Archive for August, 2009

A Call from an Old Friend

Yup. Hari Minggu kemarin aku dapat telepon dari Ika Enjarningtyas, teman waktu di SMA Van Lith yang sudah hampir 12 tahun gak pernah kontak.

Surprise! Gak nyangka bisa ngobrol lagi dengan teman lama.

Ika yang menelponku kemarin masih tetap cerewet seperti jaman SMA dulu (piss Ka! :-p) . Tapi karena kecerewetannya itu seingatku waktu SMA dulu dia punya banyak teman. Ika juga tergolong cuek dan pe-de walaupun dulu sering dibilangin ‘jemuran lewat‘ karena kulitnya yang agak gelap.  (Kalau kemarin sih dia bilang kulitnya sudah lebih terang. Rahasianya apa Ka? Hehehehe…)

Anyway…kita ngobrol ngalor-ngidul, termasuk bernostalgia…mengingat masa-masa SMA. Menanyakan kabar si A bagaimana, ngobrolin si B yang sudah menikah dan punya anak…dll. Ada kali ½ jam-an kita ngobrol yang akhirnya disudahi karena aku mau menyetrika dan Ika mau mencuci baju… Thanks for calling, Ika. It was great to talk to you. Kapan-kapan giliran aku yang nelpon kamu deh ya…

Senang rasanya bisa mengobrol lagi dengan teman lama. Appreciation goes to Facebook… karena bisa kontak-kontakan dengan Ika lagi juga berkat FB. Di situ kita sempat tukaran nomor HP.

Gara-gara telponan sama Ika kemarin, trus sempat ketemuan sama Gita di Jakarta Juli lalu, aku jadi semangat mau ikut reunian angkatan 5 yang digagas oleh…kalo gak  Djowo ya si Ken alias Octave (lupa deh…tar cek milis lagi). Rencananya sih tahun depan, di Bali. Mudah-mudahan kesampaian bisa ikut. Pengennn…bisa ketemu lagi sama teman-teman VL yang lain. Penasaran masing-masing udah kayak apa…

Semoga rencana reuniannya bisa terlaksana.

August 31, 2009 at 5:11 am Leave a comment

Burung-Burung Kecil Itu..

Setiap pagi sekitar jam enam sampai enam tigapuluh, pada saat aku sedang berkaca dan bersiap untuk berangkat ke kantor (dan tentunya  jika hari sedang tidak hujan), terdengar nyanyian riang burung-burung kecil. Bercicit-cuit merangkai simfoni. Suaranya seolah datang dari dekat jendela kamar. Selalu. Layaknya sebuah rutinitas, hanya saja tidak membosankan.

Pagi ini. Pagi kemarin. Juga ratusan pagi sebelumnya.

Bahkan sore hari jika cuaca cerah dan aku pulang ke rumah saat masih terang, nyanyian riang sang burung-burung kecil seolah menyambutku melangkahkan kaki ke rumah. Mengantarku untuk rehat dari penatnya aktivitas seharian di kantor.

Karena penasaran, pernah diam-diam coba kuperhatikan burung apa gerangan yang bernyanyi begitu riang. Salah satu yang bisa kulihat adalah burung kecil berwarna hitam dengan saputan warna oranye di bagian dadanya. Terbang dengan lincah kesana-kemari sambil terus ramai berkicau. Entah burung apa namanya. Aku sebut saja mereka si burung riang.

Bernyanyi. Berdendang. Menari di ranting-ranting pepohonan. Kadang hinggap sejenak di pinggir jendela untuk kemudian terbang lagi ke tempat lain. Sungguh tak ada beban.

Membuatku kadang merasa iri akan betapa bebasnya hidup mereka. Tidak ada yang mengganggu. Tidak ketapel anak-anak. Apalagi senapan yang mengancam nyawa mereka. Hidup mereka hanya untuk bernyanyi, bergembira dan berkembang biak. Toh makanan juga sudah disediakan oleh alam.

Tidak perlu repot seperti ibu-ibu di kota tambang ini yang harus setiap hari datang ke family shopping untuk sekedar melihat apakah ada sayuran segar dijual di sana atau apakah stok mie instan dan tepung terigu masih ada. Tak perlu juga berharap cemas seperti kami para penghuni kota yang stuck di gunung ini yang tak tahu kapan jalan turun gunung aman dari dor-doran. Tak juga harus kuatir kapan akhirnya bisa berangkat cuti dengan aman dan nyaman untuk bertemu keluarga di luar sana.

Burung-burung kecil itu tak perlu berada dalam situasi seperti kami di lebih dari 40 hari belakangan ini.

Mereka bisa tetap bernyanyi dan bergembira karena tak ada yang memporakporandakan perasaaan aman mereka.

Teruslah bernyanyi wahai burung-burung kecil. Biarlah dengan riangmu kami bisa merasa sebebas dirimu…bebas untuk pergi kemana kami suka dan bebas dari situasi kami sekarang ini…

August 28, 2009 at 10:56 pm Leave a comment

Dingin Sekali Pagi Ini…

Tidak seperti biasanya, pagi ini terasa sangat dingin. Ujung-ujung jemari terasa agak kaku dan menggeletar. Coba kuhangatkan dengan cara meniup-niup ujung jemari dengan udara dari mulut. Jaket tebal yang membungkus tubuh tak sanggup menghangatkan kulit di baliknya. Secangkir kopi panas yang sudah habis kutenggak hanya mampu menghangatkan sesaat, dan kini kembali dingin menyerang. Padahal di luar sana mentari tampak bersinar cerah di atas bumi Tembagapura yang biasanya berkabut. Hanya berjarak sekian meter dari dalam kantor tempatku sekarang duduk dan coba berkonsentrasi. Apakah sebaiknya aku keluar saja bercanda dengan sinar mentari? Mencoba meraih sedikit hangatnya untuk mengalahkan udara dingin yang menyelimuti diri ini?

