Posts filed under ‘Family’
Bule Lidah Indon
Beberapa waktu lalu saya chatting dengan salah seorang teman di Indonesia. Biasalah….saling tanya kabar dan sebagainya. Sampai pada topik saya ngidam apa selama hamil.
Ngidam? Hmm, saya sih penginnya ngidam diamond gitu *hahaha, lempar sandal!* Tapi si jabang bayi cukup pengertian, jadi saya gak ngidam macam-macam yang bikin susah orang se-RT. Kalau semisal saya ngidam pengen jalan-jalan ke Antartika gitu atau makan menu khusus yang cuman ada di Perancis, kan repot ya? :p
Waktu hamil trimester pertama, saya pernah kepingin banget makan Pindang Patin. Mungkin gara-gara sebelum hamil teman saya di Jakarta pernah ngajakin saya makan Pindang Patin di daerah Kelapa Gading dan rasanya cocok dengan lidah saya. Nah lo, waktu itu saya masih di Tembagapura, jadi gak bisa segampang itu dong ke Kelapa Gading demi menikmati si Pindang Patin. Untung sebelum pindah ke Mongol kami sempat mampir Jakarta dulu, dan dibela-belain lah pergi ke RM Sanjaya di Kelapa Gading untuk menikmati seporsi Pindang Patin. Jadi, aminnn….anak saya tar gak ileran :p
Masih di trimester pertama, saya doyan banget makan jeruk (orange) yang dikupas, diiris-iris, dikasi garam dan cabe bubuk. Makanan yang membuat kakak ipar saya mengerutkan kening dan bilang, “Euww…that’s yuck…” Hehehe, namanya juga orang hamil, Kak…jangan komplen dong saya maunya makan apa. Ini bawaan jabang bayi, tau *ngeles*. Waktu itu saya pas di rumah mertua, di Australia, selama dua minggu. Dan untungnya lagi jeruk orange gampang diperoleh. Tinggal memetik di kebun mertua, hahaha. Dalam sehari saya bisa menghabiskan sekitar 5 – 6 buah jeruk ukuran sedang, kadang lebih. Tidak heran mertua perempuan saya sempat melemparkan candaan, “If I had to buy those oranges, you would make me broke…” qiqiqiqiq…. Jangan gitulah, Mak… berterima kasihlah pada saya yang membantu makan jeruk yang berlimpah dari kebon, daripada mubazir, ya kan?
Sebulan pertama di Ulaanbaatar, kami harus tinggal di hotel sembari menunggu apartemen kami siap untuk dihuni. Yang namanya tinggal di hotel ya terbatas lah. Yang pasti saya gak bisa masak sendiri *iyalah, bisa diusir dari hotel kalau tiba-tiba saya masak di kamar :p*. Tiap kali mau makan juga harus cari di luar. Menu sarapan di hotel yang itu-itu saja juga luar biasa membosankan, membuat saya kadang suka enggan sarapan. Begitu juga menu room service-nya, tiap kali mau order room service pilihannya lagi lagi burger…burger lagi lagi. Huaaa…bosannnn!!!! Di minggu ke-3 tinggal di hotel, saya berangan-angan makan nasi panas dengan sayur lodeh dan lauk tempe goreng, sambal goreng hati (ayam) plus sambal cabe tentunya. Ditemani segelas jeruk anget kayaknya kok enak banget . Ya owoh…pengennya ya makan makanan Indonesia banget gitu lho! Mana ada café atau resto yang jual menu seperti itu di UB. Jadi saat itu saya ya cuma bisa berkhayal… *jangan ngiler nanti ya Nak – elus perut*
Sesudah bisa pindah di apartemen, keinginan makan masakan Indonesia bisa terpenuhi karena setidaknya saya bisa masak sendiri. Walaupun tidak semua bahan dan bumbu untuk mengolah masakan Indonesia bisa didapat di UB, paling gak saya masih bisa bereksperimen dengan bahan + bumbu yang ada, plus saya masih bisa titip bumbu-bumbu dan beberapa bahan dari teman-teman Indonesia yang rotasi kerjanya 4 – 2 (4 minggu kerja, 2 minggu cuti). Jadi untuk urusan perut amanlah.
Sesudah lewat trimester pertama, fase morning sickness juga udah lewat, saya sama sekali tidak sulit untuk makan. Menu yang saya suka juga gampang banget…. Tiap hari menu wajib saya adalah nasi panas dengan lauk telur dadar (dengan irisan sayur) dan tidak ketinggalan sambal cabe!! Ya, supaya asupan gizi cukup, saya imbangi juga dengan minum susu dan mengkonsumsi buah-buahan serta vitamin.
Mendengar saya doyan makan telur dadar plus sambal, teman saya berkomentar, “Wah, anak lu entar bule tapi lidahnya Indon banget dong Niq…” Hahaha, iya juga ya? Teman-teman saya bilang, biasanya anak itu nantinya akan doyan makan apa yang doyan dimakan mak-nya pas hamil. Semisal, seorang teman doyan banget makan pancake waktu hamil, anaknya ya sekarang doyan makan pancake. Kalau benar, untung di saya dong…gak repot nanti masak macam-macam. Cukup bikin menu Indonesia, anak dan suami bisa makan juga.
Lah kok suami ikut dibahas? Iya, secara suami saya itu walaupun bule totok, lidahnya sudah beradaptasi dengan amat baik dengan makanan Indonesia. Saya masak apa saja dia makan dengan senang hati. Dia doyan makan ayam rica-rica, rendang padang, sampai sambal teri. Sambal cabe juga dia doyan. Nah lo, lidah Indon banget kan? Dibanding masak buat Bapak saya yang orang Jawa asli, lebih gampang masak buat suami. Paling dia protes kalau saya bikin sambal terasi karena dia tidak suka bau terasinya. Dia juga tidak mau makan jeroan. Yang lain hajar bleh!
