komodo to take some pictures or just to see how it looked like. Our ranger pulled the komodo’s tail to have the animal a bit out from the toilet, but the dragon resisted and crawled back inside the toilet.
Well…it’s not too bad…at least we could see one on the island.
We then went back to the boat. They had a small open market selling souvenirs like pearls, accessories made from sea shell, and some miniature of the dragons made from wood. Adrian was interested in a dragons fight wood carving. It was just small, but the price was very dear. The guy offered the carving for about Rp 600,000.00 as a start. Adrian bargained for Rp 200,000.00 but he didn’t let go. We left him to the speed boat, and he chased us all the way to the jetty, but still offer us Rp 300,000.00 for the carving. We didn’t buy it.
Back to the main boat, we sailed to the Red Angel Beach, it’s still on Komodo island, just on the other side of the island. The beach was beautiful with white sand. However, if we looked closer at the sand, we could see sand was not purely white but mixed with red sand. Maybe that’s why they called it Red Angel Beach.
The boat crew told us underwater view around the beach was one of the best in Flores area. We didn’t want to miss a chance to do the last snorkel. It was indeed beautiful. We saw many fish and the coral was also still pretty colorful. We snorkeled until we’re close to where the crew anchored the boat. One guy told us he saw a big tuna chasing smaller fish in the deeper sea not too far from the boat. We didn’t see the tuna, but we did see one turtle.
In the afternoon, the crew asked us to go back to the boat and sail to Labuhan Bajo, the harbor little town in Flores island. It was supposed to be our last trip with the Perama tour as we only took one way trip. People took return trip would have the trip back to Lombok and dropped by some islands on their way back, including Rinca island, one of the 3 islands inhabited by the komodos.
Adrian and the India guys planned to go to Rinca island as well to see komodo. They tried to organize a boat to go there. I wasn’t really happy with the plan because I had booked and paid a hotel room in Labuhan Bajo. I just wanted to take a rest before flying to Denpasar the following day. I had also organized a guy, Pak Udin, to pick us from the harbor to the hotel & later from hotel to the airport. If we were going to Rinca island, we had to cancel the hotel room. Pak Udin tried to help canceling the hotel room. He came back and told us the hotel owner didn’t give us the money back and said we could try to see the hotel owner ourselves. We went to the hotel (it’s actually more a motel than a hotel). We talked to the owner, unfortunately, he still didn’t allow us cancelling the room because he said he didn’t accept last minute cancelation. If we still cancel, he would charge us 100%! The room was at Rp 375,000.00. Adrian wasn’t happy at all with the hotel owner. Adrian then offered a solution to find another guy/ couple who want to buy the room from us.
We ended having a little argument because of the change of the plan, hotel room, and pick up arrangement. Adrian wasn’t happy because he still wanted to see the real komodo on their habitat, NOT in the toilet; I wasn’t happy because I just wanted to take a rest and didn’t really want to sleep on another boat. Anyway, finally I decided to go with him. Adrian then asked some foreigners he saw on the street to find out who wanted to buy the room. We got a Germany couple who were still looking for the room. And they were on the same boat with us. We took them to see the hotel room, the girl liked the room straight away (it’s not easy to find a room with air conditioner and nice view to the see in Labuhan Bajo). We sold the room for Rp 300,000.00. Not too bad.
Aan, our boat crew helped to get a boat. There were 10 people including us who would go to Rinca Island, and each of us paid Rp 250,000.00. The boat would be going to Rinca Island at 10 PM after farewell party on Perama boats.
Back to Perama boat at about 6 PM, we had shower, packed up our stuff, and ready for the party. The guys anchored the two Perama boats side by side. We had dinner, and after that the party was started! The guys in another boat celebrated one lady’s birthday and then each boat started the music. They entertained us with poco-poco dance and play some club music. They also served some mixed alcohol, local alcohol & import one. Tasted alright. People finally went to other Perama boat for dancing because they played better music.
At 9:30, Adrian & I left the party and prepared ourselves for the boat trip to Rinca island. Our boat was ready at the back of Perama boat. Adrian managed to rent couple of sleeping bags, some mats and couple of pillows. The best thing is, he paid all of the rental with beers we brought on board! What an interesting trading.
We had shower first before moving to another boat and we booked a spot on the boat. Other guys were still enjoying the party on Perama boat. At 9.45 PM, we called the guys to come to the boat for a bit of briefing before leaving to Rinca island. At about 10 PM our boat left Labuhan Bajo. There were two men operating the boat, the owner and his son. The boat was pretty small, no cabin, and completed by a small toiled at the back of the boat. We slept on the way to Rinca island.
Day 8 (Wednesday, 18th June 2008) ~ Rinca island & Denpasar
At about 5 AM, Adrian gave us all a wake up call. It was still dark when Adrian did that. We waited until about 5.30 AM when the sun started to shine. We had a bit breakfast on the jetty (the son of the boat owner served us banana pancake and some hot tea). We didn’t finish the breakfast because we wanted to start the hiking as soon as possible. The boat captain (the owner) joined us at the walk.
Arriving at Rinca island’s basecamp, one ranger told us we came too early. The boat captain told him we were in a hurry because we had to catch the flight to Denpasar at noon. Finally we were accompanied by one ranger for a short hike. We also saw some guys from BBC television who wanted to shoot komodo fight.
The ranger took us to the hiking track and told us that the chance to see the komodo dragon in Rinca island was bigger as the island was smaller and the population of komodo there was bigger than in Komodo island itself. However, since it was still too early, the komodo dragons were still hiding in the jungle. We were almost upset again because we didn’t see any komodo on our hiking track. On the way back to the boat, we saw some komodo track which was still new. It means that the komodo just left the place where they slept and went somewhere.
We then saw a female komodo walking on the hiking track in front of us! People with cameras were excited to take her pictures. The komodo walked calmly towards the basecamp.
Near the basecamp, we saw another female komodo. She walked towards the rubbish hole to find some food. We took some pictures of her. The komodo found some chicken bones in the rubbish hole (people shouldn’t have thrown away food waste there).
