Archive for July, 2009

Teva

Apaan tuh Teva?

Merk sandal dan sepatu buatan amrik. Jenis footwear yang nyaman dan kuat, cocok dipakai untuk jalan dalam jangka waktu lama kayak buat hiking atau mendaki gunung. Orang-orang pecinta alam pasti ngerti tu merk. Kalo gw sih taunya karena suami yg ngasih tau. Gara2nya dia bosen liat gue beli sandal melulu dan bentar-bentar rusak. Jadi dia bilang, mending beli sandal Teva tuh…pasti awet sampai bertahun-tahun. Dengan kata lain, biar irit! Hihihihi…

Barusan browsing, liat website-nya. Http://www.teva.com

Rata-rata modelnya sih simpel aja…kayak sandal-sandal gunung yang dulu jaman SMA sama kuliah bisa dipesen di daerah Malioboro, Jogja. Tapi ada satu yang menurut gue modelnya asyik… Teva-Women’s Kayenta. Tu sandal selaen bisa dipake jalan2 di hutan, juga gak malu2in kalo dipake jalan2 ke mall.

Pilihan warnanya juga lumayan keren. Ada yg Black (item agak abu2 gitu), Chocolate Chip (coklat kekuningan), Pesto (agak kehijauan), dan Walnut (agak pink…cocok buat yang berjiwa centil, hehehe…). Yang gue suka sih warna black ato chocolate chip. Keren!

Begitu ditunjukin ke suami model yg gue suka? Dia bilang, “That’s not good. There’s no adjustable strap!”.

Whuaa…dasar laki-laki. Yang dipikir cuman dari segi fungsi doang. Pikirin dari segi fashion juga dong! Bayangin kalau pake sendal gunung super tomboy ke mall padahal gue juga dandan. Gak cucok kan?

Gue ngotot kalo adjustable strap-nya ada. (Emang ada kok…tapi cuman satu doang, hehehehe). Akhirnya setelah beberapa menit dia mikir, dia bilang kalo modelnya emang nice. Yuhuii…!!!

Jadi pengen hunting tu sandal. Di Jakarta katanya ada juga jual Teva di PI Mall, Plaza Indonesia, Pasaraya Grande, Pasar Baru, sama Kelapa Gading Mall. Mudah-mudahan ada deh Teva yang gue incer.

Cape juga sih jalan-jalan pake sandal item berhak Hush Puppies gue yg menurut adek cewek gw di Jogja modelnya mirip sandal emak-emak itu. Jangan salah…gue beli tu sandal juga karena kuat dan tahan banting di segala medan. Sandal laen paling sebulan-dua bulan udah harus masuk museum (kalah dengan medan Tembagapura yang kondisi jalannya  naik turun dan berbatu-batu gitu), sandal yang ini udah bertahan hampir setaon dan udah dibawa kemana-mana juga. Jadi biarin deh pake sandal model emak-emak :-p.

Oh Teva-Women’s Kayenta…come to mama! :-)

 

 

July 22, 2009 at 3:47 am 6 comments

Meeting Old Friend…

Tau gimana rasanya mau ketemuan sama teman lama? Teman yang udah lamaaa…banget gak pernah ketemu? Yang bertahun-tahun ilang kontak dan baru ketemu lagi gara2 facebook?

Rasanya penasaran campur agak deg-degan, mirip kencan pertama dulu, hahaha…

Malam ini akhirnya gue ketemuan juga sama salah satu temen jaman SMA. Gita Darmawan. Temen satu kelas waktu di SMA Van Lith dulu. Temen yang pindah sekolah waktu naik kelas 3. Kalau dihitung-hitung, udah 12 taon gak ketemu.

Tadinya janjian mau ketemu Sabtu kemaren. Tapi gak jadi karena Gita mau ‘mudik’ ke Bandung, secara kemaren emang long weekend. Ya udahlah…pikirnya mungkin lain kali kalo pas mampir ke Jakarta lagi.

Tapi emang jodoh gak lari kemana. Gue ama suami ‘terpaksa’ harus memperpanjang stay di Jakarta karena situasi jobsite belom aman. Jadi para karyawan yang kebetulan pas cuti bisa memperpanjang waktu cuti mereka sampai bisa balik lagi. Yach…blessing in disguise sih kalo gue bilang. Ya udah, tadi sore sms Gita, nanya jadi mau ketemuan apa gak. Dianya OK. Janjian mau ketemuan di Plaza Semanggi.

Sebelum ketemu sama Gita, gue ma suami ketemuan juga sama another old friend, Putri, yg pas lagi di Jakarta (dia sekeluarga udah pindah ke Aussie). Abis ngobrol-ngobrol, kita ikut Putri ke Kemang, liat apartemen tempat dia menginap. Macetnya itu lho…masya ampyun dehh… Abis dari Kemang, nelpon Gita dan dia bilang mending ketemuan di Starbucks Setiabudi Building aja. Akhirnya baru bener2 bisa ketemu udah jam 9an. Fyuhh… perjuangan juga mo ketemu temen lama.