Jadi ya…beruntunglah saya punya keluarga Bule dengan lidah Indon, hehehe.
Bad News
Malam ini…saya mendapat berita yang mengejutkan.
Our beloved father had a terrible motorbike accident this afternoon! And he’s now being carefully observed in the ICU room…he’s still unconscious…at the moment I am writing this. I was like “Oh, my God… No, it can’t happen!”
Saya kaget. Saya shock. Badan saya gemetar. Dan saya menangis.
Saya kemudian menghubungi Ibu saya di rumah yang sedang dalam kondisi shock juga. Masalahnya adalah, tempat Bapak kecelakaan berjarak sekitar 100 km dari rumah. Insiden itu terjadi ketika Bapak sedang pergi ke Kota Kabupaten untuk beberapa urusan dinas. Saya dan saudara-saudara saya semuanya sudah merantau. Kakak di Kabupaten Sanggau, saya di Ujung Timur Indonesia, adik perempuan dan adik bungsu laki-laki di Jogja, adik laki-laki nomor 4 di Jakarta. Jarak yang terbentang membuat anak-anak Bapak tidak bisa serta-merta pergi untuk menjenguk dan merawat Bapak. Ibu langsung berkemas dan berangkat ke Ketapang malam ini juga, padahal kondisi jalan dari rumah ortu ke kota Kabupaten tidaklah mulus. Kakak langsung mencari taksi untuk pergi ke Pontianak dari Sanggau, untuk kemudian entah menunggu di Pontianak (berita terakhir Bapak kemungkinan besar harus dirujuk ke RS di Pontianak karena kondisi beliau) atau lanjut ke Ketapang besok pagi jika Bapak masih dirawat di Ketapang. Saya sedang mengusahakan untuk mendapat tiket untuk ke Jakarta hari Rabu, untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke Kalimantan. Adik-adik yang lain juga sedang siap siaga jika sewaktu-waktu harus terbang juga ke Kalimantan.
Kondisi peak season untuk penerbangan selama menjelang Natal dan Tahun Baru juga tidak membuat keadaan menjadi lebih mudah. Tidak ada tiket pesawat yang available dari Ketapang ke Pontianak besok pagi, semua sudah fully booked, padahal Bapak perlu segera dirujuk ke RS di Pontianak yang punya peralatan medis lebih lengkap. Oh Gosh…anything else?
Saat ini saya hanya bisa berharap yang terbaik untuk Bapak saya. Semoga ada jalan untuk beliau bisa dibawa ke Pontianak. Dan yang paling penting, semoga beliau mendapat kesembuhan….
Saya juga berharap saya bisa mendapatkan tiket pesawat untuk bisa ke Kalimantan. Saya betul-betul ingin berada di sisi Bapak dan Ibu saya saat ini… If only I could, I would fly there right away…
Life is so unpredictable sometimes. Things could happen in just a mere blink… I’m just crossing my fingers at the moment. I could only wish all the best for my parents. We love you Dad…please hang on there…please be recovered for all people you love and love you.
My Brothers
Dalam beberapa postingan saya, sepertinya saya lebih banyak cerita tentang adik cewek saya, Yustine. Well, saya juga punya dua adik cowok…yang sepertinya cukup seru untuk diceritakan.
Adik cowok yang pertama (dia anak ke-4) namanya Nug…biar lebih keren, dia menamai dirinya Nuno, hehehe. Nuno ini gak cakep-cakep amat…tapi herannya banyak cewek yang rela nempel sama dia. Ckckckckkk…heran saya :p. Mungkin karena kemampuannya bermusik dan keahliannya dalam merayu cewek kali ya? Hihihihi…
Yang bungsu (anak ke-5) dipanggil Pri, tapi kami memanggilnya dengan sebutan Dedek. Namanya anak bungsu, walopun sekarang umurnya udah 20 taon, tetap aja he’s the baby in the family, right? Jadi teteupp aja kami memanggil dia Dedek
. Dedek ini orangnya lumayan tinggi dan cukup atletis karena doyan olahraga. Waktu dia masih SMP, kami biasanya latihan tinju bareng di belakang rumah dengan menggunakan sansak karung diisi pasir sungai ketika saya pulang kampung untuk cuti.
