Tinggal di Negeri Chinggis Khaan
February 2, 2012 at 8:27 am 8 comments
Beberapa teman bertanya kepada saya via jejaring sosial atau bbm , “Kamu sekarang lagi dimana?” Tiap kali saya jawab saya sekarang di Mongolia, tepatnya di Ulaanbaatar (atau biasa juga disebut Ulan Bator), teman yang bertanya kemudian berkomentar lagi, “Enaknya yang jalan-jalan melulu…”
Oho…saya memang doyan jalan-jalan. Tapi kali ini saya di negeri seberang bukan dalam rangka jalan-jalan doang. Terhitung sejak bulan November 2011 kemarin saya dan suami resmi menambah jumlah populasi di Ulaanbaatar, setidaknya sampai dua atau tiga tahun kedepan. Suami dapat job di sini ceritanya, dan sebagai istri yang baik *ehm * saya tentu ikut dong…
Bagi yang masih asing dengan Mongolia, saya mau cerita sedikit tentang negeri ini…hasil mengutip informasi dari beberapa sumber, termasuk Om Wiki[pedia], dan pengalaman saya tinggal di sini, setidaknya pengalaman dua bulan terakhir.
Negara Mongolia terletak di Asia Tengah, berbatasan dengan Siberia di sebelah Utara dan China di sebelah Selatan. Dengan luas area 1.565.000 km², Mongolia sedikit lebih luas dari Alaska. Total populasi hanya sekitar 3 juta jiwa dan hampir separuhnya tinggal di Ulaan Baatar, ibukota sekaligus kota terbesar (dan termodern kali ya?) di Mongolia. Bahasa yang digunakan adalah Bahasa Mongol (yang selain susah bahasanya, abjadnya – yang disebut Cyrillic– beda pula dari abjad latin *huaaa…*). Mayoritas Mongolian pemeluk agama Budha dengan sedikit persentase penduduk memeluk agama lain (Islam, Shaman dan Kristen). Bangsa Mongol dulu terkenal sebagai bangsa yang nomadic alias berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain dan sampai sekarang masih ada yang menjalankan tradisi sebagai nomaden walaupun sebagian besar sudah menetap.
Mungkin ada yang langsung terpikir tentang Gobi Desert kalau mendengar tentang Mongolia. Padahal Mongolia is not only about the Gobi Desert… Mongolia terkenal juga sebagai penghasil cashmere (harganya jangan ditanya ya…muahal pokoknya). Untuk penyuka traveling di country side, Mongolia juga asyik untuk dijelajahi. Mau lihat unta berpunuk dobel? Datang aja ke negeri Chinggis Khaan ini. Sayang saya dan suami datang pada saat sudah winter, jadi belum ada kesempatan berjalan-jalan ke country side. Mongolia juga kaya akan mineral. Menurut artikel yang saya baca baru-baru ini, pemerintah Mongolia sudah mengeluarkan sekitar 3,000 mining license dan saat ini ada banyak perusahaan tambang skala besar sudah beroperasi di Mongolia, terutama di daerah Gobi. Diprediksi, dengan kekayaan mineral yang ada dan populasi yang tidak terlalu besar, dalam 10 tahun ke depan Mongolia bisa menjadi the next Brunai atau the next Dubai, dalam artian menjadi Negara kecil nan makmur.
Bagaimana dengan Ibu Kotanya sendiri? Hmm, Ulaanbaatar atau UB is not too bad lah untuk tinggal. Sebagaimana halnya ibu kota Negara lain, di UB bertaburan mall, restoran, tempat hangout, dll. Dibanding dengan Tembagapura, the mining town, tempat saya tinggal dan bekerja selama hampir 8 tahun sebelum pindah ke Mongolia, UB jelas menawarkan lebih banyak fasilitas.
Beberapa tantangan untuk saya selama tinggal di sini dua bulan terakhir ini di antaranya adalah musim dinginnya. Ketika kami pertama kali datang di UB bulan November lalu, temperatur di luar “hanya” -12˚C (minus ya bow!!). Berjalan keluar dari gedung airport menuju parkiran yang dilihat di sekeliling hanya lapisan es… Dinginnya jangan ditanya walaupun saya dan suami sudah persiapan dengan “perlengkapan perang” seperti kupluk, jaket, baju berlapis, sarung tangan, dan scarf. Tapi untuk orang yang biasanya tinggal di Negara tropis, -12˚C tetep aja duingin banget ya bokk…! Coba deh cek setting-an freezer di rumah masing-masing, nyampe gak -12˚C? Jangan salah ya….untuk orang Mongol mah -12˚C masih dibilang “warm” soalnya temperatur bisa sampai -40˚C. Brrrr…dah pokoknya! Pada saat saya menulis postingan ini, saya cek di sini temperatur siang hari -19˚C dan tar malam -36˚C. Musim dinginnya juga lama aja ya bok…dari bulan Oktober sampai sekitar bulan Maret, alias 6 bulan!