Ah…

Andaikan bisa kubergelung saja di rumah. Pasti enak sekali berbaring diam-diam di bawah selimut tebal.

Bersamanya. Dalam pelukannya.

August 27, 2009 at 11:35 pm 2 comments

Determination

Salah satu kata favorit suami adalah determination. Dia bilang (dan aku setuju) kalau orang-orang sukses, entah itu para pebisnis, atlet, penulis, orang-orang yang bekerja di bidang seni, biasanya adalah orang yang mempunyai determination tinggi sehingga mereka bisa mencapai apa yang mereka inginkan.

Hasil intip-intip di kamusnya om Oxford, salah satu arti kata determination adalah the quality of being firmly committed to doing something. Dalam Bahasa Indonesia kosakatanya menjadi determinasi kali ya? Kalau mau dijabarkan dalam Bahasa Indonesia, determinasi artinya keinginan kuat yang dibarengi dengan komitmen dan kerja keras untuk mencapai suatu tujuan.

Keinginan. Komitmen. Kerja keras.

Tiga kata & frasa yang gampang diucapkan tapi susah untuk dilaksanakan.

Kalau mau kilas balik, kapan ya terakhir kali aku punya determinasi untuk mencapai sesuatu?

Mungkin yang pertama yang layak kucatat adalah waktu jaman kuliah dulu. Aku punya keinginan untuk bisa lulus tepat waktu dengan IPK yang bagus (bagus di sini ukuranku adalah minimal 3.5). Keinginanku itu termotivasi juga oleh tuntutan PBS Keuskupan Ketapang, semacam yayasan dimana aku dapat beasiswa untuk kuliah, yang memberiku target IPK minimal 3. Sebenarnya sih bukan tuntutan juga… lebih berupa tantangan dari pengurus PBS yang namanya Pak Apheng Arpeles. Dalam suatu kesempatan kunjungan ke Jojga, Pak Apeng pernah menantangku untuk lulus tepat waktu (4 tahun) dengan IPK minimal 3. Tantangan itu kusambut dengan sepenuh hati dan tantangan itu pula yang membuatku berkomitmen serta bekerja keras semampuku untuk kuliah sebaik-baiknya dan dapat IP setinggi-tingginya. Dan walaupun dengan jatuh bangun, pada bulan July 2002 aku berhasil menyelesaikan skripsi dan maju pendadaran. Aku lulus kurang sedikit dari 4 tahun dengan IPK seperti target. Di atas target malah. Alhamdullilah.

Lulus kuliah aku diterima bekerja di sebuah hotel resor di daerah Borobudur yang tamu-tamunya rata-rata orang asing. Aku bekerja sebagai trainer Bahasa Inggris untuk karyawannya. Baru bekerja kira-kira 7 bulan, aku dihadapkan dengan realita kalau adik nomor 4 harus masuk kuliah. Dan aku ingin sekali bisa membantu bapak untuk membiayai kuliah adik. Gaji yang aku terima sewaktu bekerja di resor itu sih cukup untuk hidupku dari bulan ke bulan, tapi tidak cukup untuk biaya kuliah yang cukup mahal. Pusing juga memutar otak, dimana bisa dapat pekerjaan dengan gaji yang memadai.

Kesempatan memang kadang datangnya tanpa diduga apalagi direncanakan.

Pada acara kumpul-kumpul anak Ketapang di asrama Bedayong, Jogja, aku bertemu dengan Pak Markus Mardius yang bekerja di salah satu perusahaan tambang di Papua. Kabarnya gaji di perusahaan tempat Pak Markus bekerja itu cukup tinggi. Tentunya menggiurkan buat aku yang desperate pengen kerja dg gaji yg lebih tinggi buat bantu biayain kuliah adik. Aku tanya Pak Markus, kira-kira ada lowongan gak di Papua. Pak Markus bilang, kayaknya group Language Training lagi butuh instruktur tuh! Dia juga memberiku alamat email dan nomor telepon orang yang bisa dihubungi di Language Training.

Kemudian aku mengirim lamaran & CV untuk menjadi instruktur Language. Sesudah di-interview melalui telepon, aku dinyatakan lolos ke babak selanjutnya yaitu psikotes dan tes Bahasa Inggris. Tempatnya? Di Jakarta, dan harus di Jakarta. Weits… gimana caranya aku ke Jakarta? Gak mungkin minta ijin dari tempat kerjaku saat itu untuk melakukan tes masuk ke perusahaan lain kan?

Berpikir. Mencari akal. Mengatur strategi bagaimana supaya tetap bisa ke Jakarta untuk tes, tapi juga tidak merugikan tempat kerjaku. Untungnya di resor tempatku bekerja itu ada peraturan, kalau karyawannya masuk kerja pada hari libur nasional, karyawan tsb. berhak mengajukan libur 2 hari. Kebetulan minggu-minggu aku diminta untuk tes di Jakarta itu ada libur nasional hari Kamis kalo gak salah. Aku masuk kerja. Kemudian mengajukan untuk mengambil libur 2 hari di minggu berikutnya, hari Senin & Selasa. Syukurnya pengajuan hari liburku disetujui oleh boss. Hari Minggu aku berangkat ke Jakarta dengan naik kereta. Di Jakarta menginap di kosnya Mbak Susy, kakaknya mantan pacar. Minggu malam Mbak Susy mengantarku naik bis lewat tempat tes, kata dia supaya besoknya aku udah bisa berangkat sendiri karena dia kerja jadi gak bisa ngantar. Thanks a lot, Mbak Susy :) . Hari Senin ikut psikotes yang dikenal dengan tes SHL, disusul hari Selasa ikut English Test. Perasaan sih lancar-lancar saja. Selasa malam aku balik ke Jojga naik bis (tiket pesawat mahal bok!!). Sampai di Jogja hari Rabu jam 5 pagi, gak pakai istirahat lagi langsung mandi dan siap-siap untuk masuk kerja lagi.