Dari jauh gue udah ngenalin Gita. Lagi berdiri dekat pintu masuk Starbucks Setiabudi building, dekat ATM. Dia sama Yuri, her lil’ daughter. She was looking good in her orange blouse dan keliatan jauhh…lebih feminin dibanding waktu SMA dulu :-). Doi juga masih langsing, padahal udah punya anak 1 (jadi malu, gue yang belom punya anak malah kayaknya lebih berisi dari Gita. kudu rajin olahraga lagi neh…:-p).

Kita akhirnya mutusin ke Ta Wan resto (kalo gak salah itu namanya, hehehehe…). Yuri pengen makan bubur ayam katanya. Trus pesen beberapa makanan laen juga. Sambil makan gue sama Gita sambil ngobrol dan ketawa-ketiwi. Maklum aja, udah sekian lama gak ketemu pastinya banyak banget yg pengen diobrolin. Agak kasian juga sih sama suami…gak kebagian ngobrol. Selama gue ngobrol ama Gita, dia gak bisa ngobrol ama Yuri yg masih umur 3 taon, hehehehe…

Menjelang jam 10 malem pelayan2 resto itu udah beres2 karena udah mau tutup. Terpaksalah kita juga cabut. Jadi berasa terusir, hihihihi… Pindah ke Starbuck di lantai 1, eeh…udah tutup juga. Si Yuri juga udah merengek minta pulang karena mau maen. Ya udahlah…kita pulang aja. Belom puas sih ngobrolnya, tapi toh masih ada hari laen…mudah-mudahan next time ada kesempatan ketemuan lagi.

Buat Gita: You’re looking good, girl. It’s really nice to see and chat with you again. Looking forward to next meeting…:-). Lain kali kita ketemuannya lebih lama ya? Hehehehehe…

July 21, 2009 at 4:37 pm 2 comments

Jogja…

“Pulang ke kotamu…ada setangkup haru dalam rindu… masih seperti dulu…tiap sudut menyapaku bersahabat…penuh selaksa makna…”

Ya. Selalu ada kerinduan untuk pergi ke Jogja, kota yang sudah menjadi rumah kedua bagiku. Kota tempatku kuliah dan bekerja sebelum melanjutkan perantauan ke Papua. Kota dengan banyak kenangan…

Di Jogja aku pertama kali pacaran. Di Jogja aku pertama kali merasakan putus cinta. Di Jogja pulalah aku memilih untuk melaksanakan pernikahanku. Jogja punya makna tersendiri buat aku…

Tapi Jogja sekarang perlahan-lahan sudah berubah ke arah metropolitan. Jogja masih ramah, tapi juga semakin panas. Jogja masih menyenangkan, tetapi juga sudah mulai macet dimana-mana. Kendaraan (terutama sepeda motor) berjubel di jalanan, berebut sedikit tempat di jalan-jalan yang tidak begitu lebar. Udara semakin penuh dengan polusi sehingga pemandangan langit nan biru sudah jarang bisa dilihat di Jogja.

Seorang supir taksi kemarin mengatakan kalau  seorang yang bekerja di bagian marketing di dealer sepeda motor ditarget untuk bisa menjual 15 sepeda motor per bulan. Bayangkan kalau ada 20 orang yang bekerja di bagian marketing di satu dealer sepeda motor, kalikan penjualan rata-rata…katakanlah 10 sepeda motor per bulan,  dari dealer itu perbulannya akan ‘meluncurkan’ 200 sepeda motor baru ke jalan. Kalikan berapa dealer sepeda motor yang ada di Jogja… 

Dulu pernah terpikir untuk membeli properti di Jogja, dan mungkin suatu saat nanti bisa bermukim di kota penuh kenangan ini. Tapi entahlah apakah niat tersebut akan terlaksana atau tidak…

July 9, 2009 at 4:00 am Leave a comment

Berpisah vs Anniversary

Beberapa hari yang lalu, seorang teman yang pernah dekat, dalam artian sempat pacaran walaupun hanya dalam hitungan 3 bulan,  mengirim pesan yang isinya mengejutkan. Dia bilang dia dan istrinya mempertimbangkan untuk divorce. Aku tanya mengapa. Dia bilang sudah tidak ada kecocokan. Dan seperti yang biasa dilakukan banyak orang yang mencoba peduli, aku sarankan untuk dipikir-pikir lagi. Kalau bisa jangan berpisahlah. Aku katakan bahwa istrinya kelihatan cantik dan baik, paling tidak dari foto-foto prewed hingga pernikahan mereka yang sempat kulihat, karena aku memang belum pernah bertemu secara langsung dengan istrinya. Dia bilang bahwa antara foto dan kenyataan ternyata jauh berbeda… Dan dia keukuh bahwa mereka sepertinya akan berpisah. Sempat dia selipkan kalimat “Kamu sih…”.

Loh, kok ujung-ujungnya jadi seolah-olah gara-gara saya?