Polusi di UB juga cukup tinggi, terutama (lagi-lagi) pas musim dingin karena orang lokal yang tinggal di ‘ger’ (rumah tradisional Mongolia yang bentuknya seperti tenda) yang tidak pakai fasilitas central heating biasanya membakar apa saja (batu bara, kayu, bahkan mungkin ban bekas) untuk menghangatkan rumah mereka. Alhasil, kalau kita keluar rumah sore hari, mulai dari jam 6 sore sudah tercium bau asap. Jadi kalau jalan kaki di luar sore/malam hari siap-siap dapat bonus bau asap yang melekat erat di rambut dan pakaian yang dikenakan. Traffic-nya juga cukup parah. Jalanan yang gak begitu lebar dipenuhi mobil yang saling berebut tempat. Toet-toet klakson menambah rame jalanan yang sudah full kendaraan. Yang bawa mobil juga seringkali gak mau mengalah, masing-masing pengen jalan duluan. Hasilnya? M.A.C.E.T.!! Di minggu pertama saya di UB, kami dibawa oleh seorang officer dari kantor suami untuk melihat-lihat beberapa fasilitas di seputar kota UB. Dengan naik mobil tentunya. Di beberapa ruas jalan mobil kami hanya bisa merayap perlahan, sementara waktu untuk sight seeing juga terbatas. Akhirnya supir kendaraan yang kami tumpangi ambil jalan pintas…mengemudikan mobil di pembatas jalan untuk bisa menyalip mobil di depannya. Saya agak terbengong sesaat, kemudian saya bertanya pada officer yang menemani kami, “Is it common for you to drive this way?” Dia menjawab, “You know what? Mongolians used to ride horses to go everywhere. So now, we drive our cars as if we ride our horses” (alias gak pake peraturan lalu lintas). Hahaha, it was such an honest answer.
Oh ya, kenapa postingan ini saya beri judul “Tinggal di Negeri Chinggis Khaan”? Karena Chinggis Khaan (atau Jenghis Khan) adalah figur pahlawan yang amat popular di Mongolia. Beliau adalah pendiri kekaisaran pertama di Mongolia. Kalau berkunjung ke alun-alun kota yang disebut Sukhbatar Square, kita bisa melihat patung raksasa Chinggis Khaan. Pun di area Zaisan, Anda bisa melihat patung om Chinggis berwarna perak yang besar dan tinggi menjulang naik kudanya yang juga berwarna perak.
Itu sedikit cerita tentang kota tempat saya tinggal sekarang. Bagi saya, ini pengalaman berharga…tinggal di negeri asing dengan budaya dan bahasa yang sangat berbeda. Saya nikmati saja.
Entry filed under: Travelling & Places. Tags: .






1.
yustine | February 2, 2012 at 9:59 am
hahahah… itu sapi serius nyebrang jalan? itu di kota apa di zoo sih kak? kekekkeke… keep posting ya…biar update, begitu (padahal sendirinya juga jarang-jarang posting di blog) ^_^ hihihihiih
2.
yeniunique | February 2, 2012 at 10:53 am
Hahaha, beneran! Kita liat sapi nyebrang jalan itu pas dalam perjalanan dari airport ke pusat kota. Ok deh, aku usahain tetep posting. Biasanya kalo lagi rajin bisa publish 2 ato 3 post sehari, trus lama berhibernasi, hihihihi….
3.
winarti_tia@yahoo.com | February 2, 2012 at 12:07 pm
mantap yen…..ditunggu the next
4.
yeniunique | February 2, 2012 at 12:16 pm
Makasih ye Kak Tia
.
5.
eka dewi | February 2, 2012 at 2:03 pm
woooow…ga beku mbak disana…qiqiqiqi..
6.
yeniunique | February 2, 2012 at 2:14 pm
Hahaha…kalo nekat keluar rumah dengan celana jeans dan kaos lengan pendek sama pake sandal jepit doang sih dijamin beku dalam 5 menit :p. Tapi kalo pake perlengkapan perang yang cukup, masih bisalah jalan-jalan di luar
.
7.
pungky | March 25, 2012 at 7:30 am
Wah, berbakat jd penulis nih.. Jadi travel’s writer aja, nik…soulnya dapet… :p Poto2nya jg lumayan. Ditunggu postingan berikutnya! Woohooo….
8.
yeniunique | April 27, 2012 at 1:55 pm
Hi Pungky…gak nyangka dirimu nyasar di blog-ku, hehe. Thanks comment-nya, aminnn…one day mungkin aku bisa jadi travel’s writer