Posts filed under ‘Sharing’

Menjahit – Part 2

So…seperti saya ungkapkan (ceilee…) di postingan sebelumnya, menjahit itu ternyata menyenangkan. Dan ketika selesai dan melihat hasilnya, rasanya ada kepuasan yang tiada terkira *memang-rada-lebay-harap-maklum*

Saya berhasil juga menyelesaikan my first little project berupa taplak meja seukuran meja kopi di ruang tamu lah… Project itu saya selesaikan dalam 3 hari. Ya, gak berarti tiga hari itu saya melulu menjahit sih…tentyunya saya masih sempat melakukan aktivitas laen, seperti nge-gym, nongkrong bareng teman, masak-memasak, de el el.

Hari pertama memotong materialnya dan menjahit sedikit dengan contoh dari my lovely teacher, Ms Belly. Hari kedua, lanjut menjahit potongan-potongan kain membentuk pola pinwheel, menyetrika jahitan, kemudian disambung-sambung lagi. Hari ketiga untuk finishing. Oia, saya biasanya mulai menjahit kalau sudah jam 9 malam! Iya, berasa lebih semangat aja menjahit malam-malam, hehehe…

Ini adalah hasil jahitan pertama saya… Well, I felt good when I finished it and am pretty proud of myself that I could actually sew, LOL! I can’t even believe I am now looking forward to making the next quilt :)

October 8, 2010 at 3:43 pm Leave a comment

Suatu Siang di Café Mahasiswa

 

Siang ini saya mampir ke sebuah café mahasiswa UNY (Universitas Negeri Yogyakarta) yang dinamakan Garden Café. Iseng aja sih…mumpung mumpung tu café percis di seberang hotel UNY tempat saya menginap. Tempatnya cukup cozy, ada kursi & meja di dalam dan ada juga kursi&meja yg dibuat dari ban mobil bekas yang diletakkan di luar café. Pilihan menunya juga lumayan… dan murah meriah! Secara harga mahasiswa ya bok…

Siang ini cukup banyak pengunjung yang datang ke Garden Café. Sesudah memesan sepiring lotek dan segelas es jeruk, saya memilih tempat di luar. Saya kemudian duduk dan mulai mengobservasi sekeliling saya. Karena meja-kursi saling berdekatan, otomatis saya juga bisa mencuri dengar obrolan anak-anak mahasiswa di sekeliling saya.

Oh, I was feeling odd and old… anak-anak mahasiswa sekarang yang diomongin gak jauh-jauh dari  soal social networking seperti facebook dan twitter. Sambil duduk, mereka sibuk ngomongin soal status facebook si anu atau comment si itu terhadap status facebook si anu.

Yang sangat mencolok juga, hampir setiap pengunjung café itu (yang saya taksir semua mahasiswa, kecuali saya tentunya, hehehe…) membawa laptop atau notebook dan sibuk browsing internet, update status di facebook, dll dengan memanfaatkan fasilitas internet hotspot yang disediakan oleh pengelola café. Banyak juga yang browsing internet sambil merokok, satu cowok di meja sebelah dengan santai menghembuskan asap rokoknya ke arah saya….ugh!

Jujur, saya jadi merasa ada gap yang sangat besar antara ketika saya masih kuliah dan jaman sekarang. Jaman saya kuliah dulu, nobody brought a laptop or notebook everywhere like they do today. Well, yeah… selain harga laptop masih aujubilah muahalnya pada jaman itu, gak terjangkau kocek mahasiswa, internet juga belum semarak sekarang. Kalau mau internetan ya ke warnet ajah. Facebook dan twitter masih belom ada juga.  

Saya juga merasa sedikit miris karena anak muda jaman sekarang lebih senang berkomunikasi dengan gadget mereka ketimbang ngobrol ngalur-ngidul dengan teman yang duduk di samping atau di depan mereka. Sungguh, suasananya sudah sangat lain. Kalau jaman dulu ya kita ngobrol, cekakakan, saling melempar jokes, atau ngobrolin tentang dosen kek…mata kuliah kek…cowok inceran kek (suitt…suitt…! Hahahaha…)

Pun untuk beberapa orang yang saat itu gak pegang laptop atau notebook atau blackberry, saya tidak begitu mendengar komunikasi yang intensif…atau cekakakan yang gak jelas seperti jaman saya dulu kalau sedang nongkrong bareng teman-teman. Tampaknya generasi sekarang lebih terhibur dengan dunia internet daripada saling meng-entertain satu sama lain. Oh, do I sound so 1990? Hahahaha…

Saya menduga-duga bagaimana jadinya perkembangan kemampuan komunikasi dan interaksi secara langsung, face to face, antar manusia di jaman serba internet ini untuk generasi muda jaman sekarang. Banyak juga lho yang lebih nyaman sms-an dengan teman di depannya ketimbang ngomong langsung tentang apa yang sedang dirasakan. Aneh ya?

Well, itu masih generasi muda di tahun 2010…gak tau kalau sudah generasi anak-anak saya kelak, 20 tahun ke depan…

September 20, 2010 at 6:58 am 6 comments

My Clumsy Day…

Okay…this is a little story of me being so clumsy…today!!

This morning when I was in the queue trying to get in to the Cengkareng airport at Terminal 2, pushing a trolley with my travel bag on it, I got distracted by a Starbucks Coffee outlet in my right hand side. Well, I have to have coffee in the morning, right? And this morning I didn’t have time to grab a cup of coffee because I was in a bit hurry going to the airport. I didn’t want to miss my flight. 