Come on, sesudah putus hubungan, dia juga yang duluan menikah, sementara aku waktu itu masih tidak punya ikatan apa-apa dengan siapa-siapa. Setahun kemudian baru aku menyusul menikah. Jadi, dalam kacamataku kita putus karena memang tidak cocok, belum jodoh… Whatever, you name it.

Akhirnya kubalas pesannya dan mengatakan bahwa semua terserah mereka berdua. Apapun keputusan yang mereka ambil, semoga itu benar-benar merupakan keputusan yang terbaik bagi berdua…bukan hanya untuk memuaskan ego salah satu pihak. Pada akhirnya toh tidak ada yang lebih tahu mana yang terbaik untuk kehidupan perkawinan mereka: terus bertahan demi komitmen pernikahan yang mereka buat, atau berpisah dan masing-masing memulai hidup baru.

Tadi malam dia mengirim pesan lagi bahwa berpisah adalah pilihan yang terbaik untuk mereka berdua. Dia bilang mungkin karena jarak juga yang membuat hubungan dia dan istrinya tidak seindah kisah cinta dalam dongeng. Masalahnya, dia bekerja di luar Jawa dan hanya pulang setiap beberapa bulan sekali, sementara istrinya masih tinggal di Jakarta. Well, what was I supposed to say? Aku bukan dalam posisi sebagai seorang marriage counselor  yang bisa memberikan nasihat-nasihat atau tips-tips jitu untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga, pun bukan seorang hakim yang bisa mengetukkan palu meluluskan permohonan cerai mereka. Aku adalah pihak luar yang kebetulan dulu pernah dekat dengan dia. Dan sebagai seorang yang pernah dekat, ada sedikit concern juga untuk dia, sebagai teman tentu saja. Lagi-lagi aku hanya bisa bilang, semoga apapun keputusan mereka merupakan keputusan yang terbaik.  

Muncul pertanyaan dalam hati: mengapa begitu mudah orang menikah dan kemudian bercerai? Atau, mengapa harus menikah kalau sebentar kemudian terus bercerai?

Kasus-kasus perceraian bukan hal yang langka. Selain berita-berita di infotainment tentang artis-artis yang sudah, sedang dan akan bercerai; di sekitar kita juga banyak yang sedang mungkin dalam masalah serupa. Apakah, seperti yang ditulis Dewi Lestari dalam salah satu postingan di blog-nya dia, karena hubungan juga ada masa kadaluarsanya? Sehingga kemudian ketika ada suatu masalah yang tidak terpecahkan atau ego yang memainkan peran dominan, perpisahan lantas merupakan sebuah jawaban?

Entahlah…

Aku juga tidak tahu jawabannya. Karena di sisi lain, dengan usia perkawinanku sendiri yang baru masuk tahun ke-2 (tepatnya 1 tahun 4 bulan lebih beberapa hari), masih panjang jalan yang akan kami tempuh berdua. Jalan yang tidak setiap saat mulus seperti jalan tol, tapi jalan yang kadang juga ada kerikil-kerikil kecil yang kalau tidak hati-hati bisa membuat tersandung. Knock the wood, mudah-mudahan kami awet sampai kakek-nenek, dengan segala perbedaan yang mewarnai kehidupan perkawinan kami.

Seorang teman lain…kali ini cewek… hari ini sedang merayakan ulang tahun perkawinan mereka yang ke-5. Happy Anniversary, my Dear Friend…Selamat sudah melewati setahun lagi kebersamaan kalian dalam pernikahan. Semoga pernikahan kalian juga langgeng… Membaca kisah-kisah yang kamu tulis dalam blog pribadimu, jujur aku merasa salut sama kamu. Salut karena walaupun kamu menikah bukan kamu yang merencanakan, tapi kamu bisa bertahan sampai hari ini. Don’t give up, fighter!

Ada yang sedang dalam proses akan berpisah…ada yang merayakan anniversary… semua dalam waktu yang hampir bersamaan. Begitulah roda kehidupan, bukan?

July 4, 2009 at 4:54 am 1 comment

Ladies Night

ladies night invitation

Hari Rabu, 1 July kemaren aku dapet email undangan untuk acara Ladies Night yang bakal diadakan hari Jumat, 3 July 2009, di rumah Erly. Kupikir, cool, lumayan juga nih… secara belakangan aku udah jarang ngumpul sama temen-temen cewek di jobsite. Terakhir aku ngumpul rame-rame gitu bulan February lalu, waktu ngadain Baby Shower buat Irma. Habis itu lebih banyak cuman berkutat dengan rutinitas pekerjaan dan selesai kerja paling di rumah aja, atau kalau mood lagi bagus ya ke gym.