We didn’t spend too much time watching the komodo because we still had to sail back to Labuhan Bajo which took two hours. On the way back to our boat, we saw another baby komodo. So, it wasn’t too bad…we finally could see some real komodo dragons on their natural habitat.
Back to the boat, the son of the boat captain served us some banana pancake and hot tea again. Then, while others were sleeping, Adrian, AK, Balli, Heather, Paras and myself sat at the front of the boat and had some chats. It was nice to meet some good people in the trip.
Arriving at the harbor of Labuhan Bajo, we took two taxis to go to the airport. And then we flew with little plane to Denpasar.
It was a busy 8-days trip. But hey…we really enjoyed it! The most unique stuff from that trip??
Komodo in the toilet…!!!
Places I call ‘HOME’ – # 1: Tumbang Titi
“Di desa yang indah tumbang titi… Kami TK Kuntum Karya… Bersenang bersama sukariaaa… Kami TK Kuntum Karyaaaa…”
Syair di atas adalah lagu ‘kebangsaan’ kami sewaktu TK, yang masih selalu terngiang-terngiang. Lagu tentang TK Kuntum Karya, satu-satunya TK di Kecamatan Tumbang Titi, yang dikelola oleh susteran kongergasi OSA. Lagu yang kami nyanyikan hampir tiap hari sebelum mulai belajar atau sebelum pulang sekolah.
Masih ingat 2 orang guru TK-ku dulu, yang seorang namanya Ibu Dora (yang orangnya luar biasa sabar); guru satunya lagi namanya Sr. Margaretha yang agak galak. Selain aku, ketiga orang adikku juga berkenalan dengan yang namanya sekolah dari TK tsb. Habis, memang gak ada TK yang lain sih…
Tumbang Titi. Hmmm…
Desa Tumbang Titi adalah sebuah Desa Kecamatan yang tidak terlalu besar, terletak sekitar 90 km dari Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Bukan daerah pesisir, bukan juga daerah pegunungan. Lumayan panas karena termasuk daerah katulistiwa. Ada satu sungai besar yang namanya Sungai Pesaguan membelah Kecamatan Tumbang Titi yang dulu digunakan sebagai sarana transportasi utama untuk ke kota Ketapang. Penduduknya mungkin gak sampai ribuan orang… Banyak juga dari generasi muda Tumbang Titi meninggalkan kampung sesudah lulus SMP untuk melanjutkan sekolah dan kemudian menetap di luar daerah …termasuk aku, hehehehe..
Istimewanya Tumbang Titi? Susah bilangnya ya…saking mungkin gak ada istimewanya. Bagi orang luar, Tumbang Titi mungkin sama saja dengan banyak daerah lain di Indonesia yang masih cenderung tertinggal. Padahal potensi daerahnya cukup besar lho, kalau saja dikelola dengan baik. Misalnya, tanah yang masih luas, sungai yang mengalir sepanjang tahun yang bisa bikin iri petani-petani luar negeri yang kekurangan air… belum lagi kandungan mineral di beberapa tempat sekitar Tumbang Titi kabarnya lumayan banyak.
Sayang belum ada yang mau atau bisa memaksimalkan potensi itu.
Sepengamatanku, dari 15 thn lalu sampai sekarang tidak banyak perubahan yang terjadi, paling-paling ada tambahan beberapa ruko dan jalan yang melintas Tumbang Titi sudah diaspal. Itu saja.
Buat aku sih Tumbang Titi tetap spesial karena di situlah tempatku lahir dan bertumbuh sampai umur 15 tahun (lulus SMP). It’s also a home bagi orangtuaku.
Fasilitas di Tumbang Titi? Ada sekolah dari TK sampai SMU, 1 rumah sakit dengan 1 dokter umum, PLN (letaknya tepat di depan rumah ortu), puskemas, kantor pos, bank BRI, dan lapangan sepakbola. Tidak ada lapangan terbang! Pernah waktu aku masih TK ada helicopter mendarat di lapangan sepakbola, dan langsung menjadi tontonan orang sekampung (hehehe…udik ya?).
Untuk mencapai Tumbang Titi otomatis hanya ada 2 cara, jalan darat dan lewat sungai. Dari kota Kabupaten Ketapang ada 2 jalan darat: jalan pendek (kira-kira 90 km) dan jalan panjang (kira-kira 180km).
Tolong jangan bayangkan jalan-jalan itu seperti di tanah Jawa yang mulus dan lebar. Tidak…atau mungkin lebih tepat dibilang belum.
Jalan-jalan itu, terutama jalan pendek, hampir selalu rusak parah… Alasannya karena jalan itu dibangun di atas tanah gambut & tanah merah, jadi kalau hujan pasti becek dan berlobang. Cukup masuk akal? Menurutku sih tidak. Karena hampir setiap tahun selalu dimintakan anggaran perbaikan jalan dari APBD; jadi sebenarnya kalau mau, jalan tsb. bisa dibuat bagus. Kalau tidak bisa sekaligus, bisa diperbaiki secara bertahap. (Mungkin ada ketakutan kalau jalan diperbaiki permanen lantas ada yang akan kehilangan lahan proyek? Entahlah…)
Tidak begitu jauh dari Tumbang Titi (kurang lebih 14 km) ada Perkebunan Inti Rakyat (PIR) kelapa sawit yang lahannya ribuan hektar. Truk-truk perusahaan juga melewati sebagian jalan Tumbang Titi-Ketapang tsb. Juga ada truk-truk kayu…termasuk truk (kabarnya) yang mengangkut ribuan ton illegal logging, yang juga memberikan kontribusi bagi rusaknya jalan.
Jalan yang selalu rusak itu membuatku ngomel-ngomel kalau pas pulang kampung. Seperti pada saat pulang kampung Juli kemarin. Walaupun mobil bisa lewat, tapi jalan berlubang-lubang dan berbatu-batu membuat perjalanan lebih lambat dan pinggang sakit karena duduk terhentak-hentak. Salut untuk bapak dan orang-orang yang tinggal di Tumbang Titi…jalan begitu parahnya saja masih bisa mereka pakai untuk pergi-pulang Tumbang Titi – Ketapang dengan frekuensi yang cukup sering. Perhaps because they’ve got no choice??