Anyway…the distraction brought me a little trouble. I accidentally hit a lady’s leg with my trolley. She was walking in front of me with her high heels. Realizing I had just done something wrong, I quickly asked for an apology from the lady. Unfortunately, she was not very happy. I said sorry for a few times but she was looking really mad. She said, “Easy to say sorry, but you have just hit my leg…It hurt, you know?” Whoops, I did not mean it, did I? Again I said sorry a couple more times, but still the lady didn’t seem to forgive me. I felt bad, really.

Then, after checking in and wandering around the shops at the airport, I saw the lady again (with her, uhm, I don’t know sister and brother maybe…). I walked toward the lady and again I said sorry… She looked a little bit friendlier to me by then. I asked her nicely if her leg still hurt and she said *with a little smile on her face* that she felt better. I said I was glad to hear that and apologized again to her and she smiled to me. I felt so much relieved knowing she might have forgiven me.

Then, I went to a café near Periplus Bookstore. This café had Starbucks, New Zealand Juice,  and some other F&B outlets there. Although I had not had any coffee yet, I decided to buy some Cherry-Berry Juice or something like that *I forgot the exact name of the juice I ordered*. Well, I was trying to have a healthy drink, right?

After I got my juice, I picked a table, sat down, turned on my laptop, and started writing. When I grabbed the plastic container of my juice *without really looking at it*, I might have pushed the container too hard…and I spilled almost half of the juice on my skirt and shirt!! Oh, gosh!!! There was a lot of red juice on my skirt and some on my shirt. I didn’t know whether I should get mad at myself or laugh out loud of my clumsiness. I looked so messy, ouch!

I tried to clean myself but unfortunately it didn’t really work. Well, I still felt lucky that there was a Polo store right next to the café. So, I went to the Polo store, grabbed a pair of shorts and a shirt, bought them and wore them straight away to change my messy clothes!! Ahahaha…what a day!!

Well, unexpected things do happen sometimes.

Those clumsy things I did today reminded me of my husband’s favorite phrase…”Look ahead!”

Aww, he loves to tell me that… always look ahead, says him.

I think it’s true though. If I had looked ahead when pushing the trolley, I wouldn’t have hit the lady’s leg in front of me. If I had looked ahead when grabbing my juice, I wouldn’t have spilled half of the juice on my clothes.

Well, at least those clumsy things had taught me to look ahead more next time ;)

September 16, 2010 at 2:38 pm Leave a comment

Update Pengacara :-)

Okay, pemirsa…*halah!* postingan kali ini adalah update dari saya yang sudah resmi menjadi ‘pengacara’ alias “PENGangguran bAnyak aCARA”, hahahaha…

Yup, saya sudah memasuki minggu kedua sebagai a full time housewife. Rasanya? Enak gila! Hahaha.

Jadi, ini kira-kira rutinitas harian saya sebagai seorang ‘pengacara’…

Pagi masih bangun normal, alias pagi-pagi buta, untuk menyiapkan sarapan suami tercinta sekaligus menemani doi sarapan. Sesudah doi berangkat untuk mencari nafkah, saya menyetel musik untuk menemani saya beres-beres rumah dan doing some other errands around the house. Jam 8-an, saya bersiap untuk pergi ke gym. You know what? Dari hari Senin minggu lalu, saya bergabung dengan some other ladies untuk ikut gym training yang disebut P90X training. It’s so much fun…tapi quite challenging juga! P90X training mengkombinasikan beberapa latihan sekaligus; seperti Chest, Shoulders & Triceps, Plyometrics, Back & Biceps, Yoga, Legs & Back, Kenpo, Core Sinergistics, X-Stretch, etc. Tiap hari fokus latihannya berbeda, jadi sama sekali tidak membosankan. It is fun, alright…tapi 3 hari pertama bergabung di P90X training, badan saya sakit semuanya!! Hahaha… I’m not giving up though… berlatih di gym secara teratur bagus banget buat kesehatan *iyalah, nenek-nenek juga tau :p*, meningkatkan mood, dan membuat wajah berseri-seri *halah, jadi kayak promosi olahraga aja!*

Anyway… sesudah gym biasanya diajakin ngopi-ngopi di coffee shop sama ibu-ibu. Ngobrol ngalur-ngidul gitu deh… Sesudah itu, kalau perlu berbelanja sedikit untuk persiapan memasak makan malam *dan penyakitnya adalah…setiap hari saya belanja, hahahaha…* Kadang lunch juga sama the girls di coffee shop sebelum pulang ke rumah. Di rumah saya bisa membaca buku, relaxing, chats with some friends, and do whatever pleases me *big grin*. Saya juga senang melihat rumah rapi setiap saat, dinner’s ready when my hubby comes home from work…

So, udah sempat bosan tidak bekerja? Jawaban adalah geleng-geleng kepala dengan muantaps :-)

Oh iya, selain P90X training, setiap hari Selasa & Kamis saya juga ikut Salsa dance… Yeah, I love to shake it, baby… Hahahaha! Instruktur Salsa kami dari Chille and she’s absolutely gorgeous when she’s dancing! I wish I could move my body the way she does hers…

Beberapa orang juga sudah bertanya apakah saya berminat untuk memberikan les privat Bahasa Inggris (mostly for kids) atau Bahasa Indonesia (for expatriates). Well, of course I’m interested…but let me have a little freedom first before I get into the business again :-) . Memberikan les privat tentu saja menyenangkan; selain karena saya memang suka mengajar [yes, I do love teaching… a lot!], juga bisa menambah uang saku, hehehe…

Jadi…kalau banyak orang menyayangkan keputusan saya untuk menjadi a full time housewife dan memprediksi bahwa saya akan bosan di rumah, well…I tell you what… I have no regret of my decision. In fact, I am really enjoying my life at the moment. [Untuk yang masih suka bekerja di kantor, jangan ngiri dengan saya ya… hahahaha…]

Satu hal yang mau saya kejar adalah cita-cita saya untuk merintis bisnis sendiri dari rumah, sehingga kalau kelak saya sudah punya anak, saya masih bisa mengelola bisnis saya sekaligus mengurus anak-anak saya. That’s my biggest dream!