Okay…saya selalu happy ketemu dan spend some time dengan adik-adik saya, right? Kalau Yustine adalah a fun buddy for shopping and spending :p, Nug dan Dedek biasanya rela berkorban menemani kakaknya yang cantik ini untuk shopping berjam-jam! Sambil tentunya mereka merelakan diri untuk membawakan hasil belanjaan. Yuk maree…tangan kiri kanan penuh tetengan belanjaan saya ya bang…:p
Saya dan Yustine juga amat senang membuat adik-adik cowok kami sedikit rikuh ketika menemani kami jalan-jalan, dengan cara menggandeng tangan mereka atau merangkul pundak mereka. Dan biasanya kedua adik cowok kami itu protes, “Duh, kakak matiin pasaran aja nih…! Mana ada cewek mau ngelirik kalau dirangkul sama tante-tante kayak gini…” Hahahaha… Sialan, dibilang tante-tante. Tapi saya sih biasanya tetap menggandeng adik cowok saya dengan cueknya tanpa mempedulikan protes dari mereka. Dan kedua adik tercinta saya itu akhirnya pasrah digandeng atau dirangkul, hehehe…
Dann…karena wajah kami adik-beradik tidak ada yang mirip, banyak yang menyangka kalau saya adalah pacarnya adik saya ketika kami jalan-jalan, hahaha! Seperti tadi malam misalnya, saya dan Dedek pergi ke Ambarukmo Plaza. Ketika sedang melihat-lihat pameran batik di lantai dasar, Dedek pergi ke stand yang berbeda dengan saya. Satu menit kemudian, dia mendekati saya dan berbisik-bisik, “Kak, kamu dikira bojo-ku lho…” Hahahaha…
Oh iya, tadi malam saya dan Dedek kan jalan-jalan langsung sesudah pulang dari gereja. Saya mengenakan gaun terusan warna hitam, sepatu hak tinggi, dan meneteng tas emak-emak…sementara adik saya berpakaian casual, jeans dan kaos hitam. Sambil berjalan, of course, saya gandeng adik saya itu. Jadinya memang kayak tante-tante sedang jalan dengan brondongnya, hahahaha…
Penasaran dengan tampang adik-adik cowok saya? Ini saya kasih fotonya. Yang pertama adalah foto saya dengan Nug alias Nuno…dan foto kedua saya dengan Dedek. Memang gak mirip sih, mereka bilang saya mungkin anak tetangga :p
Titip Kado Ultah Lewat Sinterklas
Hari ini adik saya, Nug, dan ponakan Bile sama-sama ulang tahun. Nug ultah yang ke-24 dan Bile ultah ke-3. Selamat ulang tahun ya adik dan ponakan saya…:)
Yang lucu adalah sewaktu saya menelpon adik perempuan saya yang tinggal di Jogja, mama-nya Bile, yang ngobrol duluan adalah si Bile ini. Umur boleh baru genap 3 tahun, tapi cerewetnya ampyun deh… Ada kali 10 menit saya ngobrol sama si ponakan, walaupun separohnya saya tidak mengerti apa yang diomongin oleh ponakan *maaf ya Bile, auntie masih harus belajar bahasa bocah dulu* :p.
Ini cuplikan percakapan saya dan si ponakan:
Bile : Hallo auntieee….!! [kenceng banget ngomongnya]
Saya: Hallo Bile. Selamat ulang tahun ya sayang…
Bile : Auntie lagi dimana?
Saya: Lagi di kantor, kerja.
Bile : Kantornya dimana?
Saya: Kantor auntie di Papua. Jauhhh….
Bile: Sama dong kayak mama…kantornya jauh…
Saya: (tertawa) Lah, kantor mamanya Bile kan di Jogja aja…gak jauh dong… Trus, Bile mau kado apa?
Bile: Aku mau robot. Auntie kasih ke Sinterklas aja, nanti Sinterklas-nya yang datang ke rumah bawa kado.
Hahaha, lucu deh ponakan saya ini. Pikirnya Sinterklas itu dateng pas ulang tahun juga, bawa kado. Pikiran yang polos dan sederhana. Khas anak-anak.
Tunggu ya Nak, auntie titip sama ‘Om Pie’ (panggilan ponakan untuk adik bungsu saya, Pri) aja untuk bawain robotnya
. Kasian kalau harus nunggu Sinterklas yang bawain, sampai ulang tahun kapanpun gak bakal datang bawain kamu kado.
Have a great day, my lil’ brother & my nephew…
Home Meal
sudah nyaris 2 minggu saya dan suami kembali lagi ke jobsite. kembali ke rutinitas dan kembali ke makanan dari messhall. asli saya sudah bosen-sebosen-bosennya dengan makanan dari messhall, walaupun gratisan. dalam 2 minggu terakhir ini bisa dihitung jari deh saya pergi ke mess, paling banter mampir pas pulang kantor untuk bungkus makanan doang. lunch seringnya di coffeeshop (padahal pemborosan ya…secara harga makanan di coffeeshop tembagapura gak murah).
saya sudah kangen dengan home meal alias masakan rumahan. masakan ibu mertua atau home meal hasil kolaborasi antara saya dengan mertua. cita rasanya beda. kalau kata teman saya, home meal rasanya jauh lebih enak karena dimasak dengan bumbu cinta.
kalau lagi di rumah mertua, setiap pagi sarapan menjadi acara wajib. biasanya menunya telur mata sapi. telurnya dari ayam peliharaan sendiri. trus kadang ditambah dengan bacon, roti panggang, orange juice (dari kebun sendiri juga) dan secangkir kopi pekat. kalau perut masih muat, bisa ditutup dengan yogurt dan buah segar.
makan siang dan malam bisa menu apa saja. bisa menu italia, atau kalau giliran saya memasak, saya memasak dengan cita rasa asia semacam kari gitu. kalau tidak terlalu lapar, untuk makan malam homemade soup juga sudah cukup.
saya juga kangen masakan mamak (ibu) saya di tumbang titi. walaupun bahan masakan di tumbang titi tidak selengkap di negeri mertua, tapi mamak jago memasak. apapun yang dimasak mamak rasanya selalu enak. hmm, rasanya air liur hampir menitik membayangkan masakan ikan-asam-pedas pakai tempoyak durian a la mamak. uhh…jadi pengen pulang deh…
kok tidak memasak sendiri saja? saya juga suka kok memasak sendiri, kalau waktunya ada. untuk sekarang memang tidak punya banyak pilihan selain makan dari mess (atau jajan) karena masih bekerja full time, senin – sabtu. sebagian besar waktu dihabiskan di kantor. pulang ke rumah udah capek. dannn…memang paling enak itu kalau dimasakin, hehehe…. kalau memasak sendiri biasanya udah keburu kenyang dengan aroma masakan selama di dapur dan juga kenyang icip-icip.
suatu saat nanti…saya pengen full jadi ibu rumah tangga saja. biar bisa memasak untuk keluarga dan bisa menikmati home meal kapan saja saya mau.
kapan ya (berani untuk menjadi full ibu rumah tangga)???