Hanya bisa berharap, suatu saat nanti someone will do something with the road…
Atau…mending aku pulang kampung aja menjadi bupati di sana untuk membangun daerah ya? Hahahahaha…emang siapa yang bakal milih aku jadi bupati?
Bagaimanapun juga, gak peduli jalan-jalan yang selalu rusak atau pembangunan yang masih jalan di tempat, Tumbang Titi tetap merupakan ‘rumah’-ku…Home sweet home… Yang jelas Tumbang Titi berperan dalam pembentukan karakterku. Karena lahir di Tumbang Titi juga mungkin aku cenderung mudah beradaptasi dengan Bahasa baru…soalnya terbiasa ngomong pakai lebih dari 1 bahasa…Bahasa Dayak dengan ibuku dan kaum kerabat dari pihak ibu, Bahasa Melayu dengan tetangga kiri-kanan, dan Bahasa Indonesia di sekolah dengan guru-guru (terutama guru-guru dari Jawa).
Yang paling aku suka dari Tumbang Titi adalah sifat kekeluargaan dan keramahan orang-orangnya. Di Tumbang Titi orang nyaris hapal satu dengan yang lain, selalu saling menyapa kalau berpapasan di jalan atau bertemu dimana saja. Semangat gotong-royongnya juga amat tinggi. Daerahnya tergolong aman sehingga orang tuaku biasanya membiarkan pintu rumah terbuka lebar (saat mereka di rumah sih…) sehingga siapa saja bisa bertandang. Suatu kondisi yang pastinya gak bisa ditemukan di kota-kota besar ya? Dan tentunya aku suka, masih suka dan selalu akan suka dengan Tumbang titi karena bapak-mamak tercinta ada di sana…
Aku selalu merindu kehangatan dan keramahan Tumbang Titi. Selalu ada keinginan untuk pulang… ke rumah…
Ke Tumbang Titi…
Sejuta Pesona FLORES – Part 2: Bajawa hingga Labuhan Bajo



Lanjutan hari ke-3: Pantai Berbatu Biru – Bajawa
Dari Moni perjalanan berlanjut ke Bajawa yang memakan waktu sekitar 6 – 8 jam. Dalam perjalanan kami melewati Situs bekas rumah pengasingan Bung Karno di Ende.
Kami juga singgah di pantai yang penuh dengan hamparan batu berbagai ukuran. Kebanyakan seukuran kepalan tangan orang dewasa. Keunikan pantai ini adalah batu-batu berwarna biru yang tampak menonjol dari batu-batu lain di pantai tsb. Batu-batu biru tsb banyak dikumpulkan penduduk setempat untuk dijual sebagai batu hias. Di pinggir pantai tampak tumpukan batu dan juga berkarung-karung batu biru yang sudah dikemas siap diangkut. Kami memungut satu-dua batu biru sebagai kenang-kenangan…
Waktu sudah menunjukkan pkl. 6 sore ketika kami tiba di Bajawa. Sebagai informasi, Bajawa terletak di tengah-tengah Pulau Flores. Walaupun tidak terlalu jauh dari laut, Bajawa termasuk daerah dataran tinggi yang terletak di tengah gugusan pegunungan. Dua gunung besar yang populer disebut Big Mama dan Big Papa tampak melatari Bajawa.
Check in di Penginapan Edelweiss, aku & suami dapat kamar di lantai 2, Jenna di lantai 1, Enda & Nonie di lantai 3. Kamarnya sederhana dengan springbed, TV 16 inch, dan kamar mandi yang airnya dingin banget! Kalau mau mandi pakai air panas, bisa pesan di dapur. Seember kecil air panas akan diantar ke kamar dan bisa dicampur dengan air dingin menggunakan baskom yang tersedia di setiap kamar.
Malam hari kami makan malam di restoran di seberang penginapan. Sayang aku lupa nama restorannya… yang pasti restoran kecil itu cukup populer di Bajawa. Tempat bertemunya turis dan para pemandu wisata. Beberapa turis asing tampak menikmati makan malam mereka. Siap-siap deh untuk menunggu cukup lama sampai pesanan makan malam dihidangkan. Sambil menunggu hidangan makan malam, Dino meng-entertain kami dengan beberapa teka-teki dan jokes yg kreatif.
Seorang lelaki bule berumur sekitar 60 tahun di meja sebelah sempat melontarkan canda ke Adrian bahwa Adrian sangat beruntung punya 4 orang ‘harem’ (merujuk ke aku, Enda, Nonie dan Jenna), yg dibalas oleh Adrian bahwa kami berempat adalah his four angels. Haha, berasa jadi Charlie dia :p. Ternyata si lelaki bule itu adalah seorang misionaris dari Australia yang bersama beberapa rekannya mendirikan sekolah di satu desa di area Bajawa.
Selesai makan, Dino menawarkan lagi siapa yang mau berendam di hotspring di Soa Menggeruda. Jenna, aku dan Adrian memutuskan ikut, sementara Enda dan Nonie katanya mau istirahat.
Perjalanan ke Soa Menggeruda sekitar 40 menit dengan mobil. Pengalaman sebelumnya dengan hotspring di Moni membuat kami tidak berharap terlalu banyak. Ternyata Soa Menggeruda melampaui yang kami bayangkan. Tempat tsb sudah dikelola dengan baik; mulai dari parkiran yang cukup luas, trus ada tempat membeli karcis masuk (yang sudah tutup ketika kami tiba… tapi untungnya akses masuk terbuka lebar), juga jalan dari parkiran menuju sumber air panas sudah dilapisi batako.
Walaupun di sekitar hotspring agak gelap, Soa Menggeruda juga lebih besar dan lebih dalam dari hotspring di Moni, merupakan aliran sungai dan untuk tempat yang bisa digunakan untuk berendam melebar menyerupai kolam. Sebelum benar-benar menceburkan diri, lebih baik mulai dari merendam kaki pelan-pelan untuk membiasakan diri dengan suhu air sekitar 40° C itu. Kalau sudah terbiasa, silakan mulai berendam.