August 12, 2010 at 9:00 am Leave a comment

Soon to be Jobless

Hmm, agak kaku rasanya menuangkan ‘rasa’ lagi untuk menulis karena sudah cukup lama saya tidak ‘curhat’ di media gores saya satu ini.

Yang baru dari saya? Saya sudah mengambil (lagi) satu dari keputusan BESAR dalam hidup saya. Tiga minggu lalu saya sudah menyampaikan pada supervisor saya bahwa saya akan berhenti dari pekerjaan yang saya lakoni sekarang. Yes, I’m resigning. My last day at work will be end of this month. Supervisor saya tentu saja kaget, tapi dia juga menghargai keputusan saya.

Beberapa orang yang sudah mendengar berita saya akan resign juga reaksinya rata-rata kaget dan tidak percaya. Komentar yang saya dapatkan antara lain, “Kok berhenti sih? Apa gak sayang kerjaannya?” “Tar kamu bosan loh di rumah…mo ngapain coba kalo gak kerja?” Ada juga yang berkomentar, “Buat gua sih kerja itu aktualisasi diri. Gak enak aja rasanya kalo cuman di rumah doang…”

Haha! Ya, saya mengerti mengapa banyak orang berkomentar seperti itu. Untuk banyak orang, eksistensi dan aktualisasi diri diukur dari pekerjaan mapan, gaji yang mengalir lancar setiap bulan, sosialisasi di kantor atau tempat kerja. Nah, orang-orang yang jobless atau tinggal di rumah (seperti saya nanti :p) dianggap tidak ‘eksis’.

Dulu mungkin saya punya pendapat yang sama, bahwa saya perlu aktualisasi diri dengan punya pekerjaan formal. Tapi sekarang paradigma saya sudah sedikit bergeser. Pertanyaan selanjutnya adalah: mengapa saya ‘harus’ berhenti bekerja? 

Ada beberapa alasan yang sudah saya timbang baik-baik sejak awal tahun ini.

Alasan #1 adalah karena saya ingin punya lebih banyak waktu untuk keluarga. Saat ini saya bekerja Senin – Sabtu, 7 am to 5 pm. Suami juga berangkat bekerja pagi-pagi sekali, jadi kami hanya bertemu malam hari sesudah kerja. Kalau saya sedang banyak pekerjaan, saya bisa pulang jam 7 malam! Sampai di rumah sudah capek sehingga  sering sulit untuk saya menjadi pendengar yang baik ketika suami mau bercerita banyak tentang what’s going on with his jobs. Saya juga masih ingin ke gym yang saat ini bisanya saya lakukan malam hari (which, of course, reduces ‘us’ time). Jika saya tidak terikat pekerjaan, saya bisa olahraga tanpa mengganggu waktu saya dengan suami. Saya juga jadi tidak punya banyak waktu untuk memasak makanan untuk suami atau mengurus rumah. *Whohooo…saya terdengar sangat ibu-ibu sekali ya? :p* Dengan bekerja full time, otomatis saya lebih banyak sibuk dengan urusan saya sendiri.

Alasan #2: saya ingin belajar hal-hal lain di luar bidang pekerjaan saya sekarang. Misalnya, belajar tentang bisnis. Bekerja untuk orang lain itu tidak selalu menyenangkan, betul kan? Nah, suatu hari nanti saya ingin menjadi bos untuk diri saya sendiri dengan punya bisnis sendiri. Saya perlu membekali diri dengan pengetahuan tentang bisnis dan itu perlu waktu. Di rumah ada banyak buku dan modul tentang bisnis yang masih menunggu untuk disentuh, dibaca dan dipelajari.  

Jadi, keputusan untuk berhenti bekerja untuk saya adalah keputusan terbaik. Dalam skala prioritas saya sekarang, punya sebanyak mungkin waktu untuk keluarga ada di urutan #1. Ego saya untuk punya penghasilan sendiri bukan lagi hal yang terpenting karena saya menyadari ada hal-hal lain yang bisa saya lakukan untuk keluarga kami. Dan, thank God, suami masih mampu memenuhi kebutuhan keluarga. Saya pikir memberikan energi saya untuk total men-support suami bukan pilihan yang jelek. Kami bisa lebih bersinergi dengan porsi masing-masing, suami fokus dengan pekerjaannya, saya fokus dengan urusan domestik rumah-tangga. Dengan demikian kehidupan rumah-tangga kami bisa menjadi lebih seimbang.

Oh iya, saya sudah punya daftar aktivitas yang akan saya lakukan ketika saya resmi menjadi ‘jobless’, termasuk mulai menggunakan mesin jahit saya yang selama ini saya biarkan menganggur :). I am excited!!

July 10, 2010 at 12:48 am 10 comments

Memorial Service for Steve

Two days ago we heard shocking news. One of our community members – he’s called Steve – suddenly passed away at work. People guessed it was caused by heart attack.

He’s still pretty young, 48 years of age. He didn’t smoke. He was active and went to gym quite regularly.

He left his beloved wife and three children.

It was so devastating, both for his family and his friends he left behind. No one had ever thought he would’ve gone that quickly. You can imagine how his wife and kids felt when they heard the news… their loving husband & father, who said goodbye in the morning to go to work…and in the afternoon came back home in a box… It absolutely breaks anyone’s heart!!