Feeling Romantic
mendadak pagi ini saya merasa romantis.
mendadak saya memikirkan lelaki yang menikahi saya dua tahun lalu dengan hati berbunga-bunga…
mendadak saya merasa fall in love all over again….
then i browsed the internet and picked this lovely love quote which represents what i feel:
“I love you, not for what you are, but for what I am when I am with you.”
Roy Croft
cinta itu memang aneh…:)
met ultah, sayang…
Hari ini ulang tahun my dear husband. Yang ke-berapa-nya gak usah disebutin lah ya…:)
No big party for his birthday. Paling nanti malam saya ajak dinner aja. Candle light. Berdua. Biar romantis [deuu...romantis..].
Kado untuk doi? Udah ada sih…3 ukiran kamoro yang saya beli di Timika beberapa waktu lalu. Kado itu masih tergeletak pasrah di ruang belakang, belum dibuka oleh yang punya. Mudah-mudahan nanti dia suka kadonya. Habis, susah tuh beliin suami kado. Lah, kado ultah yang saya kasih 2 tahun lalu saja masih belum terpakai sampai hari ini.
…….
Ngobrolin tentang ultah, jujur saya gak begitu kreatip untuk mengadakan pesta ultah yang WOW gitu. Mungkin karena dari kecil ultah di keluarga kami bukan sesuatu hal yang perlu dipestakan besar-besaran. Tradisi keluarga kami adalah mengucapkan selamat bagi yang ultah [kalau ini gak pernah terlewat di keluarga kami], kemudian paling mamak memasak yang agak istimewa. Gak ada kado spesial atau pesta besar. Jadinya, ultah saya maupun suami juga bagi saya ya…biasa saja. Ada party syukur, gak juga tetap syukur…:)
Pernah dua tahun lalu saya buatkan surprise party di hari ultah suami. Mengundang beberapa teman dekatnya untuk datang ke rumah. Ya…lumayanlah. Waktu itu kebetulan hari Sabtu, jadi saya sedikit lebih leluasa menyiapkan pesta kejutannya. [..err..sebenarnya disebut pesta juga gak begitu tepat sih, karena lebih ke kumpul-kumpul dengan teman-teman dekat suami aja...dengan hidangan fingerfood].
Tahun lalu, ‘cuman’ saya belikan blackforest, maksud hati untuk dijadikan kejutan. Apa daya, karena blackforest tsb. harus saya taruh di kulkas, ketauan deh sama suami waktu dia buka kulkas untuk ngambil juice. Duh!
Tahun ini? Gak ada surprise-surprise-an. Tadi pagi saya bilang sama dia, “kita pergi dinner ya malam ini…”. Jadi dia udah tau, acara ultahnya: dinner. Titik.
Sebenarnya suami yang lebih romantis hal kejut-mengejut [haha, apa sih maksudnya?]. Di ulang tahun saya yang kesekian, misalnya, pulang kerja saya dikejutkan dengan apartemen yang, selain sudah bersih, juga bertabur kelopak bunga dengan cahaya lilin dimana-mana dan tercium wangi aroma terapi. Di atas meja makan ada vas bunga dengan rangkaian bunga buatan suami [yes, he did it himself!]. Bathtub sudah dibersihkan dan diisi air panas untuk mandi…dan [juga] berhiaskan kelopak bunga serta lilin yang mengapung. Pokoknya atmosfer-nya romantis abis! Ketika saya datang, suami sedang menyiapkan pizza spesial, he made it himself from scratch, sebagai menu dinner kami. Can you imagine how much time he spent to prepare it all? Yes, all day. Itu yang membuat saya terharu-biru dan merasa menjadi orang paling spesial di dunia
Anyway…poin dari postingan ini adalah untuk mengucapkan selamat ultah untuk suami. Jadi sebelum melantur kemana-mana, saya cuman mau bilang kayak yang tertulis di kartu di bawah ini:
*gambar dipinjem dari sini.
Husband’s Family Name (after mine)
Minggu lalu, saya menerima scanned dokumen atas nama saya, tapi dengan tambahan nama belakang suami di nama saya.
Mau tahu reaksi pertama ketika melihat scanned dokumen tsb.?
My-old-self-dependent mengatakan “What am I doing? Do I really want to sacrifice my maiden name and carry this ‘new’ name for the rest of my life?”
Bukan apa-apa, selama lebih dari ¼ abad, saya TERLALU terbiasa dan bangga menjadi independent. Tidak perlu tergatung siapa-siapa. Biasa memutuskan apa-apa sendiri, most of the time.
Dengan adanya tambahan nama belakang suami [dan mengorbankan nama belakang saya, by the way, karena kalo gak namanya kepanjangan], rasanya jadi I’m not myself anymore, huhuhu….
IT’S A WEIRD FEELING, I know.
Tapi kemudian saya sadar, bahwa tujuan menggunakan nama belakang suami semata-mata untuk kepentingan kemudahan administrasi di luar negeri kita tercinta ini.