Sumber panas sepertinya berasal dari lubang di tengah kolam yang yang terbentuk dari tekanan vulkanik dari perut bumi. Tekanan tsb membuat air di tengah kolam membual-bual layaknya air di kolam Jacuzzi. Karena di atas lubang tsb ada batu besar, kami bisa duduk di dekatnya, menikmati ‘pijatan’ air yang memanjakan. Berasa seperti di SPA deh… Berendam sekitar 15 menit membuat semua rasa lelah hilang seketika.
Hari ke-4: Hiking di Wawomudha & Kunjungan ke Desa Adat Bena (Bajawa)
Yup, kami masih di Bajawa. Sarapan dengan menu roti bakar, telur ceplok dan kopi. Sesudah sarapan, acara pagi hari adalah hiking di Wawomudha. Dari penginapan kami naik mobil kira-kira 20 menit. Kemudian Dino menemani kami hiking. Seorang anak berumur kira-kira 10 tahun, yang muncul begitu mobil kami berhenti, ikutan juga. Menurut Dino, anak itu selalu ikut kalau dia mengantarkan tamu hiking di area tsb.
Kami berjalan melewati hutan dengan bambu-bambu besar, kebun palawija milik penduduk setempat, juga melintasi perkebunan kopi yang sejuk. Beberapa ibu sibuk menyiangi kebun kopi dan ramah menyapa ketika kami lewat. Bajawa memang terkenal sebagai salah satu penghasil kopi di Flores.
Sesudah kebun kopi, kami tiba di padang rumput yang kontur tanahnya berbukit-bukit. Tampak beberapa ekor sapi sedang makan rumput. Seorang bapak separuh baya yang menunggu sapi-sapinya merumput berusaha meminta bayaran ketika Adrian dan Enda memotret dia bersama sapinya. Hmm…tampak mulai komersil…
Berjalan lagi sekitar 10 menit, ada 3 orang bapak-bapak sedang duduk-duduk di rumput sambil bercakap-cakap. Dino & Jenna yg berjalan di depan kami juga sedang istirahat di situ. Melihat ada 3 cewek dan 1 bule datang, mereka lalu sibuk berspekulasi dari mana asal kami. Seorang dari mereka mengatakan kami orang Cina (what? Gak salah nih…kulit gosong begini… hehehe…), yang lain mengatakan kami semua orang bule, yang satu bilang kami orang Jepang. Weleh…weleh… ngaco semuanya.
Yang lucu, waktu minta foto bersama mereka, si Nonie dilamar oleh salah seorang bapak di situ. Nonie bilang, boleh aja…tapi saya minta 100 ekor kuda untuk mas kawin, begitu katanya. Hahahaha…
Setelah berjalan kira-kira 1 jam, kami tiba di ujung rute hiking kami. Di situ seharusnya look point untuk danau yang airnya berwarna kuning kadang juga berwarna merah. Sebenarnya bukan danau juga sih… lebih tepatnya cekungan yang agak lebar. Ada 3 atau 4 cekungan di situ, kalau musim hujan dan semuanya terisi air kelihatan menyerupai danau. Dan mungkin karena pengaruh mineral yang terkandung di situ airnya jadi warna kuning atau merah. Saat itu, cekungan yang terisi air hanya 1 dan warnanya kuning.
Berjalan pulang dengan rute yang sama, melewati kebun kopi lagi, seorang ibu memberi kami markisa (passion fruit) dengan ukuran rata-rata sebesar bola tennis. Rasanya? Manis dan segar. Hmmm…so yummy! Ibu itu menolak ketika kami mau membayar markisa pemberiannya.
Sampai di penginapan lagi sudah waktunya makan siang. Sesudah makan siang agenda kami selanjutnya adalah jalan-jalan ke Desa Adat Bena.


Desa ini unik banget. Rumah-rumahnya berbentuk khas, terbuat dari kayu & bambu dengan atap dari rumbia. Rumah-rumah itu berjejer di kiri dan kanan, di masing-masing barisan berjumlah sekitar 15 buah. Rumah-rumah itu konon sudah diwariskan secara turun-temurun dan dibedakan antara rumah yang diwariskan dari leluhur laki-laki dan perempuan. Di beberapa atap rumah terlihat figur boneka laki-laki membawa semacam anak panah; katanya itu berarti rumah yang diturunkan dari leluhur lelaki. Ada juga beberapa hiasan seperti rumah kecil ditaruh di atap; katanya itu berarti rumah yang diturunkan dari leluhur perempuan. Masing-masing rumah bisa dihuni lebih dari satu keluarga.
Di tengah-tengah ada beberapa altar batu yang digunakan untuk upacara adat dan bangunan-bangunan unik yang lebih kecil dari rumah tinggal. Ada yang atapnya seperti payung. Katanya itu untuk tempat menaruh persembahan.
Penduduk Desa Bena sudah tinggal di tempat tsb. turun-temurun. Waktu kami bertanya pada seorang bapak berumur sekitar 80 tahun kapan desa tsb. mulai dibangun, bapak itu tidak bisa memberi angka pasti. Dia hanya bilang kalau desa itu usianya sudah ratusan tahun. Rumah-rumah di Desa Bena tidak bisa dibangun atau direnovasi begitu saja. Bahkan hanya untuk mengganti atap rumah saja harus didahului dengan upacara adat dengan memotong hewan peliharaan seperti babi atau kerbau. Tanduk kerbau, tulang rahang kerbau atau rahang babi banyak dipasang bersusun di depan rumah. Selain sebagai hiasan juga sebagai penanda kemakmuran penghuni rumah.
Menurut cerita Dino, banyak penduduk Desa Bena yang sudah merantau. Mereka kembali ketika ada upacara adat besar atau untuk merayakan natal. Yang menetap di Desa tsb. sebagian tinggal orang tua dan anak-anak kecil.
Beberapa wanita membuat tenunan dengan peralatan tradisional di beranda rumah, anak-anak kecil riang bermain di halaman, seorang wanita sedang mencari kutu di kepala wanita tua adalah sebagian aktivitas penduduk Bena pada sore itu.