***

My husband and I went to the memorial service for him yesterday afternoon. It was in the Community Hall.

A different atmosphere (hard for me to describe) was in the air when we walked into the hall. A lot of people — mostly the expatriates and their families (husbands, wives, kids) and Steve’s friends from work – filled up the room. Everyone wanted to show their respect to Steve. There I felt a very strong bond among the members of the community.

I did not see Steve’s wife. I think she’s so devastated that she could not go to the memorial service for her husband. The other two kids were not there either, one was home accompanying his mother and the other was in another country. Only one of their children named Khya was there. She’s so brave to be there… I took my hat off to that little girl…

After the Opening prayer, Amazing Grace song and Scripture Reading, some people delivered their speeches as the tributes to Steve… They recalled how beautiful Steve was as a man when he was alive, that he was a wonderful and loving father to his children, as well as a best friend and loving husband to his wife…

A lot of people in the room were crying during the tributes… including those delivering their speech in front. I myself couldn’t hold my tears rolling down from my eyes… A lady sat next to me did not stop crying from the beginning of the service. She kept saying how much she felt for Steve’s wife and children and how much she scared if the same situation happened to her family… (Well, that was what in my mind too.)

At the end of the memorial service, people gave each other big hugs. Everybody shared the feeling of losing their beloved one.

There again, I saw how beautiful our community was. Steve was not our family by blood, but he was our family in the community regardless.

***

During the memorial service and in our way home, I was forced to face the reality again…that life is so short. And I realized my turn would eventually come, I just don’t know when. Then I was thinking about what people would say about me in my own memorial service *with me watching them saying it from somewhere*… Would I be happy with the speech? Would I expect something else they should say?

It was a funny thought, I know. But then again it reminded me that there are still a lot of things I want to do while I’m still alive…something that would be beneficial not only for me but also for others…something people around me would remember when I come to the end of my days…

If everyone realizes that living in this world is not for forever, there should not be a lot of argument, fights or wars. Everyone should live together in peace, supports each other and enjoys every moment in their life. At the end of the day, everyone would leave this world, whether they like it or not… So, what are those arguments and fights and wars for? *do I sound a bit too religious here?*

***

To end my entry today, I quote what was written in the handout for Steve’s memorial service yesterday (both in NZ native language & English):

E Hoa

Kia Kaha

Kia Toa

Kia Mana

Haere Haere Haere Ra

Our Friend

Be Strong

Be Brave

Be Spiritual

Go in Peace…Go in Peace…

 

*in memorial of Steven Forrester, our friend, who passed away in May 20, 2010

May 22, 2010 at 2:31 am Leave a comment

Teman dan Amyotrophic Lateral Sclerosis (ALS)

Ada yang sudah pernah mendengar tentang penyakit Amyotropic Lateral Sclrerosis atau ALS?

ALS atau motor neuron diseases secara umum lebih dikenal sebagai penyakit Lou Gerigh (Lou Gerigh adalah nama pemain softball professional Amerika yang pertama kali terdiagnosa penyakit ini di Amerika pada ahun 1932). Penyakit ini adalah gangguan kondisi otot syaraf yang progresif yang ditandai dengan kelemahan, penyusutan otot, fasikulasi dan berkurangnya refleks. Penyakit ini belum ditemukan obatnya dan lebih sering menyerang pria daripada wanita.

Ada 2 tipe serangan yaitu yang menyerang lewat “lower neuron” Ini biasanya muncul bersama gangguan pada kelincahan atau gontainya langkah kaki sebagai akibat dari kelemahan otot-ototnya. Dan yang menyerang melalui “upper neuron” yaitu kesulitan berbicara ataupun menelan merupakan pertanda awal dari parahnya gangguan ini. Dalam jangka waktu beberapa bulan atau beberapa tahun, pasien penderita ALS mengalami kelemahan otot yang parah dan progresif disertai gejala-gejala lain yang disebabkan oleh hilangnya fungsi syaraf motorik baik bagian atas maupun bawah. Kontrol spinchter, fungsi sensor, kemampuan intelektual dan keadaaan kulit tetap normal. Pada tahap yang sudah parah, pasien benar-benar tidak berdaya, seringkali membutuhkan alat bantu pernapasan dan makan (gastronomy). Kematian biasanya terjadi dalam jangka waktu lima tahun setelah didiagnosa dan biasanya disebabkan oleh gagalnya pernapasan (sering terjadi pada serangan upper neuron). Penyebab penyakit ini belum diketahui. Penelitian saat ini terpusat pada ketidak-normalan metabolisme sel-sel syaraf yang melibatkan glutamat dan peran neurotoksin yang potensial serta faktor yang berkaitan dengan syaraf.

Saya tidak akan bicara lebih panjang lebar lagi mengenai penyakit tsb. Informasi lebih lanjut bisa dibaca di sini.

Yang mau saya tulis adalah tentang seorang teman kami. Ya. Teman kantor. Teman sekerja yang sama-sama mencari sesuap nasi di ujung Indonesia ini.

Dia terkena penyakit ini sejak kira-kira setahun lalu. ALS yang diderita teman tsb.  sepertinya menyerang “upper neuron” ybs sehingga menyebabkan dia kesulitan berbicara dan menelan. Karena penyakit tsb, teman ini terpaksa harus berhenti bekerja karena memang kondisinya tidak memungkinkan untuk terus bekerja. Padahal, dia mempunyai istri dan dua anak yang masih memerlukan biaya.

Sekitar dua bulan lalu, saya melihat teman ini dan kondisinya masih lumayan. Bobot tubuh masih cenderung normal, walaupun sudah agak menyusut.