Selama hampir 2 tahun menikah dan masih menggunakan my own full name, kadang suka ribet juga urusannya di negeri suami. Misal, untuk urusan berobat. Saya memang punya medicare card (semacam kartu ASKES kalo di Indo), dan karena di medicare card saya masih pake nama gadis, suami harus selalu memberikan keterangan tambahan pada petugas “Yes, she’s my wife.” Atau, pada saat harus cap passport di airport custom counter…secara saya pemegang passport hijau dan pakai nama sendiri di passport, jadinya saya sering ‘merasa harus’ berdiri di antrian “other passport bearers”. Padahal biasanya antrian di bagian itu puanjangggg…banget! Keuntungan pakai nama belakang suami, jadinya saya bisa ‘nebeng’ ngantri bareng suami, dan bisa lebih cepat lewat custom
Well, bagaimanapun di negeri suami, kayaknya penting bagi istri untuk pakai nama belakang suami. Jadi, seperti kata pepatah bilang “When you’re in Rome, do what the Romans do…”
Sacrificing my last name and adding my husband’s is not a big deal. After all, marriage is about sacrificing anyway…
Dan lagi, dengan adanya family name suami di belakang nama saya, mengingatkan saya bahwa I’m no longer single. Kadang suka lupa bok, kalo saya udah merit, hahaha…
[Selain dokumen dengan family name suami tadi, saya juga membiasakan diri menggunakan email address dengan mencantumkan nama dia juga. Paling gak untuk kalangan teman dan kerabat. Untuk urusan bisnis, masih pakai nama sendiri lah yaw…]
masih tentang bapak
Beberapa waktu lalu, saya pernah menulis postingan tentang Bapak saya. Hari ini, masih terbias tulisan “nasihat untuk anak perempuan” yang saya posting kemarin, saya ingin menggali lagi kenangan saya tentang Bapak…
Tentang Bapak yang galak sekaligus Bapak yang selalu kami rindui.
Yup. Bapak (dulu) terkenal galak. Terlebih kalau menyangkut soal belajar & cowok.
Soal cowok, beliau ketat sekali! Tidak boleh pacaran sebelum umur 17 tahun!
Saya masih ingat, sewaktu kelas 6 SD, saya punya teman sepermainan yang bernama Yohanes Auri. Cowok ini teman berantem saya di SD. Lulus SD kami melanjutkan di SMP yang berbeda, saya di SMP Pangudi Luhur dan Yohanes di SMP Negeri. SMP kelas 1, Yohanes suka menitipkan surat untuk saya lewat Nanik, tetangga sebelah, yang satu sekolahan dengan dia. Entah bagaimana caranya Bapak tahu, walaupun saya tidak pernah bercerita tentang surat-surat itu. Kabar bahwa Bapak tahu Yohanes surat-suratan dengan saya sampai juga di telinga Yohanes. Dan dia tahu dong bahwa Bapak saya terkenal galak. Poor boy…dia nyaris terjungkal ke selokan di pinggir jalan sewaktu melihat Bapak saya naik motor dari kejauhan.
Masih tentang cowok dan cinta monyet ABG, waktu saya kelas 3 SMP, Bapak pernah tidak ngomong sama saya beberapa hari gara-gara saya ketahuan surat-suratan dengan teman seangkatan. Oia, namanya Albertus Irawan yang biasa dipanggil Dagol. Walaupun Bapak tidak terang-terangan bilang sama saya, tapi saya tahu Bapak tidak suka saya mulai mengenal cowok sebelum waktunya (a.k.a. 17 tahun).
Kalau mau ikut kegiatan malam hari boleh saja. Tapi jam 9 malam sudah harus pulang. Tidak bisa tidak. Kalau lewat sedikit dari jam 9 malam, bisa dipastikan kami akan ‘disambut’ Bapak di depan pintu.
Menyangkut study, Bapak juga sangat disiplin. Jam 6 – 8 malam adalah waktunya belajar. Tidak boleh membaca novel atau majalah dan tidak boleh menonton TV. Bapak tidak akan segan-segan mengambil novel/majalah di tangan kami (ditambah teguran keras) kalau kami nekat membaca majalah atau novel di jam belajar. Paling lambat jam 9.30 malam sudah harus tidur. Dulu saya dan kakak saya kadang nekat diam-diam membaca novel dengan penerangan lilin atau senter di kamar kalau sudah waktunya jam tidur. Dan supaya tidak ketahuan, novelnya kemudian ditarok di bawah kasur (padahal seringnya ketahuan juga, hahahahaha….)
Soal bahan bacaan, Bapak juga sangat selektif. Waktu SMP belum boleh tuh membaca novelnya Mira W. Saya ingat dimarahin Bapak waktu membaca novel Mira W. yang berjudul “Dari Jendela SMP” gara-gara ada bagian dari novel tsb. yang bercerita tentang dua anak SMP yang kebablasan dalam berpacaran sehingga ceweknya hamil. Membaca novel silat Wiro Sableng yang saat itu lagi ngetop juga tidak boleh. Apalagi ikut-ikutan baca serial Kho Phing Hoo kegemaran Bapak. Tidak boleh!! Paling bolehnya baca Lupus, atau cerita-cerita daerah, atau buku-buku cerita perwayangan koleksi beliau. Huuu…sebel kan?
Setelah saya SMA & kuliah, saya menyadari bahwa maksud Bapak waktu itu semata-mata supaya prestasi sekolah kami tidak terganggu dengan urusan remeh-temeh dengan cowok atau menghabiskan waktu dengan membaca buku-buku yang tidak perlu.
Walaupun terkesan amat galak, Bapak sebenarnya sangat perhatian sama anak-anaknya. Bapak tidak pernah lupa membawa oleh-oleh, entah sekedar wafer atau snack, setiap kali bapak dari kota (Ketapang). Tidak pernah pulang dengan tangan kosong. Bapak juga suka bercanda dengan caranya sendiri. Atau memanggil tiap anaknya dengan panggilan kesayangan masing-masing. Kakak saya dipanggil “angis” (gara-gara waktu kecil cengeng, hehehe…), adik perempuan dipanggil “kocik” karena badannya mungil, adik laki-laki no. 4 dipanggil “ndut’ karena waktu kecil badannya montok, trus adik bungsu dipanggil “gundul”. Kalau panggilan untuk saya? Duh, lupa apa bapak punya panggilan khusus untuk saya atau tidak. Mungkin karena saya anak paling normal di rumah jadi tidak memerlukan panggilan khusus kali ya? Hahahaha…
Bapak juga sangat concern akan pendidikan anak-anaknya. Bapak selalu mengatakan, warisan terbaik yang bapak bisa berikan pada anak-anaknya adalah pendidikan yang bagus, sehingga anak-anaknya kelak bisa mandiri. Dari saya dan kakak-adik saya masih kecil, bapak sudah membuatkan kami tabungan pendidikan untuk masing-masing anak. Dulu masih ditabung di kantor pos, sebelum BRI masuk ke Tumbang Titi. Tiap bulan bapak akan ke kantor pos untuk menabung buat kami.