Begitulah. Semalam, abis dari kantor, nyampe rumah langsung siap-siap. Pamitan dengan suami dan dipesenin buat “Have fun, babe … If you wanna drink, just drink” (minum aer maksud lo…secara gitu loh…gak mungkin bakal ada sajian alkohol), aku berangkat ke rumah Erly. Di jalan ketemu Irma yang terlihat cantik dan feminin dengan dress dan coat rajut warna merah yang juga menuju ke rumah Erly. Sampai di tempat acara, udah ada tuan rumah sendiri (Erly – yang juga terlihat cantik dengan jeans dan blouse warna hijau gelap), Enda, Ika, Westy (yang lagi hamil), dan Winda. Semua cantik. Semua happy.

Makanan dan minuman sudah terhidang di meja. Erly mempersilakan untuk mulai dengan mencicipi wedang ronde ala Sunda. Kami mengambil mangkuk yang sudah diisi bulatan-bulatan warna pink dan hijau (2 bulatan yang agak besar berisi kacang ditambah bulatan-bulatan yang lebih kecil), menyiramnya dengan ramuan air pandan, air jahe, dan larutan gula. Enak. Sambil makan ronde sambil ngobrol ngalur-ngidul. Dan jangan salah… selesai menikmati wedang ronde sunda, ‘ronde-ronde’ selanjutnya udah menunggu…ada mie goreng, salad buah, lumpia goreng, cookies, pizza, dan minuman sejenis es buah gitu deh…

Tak lama, datang lagi beberapa ladies yang lain; ada mbak Ayu, Pine, dan terakhir gank 212 (Puspit, Desy dan Jo). Semakin rame, obrolan juga semakin seru.  Dari soal anak, soal diet dan olahraga, soal tips supaya bisa hamil, cerita-nya si Jo tentang acara adat pas nikahan dia… sampai membahas (sambil becanda gila-gilaan) posisi-posisi yang gak penting di buku sejenis kamasutra milik salah seorang ladies di situ. Karena orang-orangnya banyak yang kocak, acara Ladies Night semalem benar-benar mengocok perut. We really had lots of laugh… sampe perut rasanya sakit kebanyakan ketawa. Bahkan saat Enda menceritakan joke yang sebenarnya udah pernah aku dengar sebelumnya, tapi begitu diceritakan lagi di antara para ladies yg udah kena demam tertawa, efeknya lebih luar biasa. Yang mendengar sampai terpingkal-pingkal berurai air mata, termasuk aku. Untungnya para tetangga sekitarnya Erly banyak yang cuti… kalau gak, bisa dipastikan bakal ada yang ngetok2 pintu rumah Erly buat complain karena kita rame banget!

Inti acaranya sendiri sebenarnya sederhana. Kumpul-kumpul, makan-makan, foto-foto (biasalah…kurang afdol rasanya kalo ngumpul tanpa ber-narsis ria foto-foto), ngobrol-ngobrol, haha-hihi… dan semalam ada yang pamitan karena mau resign juga. Itupun ‘pidato’ pamitannya dia masih disela dengan becandaan gitu.

Beberapa mulai pamit ketika jam menunjukkan pkl. 09.30 pm. Aku sendiri pulang sekitar pkl. 10.00 malem. Sambil jalan sambil mikir… kapan ya aku terakhir tertawa sampai perut sakit seperti itu? Tiap hari juga masih tertawa sih…tapi gak sampai yang seru banget. Kadang, dengan rutinitas yang dijalani, orang jadi lupa tertawa. Padahal tertawa itu katanya terapi stress yang amat bagus, mengendorkan saraf-saraf yang tegang dan bikin orang awet muda.

Jadi ingat ibuku di rumah, orangnya gampang sekali tertawa…tertawa atas hal-hal sepele, remeh-temeh, gak perlu harus nonton pilem komedi dulu baru bisa tertawa…

Dan yang aku suka lagi dari acara semalam adalah gak adanya bumbu-bumbu gossip dari obrolan kita. Jadi, obrolan atau becandaan yang dilempar lebih pada pengalaman-pengalaman sendiri aja. Padahal biasanya kalau ibu-ibu udah pada ngumpul…mulai deh saling bertukar gossip tentang si A, si B, atau si XYZ. Perlu bikin motto neh…”tanpa gossip, ngumpul tetap asyik…” hehehehe.

Boleh juga nih kayaknya sering-sering ngumpul seperti semalam :-)

July 4, 2009 at 1:20 am Leave a comment

Lucky…

Seringkali kita mendengar atau bahkan ngomong…”Wah, si anu beruntung banget yach…udah suaminya kaya, ganteng pula!”. Atau, “Untung banget deh dia bisa keterima kerja di perusahaan sebonafid itu…”. Atau yang paling klasik, misalnya ada tabrakan…kalau kendaraannya lecet dikit tapi penumpangnya ga pa-pa pasti bilangnya “Untung cuma kendaraannya yang lecet”. Kalau mobilnya penyok dan penumpangnya luka parah tapi masih hidup, bilangnya “Untung penumpangnya gak meninggal”. Memang sebenarnya jadi orang Indonesia itu paling enak, karena apa-apa masih untung…:-)

Sama seperti pagi ini ketika saya memberikan test TOEFL. Dari 12 peserta, 6 diantaranya adalah siswa-siswi TOMAWIN* yang baru lulus SMP dan sedang dipersiapkan untuk dikirim ke Australia untuk melanjutkan study-nya.