Kemarin sore, saya melihat dia lagi di kantor. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. Dia datang untuk bertemu beberapa teman dan berpamitan. Karena hari ini dia sudah harus meninggalkan kami dan kembali ke keluarganya. Ya Tuhan…saya hampir tidak percaya dengan apa yang saya lihat. Tubuhnya sudah sangat kurus. Tulang tangannya sudah menyaingi tulang tangan saya yang memang kecil dari sononya. Sorot matanya redup, tapi masih memancarkan semangat hidup. Dia sudah amat kesulitan berbicara sehingga ketika diajak ngobrol hanya bisa mengeluarkan suara gumaman yang tidak jelas.

Pertamanya, saya hanya menghampiri dia dan menyapa, sembari mencoba mengajaknya bercanda dengan membandingkan tulang tangan saya dengan tulangnya. Dia hanya tersenyum. Seperti ingin ngomong sesuatu, membalas candaan saya, tapi tidak bisa.

Kemudian, mengikuti dorongan hati, saya bilang sama dia, “Kawan, saya ingin memelukmu…”

Saya peluk dia. Dia berusaha membalas pelukan saya dengan tenaganya yang lemah dan tubuhnya yang sudah semakin ringkih. Kerongkongan saya tercekat. Tidak bisa saya tahan air mata bergulir di kedua pipi saya. Ya, saya menangis tanpa malu-malu. Saya menangisi teman saya. Saya membayangkan perjuangan dia, terlebih keluarganya, di kemudian hari. Saya memikirkan berapa lama lagi dia mampu bertahan dengan penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya dari hari ke hari…

Satu hal yang kami kagumi dari teman kami itu, walaupun sakit, dia mampu menunjukkan ketegarannya yang luar biasa. Dia masih memberikan semangat untuk teman-temannya yang justru jauh lebih sehat daripada dia. Saya sangat terharu mendengar cerita teman ini berkata, “Saya tidak akan lama lagi. Kalau toh saya dapat sesuatu (ketika saya resign), itu tidak akan saya gunakan untuk berobat. Karena itu akan percuma. Apa yang saya dapat dari tempat ini semoga dapat membantu istri dan masa depan anak-anak saya.”

Luar biasa. That’s a word of a real man!

Saya pikir, kesehatan adalah anugerah terbesar untuk kita. Sungguh, kita yang masih dikaruniai kesehatan, harusnya senantiasa bersyukur dan menjaga baik-baik karunia itu. No one will ever know what will happen in the future. Seperti teman kami itu, tidak ada yang pernah mengira kalau dia akan terkena ALS.

Untuk teman kami tercinta… selamat jalan. Jangan berhenti berjuang. Semoga keluargamu mendapatkan yang terbaik. Darimu saya belajar: jangan biarkan apapun mematikan semangatmu untuk hidup dan berjuang.

Terima kasih untuk pelajaran hidup yang sangat berharga itu.

May 6, 2010 at 12:35 am 9 comments

Artikel yang Menyentuh

Dalam pesawat Airfast yang membawa saya dari Timika ke Jakarta hari Minggu kemarin, untuk mengusir rasa bosan saya mengeluarkan majalah Reader’s Digest edisi March 2010. Majalah itu saya beli 4 minggu lalu dan baru saya baca kemarin! Satu artikel menarik yang membuat saya terharu-biru sekaligus merenung adalah artikel di hal. 58-65 berjudul “Great Scott”, ditulis oleh Robert Kiener.

Adalah Scott Neeson, seorang Marketing Vice Presiden di Sony Pictures, dijuluki media sebagai “Mr Hollywood”, punya segalanya: karir cemerlang dg penghasilan jutaan dolar pertahun, mansion mewah di Beverly Hills, yacht, Porsche 911, sepeda motor mahal dan SUV…tapi kemudian memutuskan untuk meninggalkan semua keglamorannya untuk saving the abandoned kids in Cambodia who made their living from the dump! Dia mengorbankan karir, glamorous lifestyle, even his money untuk membangun tempat tinggal, menyediakan makan, biaya pendidikan dan kesehatan untuk anak-anak terlantar di Cambodia tsb.
Bagi anak-anak yang “diambil” oleh Scott Neeson dari tumpukan sampah, Scott adalah dewa penyelamat…./p>

Barangkali gaya bertutur sang penulis (Robert Kiener) yang membuat saya merasa tersentuh dengan kisah heroik Scott Neeson. Yang pasti sesudah saya selesai membaca artikel tsb., saya berandai-andai…kalau saja di Indonesia ada orang-orang berhati emas seperti Scott Neeson, betapa anak-anak terlantar di negeri tercinta ini akan mendapatkan new opportunity for a better life…

Sekaligus bertanya pada diri sendiri, “What can I do…?”

April 12, 2010 at 11:27 am Leave a comment

weird dream vs great news!

Last night I had a weird dream…

Dalam mimpi saya, mamak memotong rambut saya hingga di bawah telinga. [Aneh aja...sejak kapan mamak berbakat jadi hair stylish?]. Selesai potong rambut, dengan nyaris menangis, saya cerita dengan teman saya…“Coba lihat deh rambutku, dipotong sampai pendek begini. Padahal kan lama banget manjangin rambut. Perlu 1 taun lebih untuk bisa panjang kayak kemaren…” [bulan Juni thn. 2008 lalu saya pernah terpaksa harus memangkas habis rambut saya sebagai akibat over treatment di salon. Lama ajah nunggu sampai rambut saya panjang lagi.]