Sebelum kami pulang, Adrian tertarik pada koin-koin kuno yang dijual seorang bapak di beranda salah satu rumah. Koin-koin itu adalah mata uang yang digunakan di Indonesia sebelum jaman kemerdekaan sampai tahun 60an. Adrian membeli 3 buah koin dengan tahun pembuatan tahun 1913, 1914 dan 1945. Yach…siapa tahu beberapa tahun lagi koin-koin itu jadi barang antik bernilai tinggi, iya gak? Hehehehe…ngarep!
Puas jalan-jalan, kami pergi ke hotspring di Soa Menggeruda lagi. Kali ini berempat: Nonie, Enda, aku dan Adrian. Jenna memilih buat tidur dulu sebelum makan malam.
Kalau pas jalan-jalan di Flores dan mampir di Bajawa, berendam di Soa Menggeruda itu wajib deh hukumnya… Highly recommended!
Hari ke-5 : Bajawa – Labuhan Bajo (via Ruteng)
Perjalanan ke Labuhan Bajo dimulai pagi-pagi karena jaraknya jauh. Ya…sekitar 10 jam lah…dihitung sama istirahat makan siangnya.
Pemandangan sepanjang jalan juga bagus…puncak-puncak gunung yang menghijau…sawah yang membentang dengan padi yang menguning siap dipanen…sungai yang mengalir di sela bebatuan…
Sesekali kami melihat ‘bus-truck’ lewat, penuh penumpang. ‘Bus-truck’ adalah salah satu alat angkut di Flores berupa bus yang dimodifikasi sedemikian rupa sehingga bisa digunakan untuk alat transportasi untuk… manusia!
Kami berhenti di beberapa tempat untuk… biasalah…foto-foto :-p. Sempat juga berhenti di tempat pembuatan tuak & arak tradisional Flores yang bahan bakunya dari cairan yang berasal dari ‘bunga’ pohon aren (apa ya namanya…mayang?). Disebut ‘tuak’ kalau langsung air aren segar diminum begitu saja tanpa diolah, dan dinamakan ‘arak’ kalau sudah melalui proses penyulingan.
Tuak aren rasanya manis, alkoholnya juga rendah. Kalau sudah disuling jadi arak alkoholnya bisa tinggi banget. Pada waktu kami di Bajawa, Dino sempat meracik arak dengan campuran madu, jeruk nipis dan minuman ringan bersoda, sprite. Rasanya lumayan juga…dan cocok untuk menghangatkan badan di tempat yang dingin (bagi yang boleh minum alkohol tentunya, hehehehe…)
Kami singgah di Ruteng untuk makan siang. Pemilik restoran tempat kami makan juga punya bisnis lain, memproduksi kopi yang diberi merk Kopi Unta. Di bagian belakang restoran dia menaruh mesin-mesin pengolah kopinya. Pretty impressive!
Masih di area Ruteng, ada areal persawahan yang berbentuk seperti jaring laba-laba yang besar. Satu ‘jaring’ merupakan milik bersama satu keluarga besar. Sayang saat kami ke situ beberapa bagian terlihat ‘gundul’ karena padinya sudah dipanen. Still not too bad for taking pictures though :p
Tiba di Labuhan Bajo sekitar pkl. 18.00 kami langsung diajak ke Paradise Café untuk istirahat sejenak dan minum. Café yang nampaknya cukup populer untuk turis yang datang ke Labuhan Bajo… mungkin karena ada bar-nya juga kali ya?
Sesudah itu kami check in di hotel yang terletak agak di bukit. Nama hotelnya aku udah lupa… tapi yang jelas pemandangannya langsung ke laut, kamarnya cukup luas dengan kelambu terpasang di atas bed berukuran sedang, dan ada shower dengan air panas. Ada AC terpasang dikamar tapi dalam kondisi mati. Katanya kalau mau menghidupkan AC harus membayar extra dari harga kamar. Alternatif lain, bisa menggunakan kipas angin yang terpasang di setiap kamar. Anyway…barangkali ini adalah hotel terbaik yang kami dapatkan sepanjang petualangan kami di Flores.
Kami bebersih sebentar dan kembali lagi ke Paradise Café untuk makan malam. Menu makan malam kami ikan kakap bakar super besar (beratnya sekitar 10 kg – atau mungkin lebih), capcay, nasi putih, salad, dan buah segar. Yumm!!
Sembari makan malam, aku mencoba ‘anggur’ lokal yang terbuat dari perasan buah jambu mente (bukan kacangnya lho…). Rasanya agak-agak mirip rum dan kandungan alkoholnya lumayan juga…
Yang asyik lagi dari Paradise Café? Live music! Jadi, selesai makan malam kami duduk-duduk menikmati suguhan musik dari band lokal sampai hampir jam 11 malam.


Hari ke-6: Leaving Flores…
Pagi-pagi kami sarapan bareng di resto hotel sebelum berpisah…Enda, Nonie, Jenna akan melanjutkan petualangan mereka, berburu komodo di Pulau Rinca dan Pulau Komodo, sementara aku dan Adrian akan terbang ke Denpasar lagi.
Hikss…sedih deh. Rasanya belum mau pulang…masih pengen terus berpetualang.
Bagi aku, trip kami ke Flores benar-benar berkesan. Selain karena keindahan dan keunikan tempat-tempat yang kami kunjungi, yang pasti karena travelling bareng teman-teman yang asyik. Gak nolak deh suatu saat nanti ke Flores lagi :-p
Oia, buat yang mau ke Labuhan Bajo… Labuhan Bajo punya banyak lokasi untuk diving atau sekedar snorkeling. Labuhan Bajo juga merupakan ‘gerbang’ terdekat kalau mau melihat komodo yang banyak ditemui di Pulau Rinca & Pulau Komodo. (Aku dan suami udah pergi ke kedua pulau itu tahun 2008 lalu).