Sekitar 3 minggu sesudah tes, aku dikontak lagi dan dinyatakan lolos tes! Waah…seneng banget rasanya waktu itu. Laporan sama orang tua bahwa aku akan bekerja di Papua. Ibuku sempat cemas karena situasi Timika yang saat itu sedang ada konflik pemekaran wilayah. Tapi aku tetap bertekat untuk berangkat ke Papua, walaupun tidak ada bayangan tempat kerjaku itu nantinya seperti apa. Dan jadilah, Agustus 2003 aku berangkat untuk mengadu peruntungan di Papua.

Aku pikir perjuangan untuk bisa tes di Jakarta sampai akhirnya diterima dan bekerja di Papua juga merupakan bentuk determinasiku sesudah masa kuliah.

Kalau sekarang?

Nah, itu dia. Keinginan, semangat menggebu-gebu dan kerja keras untuk mencapai sesuatu seperti yang kupunya dulu kayaknya sudah luntur. Barangkali karena sudah merasa berada di comfort zone? Zona kenyamanan yang membuat orang enggan untuk bergerak? Dengan gaji yang kuterima tiap bulan (cukuplah untuk kebutuhan sendiri sama biaya kuliah adik bungsu), ditambah dimanja dg fasilitas akomodasi, makan dan transport yang gratis, membuatku enggan untuk mencari tantangan baru. Padahal kalau dipikir-pikir, pekerjaanku sekarang ini lebih berfokus pada doing day to day routine aja. Tantangannya sih ada… tapi lebih ke tantangan yang memang udah biasa, seperti misalnya bagaimana untuk mencapai target jam training. Dari segi gaji juga, sebenarnya masih banyak perusahaan lain yang bisa memberikan gaji lebih tinggi. Yang diperlukan hanyalah niat dan usaha untuk keluar. Itu aja.

Kadang ada keinginan untuk keluar dari comfort zone yang sekarang dan mencoba sesuatu yang baru di luar sana. Membuat bisnis sendiri misalnya. Tapi keinginan itu gak cukup kuat sehingga akhirnya ya sampai saat aku menulis ini, aku masih di tempat kerja yang sama seperti 6 tahun lalu.

Kalau kata suami sih, determinasi-ku kurang. You haven’t got the fire…gitu kata dia.

Atau, kita punya determinasi karena faktor luar? Kayak misalnya, aku punya komitmen untuk lulus kuliah tepat waktu dengan IPK di atas 3 karena ditantang oleh Pak Apheng Arpeles? Atau aku punya keinginan super kuat untuk bisa bekerja di Papua karena merasa berkewajiban membantu orang tua membiayai kuliah adik?

Barangkali sekarang aku juga membutuhkan faktor luar, entah dalam bentuk apa, supaya aku punya determinasi lagi untuk bisa keluar dari zona kenyamananku sekarang… supaya bisa lebih maju lagi. Pengennya suatu saat nanti bisa jadi boss untuk diri sendiri. Supaya bisa mengatur jam kerja sendiri dan bisa lebih enjoying life.

Lagi-lagi untuk bisa jadi boss untuk diri sendiri modal awalnya adalah keinginan, komitmen dan kerja keras. I am still looking for that.

August 22, 2009 at 7:47 am 8 comments

Ngelunasin Utang

Akhirnya…utangku udah lunas. Utang nulis lanjutan cerita buat temen :)

Tadi pagi, ngabisin waktu sekitar 2 jam buat nulis lanjutan cerita… dan udah aku kirim via email.

Sekarang lagi mikir buat postingan berikutnya. Ada banyak ide…tinggal mencari waktu buat menuangkan ide itu dalam bentuk kalimat saja.

August 22, 2009 at 4:46 am 1 comment

Met Ultah ke-64, Negeriku Tercinta

Peringatan hari kemerdekaan RI biasanya selalu dirayakan secara meriah, dimana-mana, tidak terkecuali di lingkungan PT Freeport Indonesia. Setiap tanggal 17 Agustus perusahaan tempatku bekerja ini tidak pernah ketinggalan mengadakan upacara bendera, lengkap dengan pasukan paskibra dan marching band. Selain upacara, panitia selalu mengadakan berbagai acara lain seperti perlombaan dan hiburan.

Kemarin, tgl. 17 Agustus 2009, untuk pertama kalinya selama 6 tahun aku tinggal dan bekerja di Freeport Tembagapura, aku ikut upacara bendera. Tahun-tahun sebelumnya kok tidak ikut? Ya…banyak alasannya…kadang karena bentrokan dengan cuti, kadang ya karena karena memang tidak pengen ikut :)

Cukup banyak karyawan FI, siswa-siswi YPJ (nama sekolah dari jenjang TK – SMP yang disediakan untuk anak karyawan), dan tamu undangan yang ikut ambil bagian dalam upacara tsb. Dengan dinaungi awan yang agak gelap dan diselimuti kabut, upacara bendera di lapangan sepak bola Tembagapura itu jadi tidak begitu membuat capek, ya maksudnya dibanding kalau cuacanya panas, hehehehe. Di salah satu sudut lapangan tampak asap kemenyan terus mengepul dari tenda pak Pawang Hujan. Peran pak Pawang memang besar untuk acara-acara outdoor yang diselenggarakan di Tembagapura. Dan pastinya tantangan Pak Pawang juga tidak kecil secara hujan sudah menjadi bagian sehari-hari di Tembagapura. Beberapa petugas keamanan dengan senjata tampak juga berjaga-jaga di sekitar tempat upacara.