Pagi ini penasaran saya google dengan key words “mimpi rambut dipotong pendek, apa artinya?” seperti di bawah (yang sayang gak begitu jelas ya bok…):

Yang menghasilkan 229,000 results hanya dalam 0.34 detik! Weleh… ternyata banyak juga yg mengunggah (bener gak ya istilahnya?) topik tentang mimpi potong rambut di internet.

Saya iseng membuka jawaban di sini. Saya contek aja buat pemirsa sekalian *halah!* salah satu jawaban:

Mimpi potong rambut bukan berarti berumur pendek. Mimpi Potong rambut artinya adalah :
1.  akan kehilangan teman atau putus dengan orang yang kita sayangi (pacar).
2. ada keluarga kita yang akan pergi jauh.
Dan (yang mimpi) akan memulai hidup baru yang lebih baik.

Kenapa? Karena saya suka kalimat yang saya bold di atas itu aja, hehehe…

Dann… ternyata hari ini saya mendapatkan kabar yang cukup menggembirakan, berkaitan dengan appraisal kerja saya thn. 2009 kemarin yang berujung soal finansial. Saya tidak bisa bercerita panjang lebar di sini — pamali kata orang tua — yang jelas kabar gembira itu cukup membuat saya bisa tersenyum lebar.

Terima kasih Tuhan untuk berkat hari ini :)

February 10, 2010 at 2:51 am Leave a comment

Bekas – Dibuang Sayang

Pernah gak menderita (aihh…) sindrom “masih berguna”, “sapa tau tar perlu”, “just in case…”?

Maksud saya di sini untuk barang-barang yang sebenarnya gak pernah dipake lagi, tapi masih nongkrong dg manis …kek di meja, di lemari, dll. karena mikir ‘sayang ah kalau dibuang…’

Saya kadang masih seperti itu.

Sampai kemarin, meja di kubikel saya penuh kertas kertas, buku, dan folder…yang sebenarnya gak semua masih saya pakai.

Saya sedikit tersentil ketika salah seorang teman datang ke kubikel saya dan bilang “kubikel-mu kok kayak gudang ya…?”

Saya melihat sekeliling dan ‘terpaksa’ bilang…“Mmm…iya juga ya?” Walaupun cepat saya sambung lagi, “Gimana ya… tu dokumen-dokumen perasaan masih berguna semua…”

Ketika teman saya sudah hengkang dari kubikel, saya perhatikan lagi dengan cermat kubikel tempat saya ngendon sehari-hari. Betul bok. Di pojok kanan ada jajaran folder bercampur dg buku-buku referensi, kamus, dan agenda-bekas-tahun-lalu-dan-tahun-sebelumnya. Di depannya ada setumpuk kertas, sebagian besar sisa fotokopi handouts semasa saya masih aktif mengajar dulu. Di samping kiri jajaran folder ada sebotol air mineral, Tupperware water jug kosong, cangkir kopi, dan Carl Angel-5 pencil sharpener…berdesakan dengan mesin scanner. Bersenggolan dengan scanner adalah komputer kerja [yg PC-nya dihiasi 3 boneka kayu berbentuk anjing, 1 souvenir Menara pisa, dan 1 souvenir lilin berbentuk-semacam-gajah-bermotif-bunga…semua oleh-oleh dari teman yang pulang cuti]. Di samping kiri komputer ada telepon, selotip dengan tempatnya yg segede gaban, disambung dengan setumpuk (lagi) kertas-kertas dokumen lama, dan diakhiri dengan jajaran 10 folder di sudut kiri kubikel saya. Bhwaa…so very crowded and er…untidy!

Saya langsung berniat untuk beberes,  merapikan meja kubikel-nan-sempit saya… Dokumen-dokumen lama yang sudah gak bakal dipake lagi saya singkirkan, yang kira-kira masih berguna saya rapikan, sebagian kertas bekas saya alihfungsikan untuk media corat-coret dan saya taruh di tempat khusus, folder-folder saya rapikan lagi… Yach, hampir 2 jam lah waktu yang saya habiskan untuk beberes…yang ‘menghasilkan’ sekardus sampah kertas.

Selesai beberes?? Tadaaa…kubikel saya jauuhhh…lebih rapi dan presentable. Bolehlah untuk ikut lomba housekeeping khusus kubikel yang rapi dan teratur, hehehe…

Jadi pengen melakukan big clean up untuk apartemen kami juga. Kayaknya buanyak barang lama yang bisa dilungsurkan atau diparkir di tong sampah. Maklum, gara-gara tinggal di gunung yang susyah nyari barang…kalau pas cuti suka lapar mata…kalap bok…apa-apa dibeli. Apalagi pas dulu cutinya setiap 6 bulan sekali. Waaahhh…itu mah, pergi cuti bawa 1 koper kecil, pulang dari cuti kopernya udah beranak-pinak dan berkembang-biak menjadi 3 – 4 koper guedhe…! Isinya ya baju-baju dan printilan yang gak jelas.

Suka sedih juga kalau melihat isi lemari saya sekarang… paling 30% nya aja yang suka saya pakai. Sisanya? Well…jadi penghuni tetap lemari aja. Mending saya sortir dan saya hibahkan pada yang lebih memerlukan… iya gak?

Bekas – dibuang sayang? Sekarang jadi…bekas-dibuang aja…atau bekas-disumbangin aja:)

February 4, 2010 at 12:04 am Leave a comment

I Matter

Tadi malam, saya dan suami sama-sama menonton Oprah’s talkshow. Si ratu talkshow itu menampilkan Dr. Oz dan seorang perempuan yang pernah salah diagnosa kena kanker payudara, gara-gara speciment-nya tertukar dengan pasien lain. ‘Kesalahan’ tsb. mengakibatkan salah satu payudaranya harus diangkat walaupun TIDAK ada kanker di situ. [Malpraktek juga terjadi di USA, you know.]