Bapak juga tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Sewaktu kami masih sekolah dan biaya yang harus diusahakan tidak sedikit, bapak tidak pusing apakah bajunya masih layak pakai atau tidak. Yang penting anak-anaknya bisa sekolah dan cukup sandang-pangan.
Dengan caranya sendiri dan dengan disiplin keras, bapak membesarkan kami. Saya tahu, diam-diam bapak bangga dan cinta luar biasa pada anak-anaknya.
Saya juga tahu Bapak senang kalau ditelepon dan diajak ngobrol, tapi beliau tidak pernah complain kalau anak-anaknya tidak mengirim sms atau menelpon.
Ah, Bapak…
Tak cukup rasanya ucapan terima kasih di dunia ini untuk Bapak dan segala jerih payah yang sudah Bapak lakukan pada kami.
We love you, Bapak…
(gak sabar pengen ngunjungin bapak + mamak lagi…)
nasihat buat anak perempuan
pagi ini saya mendapat email dari seorang teman, membacanya membuat mata saya berkaca-kaca. judulnya “nasihat buat anak perempuan”. saya jadi teringat bapak saya nun jauh di tumbang titi sana.
beberapa paragraf tidak relevan dengan saya. tapi intinya mengena. saya sadar, saya jarang sekali menelepon bapak hanya sekedar untuk ngobrol-ngobrol. beda dengan mamak yang saya telepon dengan rutin dan bisa ngobrol lama. maaf ya bapak…
saya posting saja email teman saya itu di blog ini, supaya saya juga selalu ingat.
nasihat buat anak perempuan
biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya. akan sering merasa kangen sekali dengan mamanya. lalu bagaimana dengan papa?
mungkin karena mama lebih sering menelepon untuk menanyakan keadaanmu setiap hari, tapi tahukah kamu, jika ternyata papa-lah yang mengingatkan mama untuk menelponmu?
mungkin dulu sewaktu kamu kecil, mama-lah yang lebih sering mengajakmu bercerita atau berdongeng, tapi tahukah kamu, bahwa sepulang papa bekerja dan dengan wajah lelah papa selalu menanyakan pada mama tentang kabarmu dan apa yang kau lakukan seharian?
pada saat dirimu masih seorang anak perempuan kecil, papa biasanya mengajari putri kecilnya naik sepeda. dan setelah papa mengganggapmu bisa, papa akan melepaskan roda bantu di sepedamu. kemudian mama bilang: jangan dulu papa, jangan dilepas dulu roda bantunya, mama takut putri manisnya terjatuh lalu terluka. tapi sadarkah kamu? bahwa papa dengan yakin akan membiarkanmu, menatapmu, dan menjagamu mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya pasti bisa.
pada saat kamu menangis merengek meminta boneka atau mainan yang baru, mama menatapmu iba. tetapi papa akan mengatakan dengan tegas: boleh, kita beli nanti, tapi tidak sekarang. tahukah kamu, papa melakukan itu karena papa tidak ingin kamu menjadi anak yang manja dengan semua tuntutan yang selalu dapat dipenuhi?
saat kamu sakit pilek, papa yang terlalu khawatir sampai kadang sedikit membentak dengan berkata: sudah di bilang! kamu jangan minum air dingin!. berbeda dengan mama yang memperhatikan dan menasihatimu dengan lembut. ketahuilah, saat itu papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanmu.
ketika kamu sudah beranjak remaja, kamu mulai menuntut pada papa untuk dapat izin keluar malam, dan papa bersikap tegas dan mengatakan: tidak boleh!. tahukah kamu, bahwa papa melakukan itu untuk menjagamu? karena bagi papa, kamu adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga.
setelah itu kamu marah pada papa, dan masuk ke kamar sambil membanting pintu. dan yang datang mengetok pintu dan membujukmu agar tidak marah adalah mama. tahukah kamu, bahwa saat itu papa memejamkan matanya dan menahan gejolak dalam batinnya, bahwa papa sangat ingin mengikuti keinginanmu, tapi lagi-lagi dia harus menjagamu?
ketika saat seorang cowok mulai sering menelponmu, atau bahkan datang ke rumah untuk menemuimu, papa akan memasang wajah paling cool sedunia…. :’). papa sesekali menguping atau mengintip saat kamu sedang ngobrol berdua di ruang tamu. sadarkah kamu, kalau hati papa merasa cemburu?