Berdiri di barisan paling depan, aku bisa menyaksikan dengan jelas seluruh rangkaian upacara bendera. Saat-saat yang paling mengharukan tentu saja pada saat pengibaran bendera oleh Paskibra. Derap langkah mereka saat memasuki lapangan upacara, membentuk formasi dan mengibarkan bendera membawaku kepada kenangan semasa SMP dan SMA ketika aku berkesempatan menjadi bagian Paskibra juga. Ketika bendera merah putih dinaikkan dengan diiringi lagu Indonesia Raya, terasa bulu kuduk merinding. Mungkin karena sudah lama tidak menikmati momen seperti itu kali ya?

Selesai upacara bendera dilanjutkan dengan pertunjukan kolosal di lapangan itu juga yang mengisahkan sejarah Indonesia sejak jaman Majapahit hingga deklarasi kemerdekaan oleh Soekarno – Hatta. Pertunjukan Barongsai dan Kuda Lumping ikut memeriahkan acara. Plus ketika waktunya makan siang, yang hadir di lapangan dapat jatah nasi kuning. Sedap…

Malam harinya perayaan hari kemerdekaan dilanjutkan dengan pentas seni yang dimeriahkan beberapa artis ibu kota: Rini Indonesian Idol, Kiki & Angel Idola Cilik, dan gong-nya adalah penampilan Reza Arthamevia. Hari ini, 18 Agustus, masih dilanjutkan dengan pentas artis yang didominasi lagu-lagu dangdut (pentas tadi malam zero dangdut).

Sebelum acara puncak tadi malam, sebenarnya perayaan hari kemerdekaan di Tembagapura sudah dimulai dari tanggal 1 Agustus lalu dengan aneka acara kota, bazaar dan pesta kembang api. Tanggal 2 Agustus dilanjutkan dengan pentas Yovie‘n The Nuno yang berhasil membuat penonton ikut menyanyi dan jingkrak-jingkrak di lapangan walaupun diwarnai hujan rintik-rintik. Tanggal 16 Agustus giliran acara untuk anak-anak yang dimeriahkan oleh Kiki & Angel jebolan Idola Cilik. Pokoknya meriah abis deh! Big appreciation untuk para panitia yang udah bekerja keras untuk membuat acara semeriah itu di tengah situasi ‘sulit’ seperti sekarang.

Di balik kemegahan dan kemeriahan perayaan 17 Agustus, terlintas pertanyaan di benakku: apakah sebenarnya kita sudah benar-benar merdeka? Rasanya kok belum ya? Kalau mau jujur, secara umum bangsa kita masih dihantui berbagai macam ancaman. Kita masih belum merdeka dari ancaman teror bom. Masih belum merdeka dari krisis ekonomi. Masih belum bebas dari kemiskinan. Dan khusus untuk area Freeport Papua, kami belum bebas dari ancaman gangguan keamanan yang bisa terjadi sewaktu-waktu, seperti pada saat aku menulis ini.  

Terbersit setitik pengharapan…semoga dengan bertambahnya usia, negara kita juga semakin menuju ke kemerdekaan yang sejati. Kemerdekaan yang bisa dirasakan oleh semua warga Negara…kemerdekaan yang bisa mewujudkan keadilan & kesejahteraan sosial. Semoga demikian…

Met Ultah negeriku…

August 18, 2009 at 7:51 am Leave a comment

Saving Babies

Dua hari lalu, ada program di saluran Australian Network TV yang judulnya Saving Babies. Program yang menampilkan kisah bayi-bayi yang terlahir abnormal serta perjuangan orangtua dan dokter untuk menyelamatkan mereka.  

Ada 3 kasus yang ditampilkan, tapi yang aku ingat dengan jelas ada 2. Yang pertama adalah bayi yang terlahir dari pasangan yang masih terbilang usia remaja. Bayi mereka ini terlahir dengan hampir seluruh organ bagian dalam (usus dll) berada di luar perut. Bayi yang satunya terlahir dengan kelainan jantung parah. Sampai sekarang aku masih merasa merinding kalau teringat bagaimana kondisi bayi-bayi tsb karena terlihat dengan jelas di layar tv.

Untuk bayi yang terlahir dg organ dalam berada di luar perut, begitu diangkat dari perut ibunya (yg melahirkan dg cara caesar) organ yg tidak berada di tempatnya itu langsung dibungkus dengan plastik steril, kemudian dalam hitungan menit dia dibawa ke ruang operasi. Si ibu bayi tsb hanya bisa memberikan ciuman singkat untuk anaknya sebelum her little baby dibawa darinya.

Bayangkan…bayi kecil dan masih lemah yang baru beberapa menit keluar dari kenyamanan perut ibunya sudah harus dibaringkan di meja operasi dan berurusan dengan pisau pisau dan segala macam peralatan operasi. Membayangkannya saja sekarang aku merasa bergidik.

Untuk bayi yang terlahir dengan kelainan jantung parah, treatment-nya sedikit berbeda. Para dokter ahli bedah di situ menunggu si bayi sampai berusia sekitar 8 bulan supaya lebih kuat untuk dioperasi jantungnya. Dan selama 8 bulan itu tentunya si bayi harus dirawat dan diawasi dengan intensif supaya jantungnya masih bisa berdetak.

Kisah selanjutnya adalah tentang bagaimana dokter-dokter ahli tsb. berjuang menyelamatkan si bayi-bayi malang. Tentu saja bukan pekerjaan yang mudah untuk ‘memasukkan’ organ dalam yang tidak pada tempatnya itu ke dalam perut mungil di bayi. Begitu juga dengan proses operasi jantung bayi lain. Peluang bayi-bayi mungil itu untuk selamat hanya 50:50, bahkan mungkin kurang dari itu. Padahal sudah didukung oleh tenaga-tenaga ahli dan peralatan kedokteran yang canggih.