Well, saya tidak mau bercerita panjang lebar tentang talkshow-nya. Yang mau saya tekankan di sini adalah ucapan perempuan tsb. yang mengatakan “I matter.” yang arti lainnya adalah “I am important.”

Mendengar ucapan “I matter” dari perempuan di talkshow-nya mbak Oprah itu, suami saya langsung menowel saya dan bilang, “Did you listen to her? I matter,” sambil menunjuk ke saya.  Saya sejenak bingung, apa maksud suami saya itu. Kemudian suami saya melanjutkan, “What did you want to do last week? You wanted to go downhill by bus, although you knew nobody could guarantee your safety. And just couple days after that, the incident happened again.”

Oh, THAT one. Saya tidak bisa ngomong apa-apa.

Hari Kamis minggu lalu, saya harus kembali ke kantor imigrasi yang berlokasi di Kuala Kencana untuk urusan perpanjangan passport saya. Dua minggu sebelumnya saya sudah turun gunung juga untuk urusan yang sama, tetapi tidak selesai karena online system-nya yang eror. At the meantime, there are only two ways to go downhill: by bus or helicopter. Saya sudah mendapatkan ’tiket’ untuk naik helicopter. Akan tetapi, cuaca hari Kamis pagi itu tidak begitu cerah. Sewaktu suami mengantar ke helipad, Tembagapura ditutupi kabut lumayan tebal. Helicopter biasanya tidak akan terbang dalam kondisi cuaca seperti itu. Saya bilang sama suami, kalau helicopter tidak bisa beroperasi hari itu, saya mungkin naik bis saja. Toh setiap hari ada konvoi bis yang turun. I just wanted to get my passport done.

You know what? My husband got really mad at me knowing I was even thinking to go on the bus! Dia bilang, “You go by helicopter or not going at all. If you insisted to go on the bus, do not even bother to come and see me again!”

Whoops, saya tahu betul suami saya 110% serius dengan ucapannya. Dia amat CONCERN dengan keselamatan saya. Walau demikian, dengan keras kepalanya saya bilang, “Hundreds of people still go by buses everyday, you know…and so far they’re OK. I just want to get my passport done. I don’t want to always cancel my classes for my personal matter.”  [well, saya harus cancel kelas hari Kamis itu untuk turun.]

Suami tambah jengkel dengan saya dan mengatakan, “Which one is more important: your classes or your life? Who could guarantee nothing would happen on the road? I can’t believe you want to put your life in risk.”

Saya tahu ucapan suami saya itu betul. Siapa yang bisa menjamin bahwa perjalanan dengan bis akan 100% aman? Walaupun untuk beberapa waktu kondisi kelihatannya sudah berangsur-angsur normal, toh tetap belum ada kepastian bahwa tidak akan terjadi insiden lagi. Di satu sisi saya juga bersyukur bahwa saya punya pilihan; I don’t have to go by bus. Bukan berarti dengan naik helicopter lantas bebas resiko sih… tapi setidaknya bisa mengurangi resiko.

[untungnya kemudian berangsur-angsur cuaca cerah lagi, sehingga helicopter bisa beroperasi dan saya tidak jadi naik bis.]

I really feel for the people yang seolah tidak punya pilihan selain harus naik bis untuk bisa turun ke Lowland, untuk pergi cuti keluar jobsite atau bertemu keluarga di Lowland. Tidak hanya itu, pengangkutan logistic dan keperluan tambang yang lain juga mengandalkan jalan yang sama.  The drivers and passengers do matter, don’t they?

Ya, saya setuju bahwa I do matter. Not only me; every one matters. Setiap orang berharga dan berhak untuk dihargai.

Saya betul-betul berharap no more incident after yesterday’s. Banyak orang mengandalkan tempat ini untuk sumber penghasilan.

They matter. WE matter.  

January 25, 2010 at 12:45 am Leave a comment

kamoro dancing and carvings

yesterday was an absolutely fantastic day!

pertama, [thank God] urusan perpanjangan passport saya lancar-lancar saja. tinggal menunggu passport saya di-issue dan dikirim ke tembagapura. [the passport thing was the very reason why yesterday i was in kuala kencana, by the way.]

kedua, saya bisa lunch bareng teman saya dan anak lelakinya, seperti yang saya tulis di postingan sebelumnya.

and then… as the highlight of all… malam harinya di rimba papua hotel, timika, [used to be sheraton hotel] tempat saya menginap, saya menyaksikan the kamoro traditional dancing and carvings!

wait! how could that happen?

well, you see, sometimes you just need to be in the right place at the right time.

adalah kal muller, penulis banyak buku tentang indonesia [termasuk buku-buku tentang papua], dan sering disebut sebagai ‘bapak kamoro’, yang meng-organize sekitar 30 – 40 orang kamoro, laki-laki dan perempuan, untuk menampilkan tarian tradisional sekaligus pameran kecil hasil kerajinan/ukiran khas suku kamoro di rimba papua hotel tadi malam. that performance was intended to entertain some guests from us embassy.

di hari yang sama, joanne richardson – our dentist as well as a very good friend of my husband and i — yang juga berteman amat baik  dengan kal muller, menginap di rimba papua. it was joanne who offered me to join them to see the kamoro performance, yang saya sambut dengan antusias.