Dalam hati saya bilang, “Beruntung sekali adik-adik ini, udah sekolahnya gratis, dapat kesempatan sekolah di luar negeri pula!” Dan langsung berandai-andai…coba di kampung halamanku sana ada perusahaan besar juga yang bisa memfasilitasi sekolah gratis dan beasiswa ke luar negeri…hmmm…

Tapi wait…benarkah bahwa semuanya itu hanya perkara keberuntungan belaka? Kalau suamiku punya rumusan sendiri tentang apa itu luck. Menurut dia: LUCK IS WHEN PREPARATION MEETS OPPORTUNITY

Jadi menurut dia, gak ada tuh yang namanya cuman beruntung doang… Jadi kalau dianalisis dari rumusan dia, orang bisa dapat suami kaya dan ganteng itu karena ada opportunity cowok ganteng dan si cewek udah prepared juga dengan mungkin merawat diri supaya terlihat cantik, dsb. Kalau ada orang bisa dapet gaji tinggi karena bekerja di perusahaan besar itu karena ada usahanya dia untuk mendapatkan pekerjaan itu dan ada posisi lowong. Kalaupun ada kasus mewarisi perusahaan bokapnya, toh tetep ada preparation juga… dari bokapnya. Siswa-siswi TOMAWIN yang mungkin nanti akan sekolah di luar itu karena ada opportunity dari perusahaan, tapi dari mereka juga harus tetap ada preparation dengan minimal kemampuan Bahasa Inggris yang memadai.

Jadi kalau dipikir-pikir, benar juga rumusan “Luck is when Preparation Meets Opportunity” itu…

Nah, kalau kasusnya tabrakan? Itu sih sebenarnya gak bisa dibilang ‘untung’, biar lecet sekecil apapun tetap aja namanya ‘buntung’, hehehehe…

 

Catatan:

* Tomawin adalah nama asrama di Tembagapura yang dibangun dan diperuntukkan bagi putra daerah yang berasal dari sekitar perusahaan.

July 3, 2009 at 3:55 am 3 comments

Mango–Banana Smoothie

Suami adalah penggemar berat fruit juice atau fruit smoothie. Makanya kalau di shopping* lagi ada stock buah-buahan yang layak di-juice atau smoothie, pasti deh bela-belain beli agak banyak, walaupun harganya suka bikin pengen nonjok. Misal, harga sekilo mangga arum manis Rp 30.000,00 kurang 50 perak. Padahal mango smoothie itu  favorit suami.

Kadang saya suka mengkombinasikan beberapa buah untuk di-smoothie. Kombinasi yang dijamin enak itu  adalah mangga dan pisang. Cobain deh…resepnya simpel banget!

  • Mangga yang sudah matang (yang enak sih mangga arum manis)
  • Pisang ambon atau pisang  emas yang sudah matang
  • Susu (saya biasanya pakai yang non fat)
  • Beberapa ice cube

Udah deh…buah-buahannya dikupas dan dipotong-potong, dimasukkan ke blender, tambahkan ice cube, trus tambahkan susu non fat (jangan kebanyakan…cukup sampai buahnya agak terendam dikit; boleh juga takaran 50:50 antara susu dengan air matang kalau gak suka terlalu banyak susu). Abis itu semua bahan tinggal diblender sampai halus. Violaaa… home made mango-banana smoothie yang oh-so-yummy pun siap dihidangkan.

Gampang kan? Biasanya sudah dibikinin segelas besar juga suami masih mau tambah.

Yang paling menyenangkan dari acara membuatkan mango-banana smoothie untuk suami adalah ketika dia bilang “This is so beautiful, babe… Just like you are”.

Oh, so sweet…!! :-)

 

*catatan: shopping di sini adalah Family Shopping di Tembagapura, Papua.

July 3, 2009 at 3:24 am 2 comments

Katak Dalam Tempurung

Hari ini aku iseng-iseng berkunjung ke blog pribadi Dewi Lestari alias Dee, si pengarang Supernova dan beberapa buku lainnya. Gara-garanya habis baca postingan temenku Gita tentang blog-blog yang sering dia kunjungi, dan salah satunya adalah blog-nya si Dee. Bahkan ni blog ada di blogroll-nya doi.

Nah, dari niat sekedar pengen tau seperti apa sih blog Dee yang terkenal itu? Berbuntut dengan menghabiskan waktu hampir 2 jam membaca tulisan-tulisan doi. Rata-rata isi tulisannya membuatku terkagum-kagum, manggut-manggut setuju, bahkan kadang terperangah oleh pemikiran-pemikirannya yang tidak biasa. Tulisan-tulisannya mengalir…menarik..menyentuh…dan memaksa mata untuk terus mengikuti sampai akhir. Dee memang cool, aku juga dulu sempat tergila-gila membaca novel perdananya dia yang berjudul Supernova: Ksatria, Putri dan Bintang Jatuh dan tidak sabar menunggu novel kedua yg berjudul Akar. Sesudah itu, berhubung kemudian aku terdampar di belantara Papua dengan akses internet dan akses ke toko buku yang amat terbatas (plus lama-lama kena penyakit malas membaca…karena sebenarnya kalau mau mengubek-ubek perpus mungkin ada juga buku-bukunya Dee di situ), karya-karya Dee selanjutnya tidak aku ikuti.