Until next time beautiful Flores…

Sejuta Pesona FLORES – Part 1: dari Maumere ke Moni



Dulu tak terpikirkan bisa menjejakkan kaki di tanah Flores karena bayanganku tentang pulau itu adalah daerah yang kering dan tidak menarik. Paling-paling yang kukenal dari Flores adalah danau-tiga-warna alias Danau Kelimutu yang tersohor itu. Dan kenalnya dengan Kelimutu juga karena jaman dulu foto danau tsb dipasang di uang seribu perak (hayoo… masih ingat gak?).
Ternyata bayanganku dulu itu sama sekali tidak benar sodara-sodara.
Keinginan untuk jalan-jalan ke Flores bermula dari melihat foto-foto pantai dan pemandangan alam Maumere yang dikirim oleh Oyan, seorang teman yang berasal dari Flores. Dari situ mataku mulai terbuka bahwa Flores menyimpan banyak pesona, tidak hanya Danau Kelimutu saja.
Bersama Enda, sohibku, rencana travelling bareng ke Flores pun mulai digagas. Sibuk deh mengumpulkan informasi, tanya sana-sini, termasuk pinjem buku Lonely Planet Indonesia dari perpus Tembagapura.
Setelah mematangkan rencana, dan beberapa kali nyaris batal, akhirnya yang ikut adalah aku sendiri, Adrian (suamiku), Enda, dan Nonie (kakaknya Enda). Sayangnya Mas Anum (suami Enda) tidak bisa ikut karena gak bisa ambil cuti. Kami sepakat untuk pergi dari tanggal 15 – 20 Mei 2009 untuk aku dan suami, sedangkan Enda & Nonie tambah extra 2 hari karena mau sekalian ke Pulau Komodo & Rinca.
Aku mau berbagi cerita tentang perjalanan kami ke Flores. Tapi, berhubung kapasitas wordpress agak terbatas, aku tulis kisahnya per bagian aja ya…
Hari Pertama: Maumere
Tanggal 15 Mei kami terbang dari Denpasar ke Maumere dengan pesawat Merpati (yang of course, pake acara di-delay 2 jam di Ngurah Rai). Sebelum berangkat, Nonie sudah berinisiatif booking hotel di Maumere sekaligus memesan penjemputan dari bandara.
Sampai di airport Maumere ada seorang pria (halah!) yang memegang kertas bertuliskan ‘Miss Nonie’. Yup, dialah orang yang menjemput kami. Namanya Dino Lopez. Dia bilang kalau namanya tercantum di buku Lonely Planet Indonesia sebagai experienced English speaking guide untuk area Flores. Dan ternyata di Lonely Planet bener ada nama dia lho…
Pertama, kami diajak ke ‘kantor’ yang sepertinya merangkap tempat tinggal Dino. Di situ kami diberi penjelasan tentang gambaran wisata Flores, sekaligus ditawari ‘paket’ wisata a la Dino Lopez. Untuk aku dan Adrian yang dari Maumere rutenya ke Moni – Bajawa – Labuhan Bajo (5 hari 4 malam) paket yang ditawarkan adalah Rp 1.750.000,- per orang, sementara Nonie & Enda yang lanjut ke Pulau Komodo & Rinca diberi harga Rp 2.750.000,- per orang (7 hari 6 malam). Harga itu sudah termasuk mobil, bensin, supir merangkap guide, dan akomodasi standar di masing-masing lokasi tujuan. Setelah sedikit nego, Dino memberi discount 250rb perorang. Sungguh harga yang cukup bersahabat.
Acara berikutnya di Maumere adalah berburu sunset. Setelah puas foto-foto sunset baru kemudian check in di hotel kecil pinggir pantai yang dinamai Gading Beach Resort. Harganya? Sembilan-puluh-ribu-rupiah permalam! Beneran. Fasilitasnya standarlah…shower air dingin, queen size bed, serta sebuah TV yang hanya mampu menangkap siaran dari 2 channel. Oia, sarapan udah termasuk di harga kamar lho…
Malam hari sesudah makan malam, kami pergi ke acara pesta pernikahan. Loh, kok bisa?
Iya, berkat kepiawaian Enda & Nonie beramah-tamah di pesawat, seorang bapak mengundang kita untuk hadir di acara pesta pernikahan ponakannya. Karena gak enak udah diundang dan penasaran gimana pesta pernikahan di Flores, kami datang juga ke pesta tsb. Yang pasti pestanya rame dan full menyanyi & dansa. Bahkan kami juga didaulat untuk menyanyi dan menari bersama.
Konon tradisi menyanyi dan berdansa itu diwariskan oleh bangsa Portugal dan Belanda pada jaman penjajahan dulu. Di pesta itu tua-muda-lelaki-perempuan lincah bergoyang.
Kalau tidak memikirkan esok harus berangkat pagi-pagi ke Moni, ingin rasanya kami tinggal lebih lama, ikut berpesta sampai pagi.
Hari ke-2: Maumere – Sikka – Pantai Paga – Moni
Hari kedua di Flores diawali dengan menikmati sunrise persis di pantai Gading Beach Resort. Semburat warna-warni yang mempesona mengiringi datangnya pagi bagaikan lukisan mahakarya seorang seniman. Entah mengapa, sunrise dan sunset dimanapun kita berada selalu punya daya tarik yang luar biasa.
Habis itu, kami mandi dan sarapan. Saat sarapan kami kenalan dengan seorang cewek. Namanya Jenna Thompson. Ni cewek cool gitu deh… asal dari Amrik, kerja jadi language trainer di Thailand, trus jalan2 ke Flores sendirian. Pagi itu kita tahu kalau jeung Jenna bakal tour barengan kita. Kesan pertama tentang Jenna? Pendiam. Beda banget sama rombongan kita yang rame. (Belakangan setelah travelling bareng baru ketauan kalau Jenna juga ternyata bisa rame dan ngocol. We miss you J…)
Dengan dua buah mobil kami memulai petualangan kami. Jenna & Dino di mobil depan, sementara kami berempat di mobil terpisah dengan supir namanya Pak Fransesco. Kami meninggalkan Gading Beach Resort sekitar pkl. 07.30 pagi.