saat kamu mulai lebih dipercaya, dan papa melonggarkan sedikit
peraturan untuk keluar rumah untukmu, kamu akan memaksa untuk melanggar jam malamnya. maka yang dilakukan papa adalah duduk di ruang tamu, dan menunggumu pulang dengan hati yang sangat khawatir. dan setelah perasaan khawatir itu berlarut – larut. ketika melihat putri kecilnya pulang larut malam hati papa akan mengeras dan papa memarahimu. sadarkah kamu, bahwa ini karena hal yang di sangat ditakuti papa akan segera datang? bahwa putri kecilnya akan segera pergi meninggalkan papa
setelah lulus sma, papa akan sedikit memaksamu untuk menjadi seorang dokter atau insinyur. ketahuilah, bahwa seluruh paksaan yang dilakukan papa itu semata – mata hanya karena memikirkan masa depanmu nanti. tapi toh papa tetap tersenyum dan mendukungmu saat pilihanmu tidak sesuai dengan keinginan papa
ketika kamu menjadi gadis dewasa, dan kamu harus pergi kuliah dikota lain. papa harus melepasmu di bandara.tahukah kamu bahwa badan papa terasa kaku untuk memelukmu? papa hanya tersenyum sambil memberi nasehat ini – itu, dan menyuruhmu untuk berhati-hati. padahal papa ingin sekali menangis seperti mama dan memelukmu erat-erat. yang papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan menepuk pundakmu berkata jaga dirimu baik-baik ya sayang. papa melakukan itu semua agar kamu kuat, kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.
disaat kamu butuh uang untuk membiayai uang semester dan kehidupanmu, orang pertama yang mengerutkan kening adalah papa. papa pasti berusaha keras mencari jalan agar anaknya bisa merasa sama dengan teman-temannya yang lain.
ketika permintaanmu bukan lagi sekedar meminta boneka baru, dan papa tahu ia tidak bisa memberikan yang kamu inginkan. kata-kata yang keluar dari mulut papa adalah : tidak…. tidak bisa!. padahal dalam batin papa, ia sangat ingin mengatakan iya sayang, nanti papa belikan untukmu. tahukah kamu bahwa pada saat itu papa merasa gagal membuat anaknya tersenyum?
saatnya kamu diwisuda sebagai seorang sarjana, papa adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukmu. papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat putri kecilnya yang tidak manja berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang.
sampai saat seorang teman lelakimu datang ke rumah dan meminta izin pada papa untuk mengambilmu darinya. papa akan sangat berhati-hati memberikan izin, karena papa tahu. bahwa lelaki itulah yang akan menggantikan posisinya nanti.
dan akhirnya, saat papa melihatmu duduk di panggung pelaminan bersama seseorang lelaki yang di anggapnya pantas menggantikannya, papa pun tersenyum bahagia. apakah kamu mengetahui, di hari yang bahagia itu papa pergi kebelakang panggung sebentar, dan menangis? papa menangis karena papa sangat berbahagia, kemudian papa berdoa. dalam lirih doanya kepada tuhan, papa berkata: ya allah tugasku telah selesai dengan baik, putri kecilku yang lucu dan kucintai telah menjadi wanita yang cantik. bahagiakanlah ia bersama suaminya.
setelah itu papa hanya bisa menunggu kedatanganmu bersama cucu-cucunya yang sesekali datang untuk menjenguk. dengan rambut yang telah dan semakin memutih dan badan serta lengan yang tak lagi kuat untuk menjagamu dari bahaya. papa telah menyelesaikan tugasnya.
papa, ayah, bapak, atau abah kita adalah sosok yang harus selalu
terlihat kuat, bahkan ketika dia tidak kuat untuk tidak menangis dia
harus terlihat tegas bahkan saat dia ingin memanjakanmu. dan dia
adalah yang orang pertama yang selalu yakin bahwa kamu bisa dalam segala hal apapun.
tersenyum dan bersyukurlah ketika kamu bisa merasakan kasih sayang seorang ayah hingga tugasnya selesai. jika kamu mengalaminya, kamu adalah salah satu orang yang beruntung.
doakan orang tuamu sekarang: ya allah ya tuhanku, ampunilah dosa kedua orangtuaku. sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku sejak kecil. amin.
hormatilah kedua orang tuamu. segerakanlah berbakti kepada mereka jika mereka masih hidup. karena tanpa mereka, kita tidak ada di dunia ini.
La Buona Vita
“La Buona Vita” dalam Bahasa Italia kurang lebih artinya adalah “hidup yang baik”. Tertulis manis di gerbang rumah mertua di Murray Bridge, South Australia. Semboyan yang mencerminkan kehidupan penghuninya.
Dengan lahan seluas 40 acre (kalau tidak salah kurang lebih 4 hektar) dan terletak di area country town, kediaman mertua ideal untuk lahan pertanian. Pun, lahan tsb memang dimanfaatkan untuk bercocok tanam dan beternak. Hasilnya tidak untuk dijual, untuk dikonsumsi sendiri saja.
Mari berjalan-jalan ke halaman depan rumah. Kalau dihitung, mungkin ada sekitar 40 pohon buah di situ. Ada cherry, apel, pir, walnut, mandarin, orange, peach, grapefruit, fig, dll. Jangan bayangkan pohon buah yang tinggi dan rimbun seperti hutan. Tidak. Bapak mertua rajin memangkas (meremajakan) pohon-pohon buahnya sehingga buah-buah dari pohon-pohon tsb. masih dalam jangkauan tangan untuk dipetik. Saya suka sekali berjalan-jalan di sekitar kebun mertua, apalagi saat cherry dan apel berbuah. Rasanya nikmat memetik buah langsung dari pohon dan merasakan sensasi kesegaran buah yang baru dipetik. Buah apel dari kebun mertua tidak ada tandingannya… tekstur buahnya renyah dan rasanya manis.
Di seputar pohon buah ditanami berbagai sayur-mayur, berjenis selada, dan rempah-rempah. Mau onion? Ada. Bawang putih? Tidak pernah membeli dari toko. Wortel, buncis, brokoli, kol, paprika, spinach…biasanya selalu ada di kebun. Giliran sih, tergantung musim. Karena beberapa jenis sayuran hanya tumbuh di musim tertentu. Oia, jangan lupa ada strawberry juga. Yang kalau berbuah, buahnya sangat juicy dan ranum.