Di luar kamar operasi, orang tua para bayi harap-harap cemas menanti hasil operasi. Berharap semoga anak-anak mereka berhasil diselamatkan dan kemudian bisa menjalani hidup dengan normal, senormal yang mereka bisa. Aku membayangkan bagaimana perasaan para orang tua tsb saat itu, dan rasanya menjadi sangat berempati kepada mereka. That must have been really hard time for them.

Ketika akhirnya ditampilkan bahwa bayi-bayi tsb berhasil melalui proses operasi dengan selamat dan kemudian bisa dibawa pulang, aku yang menonton ikut merasa lega. 

Aku jadi berpikir… bayi-bayi yang ditampilkan di program tsb. setidaknya masih lebih beruntung daripada bayi-bayi yang terlahir dengan kondisi serupa di Indonesia. Mengapa masih lebih beruntung? Karena mereka ditunjang oleh fasilitas yang lebih canggih daripada di Indonesia, dari segi fasilitas kesehatan dan biaya perawatan kesehatan tentu saja. Selain para calon orangtua banyak yang sudah punya kesadaran (dan punya kemampuan) untuk ikut program asuransi kesehatan, pemerintah Aus juga memberikan anggaran yang cukup besar di bidang kesehatan warganya. Sehingga dengan demikian bayi-bayi yang terlahir dengan kondisi tertentu bisa langsung mendapat intensive care & treatment tanpa harus menunggu dapat dana terlebih dahulu. Dengan demikian, peluang mereka untuk bisa diselamatkan juga lebih besar.

Bagaimana dengan di Indonesia? Ah, jadi berandai-andai… kalau saja Negara kita bisa lebih dikelola dengan baik, pasti Negara kita bisa sangat makmur. Kalau Negara kita makmur, harapannya fasilitas dan anggaran kesehatan untuk kita sebagai warganya juga akan lebih baik. Kita sudah sering mendengar kasus bayi lahir dengan tidak sempurna di negeri tercinta ini. Banyak dari bayi-bayi tsb. yang akhirnya tidak terselamatkan karena keterbatasan dana untuk biaya operasi, atau karena minimnya fasilitas kesehatan di Negara kita. Rasanya miris ya?

Efek dari menonton program tsb. buat aku pribadi hubungannya dengan punya anak? Uhh…jadinya tambah berpikir deh kalau the decision for having kids itu resikonya tinggi. What if…?? Semua orang tua tentu ingin punya anak yang sehat dan normal, tapi toh tetap saja ada kemungkinan anaknya lahir tidak seperti yang diharapkan. Loh, kok jadi kayak punya ketakutan begitu ya? Tidak juga sih… Maksudnya kalau kelak sudah mantap untuk punya anak, sebelum hamil udah kudu yakin bener layak tidaknya buat hamil, apakah ada potensi melahirkan anak yang abnormal atau gak, dan kalau sudah lolos ‘uji kelayakan’ (halah!) baru deh mulai programnya, hehehe…

Moral of the story dari program itu? Bahwa life is so precious. Bahwa seperti apapun kondisi anak yang dilahirkan, dia adalah seorang manusia yang punya hak untuk diselamatkan, untuk disayangi, untuk merasakan hidup di dunia. Dan bahwa bagi orang tua mereka, tidak peduli seperti apapun kondisi bayi yang mereka lahirkan, kasih sayang mereka terhadap anaknya tetap utuh. Sekaligus reality check untuk kita semua yang dilahirkan normal tentang betapa beruntungnya kita…sehingga semoga kita tidak akan menyia-nyiakan hidup yang sudah dianugerahkan pada kita ini.

August 15, 2009 at 1:32 am 2 comments

Utang

Gimana rasanya punya utang? Gak enak yach? Utang apapun itu tetap aja jadi pikiran. Termasuk aku yang sekarang masih ada utang…utang janji sama seorang teman untuk menuntaskan sebuah cerita yang baru aku kisahkan separuh ke dia sebelum cuti, awal July kemarin. Dan sekarang sudah hampir pertengahan Agustus.

Maunya sih menyelesaikan cerita itu biar lunas. Tapi yach…belum sempat aja. Butuh waktu buat nulis cerita panjang lebar kayak waktu itu soalnya, hehehe. Alasan lain yang mudah-mudahan cukup masuk akal adalah aku perlu cari mood yang tepat dulu untuk melanjutkan cerita tersebut biar alur kisahnya juga runut dan jelas (emang novel? Hehehe…). Maklum, ini cerita tentang pengalaman pribadi yang gak gampang buat diceritakan.

Janji deh…one day cerita itu akan aku tuntaskan. OK?

August 14, 2009 at 7:46 am 2 comments

Sudah Isi Belom?

Selama 1.5 tahun ini pertanyaan “Sudah isi belom?” menjadi santapanku sehari-hari. Biasanya sih itu menjadi salam pembuka bagi orang-orang yang jarang bertemu atau yang sesekali kebetulan berpapasan entah di jalan atau di shopping. Yang kalau diterjemahkan artinya “Sudah hamil atau belum?”

It’s a personal question, right? Tapi bagi orang kita sih itu sepertinya pertanyaan umum dan dianggap lumrah, sama seperti pertanyaan “Udah makan belum?”