Beberapa waktu lalu, adikku sempat bikin blog yang isinya lebih banyak tentang kelakuan krucil-nya (si Kevin – anak pertama), dan selain mempromosikan blog-nya dia juga bilang “Coba deh kakak baca blog-nya Dewi Lestari…menarik banget”.  Sayang beribu sayang, karena tinggal di remote area dengan segala keterbatasannya, termasuk internet, gak pernah tuh kesampaian untuk berkunjung ke blog-nya Dewi Lestari. Untungnya (hihihi…gw Indonesia banget yach…apa2 serba untung :-p) sejak Desember 2008 lalu aku bisa akses internet lebih leluasa dengan cara berlangganan telkomflash; walaupun leletnya luar biasa ngalahin keong karena seringkali speed-nya cuman 53.6 kbps (bayangkan!), setidaknya itu membuat ruang jelajahku di dunia maya semakin terbuka…termasuk akhirnya bisa join facebook yg memungkinkan aku bisa kontak lagi dengan teman-teman lama. Dan sejak tanggal 30 Juni 2009 kemarin aku resmi punya blog pribadi berkat kebaikan hati si Gita yang membuatkan blog buat aku (mungkin dia kasian kali ya… ni anak terbelakang banget sih, blog aja gak punya, hihihihi…), akhirnya aku juga mulai tertarik dan tergelitik untuk masuk ke dunia per-blog-an. Gak ada niat muluk-muluk seperti biar bisa menulis kayak Dee…gak lah… cuman sekedar biar ada media buat corat-coret.

Di blog-nya Dee ada komentar, yang kurang lebih tentang banyak orang menulis blog yang isinya lebih berupa diary-ish gitu deh… Dan untuk tahap-tahap awal memang itulah yang akan lebih banyak aku tulis di blog-ku. Namanya juga belajar…

Habis berkunjung ke blog-nya Dee, aku juga sekilas berkunjung ke beberapa blog lain yang juga tak kalah menariknya. Paling gak ada beberapa pelajaran yang bisa dipetik juga dari tulisan para bloggers itu.

Kemudian aku merenung…beberapa tahun belakangan ini aku kok seperti katak dalam tempurung banget ya? Ketinggalan banyak sekali informasi dan kemajuan teknologi. Mungkin sudah hampir tiba waktunya untuk ‘turun gunung’ dan kembali ke peradaban normal. Membebaskan diri dari kepompong kenyamanan makan gaji di perusahaan besar (tapi tinggal di lokasi terpencil) serta membuka diri terhadap kemajuan informasi dan teknologi di luar sana…

Kapan ya baru berani turun gunung?

July 2, 2009 at 5:57 am Leave a comment

My Love-Hate Relationship with Gym

“I have a love-hate relationship with gym…”

Kalimat itu pernah aku baca atau dengar di entah majalah atau tv. Lupa deh dimana. Pokoknya ada seorang artis hollywood yang bilang begitu.

Kayaknya kalimat itu cocok juga buat aku…makanya aku jadiin judul postingan malam ini.

Yang namanya nge-gym itu…kadang rajiinnn…banget sampai hampir tiap hari nongol, kadang ya berbulan-bulan gak muncul di gym…sampai-sampai sekalinya nongol di gym, pelatihnya yg juga temenku, komentar…”tumben nge-gym lagi?”, hihihihi…

Awal kecintaanku dengan gym sebenarnya dimulai sekitar pertengahan tahun 2004, ketika aku menyadari bobot sudah melonjak sekitar 6 kilo dari bobot awal sebelum bekerja di Papua. Normal sih…bekerja di daerah dingin, bawaannya ngemil terus…ga heran kalau bobot naik. Waktu itu wajah udah mulai keliatan chubby. Mulanya sih santai aja karena orang-orang banyak yang bilang…”ah, gak apa2…belom terlalu gemuk kok!”. Mulai resah waktu cuti dan mampir ke tempat adikku di Jogja dan dikomentarin “Kok kakak gemukan ya?”. Waa…jadi berasa sensi deh. Ditambah lagi baju-baju yang dibawa ke Papua banyak yang mulai sempit… dimulailah niat nge-gym.

Sebelum ke gym buat pertama kalinya, sibuk tanya sana-sini, termasuk minta program latihan dari pelatih gym-nya. Cieee…gaya sekaleee! Tapi nge-gym-nya gak bertahan lama. Begitu bobot udah mulai turun, brenti juga latihannya.