Singgah di perkampungan nelayan yang rumah-rumahnya dibangun di atas air laut, kami disambut oleh anak-anak kecil yang luar biasa banci kamera… Lucunya kami semua dipanggil ‘miss’ oleh mereka. Selama kami di perkampungan itu ramai terdengar celoteh mereka “Miss, foto miss…” sambil langsung bergaya dengan mengacungkan dua jari membentuk symbol victory.
Dari perkampungan nelayan, perjalanan berlanjut ke Desa Sikka, salah satu desa yang masih memelihara tradisi membuat tenun ikat. Sesudah melihat-lihat satu gereja tua peninggalan Portugal, kami beruntung bisa menyaksikan tahap-tahap proses pembuatan tenun ikat oleh sekelompok ibu di desa itu. Dari mulai mengolah kapas menjadi benang, membuat pola tenun dg ikat, proses pewarnaan, sampai menenun benang menjadi sehelai kain. Yang menarik, untuk warna-warna kalem seperti indigo atau merah tua, warna tsb biasanya terbuat dari bahan alami. Sedangkan kalau warnanya cerah seperti biru terang atau pink, sudah pasti menggunakan pewarna buatan.
Kunjungan ke Sikka berbuntut memborong selendang atau syal tenunan yang berwarna-warni yang harganya terbilang murah bila dibandingkan dengan proses pengerjaan yang rumit dan memakan waktu. Satu syal rata-rata dilego dengan harga Rp 50.000,-
Puas memborong syal, kami melanjutkan perjalanan ke Moni. Untuk istirahat makan siang, Dino membawa kami ke Pantai Paga, sebuah pantai yang masih alami dengan sebuah (dan satu-satunya) warung makan yang dikelola oleh sepasang suami-istri separuh baya. Kabarnya dulu pernah akan dibangun hotel resort di pantai tsb, tapi sejak bom Bali yg mengakibatkan jumlah wisatawan ke Flores menurun, yang bertahan tinggal sepasang suami istri pengelola warung itu saja. Di dekat pantai ada beberapa bangunan sederhana yang bisa disewa untuk penginapan.
Sambil menunggu pesanan, Jenna, Enda, Nonie dan Adrian memutuskan untuk mandi di pantai. Aku tidak ikut mandi…cukup duduk-duduk di pantai dan sesekali memotret saja.
Sekitar 45 menit kemudian, makanan pesanan kami dihidangkan…ada ikan tongkol bakar, tumis sayuran segar, nasi putih… dan setiap orang diberi sepiring kecil sambal cabe yang pedasnya benar-benar nendang! Mungkin karena bapak pemilik warung merasa tertantang ketika kami memesan makanan kami bilang, “Sambelnya yang pedes ya Pak…”
Walaupun menu makan siang kami tidak begitu luar biasa tapi rasanya cukup mak nyuss dan sambelnya yang pasti sukses membuat mulut & lidah berdesis kepedasan.
Dari Pantai Paga kami meluncur ke Moni. Perjalanan yang cukup panjang serta duduk di mobil memang cukup melelahkan. Tapi kelelahan kami terbayar dengan melihat keindahan alam di sepanjang jalan yang kami lalui. Panorama laut berpadu dengan gunung yang menghijau serta sawah yang membentang benar-benar memanjakan mata.
Hari sudah sore ketika kami tiba di Moni yang termasuk daerah dataran tinggi. Dino membawa kami ke Losmen Hiddayah, sebuah penginapan dengan sawah dan kebun sayuran di sekelilingnya. Salah satu karyawan losmen dengan rambut a la Bob Marley menghidangkan minuman panas (teh manis & kopi). Cocok diminum untuk udara Moni yang dingin.
Sekitar pkl. 18.30 kami menikmati makan malam di teras losmen. Sambil makan Dino berkisah. Sebagian tentang legenda-legenda dan mistik di Flores yang kami simak dengan penuh perhatian.
Selesai makan Dino menawarkan apakah kami berlima (Enda, Nonie, Jenna, Adrian dan aku sendiri) berminat untuk berendam di sumber air panas alami alias hotspring yang letaknya hanya beberapa kilometer dari penginapan kami. Semua setuju. Siapa yang menolak kenikmatan mandi air panas di daerah dingin seperti Moni? Apalagi air yang tersedia di penginapan hanyalah air dingin yang berasal dari sungai.
Berangkatlah kami ke sumber air panas diantar oleh Dino, berdempet-dempetan di satu mobil. Sambil lalu Dino bilang kalau sumber airpanas-nya di tengah sawah.
Sekitar 20 menit kemudian, Dino memarkir mobil di pinggir areal persawahan yang gelap. Boro-boro lampu penerang jalan, senter saja ternyata cuman ada satu di mobil. Terbengong-bengong kami digiring berjalan melewati pematang sawah yang sempit dan licin. Akhirnya, walaupun dengan terpeleset berkali-kali, sampai juga kami di hotspring yang fenomenal itu. Dari cahaya senter, samar-samar bisa dilihat hotspring tsb menyerupai kolam kecil dengan air jernih setinggi lutut yang bisa menampung sampai 10 orang berendam bersama. Uap hangat terlihat membungkus permukaan kolam, menggoda kami untuk segera menceburkan diri.
Membenamkan tubuh yang penat di hangatnya air kolam, di bawah naungan kerlap-kerlip bintang di langit, membuat kami lupa akan susah-payahnya perjalanan menuju kolam itu. Air kolam yang tidak terlalu panas memberikan sensasi kesegaran yang menyenangkan.
Satu rekomendasi bagi siapa saja yang berminat untuk mencoba spa alam a la Moni itu, berangkatlah kala matahari belum tenggelam… Atau, kalaupun mau pergi malam-malam, jangan lupa berbekal penerangan yang cukup. Membawa satu senter saja untuk 6 orang sungguh tidak disarankan
Hari ke-3 : Danau Kelimutu
Pagi-pagi sekitar jam 4, Dino mengetuk kamar-kamar kami dengan penuh semangat. Ya..ya… agenda pertama kami di hari ke-3 adalah melihat Danau Kelimutu yang terkenal itu.