sekitar jam 6 sore, ketika saya tiba di hotel, foyer rimba hotel sudah disiapkan untuk the dancing performance. meja-kursi yang biasanya diletakkan di sekitar foyer tsb. sudah disingkirkan, termasuk karpet tebal  yang biasanya dipasang di situ. joanne yang kebetulan sedang di lobby mengatakan bahwa dancing performance was going to begin at any minute. dan bahwa dia serta kal muller duduk di beranda belakang, enjoying some cold beers and i was more than welcome to join them. she even offered to order me some food if i liked. well, saya belum terlalu lapar. saya bilang ke joanne, saya perlu ke kamar sebentar untuk sekedar cuci muka dan ganti baju, kemudian bergabung dengan mereka. 

pkl. 6.15an, orang-orang kamoro yang akan menari datang, lengkap dengan atribut khas mereka: rok rumbai-rumbai, hiasan kepala dari bulu burung [ada juga yang mengenakan kulit kuskus sebagai hiasan kepala], dan sekujur tubuh dilukis dengan kapur. mereka juga membawa ukiran-ukiran berbagai ukuran, khas kamoro. ada ukiran yang bisa digantung sebagai hiasan dinding, ada beberapa patung besar-kecil. tema ukiran mereka tidak jauh dari binatang dan manusia.

the most impressive piece of all adalah patung kepala buaya, dengan mulut menganga lebar memperlihatkan gigi-gigi & taring nan runcing,  yang dipahat dari kayu bulat berdiameter tidak kurang dari 60 cm! kepala buaya tsb. dipasang di [semacam] tiang pendek yang diukir seperti kaki buaya, dan kaki buaya tsb. dilekatkan di atas fondasi ukiran kaki raksasa. beratnya saya taksir tidak kurang dari 50 kg, dan perlu 2 orang lelaki kamoro yang berotot untuk mengangkat ukiran tsb. betul-betul a piece of work!

and for your information, kayu yang digunakan oleh para seniman kamoro tsb. sebagian besar adalah kayu besi.

saya betul-betul-amat-sangat-menyesal tidak membawa kamera di kesempatan langka seperti itu. [i really need to have a habbit of packing my pocket camera anywhere i go.] well, joanne membawa dua kamera — satu digital pocket dan satu lagi profesional camera –  dan sempat mengambil satu-dua foto, termasuk foto saya dengan beberapa orang kamoro itu. tapi, only god knows why both cameras also ran out of batteries! anyway…

pkl. 6.30an, saat hari sudah mulai gelap, kal muller mengumumkan bahwa dancing performance akan segera dimulai. para tamu diminta untuk bergeser ke arah lobby.

ketika tifa, alat musik trasional mereka, mulai dimainkan oleh empat orang, para penari yang berjumlah tidak kurang dari 30 orang, mulai bergerak mengikuti irama tabuhan tifa, dengan gerakan dan suara-suara yang khas ketika menari.

mendengar suara tifa, suara penari, dan melihat tarian tradisional di depan mata saya… i felt like WOW! somehow, their kinda primitive dancing movement and their music mesmerized me. i couldn’t believe i actually experienced it.

saya mencoba merekam sebanyak mungkin dengan mata saya dan telinga saya. saya coba juga mengambil beberapa gambar dan video  dengan telepon seluler saya. could not expect to have fantastic pics nor videos though, as my cellphone is only a simple one. not enough light made the pics i took look dark.

seusai menyaksikan tarian tradisional, kami diajak lagi ke teras belakang, tempat ukiran-ukiran diletakkan. kami bebas melihat-lihat, menyentuh ukiran-ukiran, berinteraksi dengan para seniman kamoro [i like to call 'em the kamoro artists anyway...], memotret hasil karya mereka, atau yang berjiwa narsis bisa juga berfoto dengan mereka :)

kal muller mengingatkan para tamu bahwa akan sangat membantu jika tamu juga membeli hasil karya orang kamoro tsb.

bukan karena anjuran kal muller ketika saya ended up buying three pieces of the carvings. i bought them because they’re so gorgeous.

saya membeli sepasang ukiran kayu, hasil karya yulius iwitiu, yang bisa digantung di dinding — satu dengan ornamen bunga di ujungnya, dan satu lagi dengan ornamen kodok. joanne bilang i made good choices, karena ornamen bunga melambangkan saya sedangkan ornamen kodok melambangkan adrian, my beloved husband. hahahahaha…! [tunggu sampai saya cerita tentang komentar joanne ini sama suami saya. dia pasti protes berat]

saya juga amat tertarik dengan ukiran kayu [yang mereka namai juga patung wemawe, karya yakobus eherepa] dengan figur orang, setinggi kurang-lebih 1 meter, berwarna hitam dan terbuat dari kayu besi. cukup berat. kal muller also managed to give a special price for that carving. and i bought that too!

well, setidaknya saya punya 3-pieces of carvings as birthday presents for my beloved husband. [you know, it's very hard to find birthday present for him as he said he doesn't need anything]. buying the carvings means i’d give him presents we could enjoy together, hehehehe… [*gakmaurugi.com*]

hal lain yang menarik adalah tentang budaya orang kamoro bahwa kalau membeli ukiran hasil karya mereka, uangnya harus diserahkan oleh pembeli ke suami (yang membuat ukiran). sesudah itu terserah suami apakah akan memberikan uang tsb. kepada istrinya atau tidak. saya ditegur oleh kal muller ketika mau memberikan uang langsung kepada istri yulius iwitiu dan yakobus eherepa untuk membayar ukiran yang saya beli. kal muller sangat menghargai budaya orang kamoro.

saya masih menunggu kiriman beberapa foto dari joanne dan luluk — kal muller’s adopted daughter — dan saya pengen posting foto-foto itu di blog ini. at the meantime, baca ceritanya aja dulu ya… hehehe…

January 22, 2010 at 1:29 am 1 comment

Older Posts


Recent Posts

Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.