Tahun 2004 akhir, putus sama pacar. Selain broken-hearted, ada efek positifnya… gw jadi berniat membuktikan sama mantan..walaupun putus cinta juga gw tetap hepi dan hidup sehat. Jadi gw lumayan rajin nge-gym. Cuman gak setiap hari sih…paling seminggu 2 kali gitu deh…

Tahun 2005 – 2006 masa-masanya gw cinta berat sama gym. Waktu itu kebetulan pula Senin – Kamis jam kerja mulai dari pkl. 11.30 siang ampe 09.00 malem karena ditugasin buat mengajar kelas-kelas malam (kelas Bhs. Inggris dan Bhs. Indonesia kalau ada yg penasaran kelas apa yang diajar malam2, hehehehe…). Jadi, paginya aku sempat nge-gym paling gak 2 jam sebelum berangkat kerja. Gak tanggung-tanggung, aku ikut aerobic tiap Senin & Rabu (kadang Jumat juga), dan ikut Pilates tiap Selasa & Kamis. Kadang-kadang kalau ga ada kegiatan lain, Sabtu juga menyempatkan diri ke gym barang sebentar. Pokoknya saat itu bener-bener “I Love You my Gym” deh…

Pernah juga mencoba ikut yoga…yang berbuntut malu sendiri. Ceritanya pas aku asyik latihan beban, ada ibu-ibu expat (namanya Leslie Drake) yang lewat bawa matras yoga gitu. Dengan pede-nya aku samperin aja dan nanya boleh join gak. Mrs. Leslie bilang join aja… Ya udah aku join. Dan Mrs. Leslie pelatihnya hari itu. Ternyata yoga wasn’t for me…at least at that time. Yoga menuntut gerakan-gerakan yang lentur…sementara aku gak lentur banget. Trus juga udah kecapean karena udah latian beban sebelum ikut yoga. Di akhir sesi adalah sesi relaksasi, dengan posisi tidur telentang dan mata terpejam. Dan guess what…?? Aku ketiduran beneran! Baru terbangun waktu Mrs. Leslie menggoyang-goyang kaki gw dan bilang kalau sesi yoga hari itu udah selesai. Whoaaa…maluuuuu…. Jadilah itu sesi pertama dan sesi terakhir diriku ikut yoga.

Anyway…tahun 2007 mulai roster 6:2 yang artinya 6 minggu kerja dan 2 minggu cuti. Itulah awal diriku mulai gak rutin ke gym. Ditambah lagi pertengahan 2007 mulai persiapan wedding trus kerja kembali ke jam normal (7 pagi – 5 sore)… jadi banyak excuses untuk gak nge-gym.

Habis merit awal tahun 2008, semakin menjadi-jadi. Rasanya kalau pulang kantor lebih betah di rumah aja…ngobrol sama suami atau nonton tv (belakangan juga keasyikan facebook-an, hahahaha…). Lama-lama kok otot-otot jadi kendor semua? Suami suka dengan semena-mena memanggilku dengan nama kesayangan ‘spongy’ yang sama sekali gak enak di telinga…soalnya kata dia otot2ku udah banyak yang bermetamorfosis jadi kayak spons. Sialan!

Hari Senin kemaren, pulang kerja ngajak Enda, sohib gue, untuk ke gym. Tumben si Enda mau. Udah deh…langsung semangat gitu nge-gym-nya. Selesai di crosstrainer selama 35 menit, lanjut dg sit up, latihan beban, latihan buat pinggang, dll dst… semangat 45 deh pokoknya… Abis latian, janjian sama Enda untuk nge-gym lagi hari Selasa besoknya. Dengan catatan, kita pengen abis pulang kerja langsung ke gym…jadi berangkat kerja paginya udah dengan membawa-bawa bekal baju & sepatu olahraga gitu… Kemarin sore mission accomplished. Berhasil nge-gym sekitar 1.5 jam gitu. Berasa bangga gitu dehh..

Hari ini sebenarnya janjian lagi mau langsung ke gym abis pulang kerja, dan udah bawa2 baju olahraga juga… Begitu mendekati jam pulang kantor, duhh…kok pinggang rasanya pegel2 ya? Akhirnya gw bilang ke Enda kalau malam ini mau istirahat dulu nge-gym-nya dengan alasan pinggang pegel. Trus telpon suami, minta samperin ke kantor pas dia pulang kerja karena gw gak jadi olahraga. Langsung deh diledekin sama suami…”Lah, katanya mau nge-gym… kok gak jadi?”. Gw ngeles dengan bilang kalo abis “two days in a row exercising, I need some rest.” Hahahaha… alasan banget!

I love gym…but I sometimes hate it too!

Besok rencananya mau latihan lagi. Janjian sama Enda lagi. Berharap tetap semangat dan gak menggagalkan rencana sendiri.

Ciayoo Niq…!!!