Berbagai macam jawaban sudah aku berikan. Kalau awal-awal baru menikah dulu jawabannya karena masih mau menikmati bulan madu dengan suami dulu dan masih pengen jalan-jalan (yang biasanya dibalas dengan ‘nasihat’: “Jangan lama-lama lho nundanya… tar gak dapet-dapet” Loh…kok malah nakutin?). Dan jawaban aku itu ada benarnya karena dari pengalaman teman-teman yang begitu habis resepsi dan bulan berikutnya langsung “isi”, pasangan tsb. tidak begitu punya waktu untuk menikmati masa-masa berdua dulu. Padahal aku yakin hampir semua pasangan setuju bahwa tahun pertama menikah itu adalah masa-masa penyesuaian antara suami-istri. Untuk yang belum menikah, percaya deh…walaupun udah pacaran bertahun-tahun, yang namanya nikah dan hidup serumah itu sangat beda. Ada hal-hal yang mungkin tidak terlalu kita perhatikan pada masa pacaran, begitu sudah menikah baru kelihatan.  Lebih enak kalau sudah lebih kenal siapa pasangan baru punya anak kan?

Kadang aku juga memberikan jawaban standar seperti “belum dikasih aja…”, atau jawaban nakal “still practicing…”, atau kalau sekarang sih tinggal pasang tampang polos plus bego dan menjawab “udah isi kok…isi nasi tadi”. Huahahaha…!!

Sebenarnya sih, kalau mau jujur nih…keinginan punya baby pasti ada. Suka gemes gitu kalau liat anaknya temen-temen atau liat foto-foto bayi di majalah.  Kadang juga membayangkan kalau aku udah punya anak kayak gimana. Lucu kali ya punya anak hasil perpaduan Barat & Timur. Pasti cakep kayak maknya, hahahaha…! Mudah-mudahan anakku kelak tinggi kayak papanya, mewarisi perpaduan kulit papa-mamanya (biar gak terlalu putih kayak kulit papanya atau terlalu coklat kayak kulit mamanya). Dan the most important thing is…kalau punya anak kelak,  semoga anakku lahir sehat dengan organ tubuh lengkap dan normal. Amin.

Tapi…sayangnya ngomong soal punya anak bukan sekedar produksi bayi-bayi lucu doang. Deep inside masih ada keraguan, udah siap belum ya untuk punya anak? Secara di sini masih pengen kerja, masih pingin jalan-jalan, belum lagi memikirkan aku dan suami eventually akan menetap dimana… Wah, mikirnya aja udah ribet gitu!!!

Trus lagi, aku ngeliat adik perempuanku di Jogja yang punya 2 anak cowok, Kevin dan Gabriel (umur 4 dan 2 tahun). Sekalinya ke mall bawa anak-anak, gembolannya banyak banget! Bawa susu lah, pampers-lah, baju ganti lah…Kalo perlu bawa-bawa termos segala. Plus, jangan lupa…pasti pembantunya juga harus ikutan diajak ke mall. Pergi ke mall kayak orang mau pindahan. Belum lagi pas di mall malah sibuk ngejar-ngejar si Kevin yang lari kesana-sini. Wuaaa…kok kayaknya repot? Padahal rencana kita sebelum punya anak kita mau paling gak udah  mengunjungi sebagian besar daerah di Indonesia dan syukur-syukur udah sempat mengunjungi tanah leluhur suami (Itali). Soalnya kalau udah punya anak rencana kegiatan travelling pastinya terpaksa ditunda dulu sampai anak udah agak besar dan bisa dibawa-bawa. Bisa sih, travelling dengan bayi kalau mau, tapi pastinya lebih repot.

Bottom line is… mungkin memang belum siap mental. Jadinya masih mikir begini-begitu. (Walaupun kata banyak orang kalau mikir siap atau gaknya ya mungkin gak bakal siap-siap. Katanya sih, kalau sudah punya anak ya mau gak mau harus siap.)

Menurut aku dan suami, punya anak berbanding lurus dengan kesiapan lahir batin dan juga komitmen. Harus siap mental, siap finansial, siap dengan pola hidup yang berubah, siap untuk menjadi panutan si anak, dan siap untuk tanggung jawab membesarkan dan mendidik si anak dari bayi orok sampai dewasa. Boleh dibilang punya tanggung jawab seumur hidup. Kalau tidak siap dengan segala tanggung jawab itu ya mending jangan punya anak dulu. Kalau kata host acara ‘Saving Babies’ di Australia Network Channel tadi malam, “having babies is a real life changing”, and that’s absolutely right!

Jadi…kapan baru “isi”? Yach…when we’re ready, lah ya :)

August 14, 2009 at 12:46 am 2 comments

Dangdut – 2

Kemarin siang diberitahu sama kang Neneng alias Iman Nugraha bahwa kami akan jadi latihan. Ok, gak masalah. Sebelum pulang kantor sempat-sempatin print beberapa teks lagu dangdut dan sambil berdendang sendiri (dalam hati,  hehehe…)

Pulang kantor, nyampe rumah siap-siap untuk dijemput buat latihan. Kata kang Neneng yg jemput nanti salah seorang teman dari MRG, entah kang Hasan atau kang Rudy. Sekitar jam 8 malam, kang Hasan datang jemput. Pamitan sama suami, sun jidat doi, trus berangkat.

Sampai di KORKAFRI (restoran yang dikelola oleh koperasi karyawan FI yang punya fasilitas untuk latihan band) pemain musiknya sudah ngumpul, kecuali peniup suling yg kerja shift malam dan pemain keyboard yg katanya mau nyusul. Yang pasti aku masih kenal adalah kang Neneng (penabuh kendang dengan rambut pink-nya) sama Pak Lajaiba (pemain melody). Pemain bass dan drummer-nya aku belum begitu kenal karena terakhir manggung dengan MRG mereka belum main.