Si sisi lain, masih di depan rumah, ada koleksi mawar ibu mertua. Musim semi adalah waktu terbaik untuk menikmati keindahan bunga-bunganya. Cuti Oktober kemarin saya dibuat terkagum-kagum oleh keanekaragaman warna dan ukuran kelopak bunga mawar di situ. Ada warna putih, semi pink, pink, jingga, merah marun, merah rouge, kuning, ungu, dll dengan kelopak bunga rata-rata berukuran besar.
Di sisi lain lahan, ada sebidang kebun anggur. Sudah 3 tahun berturut-turut kebun itu setiap tahunnya menghasilkan sekitar 200 liter wine. Lagi-lagi tidak untuk dijual. Untuk konsumsi sendiri. Tidak heran, di rumah mertua wine adalah minuman pelengkap (kalau bukan minuman utama) di setiap makan siang dan makan malam.
Beberapa meter dari kebun anggur ada kandang ayam yang luas dengan sekitar 10 – 15 ekor ayam yang gemuk berlarian kesana-kemari. Pakannya sederhana. Apa yang tersisa dari dapur, entah itu potongan sayur atau sisa makanan, langsung diberikan untuk pakan ayam. Ditambah sayuran segar dari kebun dan air minum di kandang yang selalu diganti setiap hari. Kadang, jika diperlukan ditambah pakan biji-bijian. Tiap pagi mertua mengumpulkan sekitar 5 – 8 telur ayam segar dari kandang. Biasanya setiap 3 – 4 bulan sekali, ayam-ayam yang sudah tua dipotong dan diganti dengan ayam yang baru.
Agak jauh dari kandang ayam, ada 3 ekor sapi milik mertua juga. Setiap 6 – 8 bulan sekali mertua memotong 1 ekor sapi yang dagingnya dibagi dalam porsi kecil-kecil dan disimpan di freezer.
Bagian belakang rumah juga penuh dengan aneka ragam tanaman, sebagian besar bunga-bunga. Ada juga pohon-pohon cemara yang ditanam dalam barisan yang rapi yang berfungsi sebagai penahan angin atau istilahnya wind breaker.
Yup. La Buona Vita. Hidup yang Baik.
Membuat saya juga ingin suatu saat punya kehidupan seperti itu. Hidup yang Self Sufficient. Memenuhi sebagian besar kebutuhan (dapur) dari lahan sendiri. Hidup sehat karena kita benar-benar tahu apa yang kita masukkan ke mulut + perut. Hanya saja, kehidupan seperti itu berbanding lurus dengan kerja keras. Di kediaman mertua semuanya dikerjakan sendiri. Jangan berharap ada pembantu atau tukang kebun seperti kemewahan yang bisa kita nikmati di Indonesia.
Pengen. Suatu saat nanti. Kalau bisa sih di Indonesia saja… (biar masih bisa punya tukang kebon buat bantu-bantu, huahahahaha…)
Rainbow Family
Seandainya keluarga besar Pak Kastubi semuanya bisa berkumpul, termasuk dengan para besannya, maka akan terlihat berbagai suku bangsa jadi satu. Seperti pelangi.
Ke-pelangi-an keluarga kami dimulai dengan bapak yang menikah dengan perempuan Dayak. Sehingga anak-anaknya menjadi anak JaYa alias Jawa-Dayak. Saya sendiri sih jujur tidak merasa sebagai orang Jawa. Bukan karena saya tidak mengakui suku asal bapak saya, tapi karena saya dan saudara-saudara saya memang tidak dibesarkan dalam kultur Jawa. Lah, Bahasa Jawa saja yang kami tahu sampai dengan SMP hanya menghitung 1 – 10 dalam Bahasa Jawa ngoko. Di luar itu kami lebih akrab dengan kultur Melayu dan Dayak.
Identitas kami sebagai suku Jawa mungkin hanya di atas kertas. Dalam artian, kalau mengurus SIM, SKCK dan semacam itu kan harus mencantumkan suku. Nah, saya biasanya bingung mau ‘mengklaim’ diri saya sebagai suku apa…Pengennya sih sebagai ‘Dayak’ atau ‘Melayu’ sesuai dengan kultur saya dibesarkan, tapi petugasnya biasanya bertanya, “Lah, bapak kamu sukunya apa?” Yaa…karena sebagian besar suku di Indonesia menganut sistem patrialistik, di atas kertas selalu tertulis bahwa saya adalah suku Jawa.
Adik perempuan saya menikah dengan lelaki Menado sehingga anaknya menjadi Menado-Jawa-Dayak. Kakak perempuan saya menikah dengan lelaki Jawa (nah, kalau kakak sih nanti anaknya menjadi Jawa 75% dan Dayak 25%, hehehehe…).
Saya? Menikah dengan lelaki berkewarganegaraan Australia tetapi keturunan Italia. Jadi, kalau punya anak kelak suku bangsa anak kami akan lebih campur-aduk: Italia-Australia-Jawa-Dayak-Indonesia. Hahahahaha… gado-gado banget!
Enaknya menjadi anak dari pasangan Pak Kastubi & Ibu Adriana Kartia, kami tidak dituntut untuk mempertahankan identitas kesukuan. Alias tidak ada preferensi anak-anak mereka harus menikah dengan suku tertentu. Lah, yang namanya cinta dan suka memang seharusnya tidak mengkotak-kotakan warna kulit-ras-suku-bangsa, bukan? Orangtua kami selalu mengatakan, yang paling penting adalah anaknya bahagia dengan pilihannya. Orangtua yang cukup demokrat, menurut saya:)
Masih ada dua orang adik lelaki saya yang belum menikah. Dan saya menanti-nanti apakah adik-adik saya itu akan juga berpartisipasi dalam perluasan ke-pelangian- keluarga kami, hehehehe…