July 1, 2009 at 10:18 am 2 comments

Terjebak di Lingkaran Rutinitas

Whoaaa…capek. Dari kemaren berkutat dengan laporan-laporan akhir bulan. Ya milestones-lah, ya SHE-AP lah… pokoknya banyak…menyita waktu dan menguras energi! Baru kelar sekitar ½ jam lalu, dilanjut dengan beberes meja kerja secara besok bakal ada internal audit. Selesai dengan laporan2 dan beberes, rasanya penat. Pengen rileks sejenak. Mendingan aku bikin postingan di blog aja…

Kalau aku pikir-pikir…hidupku sekarang ini kok lebih banyak ngerjain rutinitas ya? Pagi bangun tidur ku terus mandi…tidak lupa menggosok gigi…habis mandi kutolong…eh…habis mandi siap2 trus pergi sarapan. Masuk kerja jam 7, seharian di kantor, pulang kerja jam 5 sore (paling cepet jam segitu sihh..),  trus makan malam, abis itu paling di rumah nonton tv atau ngobrol sama suami. Begituuu..aja setiap hari. Kerjaan di kantor?? Lebih banyak rutinitas juga. Dan yang namanya rutinitas, asalkan terbiasa ya udah kayak otomatis aja ngerjainnya.

Rasa-rasanya kurang banget yach aktivitas buat mengembangkan otak.

Salah satu sindrom orang yang lebih banyak ngerjain hal-hal yg bersifat rutinitas…jadi PELUPA!! Dan buat aku pelupa-nya udah di taraf yang cukup parah. Contoh kecilnya, susah mengingat nama orang… bahkan orang yang sering ketemu. Inget sih wajahnya…tapi kalau ditanya siapa namanya, waa… nyerah deh! Contoh lain, suka lupa kosakata. Kadang pas lagi ngomong…trus diem, trus mikir…tadi aku mo ngomong apa ya? Hahahaha…parah banget deh!! 

Bisa bekerja di perusahaan tambang  besar seperti tempatku bekerja sekarang barangkali impian banyak orang. Impianku juga sih…waktu masih di Jogja dulu… Gimana gak, dengan gaji yang lebih bagus daripada tempat kerja dulu, jelas bekerja di sini menjanjikan kehidupan yang lebih baik. Makanya walopun tempat kerjaku jauh di Papua, area terpencil pula, tetep dijabanin juga. Dan memang dari segi gaji dan fasilitas lumayan…tapi ternyata segala sesuatunya ada harga yang harus dibayar…termasuk salah satunya adalah degradasi kemampuan otak…

 Masih segar di ingatan waktu pertama kali berangkat ke Papua, Agustus 2003. Penuh semangat. Penuh harapan. Penuh idealisme juga. Awal2 bekerja semangat masih menggebu-gebu, secara gitu lho…pekerjaan baru, lingkungan baru, bekerja sama dan bertemu orang-orang baru…  sering tuh Sabtu2 gitu walopun gak jatahnya kerja tetep masuk kantor sekedar bikin materi-materi ngajar, dsb.

Lama-lama, semuanya jadi rutinitas belaka. Apalagi dalam organisasi sedemikian besar seperti ini seringkali idealisme bentrok dengan segala macam policy procedure dan hirarki kepemimpinan yang ribet bin njlimet. Pada akhirnya banyak yang memilih untuk bekerja dengan achievement standar saja. Sesuai dengan yang biasa dilakukan sehari-hari. Istilahnya di sini bekerja sesuai basis…yang dengan kata lain gak mau kreatif atau bekerja lebih. Termasuk aku kayaknya udah masuk dalam fase itu. Huaa…payah nih!!

Mungkin aku perlu tantangan  baru.

Tantangan dalam bentuk apa? Pindah ke perusahaan lain? Itu mah sama aja… cuman ganti bos doang. Sama aja nanti juga berhadapan dengan yang namanya peraturan ini-itu, policy-procedure begini-begitu…

Trus…apa dong? Usaha sendiri?

Nah, soal usaha sendiri alias bikin bisnis sendiri sebenarnya udah didengung-dengungkan suami dari awal nikah. Dia pengen aku mulai berbisnis, biar gak usah kerja kantoran kayak sekarang… dan sebenarnya sih lebih pada biar bisa jadi boss untuk diri sendiri.

Trus kenapa dong gak mulai2 bisnisnya? Alasannya sih klasik…aku masih takut untuk memulai usaha yang baru. Mungkin udah keenakan terima gaji tiap bulan…dan itu udah income yang pasti. Sementara yang namanya orang berbisnis kan kebanyakan memang harus jatuh bangun dulu. Bisa gagal berkali-kali juga. Itu yang kayaknya aku belum siap. Udah merasa nyaman dan takut keluar dari comfort zone, menurut istilah orang-orang.

Semoga secepatnya aku punya keberanian untuk keluar dari comfort zone yang sekarang dan mulai usaha sendiri…tantangan baru…gairah hidup baru… sehingga otakku yang mulai berhibernasi ini bisa terasah lagi…

Semoga…

July 1, 2009 at 8:45 am 2 comments


Categories


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.