Naik ke panggung, ambil microphone, langsung tancap gas dengan lagu ‘Gadis atau Janda’ duet dengan Pak Mualidin. Gak sia-sia 3 hari mendengarkan lagu itu tiap hari… jadi latihan juga lancar walaupun baru pertama kali aku nyanyi tu lagu. Tabuhan kendang kang Neneng yang mantap berpadu dengan petikan melody dari Pak Lajaiba, ditingkahi betotan bass dan alat musik (yg kalau gak salah namanya rebana) dan juga gebukan drum dari pemain musik lain yang sayangnya aku udah lupa nama mereka (padahal tadi malam udah dikenalin…dasar pikun!!) benar-benar mengundang untuk bergoyang.

Selesai lagu ‘Gadis atau Janda’ yang disambut dengan meriah oleh teman-teman MRG dan beberapa orang lain yg kebetulan melihat kita latihan, dilanjut dengan lagu ‘Malam Terakhir’ (duet juga dengan Pak Mualidin), ‘Jablai’, ‘Terajana’, ‘Sekuntum Mawar Merah’, ‘Gantengnya Pacarku’, ‘Poco-Poco’, ‘Kuda Lumping’ dan terakhir lagu ‘Ketahuan’ versi dangdut (duet dengan Mas Gatot). Beberapa teman yang nonton dan ikutan goyang dari bawah panggung semakin menambah semangat buat latihan. Walaupun cengkok dangdut-ku gak canggih-canggih amat dan juga udah hampir 3 tahun gak pernah manggung dangdut, mungkin karena tadi malam aku satu-satunya cewek yang nyanyi jadinya yang nonton tetap pada goyang juga, hehehehe…

Abis latihan beberapa lagu gitu, trus gantian latihan sama mas Gatot (nah kalau cowok yang ini memang asli suaranya melayu abis, cengkok dangdutnya oke punya). Sambil duduk melihat teman-teman latihan di panggung, aku merenung sendiri…ternyata kangen juga ngumpul-ngumpul dan nyanyi-nyanyi gitu. Rasanya asyik aja nyanyi sambil goyang… bisa mengurangi stress dan tentunya hati juga jadi senang.

Penyaluran hobby? Pastinya! Karena semua yang ikut latihan tadi malam tidak bertujuan komersil kok…toh kita nanti manggung dengan imbalan ‘matur-tengkyu’ aja :)

Pengennya bisa menikmati itu dengan suami, dalam artian mungkin lebih asyik kalau pas aku latihan suami nonton gitu maksudnya… (atau malah kebalikannya, kalau ditonton suami malah gak maksimal nyanyinya? Hehehe..). Tapi aku juga sadar dunia perdangdutan bukan untuk suami dan aku juga gak akan maksa dia untuk terlibat. Yang penting dia masih memberikan kebebasan buat aku untuk tetap bergabung dengan teman-temanku.  Aku senang sebelum menikah kita punya komitmen untuk tetap memberikan ruang kepada masing-masing untuk berekspresi dan melakukan kegiatan-kegiatan yang disenangi, tentunya dalam artian yang gak aneh-aneh lah… Makanya dia biasanya oke-oke aja kalau aku ngumpul-ngumpul sama teman-teman walaupun dia gak selalu bisa bergabung. Sebaliknya, aku juga memberi dia kebebasan untuk kumpul sama teman-temannya untuk sekedar having some beer, misalnya (dan biasanya aku juga gak tertarik untuk bergabung karena pasti yang diomongin soal kerjaan di lapangan).

Jam 10 malem kang Hasan mengingatkan kalau udah waktunya aku diantar pulang. Syukurnya teman-teman MRG juga sangat mengerti kalau aku udah berkeluarga dan gak elok kalau pulang terlalu malam walaupun masih enjoy latihan sama mereka.

Sampai di rumah, mendapati suami ketiduran di sofa sambil ditemani TV yang nyerocos sendiri…Duh!

August 14, 2009 at 12:35 am Leave a comment

Kedutan

Dari tadi pagi bagian atas alis sebelah kiri kedutan terus. Dan belum brenti sampai sekarang. Kalau kata Fajar, salah satu instruktur di group Language yang berasal dari Jogja, kedutan di daerah situ tandanya ada yang naksir. Huahahaa… yang bener aja?

Konon, kalau ditinjau dari segi kesehatan kedutan itu merupakan gerak reflek pada syaraf di bagian tertentu tubuh kita, yang bisa kita rasakan tanpa bisa kita kendalikan.

Nah, kalau dari segi klenik? Jadi pengen tahu kedutan diartikan apa… Cari dulu ah… [browsing…browsing…]

Dapet nih dari blog-nya Mahrus (http://mahrus.wordpress.com). Arti kedutan ada di list di bawah. Yang paling mendekati kedutanku hari ini kayaknya #23 deh… “Akan mendapat ketenangan hati”. Emang aku lagi bingung apaan? Hehehe… Boleh percaya boleh enggak sich… kalo aku sendiri semua model ramalan aku ambil yang bagus-bagus aja… kalo gak bagus ramalannya ya gak dipake, hehehehe…

Arti Kedutan:

1. Kedutan di ubun-ubun kepala : Akan mendapatkan kebahagiaan.

2. Kedutan pada bagian kepala sebelan kanan : Akan sakit.

3. Kedutan pada bagian kepala sebelah kiri : Akan mendapatkan kemuliaan.

4. Kedutan pada seluruh kepala : Akan melihat yang aneh-aneh atau ajal sudah dekat.

5. Kedutan pada dahi : Akan mendapat harta atau ilmu pengetahuan.

6. Kedutan pada tengkuk : Akan dicintai orang kaya.

7. Kedutan pada alis mata kanan : Akan berbahagia, tetapi terlebih dahulu mendapat kesusahan.

8. Kedutan pada kelopak mata kanan atas : Akan mendapat keuntungan.

9. Kedutan pada alis mata kiri : Akan bertemu dengan seseorang.

10. Keduatan pada kelopak mata kiri atas : Akan bertemu dengan kekasih/calon kekasih.

11. Kedutan pada kelopak mata kanan bawah : Akan bersedih.

12. Kedutan pada kelopak mata kiri bawah : Akan bersedih hati juga.

13. Keduatan pada ekor mata kanan sebelah atas : Akan sembuh dari sakit.

14. Kedutan pada ekor mata kiri sebelah atas : Akan bertemu keluarga jauh.

15. Kedutan pada ekor mata sebelah kanan bawah : Akan bertemu orang jauh.

16. Kedutan pada ekor mata sebelah kiri bawah : Akan sakit.

17. Kedutan pada biji mata kanan : Akan bersedih hati.

18. Kedutan pada biji mata kiri : Akan bersuka cita.

19. Kedutan pada sekujur hidung : Akan mencium kekasih.

20. Kedutan pada hidung sebelah kanan : Akan lepas dari penyakit.

21. Kedutan pada hidung sebelah kiri : Akan tercapai cita-cita.

22. Kedutan pada pelipis sebelah kanan : Akan mendapatkan kesukaran, kematian dan sebagainya.

23. Kedutan pada pelipis sebelah kiri : Akan mendapatkan ketenangan hati.

24. Kedutan pada telinga sebelah kanan : Akan mendapatkan khabar yang menyenangkan hati.

25. Kedutan pada telinga sebelah kiri : Akan kedatangan keluarga jauh.

August 13, 2009 at 6:17 am 13 comments

Dangdut

Hari Senin tgl. 10 Agustus kemarin aku dapat email dari kang Neneng alias kang Iman, teman dari paguyuban Mitra Riung Gunung (MRG) yang menanyakan apakah aku bersedia manggung lagi dengan mereka di pesta perpisahan salah seorang karyawan yang akan pensiun. Farewell party-nya akan diadakan tgl. 20 Agustus besok. 

Lagunya? Of course lagu-lagu dangdut. 

Musik yang dibawakan MRG memang identik dengan PongDhut alias Jaipong Dangdut. Waktu masih lajang dulu aku sempat beberapa kali bergabung dengan MRG dalam pentas PongDhut mereka. Bukan karena dangdut adalah musik favorit-ku; tapi lebih karena menyanyi di panggung (apalagi panggung dangdut) bagiku adalah salah satu cara mengendorkan saraf yang penat oleh rutinitas. Ditambah lagi orang-orang yang tergabung di MRG juga suka humor sehingga manggung dengan mereka sekaligus bisa untuk relaksasi. Dan jangan salah…menyanyi lagu dangdut dengan benar itu susah lho! Tidak percaya? Buktikan saja sendiri. Kalau tidak banyak berlatih, cengkoknya itu sulit bukan main. Aku jadi suka kagum dengan teknik menyanyi dangdut si Iis Dahlia yang bagi aku keren. Kalau aku sendiri sih cengkok dangdutku belum ada apa-apanya. 

Sesudah menikah, beberapa kali MRG mengajak manggung lagi, tapi belum pernah kesampaian karena biasanya bentrok dengan jadwal cuti atau aku dan suami sudah punya appointment lain. Alasan lain, karena aku sendiri yang mungkin udah agak membatasi diri untuk tidak sering-sering tampil di panggung sesudah menikah. Apalgi kalau nyanyi dangdut biasanya diiringi joged rame-rame (bahkan dulu penonton yang joged sering nyawer juga). Sepertinya kalau udah menikah kok gimana ya…kalau nyanyi, joged, dan disawer gitu. Maksudnya biar jaga perasaan suami gitu deh… Padahal kalau nyanyi dangdut tanpa joged ya kurang afdol. 

Saat Senin kemarin aku tanyakan ke suami keberatan gak dia kalau aku gabung dengan MRG buat manggung dangdut lagi… dia bilang “As long as you like it, go ahead! Just enjoy.” Yuhuii…bisa nih dangdutan lagi, hehehe… 

Ok. Ijin dari suami udah. Sekarang harus membiasakan diri lagi dengerin lagu-lagu dangdut. Jadilah hari-hari belakangan ini di play list lagu-lagu yang kudengerin judulnya seperti “Gadis atau Janda”, “Malam Terakhir”, “Jablai”, trus mengingat-ingat lagi lirik lagu model “Sekuntum Mawar Merah” atau “Terajana” yang dulu pernah kunyanyikan. Trus sambil tunggu jadwal latihan bareng, aku latihan nyanyi-nyanyi sendiri (ya…kalau pas di kamar mandi maksudnya, hehehe…). Tampang juga kalau diliat sekarang udah dangdut abis kali yach? 

Persiapan berikutnya… ngubek-ngubek lemari, nyari baju yang pantas untuk manggung tapi gak terlalu norak. Wah… susah nih! Baju-baju tanpa lengan yang dulu biasa dipake hangout rasanya sekarang udah terlalu seksi buat aku. Jadi berasa jaim gini! Pilihanku akhirnya jatuh di blus kuning berlengan pendek dan nanti dipadankan sama jeans aja. Sama mungkin ditambah aksesoris ikat pinggang lebar. Udah…gitu aja.

 Loh…loh…jadi semangat banget gini persiapannya? Emang mau konser? Hihihihihi…

 Konser atau gak konser aku gak mau malu-maluin juga. Walaupun nanti itu manggungnya lebih kayak buat amal gitu (baca: gak dibayar), hitung-hitung ngasih kenang-kenangan terakhir buat yang mau pulang sekaligus meramaikan acara.

 “Dangdutt…Dangdut…Dangdut…Dutt..Dutt…Dutt…Dutttt… “ TARIK MANG…!!!

August 13, 2009 at 4:31 am Leave a comment

Older Posts


Recent Posts

Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.