Kata si Dino dan juga rekomendasi beberapa teman, kalau mau pergi ke Kelimutu mendingan pagi-pagi. Selain bisa melihat matahari terbit dari pegunungan dimana ketiga danau multiwarna itu berada, juga untuk menghindari kabut yang suka datang mulai jam 9an pagi.
Dari penginapan kami naik mobil terlebih dahulu dan berhenti di satu area yang cukup luas yang digunakan untuk tempat parkir mobil. Perjalanan menuju danau dilanjutkan dengan berjalan kaki. Ada beberapa rombongan pergi ke Kelimutu pagi itu. Seorang bapak yg merupakan penduduk setempat turut berjalan bersama rombongan. Berjaket biru dan mengenakan sarung tenun warna indigo, sang bapak membawa tas yang didalamnya ada termos berisi kopi panas yang nanti akan dijual ke pengunjung Kelimutu. Dia juga membawa beberapa selendang tenunan khas Flores yang juga dijual sebagai souvenir.
Bau belerang menyergap indra penciuman ketika kami sudah mendekati ketiga danau Kelimutu. Setelah mendaki ratusan anak tangga, kami sampai di tempat yang berbentuk seperti panggung (cenderung mirip monumen sih…), yang khusus dibuat untuk duduk menikmati matahari terbit. Di kedua sisi panggung yang menghadap ke dua danau dibuat masing-masing sekitar 11 undakan tangga untuk duduk-duduk. Untuk pengaman, dipasang pagar pembatas supaya pengunjung tidak berjalan terlalu dekat ke pinggiran danau.
Masing-masing dari kami kemudian siap dengan kamera di tangan, menanti saat-saat matahari muncul di ufuk timur. Samar-samar terlihat warna biru turquoise salah satu danau di depan kami.
Si bapak berjaket biru juga lincah menawarkan kopi. Kubeli segelas kecil. Harganya kalau tidak salah 10 ribu rupiah.
Menyeruput kopi-hitam-kental-manis sambil menikmati pesona mentari yang perlahan bergerak naik dari balik gunung, di antara 3 danau warna-warni, sungguh merupakan pengalaman tak terlupakan. Sambil sesekali menjepretkan kamera, mataku berusaha menangkap sebanyak mungkin pesona alam yang tersaji.
Sesudah matahari naik, kami memuaskan ke-narsis-an kami, berfoto dengan latar belakang salah satu danau kelimutu yang berwarna biru turquoise. Danau berikutnya yang letaknya berdampingan dengan si danau turquoise berwarna hijau gelap, sepintas mirip warna coca-cola. Sayangnya danau ketiga yang kabarnya saat itu berwarna putih tertutup kabut tebal.
Nama ketiga danau tsb adalah Tiwu Ata Polo (danau hijau gelap), Tiwu Nua Muri Koo Fai (danau biru turquoise), dan Tiwu Ata Mbupu (danau yang tertutup kabut).
Berdasarkan kepercayaan setempat, ketiga danau Kelimutu itu adalah tempat tujuan roh orang ketika meninggal. Danau mana yang dituju tergantung dari umur dan tingkah laku orang tersebut ketika hidup di dunia.
Keunikan lain dari Danau Kelimutu adalah warnanya yang bisa berubah sewaktu-waktu tanpa tanda-tanda alam sebelumnya. Beberapa tahun lalu warna ketiga danau tsb. adalah biru, coklat kemerahan dan hijau tua kehitaman. Menurut info belum ada ilmuwan yang bisa menjelaskan secara pasti apa yang menyebabkan perubahan warna danau. Yang pasti kandungan asam ketiga danau tsb sangat tinggi sehingga jangan coba-coba iseng mencoba berenang di salah satu danau itu.
Sesudah dari Danau Kelimutu kami sarapan banana pancakes di penginapan, kemudian mandi di sungai yang ada air terjunnya. Rasanya dingin menyegarkan walaupun warna airnya tidak bisa dibilang jernih. Well…kami hanya punya dua pilihan, mandi dengan air sungai tsb. atau tidak mandi seharian sampai tiba di Bajawa.
Kami mengambil opsi pertama.
…To be continued….
Jogja…
“Pulang ke kotamu…ada setangkup haru dalam rindu… masih seperti dulu…tiap sudut menyapaku bersahabat…penuh selaksa makna…”
Ya. Selalu ada kerinduan untuk pergi ke Jogja, kota yang sudah menjadi rumah kedua bagiku. Kota tempatku kuliah dan bekerja sebelum melanjutkan perantauan ke Papua. Kota dengan banyak kenangan…
Di Jogja aku pertama kali pacaran. Di Jogja aku pertama kali merasakan putus cinta. Di Jogja pulalah aku memilih untuk melaksanakan pernikahanku. Jogja punya makna tersendiri buat aku…
Tapi Jogja sekarang perlahan-lahan sudah berubah ke arah metropolitan. Jogja masih ramah, tapi juga semakin panas. Jogja masih menyenangkan, tetapi juga sudah mulai macet dimana-mana. Kendaraan (terutama sepeda motor) berjubel di jalanan, berebut sedikit tempat di jalan-jalan yang tidak begitu lebar. Udara semakin penuh dengan polusi sehingga pemandangan langit nan biru sudah jarang bisa dilihat di Jogja.
Seorang supir taksi kemarin mengatakan kalau seorang yang bekerja di bagian marketing di dealer sepeda motor ditarget untuk bisa menjual 15 sepeda motor per bulan. Bayangkan kalau ada 20 orang yang bekerja di bagian marketing di satu dealer sepeda motor, kalikan penjualan rata-rata…katakanlah 10 sepeda motor per bulan, dari dealer itu perbulannya akan ‘meluncurkan’ 200 sepeda motor baru ke jalan. Kalikan berapa dealer sepeda motor yang ada di Jogja…
Dulu pernah terpikir untuk membeli properti di Jogja, dan mungkin suatu saat nanti bisa bermukim di kota penuh kenangan ini. Tapi entahlah apakah niat tersebut akan terlaksana atau tidak…





